
Tuk.. Tuk...
Ibu Astri mengetuk kembali pintu kamar Erina. Erina menolehkan kepalanya saat melihat mamanya masuk. Ibu Astri melangkahkan kakinya memasuki kamar putrinya dan duduk dipinggir ranjangnya.
"Sayang, kamu lagi ngapain sih?" tanya mamanya sambil memperhatikan kegiatan putrinya itu.
"Erina lagi beresin tugas buat besok pagi ma" jawabnya sambil melihat ke arah mamanya sekilas lalu melanjutkan kembali ke buku-bukunya.
"Dari Dimas nih" ucap mamanya sambil menyerahkan goodybag kecil.
Erina terkejut dengan apa yang di sodorkan mamanya.
"Loh ini kan goodybag yang tadi pagi aku titipkan ke Rio untuk Dimas" batin Erina.
Erina ga menyangka kalau malam ini benda ini akan kembali lagi kepadanya.
"Makasih ya ma" jawab Erina sambil tersenyum.
"Kasian loh Dimas dah bela-belain malam-malam dateng ke sini buat kasih kamu sesuatu, eh sama kamunya malah di cuekin." ucap ibu Astri dengan nada kecewa atas sikap putrinya.
Erina ga menjawab ucapan yang di lontarkan oleh mamanya. Ia memilih untuk diam. Erina memang sengaja ga memberitahukan kepada mamanya perihal putusnya dia dengan Dimas. Erina ga ingin Mamanya jadi ikut ga suka dengan Dimas.
"Ya sudah kamu lanjutkan lagi belajarnya ya. Jangan tidur malam-malam."
Erina menipiskan bibirnya sambil mengangguk.
Ibu Astri menutup kembali pintu kamar Erina dan membiarkan anaknya pada kesibukannya.
Perlahan Erina menyentuh goodybag kecil itu dan membukanya. Di dalamnya masih ada kotak kecil berisi benda yang sama seperti tadi pagi yang ia serahkan ke Rio untuk Dimas. Erina mengambil secarik kertas kecil yang berisi tulisan. Kertas dengan warna berbeda dengan kertas miliknya yang ia tulis untuk Dimas.
Cuma kamu yang pantas menyimpan benda ini. Simpanlah untuk aku.
Air mata Erina mengalir lagi tanpa diminta. Dan aliran itu semakin deras. Erina ga mampu untuk menghentikan aliran airmatanya. Rasa haru, senang, sedih dan sakit bercampur jadi satu.
"Dimas... Kenapa sih kamu sengaja bikin aku jadi susah buat ngelupain kamu? Maksud kamu apa berbuat seperti ini? Kamu tau ga sih? Aku tuh mau belajar ngelupain kamu Dim... Aku ingin bisa menata kembali hati aku tanpa kamu, tanpa ada sesuatu yang berkaitan sama kamu." ucap Erina berbicara sendiri sambil menatap benda pemberian Dimas masih dengan airmatanya yang terus-terusan mengalir.
############
Semenjak Dimas menyatakan putus hubungan, Erina memang sengaja untuk menghindari Dimas. Disetiap kesempatan jika bertemu dengan Dimas, Erina selalu mencoba untuk menghindar. Sebisa mungkin Erina menjauh dari sosok Dimas. Hal ini ia lakukan agar dirinya bisa segera melupakan dan menghapus nama serta kenangan manis bersama Dimas walaupun kenangan manis itu hanya berjalan sebentar.
Entah kenapa jika melihat wajah Dimas, rasa sakit di hati pasti muncul. Rasa sakit yang disebabkan karna rasa sayang yang berlebih atau rasa benci yang perlahan mulai bersemi, entahlah...
Dan satu hal dari sikap Dimas yang membuat Erina kesal. Hampir setiap hari Dimas tak pernah absen mengirimkan pesan singkat di ponselnya. Walaupun isi pesannya hanyalah sekedar pertanyaan basa basi. Berulang kali Erina selalu mengabaikan pesan itu, namun berulang kali juga Dimas selalu mengirimkan kembali pesan pesannya. Sebenarnya Erina senang dengan perhatian Dimas. Tapi, hal ini juga membuat Erina bingung dengan tujuan Dimas sebenarnya. Dimas sudah dengan sadar meminta putus hubungan dengannya. Tapi dilain sisi, perhatian Dimas masih tetap sama seperti mereka masih bersama.
Istirahat kedua hari ini, Erina berpamitan kepada ketiga sahabatnya untuk pergi keperpustakaan. Karna sahabatnya tidak ada yang mau diajak ke perpustakaan, akhirnya Erina sendiri yang ke sana.
Dengan langkah santai, Erina berjalan menuju lokasi yang dimaksud. Perpustakaan kebetulan ada di lantai satu berdekatan dengan lapangan basket. Dengan langkah santai Erina berjalan dan memasuki ruang perpustakaan dan segera mencari buku buku yang dimaksud.
Mata Dimas tak sengaja menangkap sosok Erina yang berjalan santai memasuki ruang perpustakaan. Tanpa pikir panjang, Dimas segera menyudahi permainan basketnya dan bergegas menyusul Erina ke sana.
Sesampainya di perpustakaan, bola mata Dimas menyusuri seluruh ruangan mencari sosok yang di maksud. Senyum Dimas tersungging dibibirnya ketika matanya berhasil menemukan sosok wanita pujaannya yang sedang asik berkutat dengan buku buku di mejanya.
Tanpa permisi, Dimas langsung duduk di kursi depan Erina dengan santai. Erina yang menyadari kehadiran dirinya seketika terlihat terperangah karna terkejut. Namun dengan cepat Erina segera mengalihkan pandangan nya ke buku-buku itu dan semakin menyibukkan diri dengan buku dan pulpennya.
"Ssyyuuutttt...." sapa Dimas. Dan lagi lagi Erina hanya memandang sekilas lalu mengabaikannya kembali.
Erina terperangah dengan mulut yang ternganga ketika dengan cepat Dimas mengambil paksa pulpen miliknya yang sedang ia gunakan untuk menulis. Erina hanya menarik nafas dalam mencoba bersabar menyikapi sikap Dimas yang menyebalkan.
Sebuah kertas kecil tiba-tiba Dimas sodorkan untuknya.
Nanti siang pulang bareng ya....
Erina tak menjawab. Ditatapnya wajah Dimas untuk beberapa detik tanpa senyuman sedikitpun di wajahnya. Erina tak habis pikir dengan sikap Dimas yang semakin membuat dirinya menjadi bingung. Untuk apa Dimas mengajaknya pulang bareng, sedangkan hubungan mereka sudah putus. Dan yang lebih menyakitkan lagi Dimas mengajaknya pulang bareng satu mobil dengan Wulan. Sungguh menyebalkan!!!
Erina merapihkan buku-bukunya dan segera beranjak dari duduknya tanpa merespon sedikitpun niat baik dari Dimas. Dimas hanya bisa tertegun menatapi punggung Erina yang berjalan menjauh dari tatapannya.
##########
__ADS_1
Seperti biasa, pulang sekolah setelah berpamitan dengan teman temannya, Erina berjalan santai menuju halte bus ditemani headset di telinga dan musik musik favorite nya. Langkah Erina tiba-tiba terhenti ketika motor Dimas dengan cepat berhenti di depannya dan memaksa langkahnya untuk berhenti.
Tanpa sungkan, Dimas menyodorkan helm sambil menyunggingkan senyum manisnya. Seakan tidak pernah terjadi apa-apa, Dimas bersikap seolah olah semua baik baik saja.
"Nih pake, aku antar kamu pulang. Yuk...."
Seandainya kata putus itu tak pernah terucap dari mulut Dimas, Erina pasti akan menerima ajakan itu dengan senang hati. Sayangnya saat ini semua sudah berbeda. Justru sikap Dimas yang seperti ini membuat hati Erina semakin sakit. Dimas seperti sengaja mempermainkan perasaannya.
Erina berdiri mematung di depan motor Dimas tanpa berucap.
"Erinaaa.... " ucap Dimas lagi.
Erina menarik nafas dalam mencoba untuk tenang menyikapi sikap Dimas.
"Terima kasih untuk tawarannya. Tapi aku sudah terbiasa untuk pulang sendiri" Erina segera meninggalkan Dimas dan motornya. Erina juga mempercepat langkahnya untuk segera sampai di halte. Dan lagi lagi, Dimas harus menelan rasa kecewa atas sikap dingin Erina yang sepertinya memang sudah dengan sengaja menjaga jarak dengannya.
#############
Di Bioskop sebuah Mall
"Gimana menurut kamu? Tadi itu seru ga filmnya?" tanya Rio dengan raut muka penasaran.
"Lumayan. Tapi sebenarnya aku ga begitu suka film action sih kak. Aku tuh lebih suka film horor, lebih menantang gimana gitu... " jawab Chika dengan antusias sambil menampakkan muka nyengirnya.
"Biasanya cewek itu paling takut kalau nonton film horor. Ini kamu malah kebalikannya. Aneh deh kamu." ucap Rio lagi, kali ini sambil mencubit hidung Chika yang otomatis membuat Chika teriak kesakitan.
"Iiihh... Sakiiittt... Ngeselin ih."
"Hahahaha... Kamu lucu deh kalau lagi kesel gitu" goda Rio
Chika memandang malas ke arah Rio dan berjalan lebih cepat meninggalkan Rio. Rio dengan cepat mensejajarkan langkah nya dengan Chika dan dengan rasa percaya tingginya langsung menggengam tangan Chika dan menggandengnya.
*FLASHBACK*
Tiga hari yang lalu sepulang sekolah Rio mengajak Chika untuk ketemuan di sebuah cafe coffe yang sudah Rio tentukan tempatnya. Sebelumnya Rio sudah mengirimkan pesan singkat untuknya. Dan Chika pun meng iya kan ajakan Rio tersebut. Rio memang sudah lama menaruh rasa suka kepada Chika. Mereka sering berkomunikasi lewat aplikasi pesan singkat. Dan sepertinya Chika juga memiliki rasa yang sama kepada laki-laki teman dekat dari pacar temannya itu. Berkali-kali Rio mengungkapkan perasaannya kepada Chika lewat pesan singkat. Namun Chika masih belum memberinya jawaban yang pasti. Chika masih malu kalau teman-temannya sampai tahu kalau dia berhubungan dengan Rio.
"Cappuccino es" jawabnya singkat.
"Segera madam" jawab Rio cepat dan beranjak ke tempat pemesanan.
Rio duduk kembali berhadapan dengan Chika. Wajah menampilkan senyuman manisnya yang sengaja ia buat-buat biar terkesan lucu.
"Jadi gimana Chik? Kamu mau kan jadi pacar aku, Pleaseeee.... " ucap Rio dengan wajah memelasnya.
Wajah Chika memerah sambil menahan tawanya melihat sikap Rio yang terlihat kasihan tapi lucu.
"Iya aku mau. Tapi dengan 1 syarat" jawab Chika yakin.
"Iih.. Nakal deh. Pake syarat segala." jawab Rio sambil pura-pura marah.
"Mau ga?"
"Iya iya mau.. " ucap Rio meng iya kan permintaan Chika tanpa pikir panjang lagi.
"Apa Syaratnya, jangan susah-susah ya?" Tanya Rio lagi
"Kamu pikir ini lagi ujian, susah?" jawab Chika sambil memonyongkan mulutnya.
"Hehehhee... iya sayang maap. Jadi apa syaratnya?" tanya Rio mengulangi.
"Syaratnya adalah, kita ga boleh sampai ketauan kalau kita udah jadian. Terutama saat di sekolah. Gimana? Setuju?"
"Syarat apaan kayak begitu. Aku ga setuju!!!" ucap Rio sambil memalingkan wajahnya.
"Ya udah kalau kamu ga mau. Aku tarik lagi kata-kata aku yang tadi. Aku batal jadi pacar kamu"
"Huft beraninya ngancem. Ya udah aku setuju. Tapi kita beneran jadian ya... " ucap Rio sambil menipiskan bibirnya memainkan alisnya yang sontak membuat Chika tertawa.
__ADS_1
"Iya" jawab Chika singkat.
Rona bahagia terpancar jelas pada kedua wajah pasangan muda yang baru saja meresmikan hubungan mereka. Rio dan Chika yang masih malu-malu hanya bisa saling melempar senyuman. Terlihat agak norak ya, tapi ya begitulah cinta. Biar norak tapi rasanya tetep bahagia.
##########
"Beib, kita makan dulu yuk. Aku laper nih." Ajak Rio masih sambil menggenggam tangan kekasihnya itu.
"Ayok. Aku juga laper" jawab Chika sambil nyengir.
Rio mengajak Chika ke sebuah resto ayam dan bebek goreng yang berada di dalam mall dimana Rio dan Chika berada.
"Kamu mau makan apa Beib, ayam atau bebek?" ucap Rio menawarkan.
"Eemmm.. Aku bebek goreng aja" jawab
"Okay"
Kurang lebih 10menit pesananpun datang. Mereka menyantap makan malamnya dengan tenang dan santai. Chika sangat menikmati bebek goreng miliknya yang terasa garing, gurih dan lembut. Saking sibuknya menikmati makanan, Chika sampai ga ngeh kalau sedari tadi Rio memperhatikan dirinya sambil tersenyum nakal.
"Mau dong dijilat juga" goda Rio yang membuat Chika melolotkan matanya ke arahnya.
"Apaan sih kamu. Jangan jorok deh"
"Kamu itu yang jorok. Masa jilatin tangan sampai segitunya"
"Ih, kamu itu lebay banget sih. Makan pake tangan itu ya nikmatnya sambil jilatin tangan sayang... Kamu coba deh"
"Masa sih?" Rio seumur-umur ga pernah menjilati tangannya sendiri. Kali itu dia mencoba untuk menjilat tangannya seperti saran dari Chika. Ekpresi jijik Rio menjilati tangannya membuat Chika terkekeh geli melihatnya.
"Oia beib, ngomong-ngomong kamu udah tau belum kalau Dimas dan Erina itu udah putus?" ucap Rio di tengah-tengah makan mereka.
"APA? Dimas sama Erina putus? Kamu serius kak?" Chika membulatkan matanya lebar-lebar, makannya pun terhenti mendengar perkataan Rio.
"Serius. Dimas sendiri yang bilang sama aku kalau mereka udah putus"
"Siapa yang mutusin?"
"Dimas"
"Brengsek!!! Tega-teganya Dimas mutusin Erina. Erina tuh cewek paling baik yang pernah gue kenal. Pantes aja sekarang Erina agak beda. Lebih banyak diam dan lebih tertutup. Ternyata itu masalahnya"
"Tenang dulu beib, Dimas mutusin Erina karna terpaksa"
"Terpaksa? Maksudnya?"
"Papanya yang maksa Dimas untuk mutusin Erina. Karna papanya mau ngirim Dimas buat kuliah ke London"
"O. M. G.... Aku bisa bayangin bagaimana hancurnya hati Erina saat ini. Jahat banget sih itu papanya Dimas."
"Beib, setiap orang tua itu punya pikiran dan rencana tersendiri untuk anak-anak nya. Kita nanti juga akan sama kalau sudah menjadi orang tua dan punya anak"
"Iya tapi tetep aja papanya Kak Dimas ga boleh sepihak begitu. Dia harusnya juga mikirin perasaan Erina dong"
"Kita ga tau apa yang ada dipikiran orangtuanya Dimas. Mungkin saat ini itu yang terbaik buat Dimas dan Erina"
"Tetep aja Kaaakkk, Dimas ga punya nyali buat bisa menyakinkan orangtuanya dan tetep bisa mempertahankan hubungannya sama Erina. Ih, sumpah aku kesel banget deh sama temen kamu itu Beib... "
"Udahlah ga usah kita bahas terlalu dalam. Ini urusan mereka. Sekarang mendingan kamu cuci tangan kamu dulu deh. Tangan kamu dah kering tuh"
Chika mengangguk mematuhi saran dari Rio dan lalu beranjak berdiri menuju ke wastafel untuk mencuci tangannya yang sudah mengering karna kelamaan mengobrol.
.
.
.
__ADS_1