Ku Tembak Cintamu 2x

Ku Tembak Cintamu 2x
Fitnah


__ADS_3

Hampir satu bulan cincin yang Dimas pesan akhirnya selesai juga. Dimas terlihat sangat puas dengan hasil pengerjaan dari toko perhiasan yang ia beli. Hasil karya yang ia terima sesuai dengan ekspektasinya. Ukiran yang kecil kecil dan rumit di buat sangat halus dan rapih. The Vivid Pink bentuk hati yang diselipkan di tengah dan diapit bentuk hati yang sama pinggir kanan dan kiri benar benar membuat mata terpukau.


Tempat cincinnya pun special, kotak cincin terbuat dari kaca kristal bening yang menambah keindahan dari si cincin itu sendiri.


"Terima kasih ya..." ucap Dimas sebelum meninggalkan toko.


"Sama-sama pak Dimas. Terima kasih sudah mempercayakan cincin untuk calon istri bapak di toko kami. Semoga pak Dimas dan calon istri langgeng selamanya"


"Ammiiinn...." ucapnya lagi sambil mengangguk dan pergi meninggalkan toko.


Dimas berjalan cepat meninggalkan mall untuk menuju ke kantornya kembali.


##########


Dengan langkah santai dan sumringah, Dimas berjalan memasuki lobby kantor, memasuki lift khusus untuk menuju ruang kerjanya.


Ttttiiinggg....


Pintu lift terbuka. Dimas berjalan tenang menuju ruangnya. Di tengah ruangan sebelum menuju ruang kerjanya, Dimas berpapasan dengan Dini yang saat itu kebetulan akan menuju ke kursi kerjanya. Dini sendiri yang berpapasan dengan Dimas secara otomatis langsung memasang wajah paling manis lengkap dengan senyumnya yang menggoda. Di tambah lagi pakaiannya yang sexy, menambah kesempurnaan akan dirinya.


"Pak Dimas?? Bapak dari mana? Kok ga sama Pak Rio?" suara Dini terdengar sengaja meliuk liuk manja mencari perhatian.


Dimas menegakkan punggungnya mencoba tenang dari godaan Dini yang memukau.


(Berhedem)


"Saya ada keperluan tadi" jawabnya singkat sambil tersenyum.


"Pak Dimas mau minum kopi? Biar saya buatkan?" ucapnya lagi menawarkan.


"Emm... Nanti saja deh ya. Saya belum kepingin. Saya masuk dulu ya" Dini tersenyum asam ketika Dimas lebih memilih untuk melenggang dari hadapannya dan langsung memasuki ruang kerjanya.


#########


Rio langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri Dimas dengan wajah tegang.


"Dim, gawat" Rio menatap wajah Dimas dengan serius. Wajah tegangnya menyiratkan akan suatu hal yang benar benar serius.


"Ada apa?" jawab Dimas berusaha tetap tenang.


"Ada kebocoran dari dana proyek kita sebesar 12 Milyar"


"Apaaa.... Loe serius?"


"Gue serius, Dimas."


"Gimana ceritanya sampai bisa bocor sebanyak itu? Salah hitung atau bagaimana?"

__ADS_1


Sejenak Rio terdiam. Ia ragu untuk mengungkapkan berita yang baru ia terima.


"Rioooo... Jawab pertanyaan gue!!"


Rio menelan ludah, menarik nafas mencoba menenangkan dirinya.


"Untuk kebocoran pastinya masih dalam penyelidikan. Tapi masalahnya ini berkaitan dengan...." Rio tak mampu melanjutkan perkataannya. Ia ragu dan takut merasa salah ucap atau bahkan bisa menyinggung perasaan Dimas.


"Dengan apa?"


Rio berdehem sebentar sebelum ia melanjutkan ucapannya.


"Masalah ini berkaitan dengan Erina" Rio menundukkan pandangannya tak mampu melihat ekspresi Dimas yang syok tak percaya.


Dimas membulatkan matanya dan langsung mencengkram kedua pundak Rio dengan geram.


"Maksud loe apa dengan menyebut nama Erina? Loe ga bermaksud mau bilang kalau yang membocorkan dana proyek adalah Erina bukan?"


"Sayangnya dalam penyelidikan sementara, Erinalah yang menjadi kambing hitam dalam hal ini" Rio dengan sangat menyesal harus mengatakan pernyataan pahit terkait dengan masalah yang sedang menimpa Erina.


Dimas terduduk lemas tak percaya dengan apa yang sudah terjadi.


"Erinaaaaa...." ucapnya geram.


"Enggak Yo... Gue ga percaya!!!" Dimas merapatkan giginya sambil menggepalkan erat jari tangan kanannya.


Dimas keluar ruangannya dengan wajah panik bercampur geram. Ia berkali kali mencoba menghubungi ponsel Erina namun tak ada jawaban.


Dimas mencari Erina ke ruang kerjanya, namun mejanya kosong. Dimas tak memperdulikan puluhan mata yang menatap ke arahnya, termasuk Mieke yang menatapnya dengan tatapan kagum keheranan. Tanpa pikir panjang, Dimas langsung menuju ke lantai 11 ke tempat persembunyian Erina jika sedang menangis.


Dengan langkah cepat, Dimas memasuki lift menuju ke lantai 11. Dan benar saja, sesampainya di lantai 11, Dimas menemukan seorang wanita sedang duduk sendiri di atas balkon kecil dengan memegang beberapa lembar tissue yang terlihat sudah basah karna airmatanya.


Dimas berjalan perlahan mendekati wanita itu. Wanita yang tak lain dan tak bukan adalah Erina, kekasih hatinya. Dimas berdiri sejenak memperhatikan Erina yang masih menangis. Hatinya sungguh terpukul melihat wanitanya menangis lemah seperti itu.


Erina menolehkan pandangannya ketika ia melihat ada sepasang sepatu sudah berdiri di sampingnya. Erina menengadahkan perlahan pandangannya ke atas. Matanya yang sembab beradu pandang dengan mata Dimas yang terlihat sayu dan sedih.


Di sekanya airmatanya lagi. Dimas berjalan dan duduk diam disebelah Erina. Keduanya saling berdiam diri. Dimas masih dengan sabar menanti Erina memuaskan dirinya dengan airmatanya.


"Aku ga tau kenapa ini tiba-tiba bisa terjadi. Aku selalu berusaha untuk selalu teliti disetiap laporan yang aku buat. Aku berani bersumpah demi apapun. Aku ga pernah melakukan hal hal melenceng yang merugikan. Apalagi harus membocorkan uang perusahaan seperti ini. Akuuuu...." Erina menundukkan kepalanya. Hatinya terasa hancur. Bagaikan ditimpa batu besar yang menghimpit dadanya, rasanya sangat sesak.


Entah siapa pelaku yang sudah tega memfitnah dirinya. Fitnah keji yang membuat jiwanya nyaris gila. Dua milyar bukan nominal yang kecil baginya. Jangankan dua milyar, seratus rupiah pun tak pernah terpikirkan oleh Erina untuk mengambilnya. Kini ia dituduh telah membocorkan dana perusahaan yang memang sama sekali tidak pernah ia lakukan.


Airmata Erina mengalir lagi. Dimas sungguh tak tega melihat Erina yang terlihat begitu hancur. Dimas bisa merasakan kesedihan yang Erina rasakan. Dirinya juga tak percaya dengan masalah yang menimpa wanitanya. Dimas yakin, ini bukan kesalahan Erina. Pasti ada seseorang yang sudah dengan sengaja men-setting ini semua.


Dimas merengkuh tubuh lemah Erina dan membenamkan wajahnya di dadanya.


__ADS_1


"Aku percaya, bukan kamu yang melakukannya. Sabar ya... Aku sudah mengerahkan team IT khusus untuk menyelidiki kasus ini"


"Tapi aku sedih Dim... Semua orang ga percaya. Apalagi ditambah adanya bukti bukti fiktif yang memberatkan aku." Isak tangis Erina makin terdengar.


"Ga perlu dengar ocehan orang. Yang penting aku percaya kalau kamu tidak bersalah." ucapnya menenangkan sambil mengusap usap punggungnya.


Erina masih terisak dalam pelukan Dimas. Dimaspun tak memaksa Erina untuk menyudahi tangisannya. Dibiarkannya ia menangis sampai puas. Dibiarkannya Erina mencurahkan segala emosinya di dalam pelukannya. Dimas yakin kalau kehadirannya mampu membuat Erina sedikit tenang dalam menghadapi masalah besar seperti ini.


########


Mobil Dimas sudah terparkir di depan pagar rumah Erina. Dimas tersenyum tipis melihat Erina yang ternyata sudah tertidur pulas dikursinya. Sepertinya Erina terlalu lama menangis sehingga membuat matanya terlelap karna lelah.


Dimas menyentuh lembut pipi Erina dan menyibakkan poni rambutnya yang menutupi sebagian wajahnya. Sentuhan tangan Dimas mengagetkan Erina yang jadi harus mengerjapkan matanya untuk terbuka.


"Ah, sudah sampai ya Dim? Maaf ya aku ketiduran" ucap Erina salah tingkah sambil merapihkan rambutnya.


Dimas tertawa kecil melihat wajah Erina yang memerah karna menahan malu.


"Aku suka lihat kamu kalau lagi tidur. Kamu terlihat imut seperti bayi" ucapnya masih sambil tertawa kecil. Erina tak menjawab perkataan Dimas. Ia hanya tersenyum kecil dan memilih untuk keluar dari mobil yang diikuti oleh Dimas.


Dimas berjalan mendekati Erina sambil menyilangkan rambutnya ke belakang telinganya. Senyuman Dimas menenangkan jiwa Erina yang sedang terguncang. Hatinya terasa lebih tenang, karna Dimas ada di pihaknya.


"Kamu istirahat ya... Jangan terlalu dipikirkan masalah ini. Aku ga ingin kamu sakit gara gara ini. Aku akan mengusut tuntas kasus ini. Aku akan mencari dan menghukum berat dalang di balik semua ini. Aku ga akan pernah membiarkan siapapun dengan lancang berani mengganggu ketenangan hidup kamu" perkataan Dimas sungguh menenangkan jiwa Erina.


"Terima kasih ya Dim, kamu sudah percaya sama aku"


"Dasar bodoh..." ucap Dimas sambil tertawa kecil dan mengacak lembut rambut Erina. Erina memanyunkan bibirnya menanggapi sikap Dimas yang memperlakukan dirinya layaknya anak kecil yang sedang merajuk kepada ayahnya.


"Ya sudah, kamu masuk sana" Erina mengangguk pelan dan tersenyum bahagia.


"Kamu hati-hati ya..." Dimas mengangguk yakin dan membalas lambaian tangan perpisahan dari Erina.


Dimas melajukan mobilnya meninggalkan rumah Erina. Di tengah perjalanan Dimas menyempatkan untuk menghubungi Rio untuk memastikan kelanjutan dari kasus yang sedang terjadi.


"Gimana Yo, loe sudah berhasil menghubungi Charles?"


"Udah Boss. Besok pagi dia akan memulai penyelidikan"


"Ok, bagus. Pastikan semua berjalan sesuai rencana"


"Baik Boss"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2