
Pintu kamar ganti telah terbuka. Gaun yang sengaja Dimas pesan dengan design yang ia gambar sendiri kini telah teraplikasi di tubuh Erina si calon pemilik baju itu. Ukurannya sesuai dan pas. Dimas sangat terpesona dengan kecantikan dan keindahan tubuh Erina yang dibalut dengan baju cantik dan indah yang membuat dirinya semakin terlihat sempurna.
Sebuah kepuasan tersendiri nampak di wajah Dimas saat ia memandangi baju yang kini sudah dikenakan di tubuh bidadarinya. Dress berbahan sutra halus berwarna gold dibawah lutut yang di lengkapi dengan brukat warna senada dan dikelilingi bordiran benang emas dan batu permata yang memberikan aksen mengkilau membuat siapapun yang memakainya terlihat sangat elegant dan mewah.
Erina sangat mengagumi dress gaun yang saat ini sedang ia coba. Hatinya tak henti-hentinya berdecak kagum memuji keindahan gaun yang ia kenakan. Bahkan saking takutnya merusak gaun itu, Erina menyerahkan seluruhnya kepada assistant perempuan dari designer itu untuk membantu mengenakannya. Gaun yang sempurna yang pastinya memiliki harga fantastis yang hanya orang yang memiliki uang lebih yang mampu membelinya.
Erina menatap malu ke arah Dimas. Mata elang Dimas terlihat sangat senang dan puas sekali memandangi dirinya. Dimas tak berhenti menyunggingkan senyum lebarnya kepadanya. Erina sendiri masih kurang paham apa arti dari senyuman Dimas.
"Lihaaaattt... Canttttiiiikkkk sekaliiii.... Perfect..." ucap si designer itu dengan penuh keyakinan. Dimas menganggukkan kepalanya tanda setuju kepadanya.
"Ok, bungkus" ucap Dimas cepat.
Assistant perempuan designer mempersilahkan Erina untuk kembali ke ruang ganti untuk berganti kembali dengan pakaiannya. Dengan hati-hati assistant perempuan itu membuka gaun yang masih dikenakan Erina lalu menatanya kembali gaun mahal itu dan di masukkan ke dalam box besar tebal yang cantik.
Dimas menerima kembali kartu debit miliknya dan dengan santai ia masukkan ke dalam dompet. Dua gelas cangkir teh hangat sudah tersaji di atas meja kaca kristal. Dimas menyesapi teh hangat itu sambil menunggu Erina datang. Tak butuh waktu lama, Erina sudah kembali ke ruang tamu dan duduk di sofa bersebelahan dengan Dimas.
"Minumlah. Teh hangat nya sangat nikmat" titah Dimas kepada Erina, sambil melirik ke arah designer. Senyuman pun langsung tersungging di bibir designer itu.
"Ah, mas Dimas bisa aja. Cuma teh hangat biasa kok mas" ucap designer merendahkan diri.
Assistant perempuan designer menyerahkan paperbag besar kepada Dimas. Tanpa membuang waktu, Dimas berpamitan untuk kembali ke kantor. Erina masih dengan wajah bingungnya hanya mengikuti langkah Dimas keluar meninggalkan butik. Dimas meletakkan goodybag besar di kursi belakang mobilnya dan Erina langsung masuk dan duduk di samping kemudi. Dimas melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang untuk kembali ke kantor.
Sepanjang perjalanan, Dimas sama sekali tak membahas soal gaun yang tadi sudah di coba olehnya. Meski kini di kepalanya sudah terkumpul banyak pertanyaan terkait gaun itu, namun keinginan untuk bertanya terhalang oleh gengsinya. Dan akhirnya Erina hanya memilih untuk berdiam diri sampai Dimas sendirilah yang akan menjelaskan.
"Kamu mau mampir makan dulu atau mau langsung kembali ke kantor?"
"Aku ga lapar. Langsung ke kantor saja"
"Okay"
__ADS_1
Lalu lintas sore itu cukup ramai. Dimas fokus dengan kemudinya tanpa banyak mengngobrol dengan Erina. Erina pun juga terdiam. Sepertinya kedua insan dalam mobil sore itu sama-sama dirundung kekikukan.
Dimas memarkirkan mobilnya ditempat semula di parkiran VIP kantor. Erina bergegas melepaskan seat belt nya dan membuka pintu mobilnya yang sebelumnya tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada Dimas. Tangan Dimas dengan cepat langsung menahan lengan Erina yang akan keluar dari mobil. Erina menolehkan tatapan ke arah Dimas dan mengurungkan niatnya untuk keluar dari mobil.
Dimas mengambil paperbag besar yang berisi gaun dan diserahkan kepadanya.
"Ambillah... " Erina hanya tertegun tanpa bersuara.
"Aku sengaja mendesign nya sendiri khusus buat kamu" tambahnya lagi.
"Dimas maaf, aku bukannya nolak pemberian kamu. Tapiii... Aku merasa ga pantas untuk menerimanya"
"Erina, Kamu itu wanita yang special buat aku. Lalu dari sisi mana yang kamu anggap ga pantas??"
"Harga gaun ini terlalu mahal Dimas. Dan aku ga bisa menerimanya. Apalagi tanpa suatu alasan yang jelas tiba-tiba kamu kasih gaun ini buat aku"
Dimas mengernyitkan alis matanya dan tertawa kecil melihat sikap Erina yang terkesan sok tau atas ketidaktahuan nya itu.
"A-apa?" Erina terlihat syok dengan penjelasan Dimas.
Penjelasan Dimas sungguh terdengar surprise. Dimas sebegitu prepare nya sudah mempersiapkan gaun khusus untuk dirinya.
"Seharusmya kamu ga perlu repot-repot membelikan aku gaun. Lagipula kamu kan belum bertanya apakah aku bisa dateng atau enggak"
"Justru itu, aku memang sengaja kasih kamu gaun itu supaya kamu datang" Erina hanya menelan ludah. Perkataan Dimas sulit untuk dibantah.
Dimas sepertinya memang ingin Erina menghadiri acara perayaan ulang tahun perusahan. Acara ulang tahun perusahaan adalah acara yang terbuka untuk semua karyawan perusahaan. Namun Dimas ingin melihat Erina terlihat istimewa di acara itu.
########
__ADS_1
"Erinaaaa.... " suara ketus Mieke mengejutkan Erina yang sedang berjalan sambil melamun.
"Iya bu" Erina menolehkan tatapannya ke arah Mieke yang sudah memasang wajah sinis nya.
"Kamu dari mana saja? Apakah ke parkiran VIP membutuhkan waktu sampai 3 jam lamanya?"
Erina benar-benar mati kutu. Sangat sulit rasanya untuk mengelak atau menjelaskan yang baru saja ia alami kepada boss galaknya itu. Mieke sepertinya benar-benar marah karna Erina tidak ijin kepadanya untuk keluar pada jam kantor. Karna memang sebenarnya ia tak ada niatan sama sekali untuk keluar pada jam kantor.
"Perlu kamu ketahui Erina, pada jam kantor karyawan dilarang untuk berkeliaran keluar kantor. Apalagi untuk shopping. Seperti kamu!! " ucapan Mieke yang menyindir memang tak bisa terelakkan. Goodybag besar ditangan Erina memang sangat terlihat mencolok dan membuat mata siapapun akan iri karna kemasannya yang terlihat sangat mewah.
"Baik bu, saya mohon maaf" Erina hanya bisa menunduk pasrah.
"Ini pertama dan terakhir teguran buat kamu. Kalau sampai terulang lagi, saya ga akan segan-segan untuk memecat kamu. Mengerti kamu!! " suara ketus Mieke benar-benar membuat bulu kuduk Erina menegang. Ia hanya menganggukkan kepalanya pelan tanpa berani membantah ucapan boss galaknya itu.
"Baik bu, saya salah" Mieke melenggang dengan langkah sombongnya meninggalkan Erina yang berdiri mematung.
Erina kembali ke meja kerjanya dan melanjutkan kembali pekerjaannya yang sempat tertunda.
##########
Sambil bersedekap santai di kursi kerjanya, mata Rio sedang asik menatap aneh kelakuan boss nya yang semakin hari semakin terlihat unik. Boss nya kadang terlihat orang yang paling dewasa, namun kadang terlihat seperti anak kecil yang memaksakan kehendak yang ia miliki. Seperti sekarang, sepulang dari rumah designer, boss nya terlihat bahagia dengan senyum yang lebar dan rona wajah yang sumringah.
"Hhmmm.... Pasti ga jauh-jauh dari Erina nih" batinnya. Rio menggelengkan kepalanya dan melanjutkan pekerjaan.
Dalam pejaman matanya Dimas menikmati kembali bayangan wajah Erina yang menggemaskan. Fitting baju di rumah designer tadi sungguh membuat hatinya dipenuhi emoji bunga-bunga. Wajah cantik Erina berpadu dengan balutan gaun indah pilihannya sungguh membuat dirinya terlihat sangat sempurna. Ukuran baju yang pas ditubuhnya yang sexy, sungguh sangat menggoda mata siapapun untuk tidak melewatkan lukisan indah dari sang pencipta.
.
.
__ADS_1
.