Ku Tembak Cintamu 2x

Ku Tembak Cintamu 2x
Kantor Baru


__ADS_3

Dimas menuruni anak tangga menuju meja makan. Di sana sudah terlihat orang tuanya duduk bersiap untuk sarapan pagi.


"Morning Ma, Pa... " Dimas mencium kening sang Mama lalu duduk di kursinya untuk sarapan.


Mereka menikmati sarapan dengan tenang. Pak Nugra sudah selesai lebih dulu, ia mengelap mulutnya dengan tissue.


"Dimas, hari ini tolong kamu datang ke kantor. Hari ini kebetulan ada rapat direksi. Papa mau ngenalin kamu ke mereka"


Dimas terkejut dan menolehkan pandangannya ke arah sang papa. Tangannya menghentikan sejenak kegiatan makannya.


"Harus hari ini Pa?"


"Iya, jam 9. Jangan terlambat" Pak Nugra beranjak dari kursi dan bersiap untuk pergi ke kantornya. Setelah mengenakan jas yang dibantu istrinya ia lalu berpamitan dengan mencium pipi kanan kiri dan bibir istrinya lalu menepuk pundak Dimas yang masih duduk melanjutkan sarapan nya.


Dimas masih dengan tenang menghabiskan sisa sarapannya yang masih ada beberapa sendok. Jam dinding masih menunjukkan pukul 7 pagi. Masih ada waktu cukup untuk bersantai.


###########


Dimas telah membersihkan dirinya dan saat ini tengah merapihkan kemejanya. Dengan mobil sport hitam miliknya ia meluncur menuju ke kantor papanya. Hanya butuh waktu 40 menit untuk sampai di sana. Dimas memarkirkan mobilnya di area parkiran khusus. Tempat parkiran yang hanya khusus diperuntukkan pejabat atau direksi.


Dimas memang jarang mendatangi kantor papanya. Jadi tak heran jika dirinya tidak begitu dikenali oleh karyawan di sana. Dimas berjalan memasuki lobby kantor dengan santai. Stelan jas dengan kemeja bergaris warna hitam yang mewah lengkap dengan sepatu merk ternama membuat penampilan nya terlihat sempurna.



Tubuh tegap Dimas serta wajah tampan nya seperti menghipnotis mata para wanita yang melihat. Dimas seperti sebuah magnet yang telah berhasil menarik alam bawah sadar para karyawan wanita di sana. Tanpa mereka sadari mata mereka terus memperhatikan ketampanan wajah Dimas. Pemandangan indah yang sangat jarang mereka temui. Seorang laki-laki dengan body tinggi dan perfect dengan pakaian kelas atas serta aroma parfum khas pria sungguh menggoda semua mata untuk memandang.


Dimas terus melangkahkan kakinya menuju lift khusus yang akan membawanya ke ruangan papanya tanpa perlu permisi dulu ke bagian receptionis. Meski Dimas hampir tidak pernah datang ke kantor papanya, namun ia masih ingat betul dimana ruang kerja papanya itu. Ruang kerja VVIP yang terletak di lantai 7, lantai yang khusus diperuntukkan para pejabat penting di perusahaan itu. Hanya karyawan tertentu saja yang diperbolehkan memasuki lantai tersebut.


Ttinngg...


Pintu lift terbuka. Dimas keluar dari lift dan berhenti sejenak. Suasana di lantai 7 nampak sepi. Dimas memperhatikan keadaan sekitar. Matanya dengan leluasa menjelajahi semua sisi yang ada di lantai itu. Dimas melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 8.50 menit. Apakah meetingnya sudah dimulai? Dimas bertanya pada dirinya.


Seorang wanita muda terlihat berjalan menuju ke mejanya. Dimas mendekati wanita itu untuk menanyakan perihal meeting direksi bersama papanya.


"Selamat Pagi... " sapa Dimas.


Wanita itu mendongakkan kepalanya menatap Dimas. Wanita itu sejenak terdiam terkejut sekaligus terpesona dengan ketampanan wajah Dimas.


"Ya Tuhan... Nih cowok ganteng bangeetttt... " batin wanita itu.


"Halooo... Nona... " Dimas melambaikan tangannya di depan wajah wanita itu dan membuat wanita itu tersadar dari lamunan nya.


"Ah iya maaf, ada yang bisa saya bantu?"


"Apakah meeting direksinya sudah dimulai?"


"Sudah. Baru saja. Maaf, anda siapa dan ada keperluan apa datang kemari?"


"Saya mau bertemu dengan Pak Nugra." ucap Dimas santai.

__ADS_1


"Pak Nugra?" ulang wanita itu seolah tak percaya dengan apa yang barusan Dimas ucapkan.


"Iya betul. Bapak Nugraha Ardhana"


"Apakah anda sudah ada janji dengan beliau?"


"Sudah"


"Nama anda?"


"Dimas"


"Dimas Nugra Ardhana"


Wanita itu tercengang mendengar nama yang barusan di dengarnya. Karna namanya sangat mirip dengan nama boss utama di perusahaan itu. Dengan sedikit gugup, ia langsung segera menghubungi atasannya.


"Baik. Tunggu sebentar, silahkan duduk dulu"


Wanita itu memencet tombol line telpon yang langsung terhubung ke ruangan meeting. Pak Nugra dengan cepat langsung mengangkat telpon tersebut.


"Ya... "


"Maaf pak Nugra, ada pak Dimas di luar."


"Okay, suruh langsung masuk ke ruang meeting ya" suara Pak Nugra terdengar sangat dingin dan tegas.


Dini nama si wanita itu, beranjak dari kursinya dan mengantarkan Dimas menuju ke ruang meeting. Sesampainya di depan pintu, Dini mengetuk pintu. Seorang laki-laki assisten pribadi Pak Nugra membukakan pintu dan mempersilahkan Dimas untuk masuk. Dimas memasuki ruang meeting yang besar dan luas. Semua mata tertuju kepadanya. Pak Nugra beranjak dari kursinya sambil tersenyum menghampiri Dimas seraya merangkul bahu putra kebanggaan nya itu.


Semua peserta meeting bertepuk tangan menyambut kehadiran Dimas. Dimas terlihat kikuk dan canggung dengan situasi itu. Ia belum terbiasa dengan dunia kerja seperti ini. Dimas membungkukkan badan sebagai tanda hormat kepada semua dewan direksi.


Dimas mengikuti meeting pagi sampai selesai. Semua materi meeting telah ia pelajari. Sedikit banyak Dimas mulai mengerti tentang untung rugi yang di alami perusahaan serta strategi bisnis yang akan dijalani.


Tepat jam 12 meeting selesai. Dimas beserta dewan direksi yang lain bersantap siang dengan menu catering dari restoran terbaik yang disediakan perusahaan. Sambil bersantap siang, Dimas berbincang-bincang dengan para pejabat direksi. Selesai acara makan siang, Dimas menuju ke ruangan kerja papanya.


Dimas berjalan berbarengan dengan pak Nugra memasuki ruang kerjanya. Dini tak melepaskan pandangannya sedikitpun melihat dua sosok manusia bergender laki-laki sempurna berjalan beriringan di dampingi asisten di belakangnya memasuki ruang kerja boss utama. Dini berdecak kagum mengagumi keindahan dan kesempurnaan ciptaan Tuhan.


"Ternyata pak Nugra punya anak yang sangat tampan. Ya Tuhaaaannn.... Tolong jodohkanlah aku dengan anaknya pak Nugra. Ketampanan nya benar benar membuat aku jatuh cinta. Badan nya juga sangat bagus. Ooohhh...." batin Dini sambil berhayal. Kedua tangannya menangkup di kedua pipinya.


#############


Dimas duduk di sofa santai yang ada di ruangan kerja papanya. Di dalam ruangan nya ada meja yang terpisah tak begitu jauh dari meja papanya. Itu adalah meja untuk asisten pribadinya yang bernama Andra.


"Dimas, ini Andra assistant pribadi Papa." Andra membungkukkan badannya memberi hormat kepada Dimas yang dibalas anggukan olehnya.


"Nanti dia yang akan membantu kamu untuk mempersiapkan kebutuhan kamu dan mempersiapkan ruang kerja baru kamu. Ingat hanya sementara ya... Kamu harus cari asistant pribadi kamu sendiri. Tapi papa minta jangan perempuan."


"Jangan perempuan? Why?"


Pak Nugra menghela nafas dan lalu tertawa kecil.

__ADS_1


"Kalau asistant pribadi kamu perempuan, Papa yakin kamu ga akan bisa fokus dalam bekerja. Selanjutnya kamu pikirkan sendiri alasannya"


Dimas menipiskan bibirnya. Ia membenarkan apa yang diucapkan papanya itu. Pantas saja selama ini asistant papa semuanya laki-laki. Diam-diam Dimas mengagumi kesetiaan yang dimiliki papanya itu. Dengan memiliki asistant laki-laki, mamanya tak perlu repot repot untuk selalu cemburu kepada suaminya.


"Kamu sudah bisa mulai masuk kerja besok. Mulailah untuk beradaptasi dulu. Besok Andra akan membantu kamu menyiapkan semuanya"


Dimas mengangguk pelan. Memang sudah saatnya ia harus berjuang menjadi laki-laki sesungguhnya. Bukan lagi menjadi anak laki-laki yang hanya mengandalkan pemberian orangtua.


###########


Dering ponsel Erina berbunyi. Dilihatnya sebuah nama pada layar ponselnya. My Soul.


Erina membulatkan matanya melihat tulisan itu. Ternyata kemarin saat Dimas meminjam ponselnya ia sengaja menuliskan namanya dengan nama itu.


"Haloo... "


"Kamu dimana?"


"Di kampus"


"Sudah mau pulang?"


"Belum. Ada apa Dim?"


"Aku jemput ya... Don't go any where" ucapnya mengakhiri panggilannya. Sambungan telpon terputus. Erina hanya terdiam bingung dengan sikap Dimas.


###########


Mobil Dimas sudah terparkir di area parkiran kampus Erina. Dimas hanya mengenakan kemeja tanpa dasi. Ia sengaja menyembunyikan jas nya di bagasi. Supaya tidak terkesan terlalu formal. Dimas memilih menunggu Erina di dalam mobil. Karna cuaca siang itu lumayan terik. Dimas sudah mengirimkan sebuah pesan singkat untuk Erina.


30 menit lamanya Dimas menunggu kehadiran Erina. Dimas tersenyum senang saat melihat bidadarinya berjalan perlahan menuju parkiran ke arah mobilnya. Erina memasuki mobil sport Dimas dan duduk di sampingnya.


"Maaf ya Dim, kamu jadi nunggu lama" ucap Erina merasa tidak enak.


"Jangankan cuma 30 menit. Aku bahkan sudah menunggumu selama 5 tahun lamanya" goda Dimas sambil tertawa kecil.


"Lebih tepatnya bukan menunggu, tapi kamu sudah ninggalin aku selama 5 tahun lamanya"


Jawaban Erina membuat Dimas tertawa lepas. Karna apa yang diucapkan Erina memang lebih tepat ketimbang ucapannya tadi.


"Penampilan kamu hari ini rapih banget Dim. Kamu sudah kerja?" ucap Erina memperhatikan Dimas dengan lekat.


"Aku belum bekerja. Baru tahap interview. Doakan aku diterima ya... Nanti aku traktir kamu makan malam yang special"


Erina tertawa geli mendengar ucapan Dimas yang terdengar lucu baginya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2