
Pak Nugra sangat bahagia mendengar kabar bahagia dari istrinya tentang kehamilan Erina. Rasa tak percaya akan kehadiran seorang cucu yang akan meramaikan rumahnya benar benar membuat dirinya seakan melayang diudara. Senyumnya pun mengembang dan tanpa disadarinya bibirnya mengeluarkan pernyataan tentang kehamilan Erina ditengah meeting yang sedang ia pimpin. Ucapan selamat pun langsung terlontarkan dari setiap peserta meeting.
Keesokan harinya Dimas dan Erina memeriksakan kandungannya ke dokter spesialis kandungan untuk menyakinkan kebenaran akan kehamilan Erina. Dan setelah menjalani pemeriksaan, sambil tersenyum dokter Rasti SPOG membenarkan kehamilan Erina.
"Selamat pak Dimas, istri anda positif. Ibu Erina sedang mengandung anak anda" Pernyataan dari dokter Rasti benar benar membuat Dimas bahagia tak terkira. Rasa bahagia itu juga sama dirasakan oleh Erina yang masih tak mempercayai bahwa kini dirinya sedang mengandung seorang anak di rahimnya. Anak dari hasil buah cintanya dengan Dimas.
"Kandungannya baik dan sehat. Ini saya kasih resep vitamin zat besi dan asam folat sebagai penguat kandungan untuk satu bulan. Selanjutnya ibu Erina harus datang untuk memeriksakan kandungannya kembali. Jika terjadi keluhan atau apapun itu, tolong segera diperiksakan ya... Jangan lupa untuk menjaga pola makan dan istirahat yang cukup, dan ga boleh terlalu capek apalagi sampai stress" ucap si dokter panjang lebar memberi nasehat dan setengahnya memperingatkan agar Erina berhati hati menjaga kandungannya.
"Baik dokter. Terima kasih" jawab Erina sambil mengulas senyum dibibirnya.
Selesai dari pemeriksaan dengan dokter Rasti, Dimas segera ke apotik untuk menebus resep obat dan vitamin yang sudah diresepkan untuk istrinya. Wajah Dimas masih berseri seri.
"Habis ini kita langsung makan ya... Kamu juga pasti sudah lapar kan? Kamu mau makan apa?" ucapan Dimas langsung direspon dengan anggukan cepat oleh istrinya.
"Apa aja asal makannya sama kamu, aku pasti suka" jawaban manja Erina terdengar sengaja menggoda Dimas dan membuatnya semakin gemas.
"Hmm.. Baiklah. Pokoknya hari ini aku mau makan yang banyak. Dan kamu juga harus ikut makan yang banyak seperti aku"
"Ayok, siapa takut...." Erina sengaja melingkarkan tangannya di lengan Dimas dan berjalan manja meninggalkan lobby rumah sakit.
#########
Ibu Astri sangat bahagia ketika dirinya menerima telepon dari Dimas yang mengabarkan bahwa putrinya saat ini sedang mengandung. Bayangan akan adanya cucu yang terlahir dari rahim putrinya membuat dirinya hampir hilang akal karna saking senangnya.
Disisi lain, meski kehamilan Erina baru memasuki tahap awal, pak Nugra sudah langsung mempersiapkan segala sesuatunya. Dan ternyata diluar dugaan, pak Nugra adalah sosok yang sangat protective. Untuk menyambut kelahiran cucunya, pak Nugra langsung mengerahkan anak buahnya untuk mengawasi dan menjaga Erina dan sicalon cucunya dengan sangat baik. Pak Nugra juga memesan khusus makanan dari restoran ternama yang ia percaya untuk menyiapkan makan siang dan cemilan sehat untuk menantunya itu.
##########
Erina sangat bersyukur mendapatkan suami yang sangat sayang dan mencintai dirinya sepenuh jiwa raganya. Bahkan mertuanya juga sangat menyayanginya seperti anak kandungnya sendiri. Terlebih saat sekarang, saat dirinya sedang hamil. Perhatian semua orang dalam rumah sangat besar kepadanya. Erina juga tidak diijinkan bekerja sampai sore. Maksimal hanya sampai jam dua Erina sudah harus kembali ke rumah yang diantar oleh sopir khusus yang sudah disiapkan oleh papa mertuanya. Terkadang Dimas sendiri yang mengantarnya pulang jika tidak ada janji meeting atau bertemu dengan client.
Dalam kehamilan pertamanya ini, Erina merasa agak bingung. Karna ia tak mengalami ngidam atau mual sama sekali seperti layaknya ibu-ibu hamil kebanyakan. Yang ia rasakan hanya sedikit pusing. Itupun juga hanya sebentar. Yang berubah adalah porsi makannya yang menjadi dua kali lipat dari biasa. Dan hampir semua makanan ia suka.
Justru yang merasakan mual dan ngidam adalah Dimas. Hampir setiap pagi, Dimas harus merasakan mual yang menyiksa sampai membuat dirinya kepayahan. Erina sampai tak tega melihat kondisi Dimas yang seperti itu. Berbagai obat atau vitamin sudah Dimas coba untuk dikonsumsi dengan tujuan bisa menghilangkan rasa mualnya di pagi hari. Tapi hal itu tidak memberikan efek yang diinginkan.
Untuk masalah ngidam, Dimas semakin tidak terkontrol. Dimas seperti anak kecil yang selalu kepenginan untuk bisa mencicipi setiap makanan atau minuman.Tapi sayangnya, makanan atau minuman yang menjadi ngidam nya Dimas pada akhirnya Erina juga yang menghabiskan. Karna Dimas hanya sekedar mencicipi saja dan tidak menghabiskan makanan atau minuman yang ia inginkan.
"Maafin aku ya sayang... Seharusnya aku yang mengalami ngidam dan mual, bukan kamu. Tapi aku juga ga tau kenapa mesti kamu yang harus mengalaminya" Erina menangkupkan kedua tangannya di wajah Dimas seusai puas memuntahkan isi perutnya di toilet kamar.
"Justru aku bersyukur bukan kamu yang merasakan hal ini. Biar aku saja. Mungkin aku akan lebih tersiksa kalau aku harus melihat kamu kepayahan karna rasa mual ini. Lebih baik kamu fokus sama kehamilan kamu. Dengan kamu ga merasakan mual, kamu bisa lebih leluasa memberi asupan nutrisi yang cukup untuk anak kita. Supaya anak kita sehat dan sempuran pertumbuhannya. Kamu ga perlu mencemaskan aku. Lagipula mual ini juga hanya pagi saja. Siang aku sudah baik dan bisa enak menikmati makanan." ucap Dimas dengan senyum manisnya. Dimas melabuhkan ciuman panasnya ke bibir Erina ********** dengan penuh kasih sayang.
##########
(Delapan bulan kemudian...)
Semakin hari perut Erina semakin besar. Gerakan di dalam perutnya juga semakin terasa. Bayi Erina tergolong aktif dan sepertinya doyan sekali makan. Hal itu membuat Erina selalu merasa lapar setiap waktu. Mama Devita dan mama Astri sangat senang ketika melihat Erina makan. Semua makanan pasti langsung dimakan tandas tak tersisa. Badan Erina juga mulai berubah menjadi lebih berisi dari semula. Perutnya yang gendut dan tubuhnya yang bertambah bobot membuat Erina tampak lebih sexy dan menggemaskan. Bukankah banyak orang yang bilang bahwa wanita akan terlihat sexy dan cantik itu saat sedang hamil bukan? Hihihi...
Setiap malam, Dimas tidak pernah melewatkan sedetikpun untuk bercengkraman dan berinteraksi dengan si jabang bayi yang masih di dalam perut.
"Dimas, geli ah..." ucap Erina sambil menepiskan tangan Dimas yang bergerak gerak di atas perutnya.
"Iihhh... Kamu ini apaan sih... Orang aku lagi asik main saya dedek bayi Iya kan sayangnya papa..." sanggahnya yang kini sembari menciumi perut Erina yang membuat istrinya menggelinjang karna kegelian. Usapan dan sentuhan Dimas membuat Erina geli bahkan tak kuasa untuk tidak tertawa keras. Alhasil, Erina tertawa keras karna menahan rasa geli dari luar dan dalam. Sepertinya bayinya sehati dengan papanya yang sama sama usil membuat mamanya merasa kepayahan karna respon balik dari dalam juga otomatis membuat Erina sulit untuk bergerak karna menahan gerakan dari dalam perutnya yang bergerak aktif.
Dalam setiap sujudnya kepada Tuhan, Dimas dan Erina selalu berucap syukur atas karunia yang telah mereka terima. Atas sebuah titipan luar biasa yang telah dipercayakan kepadanya yang akan mereka jaga dan sayangi sepenuh hati, seluruh jiwa raganya.
Kandungan Erina tumbuh sehat dan baik. Setiap bulan Erina dan Dimas selalu tepat waktu memeriksakan kehamilannya ke fokter Rasti. Dokter yang mereka pilih dan mereka percayai untuk membantu kehamilan sampai persalinan nanti. Erina juga sangat bersyukur dikehamilan pertamanya sangat banyak sekali kenikmatan yang ia rasakan. Hamil tanpa ada keluhan yang berat, serta dikelililingi oleh keluarga dan orang orang yang sangat baik dan perhatian kepadanya.
Usia kandungannya kini sudah memasuki usia 38 minggu. Erina sudah seminggu sekali memeriksakan kandungannya. Perutnya juga terlihat sangat besar. Namun sayang, posisi kepala bayinya masih saja melintang belum berada di bawah sebagaimana mestinya. Untuk membuat posisi kepala bayinya bisa berada di posisi semestinya, Erina juga tak luput dari kegiatan senam hamil. Erina sangat ingin bisa melahirkan anaknya secara normal. Namun jika memang tidak bisa untuk normal, ia pasrah dan tidak akan memaksakan.
#########
__ADS_1
Malam ini seperti biasa setelah membersihkan diri, Erina berbaring diranjang untuk pergi tidur. Dimas sendiri sudah terlelap lebih dulu. Erina mengulas senyuman manis melihat suaminya yang sudah terlelap. Erina mencoba untuk memejamkan mata untuk memulai aktivitas tidurnya.
Baru bekisaran satu jam Erina tertidur, Dimas memiringkan tubuhnya ke arah Erina dan memeluk tubuh sang istri yang sudah menggendut seperti memeluk guling. Mata Dimas terbelalak seketika saat sebelah tangannya merasakan cairan hangat di bagian bawah tubuh Erina.
"Erina ngompol? Masa sih? Tapi kok cairannya licin ya" batin Dimas bertanya tanya sambil meraba kembali cairan di atas sprei belakang punggung Erina.
Dimas mengambil ponsel miliknya dan langsung menghubungi ponsel sang mama untuk bertanya.
"Iya Dim, kamu belum tidur?" suara parau mama Devita terdengar menahan kantuk.
"Mam, Erina ngompol" ucap Dimas polos dan jujur. Perkataan Dimas sontak membuat mamanya tertawa ngakak.
"Jangan bercanda ah, masa iya Erina ngompol? Keringat kali Dim..."
"Kalau ibu hamil ada cairan yang bernama air ketuban kan mam?"
"Iya, pasti ada. Itu cairan pelicin buat mempermudah bayi keluar dari rahim. Memangnya kenapa sih Sayang?"
"Apa Mam? Licin?" ucap Dimas membeo dan semakin yakin kalau cairan di bawah pantat Erina adalah air ketuban bukan air pipisnya.
"Iya, air ketuban itu rasanya agak licin"
"Kapan air ketuban itu keluar mam?" nada bicara Dimas mulai terdengar panik dan setengah memaksa mamanya untuk segera menjawab pertanyaannya.
"Biasanya kalau ibu hamil mau melahirkan, air ketubannya pecah. Kamu kenapa sih Dim? Erina baik baik saja kan?" mama Devita mulai curiga akan kondisi Erina yang kenapa napa.
"Mama, sepertinya Erina mau melahirkan. Air ketuban Erina pecah mam." Mama Devita langsung duduk dari posisi tidurnya dan segera membangunkan suaminya.
Sementara Dimas langsung membangunkan Erina yang masih terlelap dari mimpinya.
"Sayang... Bangun sayang..." Erina tidak langsung bangun. Tubuhnya menggeliat pelan. Tepukan kecil tangan Dimas dipipi Erina memaksa matanya untuk terperjap dan terbuka.
"Sayang, coba pegang celana dalam kamu. Kamu merasa ada yang basah ga?" sejenak Erina merasa aneh dengan permintaan Dimas. Namun tangannya secara refleks mengikuti perintah suaminya. Erina terkejut ketika ia merasakan hawa lembab dari celana dalamnya.
"Sayang, aku ngompol ya?" wajah Erina memerah merasa sangat malu karna kebodohannya.
"Bukan sayang, air ketuban kamu sepertinya pecah. Kita harus segera ke rumah sakit. Malam ini juga"
"A-apaa...." wajah Erina memucat dan panik.
Belum sempat Erina melanjutkan kata katanya tiba tiba terdengar suara ketukan pintu bertubi tubi dari luar kamar. Dimas langsung beranjak membukakan pintu. Mama Devita dan papa Nugra dengan wajah paniknya langsung masuk ke kamar Dimas untuk melihat kondisi Erina.
"Dimas, Erina, kalian harus segera ke rumah sakit. Ini bukan air pipis, tapi air ketuban." mama Devita menyentuh cairan yang tumpah di atas sprei dan di paha Erina.
"Erina, apa kamu merasakan mules atau sakit pada perut?" mama Devita dengan paniknya bertanya sambil memegang perut besarnya Erina. Erina hanya menggeleng pelan. Karna ia memang tidak merasakan apapun seperti yang di khawatirkan mama mertuanya.
Tanpa pikir panjang, Dimas segera berganti pakaian dan membantu Erina berganti pakaian. Tak lupa ia menghubungi dokter Rasti. Setelah itu Dimas membantu memapah Erina berjalan perlahan ke bawah menuju mobil.
"Dimas hati hati bawa mobilnya ya nak..."
"Iya Mam. Pasti. Kami pergi dulu ya Ma... Pa..."
Dimas segera melajukan mobil menuju rumah sakit.
Mama Devita tak kuasa menahan rasa khawatir akan keselamatan menantu dan cucunya. Rasa gelisah dan khawatir selalu membayangi.
"Pap, ayo kita susul mereka ke rumah sakit. Mama ga tenang. Cucu kita pap..." Papa Nugra mengusap usap punggung dan mengabulkan permintaan dari sang istri.
"Ya sudah, ayo kita siap siap"
__ADS_1
#########
Di tengah perjalanan menuju rumah sakit, perut Erina mulai terasa nyeri dan sakit. Rasa sakitnya aneh dan tak bisa ditahan. Gerakan dari dalam perut Erina yang cukup sering menimbulkan rasa mules yang berujung pada rasa sakit yang teramat nyeri.
"Aduh, Dimas perutku tiba-tiba sakit. Akh... Sakit banget Dim..."
"Sabar sayang, sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit. Bertahanlah..." Dimas mulai panik melajukan mobilnya. Sesekali matanya melihat ke arah Erina yang mengerang kesakitan. Namun meski bagaimanapun ia harus tetap fokus pada gagang stir nya.
Erina meringis kesakitan dan mencengkram lengan Dimas menahan sakit diperutnya.
"Dimas tolong cepatlah... A-aku ga kuuuuaaatt... Sakiiiittt..." Secepat kilat Dimas melajukam roda roda mobilnya. Untung malam, dimana kendaraan yang lalu lalang tidak begitu ramai.
"Tahan sayang... Kita akan sampai..." mobil Dimas sudah sampai di depan pintu UGD rumah sakit. Dua orang perawat datang dengan membawa brangkar dorong dan segera membawa Erina ke dalam ruang persalinan.
"Bagaimana dengan dokter Rasti? Apa sudah datang?" tanya Dimas setengah menggertak karna panik.
"Belum pak. Dokter Rasti sudah diperjalanan. Sebentar lagi datang" ucap seorang suster.
Sambil menunggu kedatangan dokter Rasti, Erina sudah di periksa sementara oleh dokter kandungan yang lain. Dari kejauhan sudah nampak dokter Rasti setengah berlari menuju ruang persalinan. Erina sudah dipasangi selang infus dan alat deteksi jantung.
"Pak Dimas, seperti yang bapak lihat dilayar monitor, posisi bayi bapak melintang dan sepertinya istri bapak tidak bisa melahirkan secara normal. Ditambah lagi air ketubannya sudah pecah. Jadi, kita tidak punya waktu lama. Saya harus segera melahirkan bayi bapak dengan jalan operasi. Ini demi kebaikan istri dan bayi bapak" Dimas hanya mengangguk cepat.
"Baik dok. Tolong lakukan apa saja yang penting istri dan anak saya selamat." ucap Dimas tanpa pikir panjang.
"Baik, silahkan bapak tanda tangani formulir persetujuan operasi. Suster, tolong siapkan formulirnya" tanpa pikir panjang Dimas langsung menandatangani formulir tersebut dan kembali berada di sebelah Erina.
"Maaf Pak, bapak tidak boleh berada di dalam ruang operasi" ucap salah satu suster.
"Tidak!! Saya akan tetap disini menemani istri saya. Apa suster tidak tau? Istri saya adalah pasien VVIP di rumah sakit ini dan saya sudah dapat ijin langsung dari dokter Rasti jauh sebelum waktu persalinan." gertak Dimas dengan arogant dan terbawa emosi.
"Oh, baik pak. Saya mohon maaf."
Dokter Rasti memasuki ruang operasi dengan mengenakan baju steril khusus operasi.
"Baik kita mulai operasinya. Pak Dimas, bisa bantu peluk istri bapak ya. Dokter Dina akan meng-anestesi istri bapak." Dimas mengangguk dan langsung memeluk tubuh Erina dengan erat.
Setelah anestesi berhasil, dokter Rasti memulai jalannya operasi dibantu dokter specialis bedah, dokter Maria.
Ooooeeeeeeee.....
Lutut Dimas terasa lemas bagai tak bertulang ketika untuk pertama kalinya ia mendengar suara tangisan bayi yang sangat kencang dan kuat yang terlahir dari rahim istrinya. Tak terasa air matanya mengalir hangat di kedua pipinya.
"Ibu Erina, Pak Dimas selamat. Bayi anda laki-laki. Ganteng dan sehat." ucap dokter Rasti.
Seorang bidan yang membantu persalinan meletakkan bayi Erina di atas dadanya dan membiarkan bayinya mencari ****** ibunya sendiri. Tangis Erina pun pecah seketika saat melihat bayinya diletakkan di atas dadanya.
"Sayang... anak kita sudah lahir" ucap Dimas dengan haru sambil menciumi pipi Erina yang hanya bisa mengangguk sambil menangis bahagia.
Dokter Rasti and team melanjutkan membereskan persalinan. Sementara Dimas sudah berpindah ke ruangan bayi untuk segera mengadzankan dan meng-khomati si baby boy.
Erina masih belum bisa dijenguk. setelah kurang lebih empat jam diruang pemulihan, Erina akan segera dipindahkan ke ruang rawat VVIP yang sudah Dimas pesan.
Dengan wajah merona dan penuh kelegaan Dimas menemui kedua orangtuanya dan langsung mengajaknya ke ruang bayi. Dari balik kaca, orang tua Dimas melihat cucu kesayangan mereka yang terlihat sehat dan montok. Wajah wajah sumringah teramat senang karna mendapatkan mainan baru adalah sebuah rasa yang sangat sulit untuk diungkapkan. Seorang cucu laki-laki calon penerus keluarga Nugra telah lahir dengan sehat dan selamat. Rasa syukur kepada Tuhan tak henti hentinya mereka panjatkan karna Tuhan sudah sangat baik menitipkan seorang cucu laki laki yang sehat dan sempurna ditengah tengah keluarga Nugra Ardhana.
.
.
.
__ADS_1