
Erina termenung dalam diamnya. Sejak Dimas lulus, rasanya hari-hari terasa sepi. Kini ia sudah naik kelas 12 dan akan menjalani serentetan pelajaran tambahan seperti yang telah dialami siswa kelas 12 sebelumnya. Hatinya kini terasa hampa. Berbeda saat kemarin saat masih ada Dimas yang masih sering mengganggu nya. Walaupun ada rasa benci dan kesal saat Dimas mengganggunya, namun rasa bahagia juga tak kalah besar menutupi rasa kesalnya.
"Woooiiii... Ngelamun aja neng" ucap Tasya membuyarkan lamunannya. Erina menarik nafasnya tanpa mengubah posisi duduknya.
"Gue perhatiin akhir-akhir ini loe sering banget ngelamun ya Rin. Loe kangen ya sama Dimas?" ucap Tasya menelisik.
"Ah, Enggak kok. Gue lagi males aja." jawab Erina ngeles.
"Males karna ga ada Dimas kan?" sambungnya lagi sambil terkikik.
"Tasya apaan sih. Udah ah, gue mau ke toilet dulu" ucapnya langsung pergi begitu saja.
Erina membasuh wajahnya dengan air dingin. Terasa segar dan fresh. Bayangan Dimas sesaat hilang. Dikeringkannya wajahnya dengan tissue dan dipoleskannya kembali bibirnya dengan lips balm tipis supaya tidak meninggalkan kesan pucat di wajahnya.
"Percuma juga loe dandan cantik, toh ga ada juga cowok yang perhatian sama loe"
Erina menoleh ke arah datangnya suara.
"Wulan" batinnya.
Erina menarik nafas pendek dan mengabaikan ocehan Wulan yang barusan.
"Kasian ya... Cinderella di tinggal pergi pangerannya" sindirnya lagi sambil tertawa sinis.
"Udah ketawanya?" ucap Erina santai.
Wulan mengeryitkan dahi dengan tatapan tak suka. Erina membuang tissue bekas wajahnya dan berlalu pergi.
Tangan Wulan dengan sigap langsung menarik lengan Erina mencegahnya untuk tidak pergi.
"Gue dah pernah peringatin ke loe untuk menjauhi Dimas, dan sekarang Dimas benar-benar pergi ninggalin loe. Gue harap loe bisa sadar diri akan siapa diri loe"
Erina menepis tangan Wulan yang memegangi lengan nya.
"Mang loe siapa ngatur ngatur hidup gue? Emak gue? Bukan. Sodara gue? Bukan juga? Pembokat gue? Hmmmm.... " ucap Erina berpura-pura berpikir keras.
Wajah Wulan mulai geram. Namun ia tetap berusaha tenang dengan menyedekapkan kedua tangan di dadanya. Tatapan sinisnya masih ia siratkan untuk Erina.
"Dimas itu anak orang tajir. Anak Konglo. Sedangkan elo?? Hahaha... Ga perlu gue jelasin lah ya... Kalau loe masih punya malu dan punya harga diri yang tinggi, loe ga bakal mempermalukan diri loe dengan tetap menjalin hubungan sama Dimas. Yeah... Atau kalau elo emang dasarnya ga punya malu. Atau jangan jangan loe itu aslinya matre, sengaja deketin Dimas buat dapetin hartanya"
"Jaga bicara loe Wulan. Atau loe akan menyesal" Erina mulai terpancing emosi.
"Hahaha... Menyesal? Memangnya apa yang bisa dilakukan oleh seorang Erina yang manja dan cengeng, hah?"
__ADS_1
Plaaakk...
(Satu tamparan keras mendarat di pipi Wulan yang mulus)
"Gue dah peringatin loe. Jangan salahkan gue" ucap Erina sambil bergegas pergi tanpa memperdulikan Wulan yang masih kesakitan atas tamparannya.
Wulan menggertakkan giginya. Ia sangat marah karna ga menyangka akan mendapatkan serangan tiba-tiba dari Erina. Dilihatnya di cermin pipinya yang merah karna bekas tamparan dari Erina.
"Erinaaaa.... Berani beraninya loe nampar gue. Loe punya satu hutang tamparan. Loe tunggu pembalasan gue. Suatu hari nanti loe harus membayarnya lengkap dengan bunganya" ucap Wulan dengan sangat geram dan menakutkan.
#############
Erina merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya. Ucapan Wulan saat di toilet tadi siang terlintas kembali di memory nya. Rasa minder perlahan menyelimuti seluruh jiwanya. Apa yang dikatakan Wulan memang benar adanya. Perbedaan yang sangat mencolok memang ada diantara dirinya dan Dimas. Dan dua bulir cairan bening lolos lagi dari matanya yang mulai sayu. Ada baiknya kalau mulai saat ini ia mencoba untuk melepaskan rasa cintanya yang masih ada. Kepalanya mulai terasa berat. Dipejamkannya matanya untuk memulai mimpi indahnya malam itu.
###########
Orangtua Wulan sudah sampai di bandara Soeta dan kini mereka bersiap untuk menuju ke kediaman pak Nugra. Sudah 6 bulan lebih mereka tak bertemu dengan putri kesayangannya. Rasa rindu yang mendera membuat mereka tidak menunda nunda waktu lagi untuk bisa menjumpai putrinya itu. Kebetulan Pak Susanto ayah Wulan juga ada urusan bisnis dengan pak Nugra. Jadi moment Ini sangat pas.
Pak Nugra dan istri menyambut hangat kehadiran partner kerjanya tersebut. Partner kerja yang sudah seperti saudara baginya.
"Selamat datang Pak Santo... Apa kabar?" ucap Pak Nugra sumringah sambil berjabatan tangan dan merangkul pundak Pak Santo. Sedangkan Mama Dimas saling bercipika cipiki dengan mamanya Wulan.
"Baik-baik. Bapak apa kabar? Baik juga kan?"
"Sudah, jangan repot-repot." ucap Pak Santo merasa tidak enak.
Ibu Devita menyuruh bi Atun untuk menyiapkan minuman dan cemilan. Dan tak butuh waktu lama, bi Atun sudah keluar dengan membawa nampan penuh yang berisi minuman hangat dan beberapa cemilan.
"Monggo jenk di minum. Di cobain ini kue nya"
"Ah iya. Terima kasih. Seharusnya ga perlu repot-repot kayak gini loh jenk. Kami jadi ga enak" ucap mama Wulan dengan logat Jawa nya yang terdengar medok.
"Ga repot kok jenk. Ayo monggo di cicipi lagi"
"Oia, ngomong ngomong apakah Wulan pernah membuat masalah selama tinggal disini?" tanya Pak Susanto ingin tau.
"Wulan anak yang baik. Rajin pula. Mana mungkin dia membuat masalah. Betul kan Ma?"
"Iya betul sekali. Wulan sering loh bantu saya masak di dapur" tambah Ibu Devita.
Kedua orangtua Wulan saling bertatap dan tersenyum senang.
"Ya syukurlah kalau begitu." jawab Ayah Wulan singkat.
__ADS_1
Tak lama berselang pak Tatang memarkirkan mobil di garasi. Wulan turun dan masuk ke dalam rumah. Alangkah terkejut Dan senang nya ia saat ia tau kalau kedua Orang tuanya sudah ada di dalam.
"Mama... Papa... Kalian kapan datang?" ucap Wulan sambil menyalami tangan kedua orangtuanya dan memeluk mamanya.
"Belum lama. Kira-kira 1 jam lah" jawab sang mama.
"Kangeeeeennnn" ucap wulan masih memeluk erat mamanya.
"Wulan ke kamar dulu ya Ma. Mau ganti baju"
"Mama boleh ikut ga?"
"Boleh dong... Yuk. Tante, Wulan ke kamar dulu ya" ucap Wulan pamit.
"Saya ijin ke kamar Wulan sebentar ya jenk"
"Oh iya, silahkan jenk."
Wulan dan mamanya berjalan ke lantai dua menuju kamarnya.
"Kamar kamu nyaman dan besar ya."
Wulan tersenyum dan mengangguk.
"Trus, ngomong-ngomong bagaimana kelanjutan hubungan kamu sama Dimas?"
"Masih belum ada kemajuan Ma. Dimas masih dingin sama Wulan" jawab Wulan sambil cemberut.
"Sabar ya... Yang penting kamu tetap berusaha yang terbaik. Mama yakin, Dimas pasti akan tertarik sama kamu"
"Wulan mau ngelanjutin kuliah ke London juga Ma. Biar bisa bareng terus sama kak Dimas. Wulan benar-benar kehilangan saat Kak Dimas ga ada. Boleh kan Ma?"
Mamanya menarik nafas panjang mendengar keinginan putri semata wayangnya itu. Sebenarnya berat untuk mengatakan iya, namun melihat pancaran mata Wulan yang terlihat sangat serius membuat Mamanya terpaksa harus berkata iya.
"Iya boleh. Tapi mama harap, kamu kuliah ke London bukan semata mata hanya untuk bisa dekat lagi sama Dimas. Tapi kamu juga harus tetap menyelesaikan kuliah kamu dengan nilai yang baik. Karna mama ingin kamu punya bekal yang baik untuk masa depan kamu, Sayang" jelas sang Mama dengan petuahnya.
"Makasih Mama... Mama memang orangtua Wulan yang paaaaliiinggg baik sedunia. Love you Mam... " ucap manja Wulan sambil memeluk tubuh mamanya dengan sangat erat. Mamanya hanya tersenyum dan membalas pelukan dari anaknya itu.
.
.
.
__ADS_1