
Ibu Astri mama Erina sudah sampai rumahnya sekitar jam 11 pagi. Cukup banyak oleh-oleh yang dibawa. Karna ini memang syarat wajib yang diminta putri kecilnya, Erina.
Walaupun sekarang Erina sudah berubah jadi anak remaja, baginya tetap saja Erina adalah putri kecilnya yang manis dan manja. Semua permintaan nya harus diturutin. Kalau enggak, pasti ngambek. Hehehehe... Kalau sekarang udah ga terlalu ngambek sih...
Erina sudah nyampe di rumahnya. Langsung dicarinya sang mama. Dan ternyata mamanya masih tidur di kamarnya.
"Hhmm... Biarin deh mama tidur. Kayaknya mama capek banget. " Batin Erina saat melihat mamanya tertidur di kamarnya.
Kemudian Erina pergi ke kamarnya, berganti baju dan langsung merebahkan badannya di atas ranjangnya sambil membuka ponselnya.
Dilihatnya lagi pesan singkat yang tadi pagi dikirim oleh Dimas. Tanpa disadarinya, Erina senyum-senyum sendiri membayangkan kejadian pas di kantin saat dia melihat Dimas tersenyum kepadanya. Kepikiran juga ada rasa bersalah karna udah ninggalin Dimas sendiri di parkiran.
"Ih.. Kok gue jadi mikirin Dimas sih? Kenapa juga gue mesti bersalah sama dia? Kan gue juga ga bilang kalau gue mau pulang bareng sama dia? " ucap Erina pada dirinya sendiri.
Karna lelah, akhirnya Erina tertidur.
######
Jam 17.30 Erina terbangun dari tidurnya. Mamanya sudah sedari tadi duduk di kursi belajarnya yang lokasinya tepat di samping tempat tidur nya. Ibu Astri tersenyum melihat anaknya yang baru bangun dari tidur siangnya dan sedang menggeliat.
(Sambil tersenyum lebar)
"Hai sayang... " sapa sang mama.
Erina langsung menoleh ke arah suara itu.
"Mamaaa??? "
Mamanya menatapnya sambil tersenyum.
Erina langsung lompat dari tempat tidur dan langsung memeluk mamanya. Mereka berpelukan sangat erat. Dicium nya pipi mamanya yang masih terasa membal karna mamanya Erina agak gemuk. Hihihi...
"Mama nyampe rumah jam berapa? " tanya Erina dengan manja.
"Tadi pagi jam 11 an lah. Oia, Mama bawa oleh-oleh banyak looohh... " jawab sang mama dengan tersenyum lebar.
"Oiaaaaa??? Mantap... Mama emang mama Erina yang paling the best dah pokoknya. Makasih ya mam.. " sambil memeluk mamanya lagi.
"Tumben nih anak mama manja banget kayak gini? agak aneh nih"
"Ih mama... Aku kan kangen sama mama... Masa di bilang aneh sih?" bantah Erina sambil memonyongkan mulutnya.
"Hahahha... iya deh okay. Ya udah mandi sana.. Bau ih.. " Erina langsung mencium badannya.
"Hihihi... bau seger mah" ucap Erina sambil cengar - cengir.
"Ih, jorok. Buruan mandi. Abis itu kita makan. Mama dah kangen nih, lama ga makan bareng sama anak mama yang bawel" Erina memanyunkan mulutnya karna dibilang bawel. Lalu ia beranjak dari ranjang dan segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
#######
Malam ini Erina habiskan waktunya khusus bersama mamanya. Dari makan malam, nonton tv sampai tidur juga bareng sama mamanya.
"Kamu ini sudah besar tapi masih aja manja kayak gini. Tidur aja maunya masih sama mama" ucap mamanya saat akan pergi tidur.
"Ih, biarin aja... Abis kalau tidur sama mama rasanya lebih nyaman. Soalnya mama empuk kalau dipeluk. Heheehee... " jawab Erina sambil meledek mamanya.
"Trus kamar kamu mau buat apa? "
__ADS_1
"Buat pelengkap aja" jawab Erina sambil cengar-cengir.
"Kamu harus belajar mandiri dong sayang. Tidur di kamar kamu sendiri. Nanti kalau kamu nikah kamu sudah terbiasa" nasehat mamanya.
"Kan aku nikahnya juga masih laaaaammmmaaaaaaa bangeeettt.... Jadi sekarang aku tidurnya masih sama mama dong.. " sambil nyengir lagi
Mamanya hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan dari anaknya. Sebelum mata mereka sama sama terlelap, mereka saling bercakap cakap. Ada saja hal hal menarik yang menjadi topik pembicaraan mereka berdua. Tak lama kemudian mereka akhirnya tertidur.
########
KKrrriiiiinnngg........
Jam 4.35 jam alarm Erina berbunyi dengan nyaring. Erina membuka matanya dengan malas. Karena semalam kebanyakan ngobrol sama mamanya, tidurnya terasa kurang berkualitas.
Dengan mata yang masih terasa berat, Erina menarik paksa tubuhnya untuk untuk bangun dari ranjang nyamannya dan bergegas mandi untuk siap-siap pergi sekolah.
Mamanya karna hari ini libur, beliau masih tidur. Erina sengaja tidak membangunkan mamanya. Ga tega. Semalam mereka tidur sangat larut, sehingga paginya mamanya masih terasa terlihat pulas dalam mimpi indahnya.
Setelah menyantap sarapan sederhana selembar roti tawar plus selai kacang, Erina langsung berangkat ke sekolah dan tidak lupa berpamitan dengan bi Minah.
"Bi, Erina berangkat sekolah dulu ya. Mama masih tidur, biarin aja bi jangan dibangunin ya.. " pesan Erina
"Baik non. Non hati-hati di jalan ya" jawab si bibi dengan penuh perhatian.
Bagi Erina, Bi Minah itu bukan pembantu. Tapi sudah seperti keluarga sendiri. Begitupun sebaliknya.
######
Dilihat jam tangannya menunjukkan jam 06.10 menit.
Dan lagi-lagi pagi ini Erina dikejutkan dengan hal yang sama seperti hari kemarin.
Dimas dan motornya sudah menunggu dibalik pagar rumahnya. Sejenak langkah Erina terhenti menatap sosok Dimas beserta motor matic nya yang sudah terparkir di depan rumahnya.
Erina berjalan mendekati Dimas yang sedari tadi sudah memperhatikan langkah nya sambil tersenyum nakal.
"Pagi Erina... " sambil tersenyum nakal.
"Kak Dimas??? Kamu sengaja jemput aku lagi? " tanya Erina penasaran.
"DIMAS...!!! BUKAN KAK DIMAS!! " tegas nya
Erina menarik nafas panjangnya.
"Okay... Dimas" jawab Erina
"Pinter... " ucapnya sambil memamerkan deretan gigi putih rapihnya.
"Buat kamu... " Dimas menyodorkan paperbag yang tidak terlalu besar.
"Apa ini?" Erina memperhatikan dengan seksama sebuah paper bag berwarna cerah yang di sodorkan kepadanya.
"Buka, trus pake. Feelingku sih pas" sambung Dimas lagi sambil nyengir.
Erina langsung membuka paperbag yang diberikan Dimas. Ternyata Isinya jaket model bomber yang tak terlalu tebal dan ada penutup kepalanya.
Erina masih terdiam dan terpaku melihat jaket dari Dimas. Warna jaket nya adalah warna favorit nya banget. Dark Blue.
__ADS_1
"Kok Dimas bisa tau warna favorit gw ya?" batin Erina bertanya-tanya.
Tiba-tiba Dimas menyentil pelan pipi kiri Erina yang membuat Erina langsung kaget dan refleks memegangi pipinya.
"Kok ngelamun sih? Buruan pake. Kamu ga mau dikunciin diluar sama pak Jono kan?" ucap Dimas masih dengan senyum nakalnya.
Karna pagi adalah waktu yang sangat singkat, Erina hanya menurut saja dengan perintah Dimas. Dipakenya jaket barunya, dan helm yang sudah disediakan Dimas. Lalu dengan cepat Dimas meluncurkan motor matic nya menuju sekolah.
30 menit kemudian mereka sudah sampai parkiran sekolah. Erina turun dan menyerahkan helm ke Dimas. Erina masih sangat bingung dengan perlakuan Dimas kepadanya. Hanya ucapan terima kasih saja yang terucap dari bibirnya.
"Makasih ya Dim... " ucap Erina datar sambil melempar senyum simpulnya.
"Sama-sama" masih dengan senyum nakalnya.
"Oia Dim, jaketnya aku kembaliin besok ya. Biar aku cuci dulu"
"Ngapain dikembaliin? Kan tadi aku bilang buat kamu..."
Erina mencoba menatap mata Dimas dan ternyata tatapan Dimas jauh lebih tajam dari tatapannya.
"Tapi... "
"Tujuan aku kasih kamu jaket ini, supaya kamu ga masuk angin pas naik motor sama aku" jelas Dimas sambil tersenyum.
"Biar kamu juga selalu inget sama aku, Rin " batin Dimas.
TTTTTEEEEEETTTTTT .........
Terdengar bel masuk sudah dibunyikan.
"Kak, eh.. Maksud aku Dimas, aku masuk kelas dulu ya.. Udah bel tuh" ucap Erina agak kikuk.
"Ok " jawab Dimas sambil mengangguk.
Baru beberapa langkah Erina meninggalkannya, tiba-tiba Dimas memanggil
"Erinaaaa... "
(Sambil menoleh)
"Ya" jawab Erina singkat.
"Nanti pulang sekolah bareng lagi ya... Aku tunggu kamu disini. Ok?" Erina bingung ingin menjawab apa. Akhirnya ia hanya bisa menganggukkan kepalanya saja dan pergi berlalu dari hadapan Dimas.
Perlakuan Dimas benar-benar membuat dirinya GR dan bertanya-tanya apakah benar Dimas ada rasa dengan dirinya? Atau ini hanya sebatas ungkapan rasa bersalah dia karna sudah bikin punggung ku sakit?
Di sepanjang jalan menuju kelasnya, Erina berpikir keras tentang maksud tersembunyi dari perlakuan Dimas terhadapnya.
.
.
.
.
Jangan lupa like Yaa....
__ADS_1