
Hubungan Dimas dan Erina ga kerasa sudah berjalan 2 bulan lebih. Bunga-bunga cinta sudah bersemi di hati keduanya. Terutama Erina. Rasa sayangnya kepada Dimas sudah tertanam di hati dan pikirannya. Dimas adalah laki-laki yang sudah berhasil membuat dirinya nyaman dan percaya dengan yang namanya cinta. Boleh di bilang Dimas adalah cinta pertama Erina.
Erina memang belum pernah menerima cinta laki-laki manapun dengan serius. Karna dia takut dengan permainan cinta. Banyak laki-laki yang mencoba mendekatinya tapi ga pernah di tanggapinya dengan serius olehnya. Dari pengalaman teman-teman SMP nya dahulu yang sering berantem sama cowoknya dan akhirnya berakhir dengan putus hubungan, membuat Erina merasa takut untuk menjalin hubungan dengan laki-laki. Tak jarang dari hubungan yang sudah terputus itu membuat hubungan pertemanan menjadi renggang. Mereka jadi saling membenci.
Namun sejak kenal dengan Dimas, dan cara Dimas yang dengan gigih mendekati dirinya membuat hati Erina menjadi luluh. Ditambah keseriusan yang di tunjukkan Dimas membuat hatinya menjadi yakin untuk bisa membuka hatinya untuk seorang laki-laki.
##########
Hari ini sekolah libur. Dan Siang ini cuaca sangat terik. Panasnya sinar matahari benar-benar menusuk sampai ke dasar kulit. Jalanan pun tampak lebih lengang dibanding hari biasa. Mungkin karna cuaca yang kurang bersahabat membuat banyak orang memilih untuk menghabiskan waktunya di rumah saja bersama keluarga mereka.
Sama hal nya dengan Erina yang ga kemana-mana hari itu. Erina memang termasuk tipe wanita rumahan yang lebih senang tinggal di rumah ketimbang harus menghabiskan waktunya dengan nongki-nongki cantik di kafe atau di mall.
Nada dering ponsel Erina berbunyi dengan cukup keras yang membuat se isi rumah mendengar dengan jelas. Dari ruang makan terdengar suara teriakan dari sang mama yang kebisingan dengan suara nada dering ponsel Erina.
"Erinaaaaa.... Hp kamu bunyi tuh" teriak ibu Astri.
"Iya maaaaa... " jawab Erina sambil berjalan ke meja makan.
Tadi saat makan, Erina membawa ponselnya dan di taroh di atas meja makan. Setelah selesai makan, ternyata Erina lupa ga membawa kembali ponsel miliknya dan masih tergeletak di atas meja makan.
"Kenceng banget sih suaranya? Kecilin dong Sayang" Ucap sang mama sedikit kesal.
"Iya ma maaf. Tadi emang sengaja Erina gedein suaranya. Biar kalau ada telpon masuk kedengeran. Erina terima telpon dulu ya mam" jawab Erina sambil cengar-cengir dan pergi ke kamar meninggalkan mamanya yang masih di meja makan.
Ibu Astri hanya geleng-geleng kepala sambil menarik nafa dan menghembuskannya dengan kasar.
Di layar ponsel Erina tertera nama Dimas.
"**Halo Dim... "
"Hai Sayang... Kamu lagi ngapain?"
"Aku lagi santai aja. Ada apa Dim? "
"Aku kangen sama kamu"
"Ciuuusss**??"
"**Kamu ga percaya?"
"Enggak. Kalau kamu beneran kangen, dateng dong sekarang**" (ucap Erina menggoda)
"Panas banget sayang. Mager nih... " (jawab Dimas dengan nada memelas)
"Tuh kan bener... Kangennya kamu palsu"
Terdengar suara Dimas yang tertawa dengan lepas sampai terbahak-bahak. Erina sedikit kesal mendengar suara tawa Dimas yang terdengar sangat bahagia itu.
"Nanti malam aku dateng deh " (ucap Dimas)
"Mau ngapain?" (tanya Erina pura-pura yang membuat Dimas gemas)
"Kok mau ngapain? Katanya tadi kamu minta aku dateng... Emangnya kamu ga mau di apelin sama pacar?"
"Hahahaha... Ga mau. Bosen" (goda Erina lagi. Kali ini Dimas benar-benar geram dengan jawaban Erina)
"Oh jadi gitu... Udah bosen sama aku? Kamu udah ada yang baru yang bakal ngapelin kamu?" (nada suara Dimas terdengar serius)
__ADS_1
Sekarang gantian Erina yang tertawa lepas. Dam membuat Dimas semakin gemas dan penasaran.
"Ngapain ketawa-ketawa?" (ucap Dimas dengan ketus yang membuat Erina semakin tertawa ngakak)
"A**da yang cemburu nih**..." (jawab Erina masih dengan tawanya)
"Jam 7 tunggu aku di rumahmu" (ucap Dimas cepat dan langsung menutup telponnya)
Erina terkejut dengan sikap Dimas yang tiba-tiba menutup telpon nya begitu saja tanpa berpamitan seperti biasanya. Tapi Erina ga ambil pusing dan mengangapnya biasa. Sesekali membuat pasangan cemburu kan hal yang wajar.
Suasana kamar yang sejuk membuat mata Erina tak kuasa menahan kantuk. Dan posisi nyaman saat ini dimana tubuh berada di ranjang yang empuk dengan bantal dan guling yang memiliki aroma khas, membuat diri Erina menyerahkan sepenuhnya dalam dunia mimpi yang sebentar lagi ia masuki.
##########
Ttuukk... Ttuuukk... Ttuuukk....
Ibu Astri mengetuk pintu kamar Erina.
"Erinaaa.... " panggil sang mama
Ibu Astri mengetuk kembali pintu kamar Erina. Lagi-lagi ga ada jawaban. Ibu Astri membuka pintu kamar putrinya dengan pelan. Senyumnya mengembang saat masuk kamar dan terlihat di sana kalau putrinya masih terlelap dengan mimpinya.
Sang mama duduk di pinggir ranjang Erina dan mengusap pipi anaknya dengan lembut.
"Erina... Bangun sayang" Sentuhan tangan Ibu Astri membuat Erina kaget dan terbangun dari tidurnya. Bukan Erina kalau langsung bangun. Hihihi...
Erina menggeliat beberapa kali. Matanya masih enggan untuk terbuka. Rasa ngantuknya masih menggelayuti dirinya.
"Udah sore ini... Ayo bangun" ucap sang mama lagi
"Masih ngantuk ma.. Mang jam berapa sekarang?" tanya Erina dengan manja.
Erina memaksa matanya untuk melek. Diseretnya badannya yang masih lunglai ke kamar mandi.
#############
Jam 7 malam lewat sedikit Dimas dengan motor matic nya sudah sampai di depan rumah Erina. Dimas langsung duduk di kursi panjang dekat taman kecil depan pagar rumah Erina.
Erina menyambut kehadiran Dimas dengan senyuman yang merekah. Wajah Dimas sangat serius malam ini. Sepertinya Dimas masih kesal dengan candaan Erina yang tadi.
Erina duduk bersebelahan dengan Dimas di kursi panjang yang sama yang di duduki oleh Dimas.
"Tumben itu muka dilipet? Biasanya di buka lebar?" ucap Erina sambil tertawa kecil.
"Kamu ga ada niatan buat ngeduain aku kan, Rin?" perkataan Dimas sangat menbuat Erina terkejut.
"Kamu ngomong apaan sih Dim?" Erina sedikit bingung dengan ucapan Dimas.
"Ya aku pengen mastiin aja kalau kamu itu bener-bener setia sama aku"
"Maksud kamu apaan, aku ga ngerti deh"
"Jawab aku dengan jujur! Kamu punya cowok lain selain aku apa enggak?"
Erina membulatkan matanya mendengar pertanyaan dari Dimas. Dia gak abis ngerti kenapa tiba-tiba Dimas bertanya hal demikian.
"Ya ga ada Dim. Kamu ini kenapa sih? Aku tadi itu cuma bercanda. Kamunya malah serius begini" pertanyaan Dimas sungguh membuat Erina kesal. Dimas seakan sengaja merendahkannya dengan mencurigai dirinya telah menjadi penghianat cinta.
__ADS_1
"Abisnya kamu tadi ngeselin sih" jawab Dimas santai dan langsung tersenyum. Sementara Erina masih terlihat kesal dengan pertanyaan Dimas yang seolah-olah ga percaya dengan dirinya.
Suasana hening sesaat. Erina memilih diam menunduk tanpa menoleh ke arah Dimas.
Dimas melirik ke arah Erina yang masih terdiam. Dimas mulai iseng dengan ide jahilnya.
Tiba-tiba jarinya langsung menyentil tulang pipi kiri Erina yang sontak membuat Erina kaget dan berteriak.
"Aaauuu... Dimas sakit. Usil banget ih..." teriak Erina sambil memegang pipinya
Dimas tertawa senang karna sudah berhasil membuat Erina kaget.
"Lagian, di datengin pacar malah diem" ucap Dimas. Erina hanya memandang malas ke arah Dimas.
"Oia, aku punya sesuatu buat kamu" ucap Dimas sambil mengambil dua kotak kecil dan langsung memberikannya satu untuk Erina.
"Ini buat aku, dan yang ini buat kamu" ucap Dimas sambil menyodorkan kotak tersebut.
Erina menerima kotak kecil itu dengan rasa sedikit bimbang. Dia sepertinya tidak asing dengan bentuk, warna dan tulisan yang ada di kotak itu. Dan memory otaknya dengan cepat langsung memberikan info akurat tentang benda yang saat ini sedang dipegangnya.
"Dimas, ini kaaannn.... " ucap Erina sambil menatap Dimas. Erina belum sempat melanjutkan perkataannya dan langsung dijawab dengan anggukan oleh Dimas.
"Yups.. Itu barang yang pernah kita beli malam itu" jawab Dimas singkat.
"Dimas, ini kan jam yang kamu beli buat kado Anniversary pernikahan orang tua kamu? Kenapa kamu kasihkan ke aku?" Erina terperangah tak percaya dengan kelakuan Dimas yang terlihat tenang dan santai seakan tanpa beban sama sekali.
Dimas tersenyum sambil menggeleng.
"Bukan. Sebenarnya aku sengaja beli ini untuk kita. Untuk kamu dan aku. Dan sebenarnya,Anniversary pernikahan orangtuaku masih lama banget"
Erina ternganga tak percaya.
"Kenapa kamu bohong sama aku?"
"Aku minta maaf kalau aku udah bohong sama kamu. Saat itu yang terlintas di pikiranku hanya cara inilah. Aku bingung mau ajak kamu keluar pake alasan apa. Maafin aku Erina... " Dimas menundukkan pandangannya merasa bersalah.
Erina terdiam lagi.
"Erina... Maafin aku ya.. " Dimas memberanikan untuk menatap wajah Erina yang masih terlihat bimbang.
"Dimas, aku ga bisa terima pemberian kamu. Maaf" ucap Erina sambil menyodorkan kembali kotak kecil itu ke Dimas.
Dimas tak lantas begitu saja menerima penolakan dari Erina. Diraihnya tangan Erina dan di genggamkannya kotak kecil itu ke tangan Erina.
"Kamu harus terima apapun yang aku kasih buat kamu. Kamu ga boleh nolak!! Dan jam ini sebagai simbol kalau kamu sudah terikat sama aku" Dimas mengambil jam dari kotak dan memakaikannya di tangan Erina. Setelah itu, Dimas memakai jam yang sama ditangan nya.
"Sama kan? Ini jam couple. Sama seperti kita" ucap Dimas lagi sambil tersenyum.
"Dimas, ini terlalu mahal buat aku. A-aku ga pan..." belum selesai Erina menyelesaikan kata-katanya, Dimas sudah langsung dengan cepat menyelanya.
"Erina dengerin aku. Bagiku, Kamu tetap yang lebih mahal dari apapun. Harga jam ini ga ada apa-apanya dibandingkan dengan kamu dan hati kamu. Aku kasih jam ini buat kamu dengan tujuan supaya kamu selalu ingat sama aku dan kamu sudah aku borgol pake jam ini. Jadi kamu udah ga bisa lagi buat ngelirik ke cowok lain lagi selain aku. Kamu mengerti?"
"Dimas please... Tapi aku ga... "
"Aku ga mau dengar kata tidak dari mulut kamu..!!!" ucapan Dimas seakan tak terbantahkan. Tatapan mata Dimas sangat tajam membuat Erina tak mampu berkata lagi dan akhirnya Erina hanya memilih untuk diam.
.
__ADS_1
.
.