
Dokter telah selesai memeriksa Erina. Dimas beranjak cepat dari duduknya saat pintu ruangan terbuka dan seorang dokter keluar dengan wajah yang terlihat tenang.
"Dokter, bagaimana kondisi Erina?" tanya Dimas antusias.
"Apakah anda suami dari pasien yang bernama Erina?" dokter itu hanya ingin memastikan. Namun pertanyaannya sontak membuat Dimas terperangah dan langsung mengiyakan saja atas pertanyaan tersebut.
"Ah... I-iya... Saya Dimas, suaminya" jawabnya cepat.
"Nyonya Erina tidak apa-apa. Dia hanya kelelahan saja. Namun saat ini kondisinya sangat lemah. Harus di rawat inap"
"Baik dok, kalau memang itu yang terbaik."
"Saya sudah memberikan resep obat kepada suster yang menangani. Pasien butuh istirahat beberapa hari untuk memulihkan kondisinya. Dan malam ini pasien sudah bisa dipindahkan ke kamar perawatan"
"Ok Dok. Terima kasih. Boleh saya masuk dok?"
"Yah, silahkan..." Dimas menganggukkan kepalanya dan langsung masuk menemui Erina yang masih terlelap dalam mimpinya.
Dimas duduk di samping ranjang Erina sambil menggengam erat tangannya. Raut wajah kesedihan terlihat jelas disana. Dipandanginya wajah wanitanya dengan lekat. Sakit sekali rasanya harus melihat Erina terbaring lemah seperti ini.
"Permisi pak, saya akan membawa pasien ke kamar perawatan. Apakah bapak sudah mendaftarkan istri bapak ke bagian administrasi?" tanya suster dengan ramah.
"Iya, sudah suster. Ke kamar VVIP"
Seorang perawat laki-laki perpakaian putih putih membawa sebuah map mendekati suster yang baru saja sedang berbicara dengan Dimas, dan menyerahkan map itu kepadanya. Suster dengan sigap langsung membaca isi map itu dan mengangguk mengerti. Perawat laki-laki itu juga membantu mendorong ranjang Erina untuk di pindahkan ke kamar perawatan.
#########
Erina sudah berada di kamar perawatan kelas VVIP. Tubuhnya yang lemah masih membuainya ke alam mimpi yang indah. Matanya masih belum ingin terbuka.
Dimas sendiri juga masih dengan setia menunggui wanitanya di samping ranjangnya. Dipandanginya wajah cantik Erina yang kini sedikit pucat. Suhu badannya yang tadi terasa panas, kini sudah turun kembali normal. Nafas Erina sudah terlihat teratur seperti orang yang sedang tidur.
Rio terdiam di sofa kamar perawatan Erina sambil memperhatikan boss nya yang terlihat sedih. Ia belum berani untuk meninggalkan boss nya sendiri.
"Yo..., Loe pulang aja. Biar gue yang jagain Erina di sini"
"Ga apa-apa Dim. Gue akan temenin loe di sini. Takutnya loe butuh sesuatu."
"Ini udah malam. Dan kayaknya gue ga butuh apa-apa. Loe mending balik sekarang, istirahat di rumah. Takutnya gue besok ga bisa masuk kantor, jadi tolong loe handle dulu semua pekerjaan" Rio mengangguk mengerti dan memilih menuruti perintah dari si boss untuk pulang.
"Ya udah kalau gitu gue balik ya Dim. Kalau ada apa-apa segera kabarin gue ya..."
__ADS_1
"Oke"
Rio meninggalkan Dimas yang masih berjaga di kamar perawatan Erina. Seperginya Rio, Dimas segera menghubungi mamanya Erina untuk mengabari perihal putrinya yang sakit.
"Iya nak Dimas... Tumben malam malam telpon tante? Ada apa ya?"
"Maaf tante, saya mau mengabari tante kalau saat ini Erina..." Dimas menghentikan ucapannya dan membuat ibu Astri semakin penasaran akan putrinya itu.
"Erina? Ada apa dengan Erina?" ucapnya cemas.
"Erina sakit tante. Dan sekarang di rawat di rumah sakit."
"Erina sakit? Sejak kapan dirawatnya? Di rumah sakit mana?" nada bicara ibu Astri sangat terdengar cemas dan panik.
"Di Rumah Sakit xxx... Baru masuk malam ini. Tante ga perlu panik dan cemas. Erina sudah ditangani oleh dokter terbaik di rumah sakit ini"
"Nak Dimas, saat ini posisi tante sedang di luar kota. Tante boleh minta tolong buat titip Erina dulu ya... Tante akan pulang secepatnya pada jam penerbangan pertama"
"Iya tante. Saya akan menjaga putri tante dengan segenap jiwa saya. Tante ga perlu buru-buru. Kondisi Erina sudah membaik"
"Terima kasih banyak ya nak Dimas. Saya percaya sama kamu. Ya sudah, kalau gitu tante akan siap-siap untuk pulang ya." percakapan merekapun berhenti setelah sambungan telpon terputus.
Dimas membuka jas nya dan di taroh di atas sofa. Ia kembali duduk disamping ranjang Erina dan menggenggam kembali tangan wanitanya. Di pandanginya wajah ayu yang saat ini lemah dan masih larut dalam mimpinya. Perlahan Dimas mendekatkan wajahnya ke wajah Erina. Diciumnya dengan lembut kening, pelipis, pipi dan terakhir bibir.
Dimas menyusupkan wajahnya di antara leher dan bahu Erina sambil memeluk tubuh Erina yang masih tertidur.
Malam semakin larut. Tubuh Dimas yang lelah membuat matanya menjadi berat. Dimas terlelap dalam duduknya di samping ranjang Erina dengan tangan yang masih menggenggam tangan Erina dan tangan satunya memeluk tubuh Erina.
########
Pagi pagi sekali sebelum adzan shubuh berkumandang, dan matahari masih enggan keluar dari peraduannya, Ibu Astri sudah sampai di rumah sakit tempat anaknya di rawat. Ia mendapatkan tiket penerbangan pada jam dini hari dimana langit masih sangat gelap dan orang orang masih terlelap dalam mimpinya.
Ibu Astri membuka pintu kamar perawatan Erina dengan sangat pelan dan hati hati. Ia tak ingin membuat orang yang berada di dalamnya jadi terbangun olehnya. Senyum dibibirnya merekah senang saat ia melihat pemandangan mesra yang dilakukan oleh anak dan calon menantunya itu. Pemandangan dua sejoli yang sangat romantis dan membuat iri semua mata yang melihat.
Ibh Astri meletakkan tasnya di atas sofa dan perlahan mendekati Dimas untuk membangunkannya.
Mata Dimas terperjap saat ia merasakan ada sebuah pukulan kecil bertubi tubi di bahunya. Dengan mata yang masih mengantuk, Dimas mencoba menolehkan wajahnya ke arah orang yang sudah berani membangunkannya.
Seorang wanita paruh baya tersenyum manis kepadanya. Dimas memaksa tubuhnya untuk bangun dan menyapa ibu Astri si calon mertuanya.
"Tante... Tante kapan datang?" ucapnya sambil memijit pelan pelipisnya. Kepalanya sedikit pusing karna semalaman ia berjaga tidak tidur sama sekali. Dan tertidur setelah suster mengganti cairan impuls yang habis. Suster jaga datang sekitar jam 3 dini hari. Jadi sepertinya baru tidur sekitar 1 jam an.
"Tante baru saja datang. Bagaimana kondisi Erina?" Dimas melirik ke arah Erina yang masih tertidur.
__ADS_1
"Dia masih tidur. Semalam Erina pingsan dan sudah semalaman ini Erina belum bangun. Sepertinya tubuhnya memang sangat lelah. Biarakan saja tante. Kata dokter, pagi hari Erina akan terbangun dari tidurnya dan kondisinya akan lebih baik" Ibu Astri tersenyum puas dengan penjelasan Dimas.
"Terima kasih banyak ya Nak Dimas. Kamu sudah menjaga putri semata wayang tante dengan sangat baik. Erina sangat beruntung punya kekasih seperti kamu" Dimas hanya tertawa kecil menerima pujian yang dilontarkan calon mertuanya itu. Wajahnya merona senang.
"Tante bisa aja. Ini sudah kewajiban saya untuk menjaga putri tante. Karna saya sangat mencintainya" ucap Dimas seraya mengalihkan pandangannya ke ranjang Erina. lagi lagi senyuman puas tersungging di bibir ibu Astri. Senyum penuh syukur kepada Tuhan karna putrinya diberikan jodoh seorang laki-laki yang sangat baik.
"Tante, saya permisi pulang dulu ya. Semua administrasi sudah beres. Tante ga perlu repot repot. Selama Erina masih tidur, tante istirahat saja. Tante juga pasti lelah" Ibu Astri mengangguk dan tertawa kecil dengan ucapan Dimas.
"Sekali lagi terima kasih banyak ya nak Dimas. Kamu hati hati di jalan ya..." Dimas mengangguk pelan, tersenyum dan keluar kamar dengan sangat pelan.
Dimas melajukan mobilnya kembali ke rumah. Hari menjelang pagi. Langit masih agak gelap. Lampu lampu jalanan pun masih menyala. Namun jalanan sudah sedikit ramai oleh orang orang yang sudah memulai aktivitasnya.
##########
Erina mengerjapkan matanya. Matanya terasa silau dengan cahaya matahari yang masuk dari jendela yang hanya tertutup tirai setengah. Perlahan dibukanya matanya. Erina sangat terkejut dengan suasana kamar yang berbeda. Langit langit putih bersih dengan dinding kamar ber wallpaper bunga bunga berwarna gold dan silver membuatnya terasa asing dengan tempat itu. Dan "Aduh, apa ini? Kenapa tangannya dipasang impuls?" Batin Erina bertanya tanya.
"Mama..." ucap Erina pelan. Ibu Astri tertidur di samping ranjang anaknya dan langsung terbangun saat terdengar suara Erina memanggilnya.
"Sayang kamu sudah bangun" ucapnya sambil menangkupkan sebelah tangannya ke pipi Erina.
"Mama kok di sini? Bukannya mama harusnya masih di luar kota? Trus, aku kenapa ada di sini Ma?" serentetan pertanyaan Erina lontarkan kepada sang Mama dengan suara manja khas nya. Ibu Astri hanya tersenyum.
"Harusnya mama yang tanya sama kamu. Kenapa kamu bisa sampai disini? Kenapa kamu sakit ga bilang bilang sama mama, hum? Kalau kamu bilang, mama kan ga perlu pergi keluar kota?"
"Mama nih banyak gaya deh. Siapa juga yang sakit. Orang Erina cuma pusing flu biasa kok"
"Trus kenapa kamu bisa sampai pingsan di kantor kalau cuma pusing flu biasa? Untung ada Dimas yang langsung bawa kamu kesini"
"Apa Ma? Dimas?" mulut Erina ternganga saat mamanya menyebut nama Dimas sebagai malaikat penolongnya.
"Iya. Semalam mama masih ada di luar kota. Dimas telpon mama bilang kamu sakit dan di rawat disini. Makanya mama langsung cari tiket pulang penerbangan pertama. Dan pagi ini mama sudah bisa sampai di sini." Erina hanya terdiam mendengar penjelasan dari sang mama. Kali ini ia punya hutang budi kepada Dimas.
"Kamu harus berterima kasih kepada Dimas loh sayang... Semalaman sebelum mama datang, Dimas juga yang sudah menjaga kamu disini. Ciiieee....Anak mama So sweet bangeettttt...." Erina menggigit bibirnya. Ia tak menyangka kalau Dimas sebegitu perhatiannya kepada dirinya. Bahkan ia sudah merelakan waktunya untuk menjaga dirinya yang sedang terlelap nyenyak dalam mimpi. Rasa bersalah dan tak enak hati kepada Dimas seketika menyeruak keseluruh jiwanya.
Erina tersenyum tipis dan mengangguk mengerti akan penjelasan dari sang Mama tentang yang sudah terjadi dengan dirinya semalam.
.
.
.
**Hai readers... Kalau rambutnya Erina di ganti warna merah setuju ga ya???
__ADS_1
Sudah mulai baper belum nih? Siapa yang baper?? Kasih like nya ya...
Comment nya juga ya... Ditunggu... 😍**