Ku Tembak Cintamu 2x

Ku Tembak Cintamu 2x
Tangis Bahagia


__ADS_3

Dimas sangat berterima kasih kepada Rio, sahabat sekaligus assistant pribadinya yang sudah sangat setia membantu proses penyelamatan bayinya. Setelah berpelukan, Rio berpamitan untuk menjemput kembali anak dan istrinya yang masih berada di ruang poliklinik anak. Dari dalam hati, Dimas berjanji akan memberikan bonus yang besar untuk assistant pribadinya itu.


Pak Nugra masih di ruang operasi untuk mengambil peluru yang bersarang di lengannya. Mama Devita yang mendengar kabar suaminya tertembak, langsung berlari menuju ke ruang operasi untuk segera melihat kondisi suaminya. Dimas masih duduk di ruang tunggu operasi menunggui papanya selesai operasi. Mama Devita dengan nafasnya yang terengah engah menhampiri Dimas yang duduk di depan pintu ruang operasi.


"Dimaaass...." Dimas langsung berdiri dan merangkul tubuh sang mama yang terhuyung hampir jatuh karna mengatur nafasnya yang seakan berlomba dengan jantungnya.


"Bagaimana kondisi papa? Kenapa papa bisa sampai tertembak? Kamu baik baik saja kan sayang?" mama Devita tak memperdulikan serentetan pertanyaan yang ia lontarkan, Dimas memeluk tubuh sang mama agar mamanya sedikit lebih tenang.


"Papa baik baik saja. Dokter sedang mengambil peluru yang ada di lengan papa. Mama jangan khawatir. Tenang ya Ma..." ucapnya sambil mengelus elus punggung sang mama.


"Bagaimana mama bisa tenang Dimas, papa kamu tertembak. Oia, bagaimana papa bisa sampai tertembak?" tanyanya lagi dengan raut wajah menuntut.


"Nanti Dimas ceritain ya Ma. Sekarang lebih baik mama duduk dulu" mama Devita mengangguk dan menuruti ucapan Dimas yang langsung duduk di kursi tunggu ruang operasi. Dimas menggenggam erat tangan sang mama memberinya ketenangan.


"Ma, bagaimana kondisi Erina? Apakah dia..." Dimas tak mampu melanjutkan perkataannya. Di benaknya sudah terbayang dengan jelas akan wajah kesedihan dan rasa kecewa yang dirasakan istrinya. Erina saat ini pasti sedang membenci dirinya.


"Dia sedikit syok" mama Devita membalas genggaman tangan Dimas membalasnya memberikan kekuatan agar Dimas bisa kuat dan tegar saat nanti bertemu dengan Erina.


"Saat ini, Erina pasti sangat membenci Dimas" Dimas tertunduk lesu dalam duduknya.


"Mama tau ini sebuah kesalah pahaman. Tadi saat Rio kasih kabar ke mama tentang papa kamu, dia sedikit menginfokan ke mama kalau kejadian ini disebabkan oleh Wulan dan papanya. Mama tau, kamu tidak benar benar menceraikan Erina." senyuman wanita ini sangat ajaib. Perkataannya menenangkan jiwa Dimas dan mampu membuat bibirnya menyunggingkan senyuman.


"Dimas sangat mencintai Erina Ma. Ga mungkin Dimas akan sebodoh itu menceraikan dia. Tapi masalahnya sekarang, Erina sudah salah paham. Semua sudah terlanjur terjadi."


"Mama yakin, kalau kamu menjelaskan baik baik sama Erina, dia pasti akan mengerti. Semangat ya sayang..." suara lembut mama Devita berhasil menenangkan jiwa Dimas dan bibirnya menyunggingkan senyuman manis meski tipis.


Pintu kamar operasi terbuka. Seorang dokter yang masih mengenakan pakaian operasi keluar dan di saat yang bersamaan, Dimas dan mamanya beranjak berdiri menghampiri dokter tersebut dengan tujuan segera mendapatkan kepastian akan hasil operasi.


"Bagaimana kondisi suami saya Dok?" ucap mama Devita ga sabar.


"Operasinya berjalan dengan sangat baik. Beruntung peluru itu hanya mengenai lengan bapak. Meleset sedikit saja, peluru itu bisa langsung mengenai organ jantungnya." Dimas dan mamanya menarik nafas lega mendengar penjelasan dokter. Setidaknya, papanya masih dilindungi oleh Tuhan.


"Apakah saya boleh melihat suami saya dok?"


"Pasien sedang dipersiapkan perawat untuk dipindahkan ke ruang rawat. Nanti ibu bisa melihat suami ibu di sana"


"Baiklah dok" dokter itu mengangguk dan pergi meninggalkan Mama Devita dan Dimas yang masih berdiri terpaku di depan ruang operasi.


Selang beberapa waktu, dua orang perawat nampak keluar dari ruang operasi sambil mendorong brangkar yang berisikan pak Nugra. Pak Nugra melempar senyuman manis kepada istri tercintanya seakan memberi isyarat kalau dirinya baik baik saja. Airmata haru pun menetes lembut dari kedua kelopak mata sang mama. Dimas dan mama Devita segera mengikuti langkah perawat yang mendorong brangkar suaminya menuju kamar rawat.


Ruang VVIP yang menjadi kamar istirahat Pak Nugra sudah terbuka. Setelah perawat memastikan selang infus berfungsi dengan baik, mereka meninggalkan keluarga kecil ini untuk kembali beraktivitas.


Mama Devita langsung berlari memeluk dan menangisi suaminya sejadi jadinya. Pak Nugra sendiri hanya tersenyum haru melihat sikap istrinya yang terkesan berlebihan.


"Aku hampir putus asa saat mendengar kamu tertembak. Aku...." mama Devita masih saja menangisi kondisi suaminya.

__ADS_1


"Sayang sudah, jangan menangis lagi... Aku tidak apa apa. Kamu lihat kan, aku baik baik saja." ucapnya menggoda istrinya yang mulai menyeka airmatanya. Dimas sendiri hanya mematung sambil tersenyum melihat mini seri drama yang disiarkan langsung di depan matanya.


"Ternyata mama kamu lebih cengeng dari yang papa tau." mama Devita mendaratkan pukulan kecil di perut suaminya yang menimbulkan suara mengaduh dari suaminya itu.


"Syukurlah kalau papa baik baik saja. Dimas lega rasanya."


"Dimas, kamu temui Erina sekarang. Saat ini dia pasti sangat membutuhkan kehadiran kamu. Walaupun dia nanti akan marah, tapi papa yakin, kalau dia tau yang sebenarnya, istrimu pasti akan mengerti."


"Tapi pap, Dimas sudah terlanjur berucap untuk menceraikan Erina. Apakah kami masih bisa dianggap sebagai suami istri?" Dimas tertunduk lesu di samping ranjang sang papa. Pikirannya galau dan kalut.


"Kalian masih bisa menempuh jalur rujuk. Lagipula, ucapan cerai kamu ucapkan karna faktor keterpaksaan dan murni bukan dari hati kamu, jadi papa rasa talak yang kamu berikan juga tidak kuat hukumnya. Pergilah... Jemput kembali hati istrimu. Jangan biarkan dia berlarut dalam kesedihannya." Dimas menatap dalam wajah sang papa dengan tatapan bangga dan bahagia. Digenggamnya erat tangan laki laki hebatnya itu. Dan dengan senyuman manis yang penuh keyakinan Dimas menganggukkan kepala lalu beranjak dari duduknya meninggalkan kedua orangtuanya untuk saling bercengkraman satu sama lain.


########


Dimas berlari disepanjang lorong rumah sakit menuju kamar dimana Erina masih dirawat. Hatinya sudah tidak sabar untuk bisa kembali memeluk tubuh wanita yang sudah berhasil membuatnya luruh. Sesampainya di depan pintu kamar, kaki Dimas tiba tiba berhenti. Sejenak Dimas mengatur nafasnya yang sedikit terengah engah. Setelah dirasa sudah cukup tenang, Dimas mengetuk pintu kamar dan membuka pintu dengan perlahan.


Erina yang sedang bersender setengah duduk, terperangah dengan kehadiran Dimas. Hatinya senang namun kecewa dan kesal. Hatinya sama galaunya dengan yang dirasakan Dimas saat ini.


Mama Astri meletakkan baby Darren yang tertidur ke dalam box baby yang sebelumnya sudah ia cium terlebih dahulu. Mama Astri tersenyum saat Dimas perlahan melangkahkan kakinya memasuki kamar. Dikecupnya kening Erina dan mama Astri segera berpamitan pulang. Mama Astri sengaja memberi waktu untuk Dimas dan Erina saling berbaikan kembali.


"Sayang, mama pulang dulu ya... Besok mama kesini lagi. Kamu harus makan yang banyak ya supaya asi kamu juga banyak" Erina hanya mengangguk ketika nasehat sang mama melesat cepat memasuki telinganya.


Mama Astri mengambil tas dan bergegas pergi. Langkahnya terhenti di depan Dimas. Dielusnya pundak Dimas dengan penuh kasih sayang disertai senyuman manis yang menghiasi wajahnya.


"Dimas, mama titip Erina sama cucu mama ya. Mama sudah tau yang terjadi sama kamu hari ini. Maafin Erina ya kalau mungkin dia masih kesal sama kamu. Mama pulang dulu ya..." Dimas menganggukkan kepalanya lemah.


Erina mengalihkan pandangannya ke arah berlawanan dengan posisi Dimas saat ini. Dirinya masih kesal dan malas untuk melihat suaminya. Wajahnya masih tampak muram dan dingin. Dimas berjalan mendekat dan duduk di atas ranjang Erina. Dimas memandangi wajah Erina yang terlihat asam tanpa senyuman sedikitpun. Dimas memilih untuk tetap diam sambil terus menatap wajah Erina yang sengaja dipalingkan darinya.


Erina menyadari kalau saat ini suaminya sedang menatap dirinya dengan lekat. Meski ia sudah dengan sengaja membuang muka, namun sikap Dimas tetap saja membuatnya makin kesal. Sikap diamnya yang ia sengaja malah membuat bumerang untuk dirinya sendiri. Dimas pun juga ikutan diam dan malah asik memandangi wajahnya yang membuat dirinya menjadi risih. Perlahan Erina memutar bola matanya melirik ke arah Dimas yang masih menatapnya dengan tajam. Ada raut wajah kesedihan disana. Dimas terlihat lesu dan merana.


"Mau ngapain kamu kesini?" ucap Erina ketus memecah keheningan. Dimas bernafas lega, akhirnya istrinya mau membuka suara kepadanya. Dimas tidak menjawab. Diraihnya tangan Erina dan digenggamnya dengan erat. Semula tangan itu langsung akan ditepis oleh pemiliknya. Namun gerakan Dimas yang cepat serta kekuatan tangan yang maksimal membuat tangan Erina tak berhasil lepas dari genggamannya. Akhirnya Erina hanya pasrah dan membiarkan Dimas menggenggam tangannya dengan leluasa.


"Sayang, please... Berikan aku waktu beberapa menit untuk menjelaskan semua nya. Aku ingin kamu mendengarkan semua penjelasanku. Setelah itu, kalau kamu masih akan membenciku aku akan menerimanya dengan ikhlas."


"Telingaku sudah cukup jelas dengan perkataanmu. Dan aku sudah mempertimbangkan ucapan kamu yang tadi. Itu hak kamu, aku ga akan memaksa walaupun aku ga tau alasan apa kamu bisa berucap seperti itu kepadaku... Aku..." Erina menggigit bibir bawah kuat kuat menahan tumpahan airmata nya yang tiba tiba langsung deras membasahi kedua pipinya. Dimas langsung merengkuh tubuh lemah istrinya ke dalam pelukannya dan memeluknya dengan erat.


"Kalau kamu masih ingin menangis, menangislah... Tumpahkanlah semua kekesalan kamu kepadaku. Jangan kamu tahan apa yang mengganjal di hatimu. Menangislah..." Erina menangis tersedu sedu di dalam pelukan Dimas. Diluapkannya semua rasa kesal, kecewa, marah dan sedihnya disana. Dimas dengan sabar menunggu istrinya memuaskan emosinya dalam tangisnya di pelukannya. Kemeja Dimas sudah basah dengan airmata Erina yang mengalir deras.


Setelah melewatkan beberapa saat dalam larutan airmata, akhirnya emosi Erina mereda. Sesegukannya sudah tidak terdengar lagi. Dimas merebahkan tubuh lemah istrinya ke ranjang agar tubuh Erina lebih rileks dan tidak tegang. Kondisi Erina pasca operasi Secar memang belum pulih benar. Bahkan untuk belajar berjalanpun Erina belum mampu. Ditambah lagi adanya insiden menyebalkan yang memaksa Dimas harus berbuat suatu hal yang menyakitkan baginya, membuat kondisi Erina semakin lemah.


Kini wajah Erina terlihat sembab dengan mata yang mulai membengkak. Wajah kesedihannya masih saja mewarnai wajah manisnya. Dimas menggerakkan jarinya memainkan rambut Erina yang berantakan, merapihkannya dan menyelipkannya ke belakang telinganya. Dikecupnya kening Erina dengan penuh kasih sayang. Erina masih terdiam dengan wajah yang masam, dan masih enggan untuk berbicara banyak.


Dimas menipiskan bibirnya dan menarik nafas perlahan untuk memulai menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya.


"Sayang, tolong dengarkan perkataan yang akan aku ucapkan. Tolong kamu simak dengan baik." Erina masih terdiam. Mata Erina masih sama seperti semula, tidak menatap wajah Dimas ketika suaminya mengajaknya bicara.

__ADS_1


"Aku berani bersumpah demi apapun bahwa ucapan kata cerai yang aku ucapkan tadi bukanlah berasal dari lubuk hatiku yang paling dalam. Aku terpaksa harus mengatakan kata itu karna demi menyelamatkan Darren, anak kita" Erina seketika langsung mengalihkan tatapannya ke arah Dimas. Tatapannya dalam menelisik perkataan Dimas yang mengaitkan tentang penyelamatan anaknya. Dimas mengangguk seakan paham akan isi hati Erina.


"Iya, saat itu Wulan akan membunuh bayi kita dengan cara meneteskan racun tetes ke dalam mulut bayi kita, kalau aku tidak mau menceraikanmu saat itu juga." mulut Erina ternganga dan tangannya langsung refleks mengarah ke mulut untuk menutupnya.


"Aku tidak punya pilihan lain selain menyelamatkan bayi kita. Jadi aku terpaksa menuruti semua keinginan Wulan untuk berkata cerai kepadamu. Kalau aku sampai tidak berhasil menyelamatkan bayi kita, aku yakin kamu pasti tidak akan pernah memaafkan aku" Dimas menarik nafas pelan dan lega.


"Tapi untungnya semua sudah berlalu. Darren berhasil diselamatkan dan Wulan serta papa nya berhasil dibekuk oleh polisi. Kita harus berterima kasih sama papa. Karna dialah yang sudah menyelamatkan bayi kita. Dan gara gara kecerobohanku, lagi lagi papa yang harus menjadi korban penembakan yang dilakukan papa nya Wulan." Erina membulatkan matanya, syok dengan kalimat terakhir yang ia dengar.


"Pa-papa ketembak??" Dimas hanya mengangguk lemah.


"La- lalu bagaimana kondisi papa sekarang??" Erina yang semula dalam posisi tidur terlentang secara refleks langsung bangun duduk yang membuat mulutnya mengerang kesakitan dari bagian bawah perutnya.


"Aaaaarrgghhh.... Saakkiitttt..." Dimas yang panik langsung menekan tombol panggilan. Dan dalam waktu singkat, dokter Rasti dan seorang perawat langsung masuk ke kamar untuk memeriksa kondisi Erina.


"Ibu Erina tidak apa apa. Jahitannya juga bagus tidak ada kebocoran. Mungkin saat bergerak terutama saat akan duduk, jangan tergesa gesa. Santai saja dan rileks ya bu. Biar otot perutnya tidak menjadi kram" Erina dan Dimas mengangguk mengerti dengan penjelasan dokter Rasti. Erina kembali berbaring dan mencoba untuk merilekskan kembali otot otot tubuhnya.


Namun meski tubuhnya sudah dilemaskan, tetap saja pikiran Erina tidak dapat tenang begitu saja. Mata Erina mengarah ke baby box. Bayi nya yang pintar terlihat begitu tenang dan damai dalam mimpi indahnya. Baby Darren termasuk bukan bayi yang rewel. Dia hanya akan terbangun kalau haus atau lapar saja. Selebihnya ia tertidur yang membuat mamanya bisa beristirahat dengan cukup.


Dimas menggenggam kembali tangan Erina dan menciumnya dengan lembut.


"Kamu ga perlu khawatir. Papa baik baik saja. Papa tertembak di bagian lengan sebelah kiri. Tapi pelurunya sudah berhasil dikeluarkan oleh dokter. Yang terpenting sekarang adalah kesehatan kamu. Kamu harus sehat dan segera pulih." lagi lagi airmata Erina kembali mengalir membasahi kedua sudut matanya. Namun tangisannya kali ini berbeda dengan tangisannya yang tadi. Erina menangis karna terharu atas perjuangan yang sudah dilakukan oleh ke dua laki laki hebatnya. Ganjalan besar yang tadi sempat menghimpit dadanya seketika hilang menjadi kelegaan yang membahagiakan.


"Dimas, aku minta maaf. Aku sudah mengambil kesimpulan sepihak tentang apa yang sudah kamu lakukan kepadaku. Bahkan aku sempat membencimu dan menyumpahimu dengan sumpah serapahku yang berlebihan" Dimas menyunggingkan senyuman sambil menyeka air mata Erina dengan tissue.


"Memangnya sumpah serapah apa yang kamu ucapkan untukku, hmm?" kalimat godaan Dimas membuat wajah Erina seketika memerah.


"A-aku... Aku tadi berdoa kepada Tuhan sambil menyumpahimu kalau kamu ga akan pernah mendapatkan wanita baik dan cantik seperti aku. Dan selama hidupmu, kamu akan menyesal karna sudah membuang aku dari kehidupanmu" Dimas terkekeh mendengar perkataan Erina yang dilontarkan dengan penuh semangat.


Dimas menaiki ranjang dan berbaring disamping Erina sambil melingkarkan tangannya ke perutnya. Diciuminya pipi istrinya dengan gemas.


"Sepertinya doamu langsung dikabulkan sama Tuhan. Aku sudah dikutuk untuk tidak bisa meninggalkan kamu dari hidupku. Aku akan selalu menyayangi dan menjagamu selamanya. Bahkan sampai kita tua nanti dan kita sudah sama sama berada di surga nya Tuhan, aku akan terus menyayangi dan menjagamu selamanya. Bahkan jika aku harus dilahirkan kembali di dunia yang baru, aku akan tetap mencarimu sampai ketemu" Erina tertawa kecil sambil mendaratkan pukulan gemasnya di lengan Dimas.


"Dasar gombal... Lebaayy..."


"Aku senang akhirnya kamu bisa tertawa lagi. Aku sangat tersiksa saat kamu menaruh rasa benci kepadaku. Aku sayang banget sama kamu... Aku ga akan pernah menyia nyiakan kamu apalagi sampai membuang kamu dari hidupku. Jangan nangis lagi ya sayang..." Dimas semakin mengeratkan pelukannya yang tentunya tidak menyakiti bagian perut bawah istrinya. Erina mengangguk sambil memejamkan matanya tak kuasa untuk menahan airmatanya untuk tidak keluar. Rasa bahagia ini terlalu besar. Ucapan syukur dalam hati yang tak henti, membuat airmatanya kembali mengalir meski matanya dalam keadaan terpejam.


.


.


.


**Halo readers... 😍


Beribu ribu Terima kasih author ucapkan atas kesetiaan kalian yang sudah dengan sabar menanti kelanjutan tiap bab nya dari novel ini.

__ADS_1


Mohon maaf ya kalau kalian harus kecewa karna sudah menunggu lama. Author benar benar sangat sibuk dengan urusan kantor dan sekolah anak. Jadi mohon dimaafkan ya my lovely readers....


Btw, novel ini sebentar lagi akan tamat. Gpp ya... Jgn sedih ya... Author sudah menyiapkan novel baru yang sudah Author tulis dan akan author lanjutkan kisahnya. Jangan lupa mampir ke novel author yang baru ya**...


__ADS_2