Ku Tembak Cintamu 2x

Ku Tembak Cintamu 2x
Rahasia Laki-laki


__ADS_3

Tuk... Tukkk...


Pak Nugra mendongakkan kepala ke arah pintu kerjanya.


"Masuk..."


Dimas membuka perlahan pintu kerja papanya dan sedikit menongolkan kepalanya.


"Hai Pap... Lagi sibuk ga?"


"Hi boy... Came in."


Dimas menutup kembali pintu dan langsung duduk di sofa panjang ruang kerja papanya.


"Libur libur gini papa masih sibuk aja?" Pak Nugra tertawa kecil.


"Sepertinya papa mencium bau bau rencana pernikahan nih. Right?" Sesaat Dimas tertegun dengan ucapan papanya. Ia tak menyangka kalau papanya bisa menebak maksud hatinya.


(Dimas tertawa kecil)


"Papa mirip paranormal ya sekarang. Bisa tau lebih awal." Pak nugra tertawa lepas merasa geli dengan perkataan anaknya.


"Jadi, apa kamu sudah melamar wanitamu?"


"He-em, sudah. Dan Dimas akan segera menikahinya dua minggu lagi"


Kini giliran papanya yang tertegun dengan jawaban Dimas. Dibukanya kacamata kerjanya dan disandarkannya punggungnya di kursi kerjanya yang besar.


"Dua minggu?" ucapnya mengulangi.


"Yups. Dan Dimas harap, Papa dan Mama berkenan merestui pernikahan kami" ucapan Dimas terdengar yakin.


"Kalau seandainya papa ga setuju dengan pilihan kamu bagaimana?"


Raut wajah Dimas langsung berubah muram dan asam ketika perkataan papanya menusuk gendang telinganya.


"Apa alasan papa ga setuju dengan pilihan Dimas? Harta? Karna Erina bukan dari keluarga kelas atas?" pak Nugra menghela nafas panjang dan tertawa kecil lagi.


"Sepertinya Erina sudah berhasil membuat jagoan papa bertekuk lutut ya..." perkataan sang papa terdengar sangat ambigu dan membingungan.


"Papa dulu pernah berjanji bukan? Kalau papa ga akan pernah memaksakan kehendak papa selain masalah kuliah? Dan Dimas sudah mengikuti perintah papa" suara Dimas mulai meninggi terpancing emosi. Takut akan sikap papanya yang bertolak belakang dengannya.


"Santai boy... Papa kan tadi hanya bilang kalau seandainya..."


"Dimas ga terima penolakan dari papa ataupun mama. Kalian harus setuju dengan pilihan Dimas. Lagipula pernikahan ini Dimas yang menjalani bukan Papa" ucapan Dimas terdengar serius penuh penekanan.


"Pernikahan itu bukan sebuah permainan Dimas. Ada tanggung jawab besar yang harus kamu pikul seumur hidup kamu. Apa kamu sudah memikirkannya matang matang?"


"Dan sebuah pernikahan juga bukan emosi sesaat karna hasrat cinta yang sedang menggebu. Akan banyak batu kecil atau besar yang siap menyandung kakimu. Pikirkan hal itu" sambungnya kembali.


Dimas berdiri dan memindahkan dirinya ke kursi yang berada di depan meja kerja sang papa. Di tatapnya dalam dalam wajah papanya yang mulai menua. Tatapan serius dan dalam.


"Dimas kenal Erina bukan dalam hitungan hari atau bulan. Kesetiaan Erina pun sudah teruji. Dimas yakin, Dimas ga salah memilih calon istri dan calon ibu untuk anak-anak Dimas." ucapnya dengan mantap disertai tatapan yang tajam menggambarkan jelas akan keseriusan akan seorang Dimas.


Dimas mengernyitkan dahinya sambil menyedekapkan kedua tangannya di dada. Dihelanya nafas panjang untuk mengendalikan dan menahan emosinya.


"Dan pria sejati adalah pria yang selalu menepati janjinya. Bukan begitu Pa?" Perkataan sindiran Dimas benar benar menohoknya. Pak Nugra menipiskan bibirnya dan tersenyum simpul sambil menghembuskan nafas panjangnya.


"Okay, kalau kamu memang sudah yakin dengan keputusan kamu. Kapan papa bisa datang ke rumah wanitamu?"


Dimas menolehkan kembali pandangannya ke arah papanya dengan senyuman yang mulai mengembang. Wajahnya yang semula asam langsung berubah sumringah. Dimas langsung beranjak dari duduknya dan langsung berlari memeluk papanya.

__ADS_1


"Makasih ya Pa... Dimas seneng banget..." ucapnya sambil memeluk erat tubuh sang papa yang sudah cukup lama tak pernah ia peluk. Pak Nugra menepuk nepuk lengan Dimas agar melepaskan pelukannya yang membuatnya sulit untuk bernafas.


"Kamu mau matiin papa, hah?"


"Hahahaa... Maaf Pap. Dimas terlalu bersemangat." Dimas melepaskan pelukannya dan membuat papanya berdiri dari kursinya.


"Kamu tau Dimas, sikap girang kamu seperti ini mengingatkan papa saat kamu kecil. Kamu kegirangan saat kamu papa kasih mainan robot yang mama larang. Menurut Mamamu, mainan robot itu bisa melukai kamu karna robot itu bisa mengeluarkan peluru plastik dari tangannya. Tapi papa bersikukuh tetap membelikan mainan robot itu buat kamu. Karna papa tau kamu sangat menyukai mainan itu. Sama seperti Erina. Papa sudah tau dari lama kalau kamu hanya menyukai satu wanita. Erina"


Dimas memandang haru kepada papanya. Dipeluknya kembali tubuh sang papa dengan pelukan erat yang hangat. Pelukan yang tidak membuat papanya tersiksa. Pak Nugra pun membalas pelukan Dimas dengan senyuman yang mengembang di bibirnya.


"Terima kasih ya Pap. Dimas sayang banget sama papa"


"Tapi papa juga harus menghukummu" Dimas terperangah dengan ucapan sang papa dan melepaskan pelukannya.


"Menghukum? Maksud papa?"


"Iya papa akan menghukum kamu. Papa ga nyangka, kalau selama ini anak laki laki papa ternyata pandai berbuat mesum bersama calon istrinya" mulut Dimas menganga tak percaya dengan perkataan yang baru saja terlontar dari mulut sang papa.


"Jangan bilang kalau selama ini papa nyuruh orang buat mata matai Dimas"


"Papa kan cuma punya anak satu. Sudah seharusnya papa menjaga anak papa secara maksimal. Bukan begitu??" Dimas menggertakan giginya dan langsung bergelayutan di pundak sang papanya.


Mereka saling bercanda beradu fisik sampai tak mengindahkan suata ketukan pintu. Ibu Devita memasuki ruang kerja suaminya dan matanya terperangah melihat kejadian unik yang sedang dilakukan oleh dua laki laki kesayangannya.


"Papa... Dimas... Kalian sedang apa?? Kenapa kalian seperti anak bocah yang sedang bermain gulat?"


Dimas menghentikan kegiatannya dan saling berpandangan dengan sang papa. Kini gantian Mamanya yang memandang dirinya dengan mata keheranan. Dimas dan papanya tertawa lepas dan keduanya mengedipkan sebelah mata berniat untuk menggodai wanita hebat yang masih keheranan yang saat ini berdiri di hadapannya.


Dimas mendekati sang Mama, memeluknya dan menggendongnya. Ibu Devita yang kaget dengan gendongan Dimas, menjerit kecil dan tertawa geli. Dimas menghentikan langkahnya yang masih dengan menggendong sang mama dan berdiri tepat di depan hadapan papanya.


"Bapak Nugraha Ardhana... Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Mama saya yang bernama Devita Eka Chyntia. Tolong di terima... Berat soalnya" ucap Dimas sambil menyodorkan sang mama kepada papanya.


"Dimas... Kamu mulai ga sopan ya sama mama. Berani beraninya kamu bilang kalau mama berat!!!" Ibu Devita bertolak pinggang sambil membulatkan matanya kearah Dimas. Dimas tertawa lepas merasa geli dengan gertakan mamanya.


"Maaf mamaku sayang... Dimas cuma becanda. Jangan marah ya mamaku sayang.." Dimas memeluk mamanya dari belakang sambil bergelayut manja.


"Sudah lama sekali mama ga digelendotin lagi seperti ini" tiba tiba suara bu Devita terdengar sendu.


"Tenang sayang, ga lama lagi kamu akan digelendotin sama Dimas junior..." ibu Devita menolehkan pandangannya ke arah suaminya menuntut penjelasan lanjut dari perkataannya.


"Maksud kamu?"


"Dulu sewaktu kecil, Dimas merengek minta di sunat. Sekarang saat dewasa anakmu minta disunat buat yang kedua kalinya" goda pak Nugra sambil tertawa.


"Abis dong..." celetuk Dimas yang semakin membuat papanya terkakak. Baru kali ini setelah sekian lama Dimas melihat papanya bisa tertawa lepas seperti ini.


"Papa nih, suka banget iseng ih..." celetuk ibu Devita yang masih tak mengerti.


"Ma, kamu siap-siap"


"Siap-siap? Untuk?"


"Untuk membawa pulang anak gadis orang ke rumah ini"


"Ma-maksud papa, Dimas...." pak Nugra mengangguk pelan sambil tersenyum memainkan alis matanya. Wajah Dimas memerah tersipu malu dengan ucapan sang papa.


"Kapan pastinya kita jemput anak gadis itu?" ucap sang Mama berbalik menantang.


Cup...


"Secepatnya Mamaku sayang..." ucap Dimas cepat dan langsung mencium pipi mamanya.

__ADS_1


"Pa, Ma, Dimas ke kamar ya. Dimas mau telpon calon menantu kalian dulu. Kalian lanjutkan pacarannya ya..."


Dimas melangkahkan kakinya keluar dari ruang kerja papanya dan menuju ke kamarnya.


Di dalam ruang kerja pak Nugra, Ibu Devita masih tertarik untuk membahas kembali masalah rencana lamaran yang akan di lakukan anak semata wayangnya itu.


"Pap, Dimas jadi mau ngelamar Erina?" ucapnya penuh tanya.


Pak Nugra menarik nafasnya yang terasa berat sambil membenarkan posisi duduknya.


"Yah seperti itulah. Anak semata wayang kita sudah tumbuh menjadi laki-laki dewasa yang sudah mengenal cinta. Dan malam ini dia dengan beraninya meminta restu dari aku untuk menikahi seorang perempuan." suara pak Nugra terdengar sendu.


"Rasanya baru kemarin aku menggendong Dimas dipangkuanku. Sekarang, aku harus benar benar melepaskan dia untuk hidup bersama orang yang dia cintai"


Ibu Devita tersenyum dengan kata kata suaminya. Ia tau kalau suaminya sangat menyayangi anak satu satunya mereka dan dari nada bicaranya, seakan suaminya masih tak rela jika harus kehilangan kebersamaannya dengan Dimas. Di usap usapnya punggung sang suami yang terlihat sedih. Disandarkannya kepalanya di bahu sang suaminya itu dengan manja.


"Sayang, Dimas bukan anak kecil lagi yang bisa kita atur atur sesuai keinginan kita. Anak kita sudah dewasa. Kamu ingat ga saat kamu melamar aku untuk jadi istri kamu? Reaksi ayahku seperti apa? Dia juga sama seperti kamu, ga rela anak perempuannya di bawa sama kamu. Bahkan ayah memberikan syarat mutlak kalau setelah kita menikah, kita harus tinggal serumah dengan mereka."


Pak Nugra menghela nafas panjang kembali dan dikecupnya kepala sang istri dengan lembut.


"Ternyata seperti ini ya rasanya jadi orang tua, ketika si anak akan menikah. Kita harus berbesar hati merelakan dan melepaskan anak kita untuk hidup mandiri dengan orang yang ia cintai. Ternyata memang berat. Sekarang aku bisa merasakan apa yang dulu ayah kamu rasakan" ucapnya sambil tertawa kecil.


"Tapi aku sedikit tenang dengan wanita pilihan Dimas. Dia anak yang cantik, baik, lembut dan sepertinya ia sayang sekali dengan orangtuanya. Aku suka dengan Erina. Kamu bagaimana Pap?"


"Jujur aku juga suka sama anak itu. Dan aku pun juga sudah lama menyelidiki gadis itu. Selain cantik, anak itu juga pekerja keras dan cukup cerdas. Dan yang paling penting, dia setia dengan anak kita." ucapnya yakin.


"Oia? Kamu tau darimana kalau gadis itu setia sama Dimas?"


"Aku dulu pernah menyewa seorang laki laki tampan untuk sengaja mengejar cintanya Erina. Dan Erina menolaknya dengan tegas. Bahkan aku sampai kewalahan sendiri saat ternyata laki laki itu benar benar mencintai Erina dan berniat ingin memilikinya. Aku sampai harus menambah bodyguard khusus untuk melindungi gadis itu dan menyingkirkan laki laki bayaranku"


"Menyingkirkan? Kamu ga berbuat perbuatan kriminal kan Pap?" nada suara Ibu Devita syarat akan kekhawatiran yang besar sampai membuatnya panik.


"Tidak. Aku hanya menyuruhnya pergi dari kota ini dan aku berikan uang yang cukup untuk dia. Aku juga mengancam akan membuat hidupnya menderita kalau dia sampai berani berbuat nekad. Dan menurut informasi terakhir yang aku terima dari anak buahku, laki laki itu sudah menikah dan bekerja di sebuah perusahaan swasta"


"Oh, syukurlah kalau begitu. Aku sesak nafas mendengarnya. Tapi kenapa kamu ga pernah cerita soal itu ke aku? Kapan kamu melakukannya?"


"Dulu ketika Dimas kuliah di London. Aku tau kalau Dimas sangat mencintai Erina. Mereka juga masih saling berhubungan meski sedang berjauhan. Karna alasan itulah, aku berpikir bahwa sekembalinya Dimas ke rumah, ia pasti akan mencari gadis itu. Makanya aku sengaja menguji sejauh mana kesetiaan Erina dengan anak kita"


Ibu Devita terperangah, matanya terbelalak ketika suaminya memperlihatkan setumpuk foto foto Dimas bersama Erina. Foto foto mesra saat berdua, berboncengan motor, foto pelukan sampai foto berciuman pun lengkap tergambar di sana.


Selain foto foto mesra Dimas dan Erina, ada beberapa foto yang membuat dirinya merasa terkesima. Yakni foto foto Erina yang sedang bekerja di sebuah coffee shop. Ia terlihat cantik dan ramah melayani para customer. Foto Erina berjalan di tengah malam menuju rumahnya, serta foto Erina saat di dalam angkot. Sebuah foto yang menjelaskan sebuah perjuangan berat yang harus dilalui seorang anak perempuan.


"Aku ga nyangka, ternyata kamu seperhatiannya dengan urusan asmara anak kita"


"Aku hanya ingin Dimas tidak sampai salah dalam memilih pasangan hidupnya. Ini aku lakukan karna aku melihat besarnya cinta anak kamu kepada gadis itu. Maka dari itu,aku sengaja untuk memastikan sendiri seperti apa sosok perempuan yang sudah dicintai oleh anakku. Apakah ia layak atau tidak" ucapnya yakin dengan penuh penekanan.


Tak terasa dua bulir cairan bening mengalir dari kedua mata indah Ibu Devita. Bibirnya tersenyum bahagia dengan perkataan dari suaminya yang benar benar menyentuh hatinya.


"Terima kasih"


Pak Nugra hanya mengangguk pelan dan tersenyum, menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya yang hangat.


.


.


.


**Terima kasih ya Readersku sudah setia mengikuti kisah cinta DIMAS & ERINA.


Ditunggu selalu like, commet dan vote nya ya... ❤❤❤❤❤**

__ADS_1


__ADS_2