Ku Tembak Cintamu 2x

Ku Tembak Cintamu 2x
Terpaksa Mengalah


__ADS_3

"Erina, apa kalian sudah memiliki nama untuk cucu kami?" Mama Devita mulai tak sabar untuk mengetahui nama dari cucu kesayangannya.


"Iya Ma, sudah. Dimas sudah memberi nama pada bayi kami. Namanya DARREN NUGRA ARVIANTO" jawab Erina dengan senyum lebarnya.


"Waaaahhh... Nama yang bagus. Pap, ternyata Dimas menyantumkan nama kamu di nama cucu kita..." pak Nugra tersenyum manis. Wajahnya terlihat merona senang karna ada namanya di nama cucunya.


"Dimas sengaja menyantumkan kedua nama kakeknya di nama cucu kalian. Kata Dimas, supaya Darren mewarisi jiwa positif dari para kakeknya" semua orang tua tersenyum senang dan bahagia mendengar penjelasan dari Erina terkait maksud dari sisipan nama untuk cucu mereka. Dan merekapun akhirnya mulai sibuk berbincang bincang sendiri dan sengaja membiarkan Erina kembali beristirahat di ranjangnya.


#########


Selang beberapa menit...


Drrrtt... Drrtttt....


Ponsel Erina yang berada di atas nakas samping ranjangnya bergetar. Tangannya tak cukup sampai untuk menggapai ponsel miliknya yang sedang bergetar.


"Mama, boleh minta tolong ambilkan ponsel Erina? Sepertinya ada telpon masuk" mama Astri mengangguk dan mengambil ponsel milik putrinya.


"Dimas telpon nih" ucapnya sambil menyodorkan ponsel layar lebar kepada putrinya.


"Makasih ya Ma..."


"Ya sayang..." sapa Erina kepada suaminya.


Sejenak tak ada kelanjutan dari suara Dimas hingga harus membuat Erina mengulangi lagi sapaannya.


"Halo... Sayang... Kamu telpon ada apa?"


Dari sebrang sana, Dimas memejamkan matanya sambil mengeratkan giginya menahan amarah yang sudah memuncak.


"Erina...." akhirnya Dimas mampu menyebut nama istri tercintanya sambil menahan gejolak emosi di dirinya. Suaranya terdengar parau dan lemah.


"Dimas, ada apa? Kamu baik baik saja kan? Apakah terjadi sesuatu?" suara Erina mulai terdengar cemas dan panik. Suara telpon Dimas terdengar aneh dan tak seperti biasa. Dimas seperti sedang menanggung beban yang sangat berat.


"Erina... Ayo kita bercerai..." ucapan Dimas seketika seakan membuat diri Erina seperti kaca yang terjatuh di lantai hancur berserakan tak beraturan.


"Bercerai?" ucap Erina membeo. Para orangtua yang saat ini masih berada di ruang kamar rawat Erina langsung mendekat ke arah ponsel Erina, ingin tau lebih jelas akan isi perbincangan antara Erina dan Dimas.


Wajah Erina memucat. Mama Devita terlihat marah ketika telinganya mendengar kata cerai dari mulut menantunya. Ia tak percaya kalau Dimas akan setega itu memperlakukan istrinya yang baru saja melahirkan anaknya dengan sikap yang sangat gegabah seperti ini.


Airmata Erina mengalir deras begitu saja. Para mama mengelus dan memijat pundak Erina sebagai bentuk apresiasi dukungan kasih sayang kepadanya.


"Maksud kamu apa Dim? Ke-kenapa kamu tiba-tiba berkata seperti ini? Ada apa sebenarnya?" Erina berusaha sekuat hati menguatkan dirinya untuk menyanggah ucapan Dimas yang sangat menyakitkan.


Dimas sendiri masih berdiri dengan ponselnya yang ia pegang erat dengan sangat geram seakan ingin meremukkan ponsel yang ia pegang. Hatinya sungguh sakit harus melontarkan perkataan yang pastinya sudah menyakiti perasaan istri tercintanya. Hati Dimas terasa perih ketika suara tangis Erina terdengar tertahan disela sela kalimat yang diucapkannya. Ingin sekali ia berlari menemui dan memeluknya dengan erat dan mengatakan kalau ini adalah kesalahan. Tapi sayang, saat ini ia tak mampu melakukannya. Ada sesosok makhluk kecil yang sedang dipertaruhkan dan harus diselamatkan.


"Tidak ada apa apa. Aku hanya ingin mengakhiri semuanya. Aku harap kamu mengerti" Dimas langsung mematikan sambungan telponnya dengan Erina. Tangannya mengepal geram menahan amarah yang semakin besar menyeruak dalam jiwanya. Untuk saat ini ia harus melupakan perasaan akan sebuah kehancuran. Otaknya tetap harus berpikir jernih dan tenang untuk menghadapi monster jahat dan licik yang ada di hadapannya.


########


Tangis Erina pecah. Airmatanya semakin deras membasahi kedua pipinya. Hatinya sungguh kacau dan tak mampu merasakan apapun. Pandangannya pun seketika berubah menjadi gelap semua.


"Erinaaaa...." teriak mama Astri ketika tubuh Erina melunglai dan tak sadarkan diri.

__ADS_1


"Pasti ada yang ga beres" ucap pak Nugra yang terlihat panik. Dengan cepat ia segera menghubungi Andra dan para bodyguard kepercayaan nya untuk segera datang mengatasi permasalahan yang sedang terjadi.


Mama Devita memencet tombol panggilan yang langsung tersambung ke ruang perawat dan dokter. Seorang perawat dan dokter jaga mendatangi kamar rawat Erina dengan setengah berlari. Hal itu mungkin dilakukan karna mama Devita menekan tombol panggilan bertubi tubi. Sehingga membuat perawat dan dokter beranggapan ada sesuatu hal yang mendesak yang harus segera ditangani.


##########


Moment saat Dimas keluar dari kamar Erina menuju kamar bayi


"Yes Boss" jawab cepat Rio saat menerima panggilan masuk dari Dimas.


"Tolong loe telpon polisi sekarang. Pastikan semua aman" Mata Rio terbelalak kaget dengan perintah yang baru saja diucapkan boss nya.


"A-apa?? Polisi? Memangnya ada apa? Halo... Boss... Dimaaaasss...." Rio hanya bisa mematung bingung ketika sambungan telponnya diputus begitu saja oleh Dimas. Sejenak Rio tak mampu berpikir apa apa. Rio terdiam dalam duduknya dengan pandangan kosong ke depan.


"Sayang, ada apa? Sayang, kamu kenapa?" Chika mengguncang guncangkan tubuh Rio yang membeku. Kepanikan pun turut menghiasi wajahnya. Chika sedikit lega ketika suaminya akhirnya sadar dari lamunannya. Namun kelegaan itu langsung berubah menjadi rasa cemas yang dilingkupi rasa bingung ketika Rio memberikan instruksi yang semakin membuatnya bertanya tanya.


"Sayang, aku harus pergi sebentar, kamu lanjutkan imunisasi anak kita. Ingat!! Kamu dan Azkia tidak boleh keluar dari ruangan ini sampai aku kembali datang untuk menjemput kalian. Kamu mengerti?" Chika yang tak begitu mengerti akan maksud dari perkataan suaminya hanya mampu menganggukkan kepalanya dan dalam sekejap suaminya langsung pergi meninggalkan dirinya dan anaknya entah kemana.


##########


Suster gadungan terlihat sedang menggendong bayi Erina sambil berbicara sendiri. Seolah olah ia sedang mengajak si bayi berbicara dengannya. Dimas melangkahkan kaki menuju ruang bayi dengan sangat hati hati. Di dalam ruangan bayi itu hanya ada seorang suster yang sedang menggendong bayi berdiri memunggungi pintu. Sepertinya suster itu adalah suster yang tadi yang baru saja mengambil bayi dari kamar Erina.


Dimas sejenak memperhatikan gerak gerik suster gadungan itu. Dari rasa kecurigaannya, Dimas tak ingin berlama lama membuang waktu hanya untuk berdiri memandangi punggung di suster. Suster tadi mengatakan bahwa bayinya akan dilakukan imunisasi. Namun faktanya di ruangan ini hanya ada dia sendiri tanpa seorang dokter yang akan menginjeksi vaksin imunisasi.


"Suster..." suara Dimas mengagetkan wulan, suster gadungan yang sedang asik berbicara dengan bayi Erina. Racun tetes yang sudah ia siapkan ditangannya harus tertahan dan sedikit tertunda untuk dimasukkan ke dalam mulut mungil si bayi lucu. Dimasukkannya kembali racun tetes itu ke dalam saku bajunya dan berpura pura kembali bersikap tenang seperi seorang perawat yang sedang bertugas.


Wulan menolehkan wajahnya yang ditutup masker dan kacamata berbingkai hitam ke arah Dimas yang memanggilnya.


"Kata suster, bayi saya akan diimunisasi? Kenapa tidak ada dokter disini?" Dimas berusaha tenang melontarkan pertanyaan logis kepada perawat gadungan itu. Hatinya terasa nyeri ketika melihat suster itu sedang menggendong bayinya.


"Siapa kamu? Letakkan bayi saya!" gertakan Dimas tak lantas membuat Wulan bergeming sama sekali. Ia bahkan malah terkekeh melihat wajah Dimas yang mulai telihat panik.


"WULAN !!! Aku tau itu kamu...." tebakan Dimas sedikit membuat Wulan bahagia. Karna Dimas masih bisa mengenali diriny meski ia sedang menyamar menjadi orang lain.


Wulan menyunggingkan senyuman di ekor bibirnya. Senyuman penuh ironi dan mengancam. Perlahan Wulan melepas kacamata dan masker yang ia gunakan. Mata Dimas terbelalak seakan ingin copot dari kelopaknya ketika kecurigaannya terjawab akan kebenarannya. Bayinya dalam bahaya !!!


Lagi lagi Wulan terkekeh menyebalkan. Tangannya masih enggan untuk meletakkan bayi Erina ke dalam box bayi yang berada di depannya.


Perlahan Dimas menyingkirkan dua box bayi yang berisi bayi bayi dan sengaja ia keluarkan ke luar ruangan dengan tujuan bayi orang lain yang tidak berdosa itu tidak ikut menjadi korban dari kejahatan Wulan. Dan benar saja, seorang perawat berseragam langsung menyingkirkan box baby itu menjauh dari ruang bayi VVIP. Dimas hanya bisa memandangi kepergian perawat yang mendorong box baby tanpa mengetahui apakah itu perawat asli atau sama gadungannya dengan Wulan.


Entah kenapa suasana kamar bayi ruang VVIP hari itu terasa sangat sepi. Tidak ada perawat atau dokter yang lalu lalang ke ruangan itu. Kemana mereka semua? Otak Dimas berpikir keras mencari jawaban atas pertanyaan singkatnya.


"Aku senang kamu masih mengenaliku Kakak Dimas..." ucap Wulan masih sengan tawa kecilnya.


"Wulan, please... Tolong kamu letakkan kembali bayiku ke tempatnya." ucapan permohonan Dimas terdengar sebagai ejekan yang memintanya untuk mengembalikan mainan yang masih sangat ia inginkan.


"Apa? Kamu minta apa? Aku meletakkan kembali bayi ini ke tempatnya? Maksud kamu ke dalam box bayi ini? Kenapa? Memangnya aku ga boleh kalau aku menggendong bayi lucu ini?" Wulan menatap tajam ke arah Dimas yang mulai mencoba mendekatinya. Dan dengan tegas, Wulan memberi peringatan kepada Dimas agar ia tetap menjauh dan tak perlu terlalu dekat dengannya.


"Berhenti disitu. Kamu ga perlu mencoba untuk mendekat atau aku akan meneteskan cairan ini ke dalam mulut bayimu...." langkah Dimas terhenti ketika tangan Wulan mengarahkan ke atas dan memamerkan sebuah tube kecil yang berisi cairan bening kepadanya. Sepertinya ancaman Wulan kali ini tidak main main.


"Wulan Pleasee... Anak itu tidak berdosa. Jangan kamu ungkapkan kemarahan kamu pada anak itu. Urusanmu denganku, bukan dengan anak itu"


"Kamu lupa kak Dimas, anak ini ada kaitannya dengan aku juga. KARNA ANAK INI TERLAHIR DARI RAHIM PEREMPUAN YANG SANGAT AKU BENCI...!!!! " ucap Wulan setengah berteriak dan menhardik Dimas.

__ADS_1


"Anak ini tidak seharusnya ada di dunia ini!!!"


"Wulan... Kita bisa bicara baik baik.. Sekarang katakan, apa mau kamu. Aku janji, aku akan turuti semua kemauan kamu" Wulan terkekeh lagi mendengar tawaran menggiurkan yang disodorkan oleh Dimas.


"Benarkah? Benarkah kamu akan menuruti semua keinginanku?" ucapan Wulan yang melambat terdengar mengejek Dimas dan seakan negosiasi yang ditawarkan Dimas adalah lelucon murah yang akan menjebaknya jika ia lengah.


" Iya, aku janji. Apapun permintaan kamu, akan aku turuti semuanya"


"Dari dulu aku hanya punya satu keinginan. Yaitu bisa bersama denganmu selamanya. Tapi kamu selalu mengabaikan perasaanku dan sengaja membuatku terluka. Tapi saat ini aku cukup senang dengan adanya makhluk kecil yang lucu ini..." wulan menimang nimang bayi Erina sambil menyunggingkan senyuman sinis ke arah Dimas dan si bayi secara bergantian. Darren sendiri masih tertidur pulas dalam gendongan Wulan. Bayi itu seakan nyaman dalam gendongan wanita mengerikan yang sedang mengancam nyawanya.


"Apakah kamu tau kak Dimas, bagaimana rasanya kehilangan orang yang kita sayangi? Hahaha... Sepertinya kamu belum pernah merasakan hal itu ya... Bagaimana kalau bayi lucu ini harus tertidur selamanya? Menarik bukan?" ucapan kalimat Wulan yang sengaja dilambatkan membuat Dimas geram dan ingin sekali langsung menghajar wanita ****** di depannya ini. Wulan sudah berhasil merenggut kelemahan Dimas. Darren adalah kelemahan Dimas yang sangat berati baginya.


Dan sangat disayangkan, racun berbahaya yang ada di genggaman tangan Wulan harus memaksa Dimas mengurungkan niatannya untuk bisa berbuat nekad menyerang Wulan. Bisa saja saat dirinya melangkah untuk menyerang, racun itu sudah langsung dengan mudahnya diteteskan ke dalam mulut bayinya. Dan itu bukan sesuatu yang Dimas inginkan. Kali ini ia harus extra sabar dan mengalah untuk mensiasati kelicikan Wulan.


"Jangan coba-coba berani berbuat nekad kepada anakku !!! Aku bersumpah, aku akan membunuhmu Wulan !!!" Wulan sedikit terkejut dengan gertakan Dimas. Wajahnya terlihat sedih ketika dengan lantangnya Dimas menyerukan ancaman serius kepadanya.


"Kenapa kamu jadi kasar kepadaku? Bukankan kamu sudah berjanji akan menuruti semua permintaanku?"


"Aku memang berjanji akan menuruti semua keinginan kamu. Tapi bukan berarti aku akan berdiam diri jika kamu berani setitik saja menyakiti anakku!!"


"Hhmmm... Baiklah, aku mengerti. Kalau aku minta kamu untuk menceraikan Erina sekarang juga, apa kamu akan melakukannya kakak Dimas yang tampan?" permintaan Wulan benar benar sudah sangat menamparnya. Wulan benar benar telah berhasil memojokkannya dengan mengajukan permintaan yang sulit untuknya.


"Kenapa mesti harud bercerai? Kalau kamu ingin aku untuk menikahimu, aku tidak perlu menceraikan Erina. Aku bersedia untuk menikahimu"


"TIDAK !!!" Aku tidak sudi harus berbagi cinta dengan perempuan lain. Apalagi perempuannya adalah Erina. Aku ingin menjadi milikmu seutuhnya." Dengan angkuhnya, Wulan mendongakkan wajahnya dengan rasa percaya diri yang tinggi dan menatap wajah Dimas dengan tatapan serius dan menantang.


"Aku ingin kamu menceraikan Erina sekarang juga. Cepat telpon Erina, dan biarkan aku mendengarnya juga. Kalau tidak, racun ini aku pastikan akan segera disesap oleh bibir mungil bayimu kak Dimas..." Dimas mengepalkan kembali tangannya. Kepalannya kali ini semakin kuat hingga membuat tulang tulang jemarinya terlihat lebih menonjol.


Dengan tangan setengah gemetar, Dimas meraih ponsel miliknya dan akan segera menekan tombol nomor ponsel Erina. Namun tangannya sengaja ia hentikan untuk memastikan suatu hal yang lebih penting.


"Ok, aku akan menhubungi ponsel Erina dan aku akan menceraikannya sekarang. Tapi aku minta, kamu letakkan dulu anakku di tempatnya." Wulan tertegun sejenak dengan permintaan Dimas. Tak lama bibirnya terkekeh geli karenanya.


"Kamu pikir aku bodoh Dimas? Aku tidak akan membiarkan harta berharga ini lepas begitu saja dari cengkramanku"


"Walaupun nantinya aku telah menceraikan Erina dan menikahimu, anak itu juga akan menjadi anakmu Wulan"


"AKU TIDAK SUDI MERAWAT ANAK ERINA..." jawab Wulan dengan cepat dan setengah berteriak.


"Kalau begitu, biarkan anak itu dirawat oleh ibunya. Kalau kamu sampai berani menyakiti anak itu, aku akan pastikan, pernikahan kita tidak akan pernah ada. MENGERTI !! Aku bisa saja menikah kembali dengan Erina dan membuat anak lagi dengannya. Dan kamu, akan aku pastikan membusuk dipenjara. LETAKKAN BAYI ITU !!!" Emosi Dimas sudah tak tertahankan. Kakinya mulai sengaja ia langkahkan lebih dekat ke arah Wulan. Suara gertakan dan ancaman Dimas berhasil menaklukkan hati Wulan dan membuatnya luluh. Perlahan tangan Wulan mengarah ke bawah dan meletakkan baby Darren di box baby. Dimas sedikit lega melihat bayinya terbebas dari tangan jahat Wulan.


Dengan menghela nafas berat, Dimas menghubungi nomor ponsel Erina dan menyalakan tombol speaker ponselnya. Wulan tertawa senang dan bahagia ketika suara isak tangis Erina terdengar pilu dan menyedihkan.


"Kamu senang?"


"Iya, aku sangat senang. Dan aku sudah menyiapkan kejutan besar special buat kamu calon suamiku" Wulan menghubungi anak buahnya yang sudah menunggu instruksinya. Dengan sigap dan cepat, dua orang anak buah kepercayaan Wulan masuk ke dalam ruangan dengan membawa seorang penghulu.


"Rencanamu benar benar sempurna Wulan. Aku sungguh tersanjung dengan kejutanmu. Kamu memang wanita luar biasa..." tanpa tau malu, Wulan dengan percaya diri yang tinggi melempar senyuman manis nya ke arah Dimas dan berusaha menggodanya dengan menggerakkan tubuhnya sedikit ke depan.


"Kamu tidak akan menyesal beristrikan wanita seperti aku calon suamiku..." senyum licik Wulan lagi lagi tersungging dibibirnya. Senyumnya tergambar sebuah kepuasan dan kemenangan dari sebuah kemenangan.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2