Ku Tembak Cintamu 2x

Ku Tembak Cintamu 2x
Terkuak


__ADS_3

Pagi ini Erina bangun dengan wajah yang kurang fresh. Semalaman tidurnya kurang berkualitas. Erina sangat sulit untuk memejamkan matanya.


Erina memaksa dirinya untuk bangun dari ranjang dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri untuk segera pergi ke kantor. Sekembalinya dari kamar mandi, Erina dikejutkan dengan satu notification dari ponselnya.


Ttttiiingggg....


Mata Erina terbelalak sampai hampir mau copot dari kelopaknya saat matanya membaca sebuah pesan singkat dari nomor operator yang terhubung dengan mobile bangkingnya.


Nominal dua belas milyar telah masuk ke dalam rekeningnya dan langsung tertransfer kembali ke sebuah nomor akun bank yang berbeda dengannya. Erina terduduk lemas di pinggir ranjangnya. Lututnya terasa sangat lemas serasa tanpa tulang yang menyangga.


"Ya Tuhan.... Cobaan macam apa ini?" dada Erina terasa sesak. Di raihnya gelas yang berisi air putih yang berada di atas meja belajarnya. Diteguknya air itu. Erina menarik nafas mencoba untuk tenang.


Setelah tenang, Erina segera merapihkan pakaiannya dan bergegas pergi. Pagi ini Erina sengaja tidak langsung menuju kantornya. Namun ia pergi ke Bank. Dari customer service yang melayaninya, ia mendapatkan info nama pemilik akun bank sebagai penerima uang senilai dua belas milyar yang sudah di transfer dari akun rekeningnya ke rekening akun si penerima.


Betapa terkejutnya Erina saat customer service Bank menyebutkan satu nama pemilik akun yang dimaksud.


"Kevin??" mulut Erina mengulangi perkataan si customer servis. Petugas Bank itu hanya mengangguk membenarkan apa yang ia ucapkan.


Erina langsung menghubungi nomor ponsel Kevin yang ia peroleh saat saling bertukar nomor ponsel sewaktu ia mengantarnya pulang malam itu.


############


Di tempat lain, senyum Kevin mengembang saat nomor ponsel Erina terpampang jelas di layar ponselnya. Senyum kepuasan karna sudah berhasil membawa Erina masuk ke dalam perangkapnya.


"Halo sayang...." sapa Kevin dengan suara lembut tapi sudah pasti terdengar menjijikan di telinga Erina.


"Gue pengen ketemu sama Loe" ucap Erina geram tanpa perlu berbasa basi.


"Waw... Mimpi apa ya aku tiba-tiba kamu ngajakin aku ketemuan? Tau aja kalau aku lagi kangen sama kamu" goda Kevin memperpanjang pembicaraan


"Jam 10 di Cafe Star" sambung Erina lagi menentukan.


"Ok, sayangku... Sampai ketemu di sana ya...." ucap Kevin tak punya malu. Erina langsung mematikan ponselnya dengan kasar dan menghentikan taksi untuk bergerak menuju ke tempat pertemuannya dengan Kevin.


##########


Erina sudah sampai terlebih dahulu di Cafe Star. Ia memesan segelas Cappucino Coffee untuk membantu matanya tetap fresh dan terjaga. Tak lama pesanannya pun datang. Disesapinya Cappucino Coffee miliknya sambil menunggu kedatangan Kevin yang tak kunjung tiba.


Lima belas menit sudah berlalu. Namun belum ada tanda tanda kehadiran Kevin. Berkali kali Erina mencoba menghubungi ponsel Kevin namun tak pernah di terimanya. Sepertinya Kevin memang.sengaja untuk mengulur ulur waktunya. Atau malah jangan jangan Kevin sengaja mempermainkannya untuk tidak datang menemuinya? Berbagai pertanyaan muncul dan memenuhi isi ruang kepalanya.


Setengah jam kemudian, Kevin akhirnya datang. Dengan wajah penuh senyuman manis tanpa rasa bersalah Kevin menyapa Erina dengan sapaan sayang dan lembut kepadanya.


"Hai sayang, maaf ya aku telat. Tadi mobilku tiba-tiba ngadat. Jadi aku betulin sebentar" ucapan Kevin sudah pasti bohong belaka. Mana mungkin mobil yang di kendarainya ngadat, sedangkan mobil yang Kevin kendarai adalah mobil sport keluaran terbaru.

__ADS_1


"Kamu sudah pesankan aku kopi atau belum?" sambungnya lagi penuh dengan basa basi.


"Gue ga punya waktu lama, Kevin. Gue mau langsung ke titik permasalahan" ucap Erina geram. Erina menatap mata Kevin dengan tatapan garang dan mengancam.


Kevin bersikap santai menanggapi raut wajah Erina yang sudah terlihat marah kepadanya. Sambil tersenyum, Kevin dengan sengaja menangkupkan tangannya di atas tangan Erina yang berada di atas meja.


"Sabar dong sayang... Biarkan aku pesan secangkir kopi dulu biar kita lebih enak ngobrolnya." Erina dengan cepatnya langsung menarik tangannya dari sentuhan tangan Kevin. Emosi Erina sudah tak tertahankan lagi. Masa bodoh dengan pesanan kopi Kevin.


"Kenapa Loe tega melakukan ini semua ke Gue, Hah???" Kevin tertawa kecil melihat sikap Erina yang emosi dan geram kepadanya.


"Hei sayang..."


"Jangan pernah panggil Gue sayang!!!! Gue bukan siapa siapa nya Elo. Gue jijik dengernya" gertak Erina yang malah semakin membuat Kevin terkekeh.


"Kamu ini kenapa sih? Tadi kamu telpon minta aku buat ketemuan sama kamu. Giliran aku udah dateng, kamunya malah marah marah seperti ini?"


"Gue ga bercanda Kevin!!" Erina membulatkan matanya. Tatapan mengancam. Kevin sendiri dengan wajah datarnya menatap wajah Erina dengan santai.


"Tolong jelaskan apa maksud dan tujuan Loe meretas rekening perusahaan milik keluarga Dimas dan juga rekening Bank punya Gue??? Kenapa Loe tega berbuat jahat sama Gue? Kenapa Kevin? Kenapa?" gertak Erina setengah teriak. Bartender yang sedang meracik minuman sekilas menoleh pandangannya ke arah meja Erina.


Tak lama pesanan kopi Kevin datang. Dengan santainya Kevin menyesapi kopi miliknya yang masih panas dan berasap. Kevin sama sekali tak menanggapi perkataan Erina yang barusan.


"Gue punya salah apa sama Loe? Sampai Loe tega memfitnah Gue seperti ini?"


"Keviiinn !!!!"


"Stop pura pura!!! Tolong kembalikan uang milik perusahaan Dimas yang udah Loe curi, atau terpaksa loe gue laporin ke polisi !!"


" Aku mencuri?" tawa Kevin menggelegar.


"Gue punya bukti kejahatan Loe, Kevin"


"Bukti apa? Bukti transferan Bank?" ejek Kevin dengan terkekeh mendengar pengakuan Erina yang terdengar lucu baginya.


Emosi Erina mulai meningggi. Rasanya ingin sekali ia menonjok muka Kevin hingga babak belur. Kekehan Kevin terdengar sangat menjijikan.


"Asal kamu ketahui Erina, transferan uang itu berasal dari rekening kamu. Kalau itu yang mau kamu jadikan bukti, aku rasa itu justru malah akan berbalik memberatkan diri kamu sendiri karna sudah sengaja mengirimkan uang milik perusahaan ke rekening orang lain. Dalam hal ini, selain kamu sudah menggelapkan uang perusahaan, kamu juga sudah melakukan Money Laundry."


"Tapi itu bukan gue yang melakukannya. Melainkan elo pelakunya" Kevin tertawa lebar dengan ucapan Erina sangat geram dan terlihat marah kepadanya.


"Terlepas dari siapapun yang melakukannya, sumber uang itu asalnya dari rekening kamu? Benar bukan?" ucap Kevin dengan santai tapi bisa menohok hati Erina.


Erina menggertakkan giginya dan mengepalkan tangannya semakin geram dengan tingkah laku Kevin yang sudah berhasil memojokkannya.

__ADS_1


"Sebenarnya apa motif loe berbuat seperti ini, hah? Uang???"


Kevin menatap tajam ke arah Erina. Tatapan wajah santai dan datar yang tadi ia tunjukkan berubah cepat dengan tatapan tajam menerkam.


"Sejak aku bertemu dengan kamu lagi, aku berfikir bahwa kita ini berjodoh. Karna setelah hampir 7 tahun lamanya kita berpisah, aku pikir kita tak akan bertemu lagi. Namun ternyata Tuhan berkehendak lain bukan?"


"Gue ga ngerti sama omongan loe"


"Erina, menikahlah denganku. Aku akan membahagiakan kamu dan keluargamu. Hartaku ga kalah banyak dengan harta yang dimiliki Dimas. Aku bisa menjamin apapun yang kamu inginkan bisa dengan mudah aku penuhi. Bahkan semahal apapun harganya, aku bisa belikan itu untuk kamu"


"Jangan mimpi!!!!" Erina berdiri hendak pergi meninggalkan Kevin, namun ucapan Kevin bisa membuat Erina mengurungkan niatnya sesaat.


"Kalau aku mau, aku bisa menghancurkan bisnis Dimas dengan sangat mudah. Tapi itu tergantung dari kamu" Kevin memicingkan sebelah matanya menggoda Erina dengan tawaran yang sama sekali tak menarik untuknya.


"Mungkin dulu kamu bisa dengan mudah menolak aku. Tapi sekarang, kamu harus berpikir seribu kali untuk menolak aku." ancaman Kevin sempat membuat Erina terdiam dan harus berpikir keras apa maksud yang terkandung dalam perkataannya.


"Dari dulu hubungan kita selalu baik bukan? Kenapa loe mesti membuat hubungan pertemanan kita menjadi rusak seperti ini?" Erina mencoba untuk meluluhkan hati Kevin.


"Itu karna aku ga ingin hubungan kita hanya sebatas pertemanan biasa. Aku ingin kamu menjadi milikku seutuhnya"


"Gue nyesel harus ketemu lagi sama orang macam loe!!! Seandainya gue bisa memutar waktu, gue ga sudi ketemu sama loe!!"


"Tapi sayangnya kamu ga bisa kan sayang? Itu artinya, sudah waktunya buat kamu membuka hati kamu untuk aku"


"Loe dah gila Kevin." lagi lagi Kevin hanya tertawa lepas dengan perkataan Erina.


"Jadi bagaimana Erina? Apakah jawaban kamu YES?" Erina menatap geram Kevin. Ia sungguh tak menyangka harus mengalami hal mengerikan seperti ini.


"BIG NO !!!! Jangan pernah ganggu hidup gue lagi. Ngerti!!!"


Erina tak ingin membuang waktunya berlama lama dengan manusia ga waras yang ada di hadapannya. Erina mengambil tas nya dan bergegas pergi meninggalkan Kevin.


"Aaarrrggghhhhh.... Brrruuukkk..." Kevin dengan kuatnya menarik tangan Erina sehingga membuat Erina jatuh ke dalam pelukannya.


Dengan spontan, Erina mendorong tubuh Kevin menjauh dan terlepas dari pelukannya.


"GUE BENCI SAMA LOE KEVIN... !!!"


Erina setengah berlari meninggalkan Cafe. Hatinya hancur tak beraturan. Kini semua telah terkuak dengan jelas siapa dalang yang berada dibalik kasusnya. Tapi meskipun ia sudah mengetahui pelaku utamanya, tetap saja ia harus berhati hati dengan Kevin Karna setiap waktu ia bisa saja dengan sengaja melakukan hal yang lebih gila lagi dari sekarang.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2