Ku Tembak Cintamu 2x

Ku Tembak Cintamu 2x
Kesalahan Yang Bodoh


__ADS_3

Sejak peristiwa tak menyenangkan yang terjadi dua kasus sekaligus, membuat diri Dimas berubah 180 derajat. Dimas yang dikenal santai dan ramah kini telah berubah menjadi sosok dingin dan kaku. Dari kejadian yang menimpa dirinya dan perusahaannya telah berhasil memberikan ilmu dan pengalaman yang berharga untuknya. Sebuah peringatan akan pentingnya menjaga aset berharga yang dimilikinya.


Seperti hari ini, Dimas benar benar merealisasikan apa yang sudah ia rencanakan. Pertemuan demi pertemuan telah ia jalani dan dengan hasil yang sesuai harapan. Beberapa rekanan bisnis dari keluarga Surya Winata sudah berhasil ia rengkuh dan sudah bergabung dengan perusahaannya. Butuh perjuangan yang cukup besar untuk bisa menjatuhkan perusahaan yang dimiliki keluarga Surya Winata. Meski demikian, Dimas tak gentar untuk melawannya. Amarah dan geram nya sudah berada di ubun-ubun kepalanya. Bendera perang seakan telah berkibar di sana. Bukan dirinya yang sengaja menghancurkan tapi pihak sanalah yang lebih dulu bermain api dengannya.


#########


Tttiiinggg....


Satu pesan masuk ke ponsel Erina.


"Kevin?" batin Erina.


Dilihatnya isi dari pesan singkat yang dikirimkan oleh laki-laki itu. Mata Erina terbelalak dengan mulut ternganga. Pesan yang berisi foto foto dirinya dengan Kevin yang sungguh tak pernah ia lakukan tapi terpampang jelas seolah nyata.


Foto yang indah ya... Aku harap kamu menyukainya... 😘


Dada Erina seketika terasa sesak. Ditambah batuk yang sedang menyerangnya semakin membuat dadanya terasa sakit.


Erina memejamkan matanya dan menipiskan bibirnya. Kini ia sudah tau penyebab dari dinginnya sikap Dimas kepadanya. Pasti Dimas sudah melihat foto foto mesra palsu dirinya dengan Kevin.


Uhuk.. Uhuk... suara batuk Erina mulai terdengar sering. Sudah beberapa hari ini tenggorokannya memang terasa gatal. Sepertinya Erina alergi akan debu yang menempel pada kertas kertas di ruangan arsip.


"Erina kamu batuk? Sudah minum obat" ucap Bu Sandra membuyarkan pikirannya.


"Iya bu. Sudah. Maaf ya Bu..." ucapnya merasa tak enak.


"Kalau kamu sakit, lebih baik kamu pulang cepat saja. Ga apa apa kok"


"Uhuk.... Maaf." jari jari Erina langsung menutup mulutnya yang sedang batuk.


"Ga apa apa bu. Saya bisa pake masker. Saya baik-baik saja kok bu"


"Ya sudah. Kalau sekiranya kamu ga enak badan, istirahat ya. Jangan di paksain"


"Baik bu." Ibu Sandra tersenyum dan mengangguk.


Saat ini yang sedang dipikirkan Erina adalah bahwa ia harus segera bertemu dengan Dimas. Ia harus meluruskan kesalah pahaman ini. Hubungannya dengan Dimas juga harus ia perbaiki. Ia ga sanggup harus berlama lama dalam kedinginan sikap Dimas.


Uhuk...uhuk... uhukkk...


Ditepuk tepuknya dadanya untuk mengurangi sedikit rasa gatal dari tenggorokannya yang menderanya saat ini. Air hangat dan obat batuk yang ia minum nampaknya belum memberi efek yang bisa membantu meredakan rasa gatalnya dari keinginan untuk tidak batuk.


Tapi walau kondisinya saat ini kurang fit, Erina tetap bertekad untuk menemui Dimas. Setelah dirasa pekerjaannya mulainberkurang, Erina meminta ijin bu Sandra untuk keluar sebentar. Ijin yang ia dapatkan tidak ia sia-siakan. Erina langsung menuju lift dan menekan tombol angka 7 menuju ruang kerja Dimas.


Tttiiinnggg...


Pintu lift terbuka. Tanpa ragu, Erina langsung berjalan menuju ke ruang kerja Dimas. Pijtu yang diketuk olehnya langsung terbuka oleh Rio sang assistant. Rio cukup terkejut dengan kehadiran Erina yang secara tiba-tiba tanpa adanya pemberitahuan terlebih dahulu.


"Erina?" hanya senyuman tipis yang Erina tunjukkan kepada Rio.


"Boleh aku masuk? Aku ingin bicara dengan Dimas" Rio hanya mengangguk tanpa menanyakan ijin terlebih dahulu kepada Dimas.


Erina melangkahkan kakinya memasuki ruang kerja Dimas yang cukup besar. Langkah kakinya terhenti saat matanya melihat Dimas tengah sibuk menanda tangani berkas berkas yang sedang di berikan oleh Dini.


"Mana lagi yang harus saya tanda tangani?" ucap Dimas sambil sekilas menatap wajah Erina yang sudah berdiri di depan mejanya.


"Emm.. Sudah semuanya Pak" Dini merapihkan kembali berkas berkas yang sudah di tanda tangani oleh Dimas.


Seakan menyadari tamu yang datang tak diundang, Dini sengaja ingin membuat Erina tamu yang di maksud sedikit jengah dengan apa yang akan di lihatnya.


"Pak Dimas, maaf. Dasi bapak sepertinya sedikit miring. Sini pak, biar saya bantu rapihkan" ucap Dini sambil mengarahkan tangannya dengan cepat ke dasi Dimas yang sebenarnya tidak begitu miring. Gerak tangan Dini yang gesit membuat Dimas tak bergeming dibuatnya.

__ADS_1


Erina memalingkan sedikit wajahnya. Matanya terasa panas, hatinya juga terasa sakit dengan kelakuan Dini yang sepertinya sengaja membuatnya cemburu.


"Makasih ya..." ucap Dimas datar sambil tersenyum kikuk.


"Sama-sama pak Dimas. Kalau begitu saya permisi" ucap Dini dengan suara yang lembut nan manja.


Dini membuang senyuman sinis saat melintas di samping Erina yang sedang berdiri. Erina sendiri masih terdiam dan mematung sampai Dini benar benar keluar. Tak lama Dini keluar, seperti biasa, Rio juga keluar sengaja membiarkan boss nya berdua dengan kekasihnya.


"Boleh aku bicara sama kamu?" ucap Erina tak sabar.


"Duduklah..." titah Dimas datar.


Erina mendudukkan dirinya di kursi tepat berhadapan dengan Dimas. Dipandanginya wajah Dimas yang terlihat sibuk atau sedang berpura pura sibuk dengan pekerjaannya. Entahlah...


Erina menghela nafas panjang untuk menenangkan dirinya.


"Dimas... Aku mau jelasin tentang foto-foto yang dikirim Kevin...." suara Erina terdengar lemah. Belum selesai Erina berbicara, Dimas sudah dengan cepat menyela ucapannya.


"Ga perlu ngebahas masalah pribadi di sini" ucap Dimas dingin menyela kalimat Erina yang belum selesai.


"Dimas... Tapi kamu harus tau yang sebenarnya"


"Aku sudah tau semuanya"


"Aku harus jelasin ke kamu supaya kamu ga salah paham sama aku. Dimas, Aku ga punya hubungan apa apa sama Kevin. Dan soal foto yang kamu lihat, bukan seperti itu kenyataannya" Dimas tampak santai menyikapi ucapan Erina yang sedang serius. Bahkan dirinya masih sengaja menyibukkan diri dengan kertas kertas yang sedang ia koreksi. Emosi Erina seakan terpancing saat Dimas seperti tak menghargainya yang sedang bicara.


"Dimas, tolong lihat aku...." Dimas menghentikan sejenak aktivitasnya dan menatap wajah Erina yang terlihat agak pucat.


"Apapun hubunganmu dengan Kevin, itu hak kamu" ucapan Dimas terdengar datar dan santai namun berhasil membuat rasa perih di hati Erina.


"Apa... Apakah kamu ga percaya sama aku?"


"Entahlah... Mungkin aku lebih percaya dengan apa yang aku lihat"


"Bersikaplah lebih sopan dengan atasanmu..." Perkataan tegas Dimas terdengar seperti peringatan keras terhadap dirinya yang sudah dengan kurang ajarnya berani membentak orang yang seharusnya dihormati dan ditakuti.


Erina terperangah dengan nada ucapan Dimas yang tegas. Mulutnya ternganga dengan tatapan dalam ke arah Dimas. Erina segera mengalihkan tatapannya ke arah lain. Ia tak mampu menatap wajah Dimas terlalu lama. Terlalu sakit untuk menatapnya lebih lama.


"Ba-baik. Ma-maaf kan saya pak Dimas..." Erina menelan ludah dan merapatkan giginya. Bibirnya pun bergetar. Suaranya terdengar terbata-bata.


"Maaf kalau saya sudah mengganggu waktu anda. Permisi..." Erina berajak dari duduknya dengan perasaan sakit tak terkira. Hatinya terasa perih dengan perlakuan Dimas kepadanya.


Sialnya, tenggorokannya pun seakan ikut menambah kesedihannya dengan rasa gatal yang tiba-tiba muncul.


Uhuk..Uhuk..uhuk...


Erina menutupi mulutnya yang terbatuk dan segera melangkah pelan keluar dari ruang kerja Dimas.


Suara batuk dari Erina cukup mengganggu perhatian Dimas. Wajah pucat yang ditampilkan Erina membuat hati Dimas menjadi khawatir akan kesehatan Erina.


Erina menggigit bibir bawahnya kuat kuat menahan bendungan air yang sudah memenuhi kantong matanya. Setengah berlari Erina memasuki pintu lift. Sekuat tenaga ia menahan airmatanya supaya ga jebol dan menjadi tontonan gratis orang orang.


Sesampainya di lantai 11, Erina langsung berlari ke toilet wanita. Disanalah ia tumpahkan segala rasa yang ia rasakan. Air matanya yang terbendung langsung tumpah membasahi ke dua pipinya. Ia tak menyangka Dimas yang ia kenal ternyata seorang laki-laki yang lebih menyebalkannya dari seorang Kevin. Bahkan hanya sekedar untuk mendengarkan penjelasan darinya pun Dimas ga bersedia. Rasa kesal dan benci mulai menyemai seluruh jiwa Erina. Rasanya sangat sulit untuk memaafkan Dimas. Yang ada kini hanyalah rasa kecewa yang teramat dan kesal yang teramat dalam.


#########


Dimas menyangga kepalanya dengan sebelah tangannya. Ia merasa sangat bodoh. Rasa penyesalan mulai menyeruak dalam dirinya. Tak seharusnya ia berbuat seperti tadi. Seandainya ia tak mengikuti emosinya, mungkin hubungannya kini dengan Erina kembali membaik.


Rasa sayangnya yang terlalu besar kepada Erina membuat dirinya terlalu cemburu saat melihat kekasihnya itu harus berduaan dengan laki-laki lain. Dan pemandangan itu harus ia lihat sendiri dengan kedua matanya.


Dan nampaknya kini Dimas harus memulai lagi dari awal untuk memperbaiki hubungannya dengan wanita pujaannya.

__ADS_1


#########


Cuaca Sore ini mendung. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Erina sudah membereskan meja kerjanya dan bersiap untuk pulang. Hari ini ia ingin pulang cepat untuk bisa berisitirahat lebih awal di rumah. Setelah berpamitan dengan ibu Sandra, Erina bergegas menuruni lift.


Wajah lelahnya menambah warna pucat di wajahnya. Pintu lift terbuka. Erina bergegas keluar dan berjalan menuju pintu utama lobby. Seiring keluarnya Erina dari lift, bebarengan juga dengan Dimas yang keluar dari pintu lift VIP. Dimas melihat sosok Erina yang berjalan pelan dengan wajah sedih menuju pintu utama. Dimas sungguh tak tega melihat kondisi wanitanya harus seperti itu.


"Erinaaa..." Langkah Erina terhenti ketika telinganya mendengar dengan jelas suara berat laki-laki yang menyebut namanya.


"Dimas" batinnya.


Perlahan ditolehkannya kepalanya ke arah suara. Terlihat Dimas berjalan mendekati dirinya. Erina hanya terdiam tanpa memberikan senyuman. Hanya sapaan basa basi dan anggukan kecil sebagai bentuk hormat antara bawahan dengan atasan.


"Pak Dimas..." ucapnya lirih.


"Erina kamu sakit?" raut wajah Dimas terlihat cemas dan khawatir. Erina hanya menipiskan bibirnya sambil menggeleng pelan.


"Enggak Pak. Saya baik-baik saja"


"Erinaaa..." Dimas menatap dalam Erina yang mulai dingin kepadanya.


"Maaf pak Dimas. Saya masih ada keperluan lain. Permisi...." ucap Erina sambil menundukkan wajahnya tanpa melihat ke arah wajah Dimas. Erina membalikkan tubuhnya dan melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.


"Erinaaa..." Dimas berjalan mendekat sambil meyentuh bahunya.


"Aku antar kamu pulang ya..."


"Tidak usah pak, terima kasih. Saya bisa pulang sendiri" ucapnya sambil menepis tangan Dimas yang berada di bahunya dan mempercepat langkahnya meninggalkan Dimas yang masih tercengang.


Dimas sendiri hanya mematung dan terdiam memandang dari belakang tubuh wanitanya yang sepertinya sedang kurang sehat.


Sikap dingin yang di tunjukkan Erina membuat Dimas merasa semakin bersalah kepadanya.


########


Erina sengaja tidak langsung pulang ke rumahnya. Ia mampir ke apotik untuk membeli obat flu dan beberapa vitamin dan singgah ke kedai bubur ayam langganannya. Kepalanya yang tadi terasa pusing sudah terasa membaik setelah perutnya terisi semangkok bubur panas dan segelas teh manis panas.


Setelah membayar ojek onlinenya, Erina berjalan perlahan menuju arah rumahnya. Ia sengaja tidak berhenti di depan rumahnya karena ingin berjalan sambil menikmati udara malam yang dingin dan sejuk.


Langkah kaki Erina terhenti ketika kedua bola matanya menangkap sosok Dimas yang sudah berdiri di depan mobil di depan pintu pagar rumahnya. Dari kejauhan Dimas sudah menatapnya dengan tatapan tajam. Erina hanya mampu menelan ludah untuk sedikit menenangkan hatinya.


Perlahan Erina melangkahkan kakinya mendekati Dimas yang sepertinya sudah menungguinya sedari tadi.


"Selamat malam Pak Dimas..." sapa Erina dengan suara yang lirih.


"Kamu dari mana saja? Kenapa jam segini baru sampai rumah?"


"Sa-saya dari...." perkataan Erina seketika tertahan di ujung lidah. Rasanya tak ada gunanya jika harus mengatakan perihal dirinya yang tidak langsung pulang ke rumah kepada Dimas.


"Saya rasa ini bukan kepentingan Pak Dimas untuk mengetahui keperluan saya" Erina memandang sekilas ke arah Dimas dan langsung membuang pandangannya ke arah lain. Ia tak peduli dengan tatapan Dimas yang masih lekat ke arahnya.


"Erina... Aku tau saat ini kamu sedang kesal dan marah sama aku. Tapi, haruskah kamu bersikap seperti ini kepadaku?"


"Maaf Pak Dimas. Sudah malam. Sebaiknya bapak pulang untuk istirahat. Selamat malam...." Dengan sedikit membungkukkan badan tanda hormat, Erina lalu melangkahkan kakinya kembali untuk bergegas masuk ke dalam rumah.


"Erinaa..." dengan cepat Dimas menarik tangan Erina, menahannya agar tidak pergi meninggalkannya.


"Maaf Pak Dimas. Hari ini saya sangat lelah. Saya mau istirahat. Tolong mengerti" Dimas tak kuasa menahan tepisan tangan Erina. Dibiarkannya kekasih hatinya pergi meninggalkan dirinya memasuki rumah. Erina memang tampak lelah dan layu. Wajahnya juga terlihat agak pucat.


Dimas hanya mampu memperhatikan tubuh Erina dari belakang yang berjalan menjauh meninggalkan dirinya yang terpaku dalam diam. Kesalahpahaman ini sungguh terasa menyiksa.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2