Ku Tembak Cintamu 2x

Ku Tembak Cintamu 2x
Heathrow (LHR)


__ADS_3

Pesawat Dimas sudah take off menuju Bandara Heathrow (LHR). Orang tua Dimas mengantar langsung putra semata wayangnya ke Bandara Internasional Soeta Cengkareng. Ibu Devita menyeka airmatanya saat pesawat Dimas benar-benar sudah take off meninggalkan Indonesia. Hatinya sangat sedih karna ini adalah kali pertamanya ia harus berpisah dengan putra kesayangannya itu. Perpisahan yang cukup lama.


"Sudah dong Ma, nangisnya. Malu tuh diliatin banyak orang" ucap Pak Nugra yang ikut membantu menyeka airmata istrinya dengan sapu tangan miliknya.


"Biarin. Papa kan ga tau seberapa sedihnya Mama saat ini" jawabnya kesal.


"Papa juga sedih harus berpisah dengan anak kita. Udah dong..." Istrinya masih saja menangis dan suara sesegukannya kini lebih terdengar.


"Kita pulang ya" ucap Pak Nugra lagi sambil mengelus-elus punggung istrinya.


Pak Nugra membantu memapah istrinya berjalan menuju ke mobil untuk kembali ke rumah.


Sepanjang perjalanan pulang, tidak ada percakapan terjadi di dalam mobil. Ibu Devita larut dalam pikiran dan kesedihannya. Pak Nugra mencoba menguatkan dengan menggenggam tangan istrinya dengan erat dan mengelus-elus punggung tangannya.


###########


Kurang lebih 16 jam lamanya perjalanan yang harus Dimas tempuh menuju bandara Heathrow. Perjalanan yang cukup melelahkan. Untuk membuang rasa jenuh di dalam pesawat, Dimas memainkan ponsel nya sambil melihat lihat foto foto dirinya dengan teman kelas dan team basketnya. Foto foto perpisahan yang baru kemarin ia ambil. Digesernya satu persatu file foto dalam gallery ponselnya. Sampai pada satu foto jarinya terhenti, matanya fokus menatap dengan lekat wajah seorang gadis manis yang sudah berhasil mencuri hatinya dan membawanya kemanpun ia pergi. Erina.



Senyumnya mengembang dibibirnya. Hatinya terasa damai memandang foto gadis pujaannya. Dimas teringat kembali akan moment foto berdua antara dirinya dengan Erina. Foto itu ia ambil 1 minggu sebelum ia putuskan hubungannya dengan Erina.


"Cantik"


Tiba-tiba terdengar suara parau laki-laki yang sangat jelas di telinga. Dimas menoleh ke sumber suara dan melempar senyum kepada laki-laki itu. Seorang kakek yang bertubuh tegap dan masih terlihat gagah di usianya saat ini. Si kakek yang duduk di sebelah kursi Dimas ikut menikmati pemandangan indah dua makhluk Tuhan yang terlihat saling mencintai dari ponsel Dimas.


"Apakah gadis ini kekasihmu?" tanya Si kakek Itu lagi. Dimas mengangguk penuh keyakinan.


"Kau mencintainya?" tanyanya lagi. Dan lagi lagi Dimas hanya tersenyum sambil mengangguk.


"Kalian pasangan yang beruntung. Kau harus mempertahankan hubungan kalian. Gadis ini kelihatannya anak yang baik"


"Kakek benar. Dia gadis yang sangat baik"


Dimas dan si kakek saling melempar senyum dan melanjutkan perbincangannya kepada bermacam-macam pembahasan. Mulai dari pengalaman si kakek, cerita tentang anak dan cucunya, sampai cerita tentang asmaranya dengan istrinya.


Perjalanan yang lumayan menghabiskan waktu yang lama memang terlalu menjenuhkan jika dihabiskan seorang diri. Dengan bercerita dan saling bertukar pengalaman dengan orang yang lebih tua, akan memberi ilmu baru untuk yang lebih muda yang belum banyak pengalaman dalam hidup tentunya.


############


Sesaat lagi pesawat Dimas akan landing di Bandara internasional Heathrow London. Pilot dan pramugari sudah memberi informasi akan hal ini. Semua penumpang bersiap-siap untuk menggunakan seatbelt nya.


Dimas merenggangkan otot-otot tangan dan kakinya untuk menghilangkan rasa pegal. Setelah berpamitan dengan sang kakek teman sebelah kursinya, Dimas keluar dari pesawat menuju ke tempat pengambilan Bagasi untuk mengambil koper miliknya.

__ADS_1


Mata Dimas langsung tertuju kepada sosok laki-laki berpawakan tinggi kekar dengan rambut agak panjang yang sudah meneriakkan namanya.


"DIMAAASSS.... " panggil Indra sambil melambaikan tangan ke arah Dimas.


"Om Indraaa " teriak balik Dimas sambil melambaikan tangan kepadanya.


Dimas mempercepat langkahnya menuju pintu keluar.


Bbougghhh...


Sebuah pelukan keras dan erat dilabuhkan antara mereka berdua. Pelukan kerinduan yang teramat sangat antara om dan keponakan.


"Om Pangling banget sama kamu. Kamu sudah besar sekarang, tinggi pula. Kamu apa kabar? Baik kan?" tanyanya dengan semangat dan memukul mukul pundak keponakannya itu.


"Seperti yang Om lihat? I'm Okay, right?" jawab Dimas sambil membentangkan tangannya. Dipeluknya lagi tubuh kekarnya oleh Om nya yang sudah lama sekali tak pernah ia temui. Suara tawa besar Om nya pun menggelegar.


"Gimana perjalanan kamu? Capek?"


"Lumayan Om. Very tired"


Om Indra menganggukkan kepalanya paham betul dengan apa yang Dimas rasakan saat ini.


"Orangtua kamu baik dan sehat kan?"


"Ayo kita lekas pulang. Masih banyak hal yang ingin Om bicarakan sama kamu"


Dimas mengangguk mengikuti perintah Om nya. Mereka berjalan ke area parkiran yang letaknya lumayan agak jauh dari lobby. Di sepanjang perjalanan Dimas dan Om nya tidak berhenti bercakap-cakap. Om nya tak ingin melewatkan banyak waktu untuk tidak mengobrol panjang lebar dengan keponakan nya itu.


Kurang lebih 1 jam lamanya mobil Om Indra sudah terparkir di halaman rumahnya. Rumah minimalis bergaya Eropa modern yang terasa hangat dan nyaman. Dimas menurunkan tas koper bawaannya di bantu oleh Om nya, lalu menuju masuk ke dalam rumahnya.


"Daddy... Kamu sudah pulang?" ucap seorang anak perempuan dengan suara yang terdengar manja dan langsung memeluk ayahnya itu.


"Hai Baby, kemarilah. Kenalin Ini kakak sepupumu dari Indonesia, Dimas"


"Dimas, ini anak Om, Clara"


"Hai Clara... Nice to meet you" sapa Dimas sambil tersenyum manis.


"Hi, iam Clara" ucapnya sambil tersenyum.


Clara adalah anak dari Om Indra. Karakternya manja berusia sekitar 14 tahun. Walaupun masih belia, namun Clara memiliki postur tubuh yang bongsor.


"Daddy, Dimas siapa?" Tanya Clara

__ADS_1


"Dia anak dari kakaknya Daddy yang tinggal di Indonesia" jelas Indra yang membuat Clara menganggukkan kepalanya.


"Sayang, ini Dimas?" sapa Wina, Istri Indra yang takjub dengan perubahan fisik dari Dimas.


"Halo tante, iya Ini aku, Dimas" jawab Dimas sambil cengar-cengir.


"Tante Pangling bangeeeettt... Dulu terakhir kita ketemu kamu itu masih TK. Dan sekarang sudah sebesar Ini? Ganteng pula.. " ucapnya lagi.


"Hehehe... Tante bisa aja. Kalian yang terlalu lama tinggal di sini dan lupa mengunjungi kami yang ada di Indonesia"


"Hmmm... Benar juga ya... Ternyata sudah lama sekali kita ga pernah ke Indonesia. Nanti deh Om atur waktu buat pergi berkunjung ke rumah kamu" ucap Indra menyesal.


Dimas mengangguk sambil tersenyum.


"Untuk sementara kamu tinggal disini dulu ya. Nanti kalau administrasi kuliah kamu sudah selesai, baru kamu tinggal di apartemen yang sudah disewa oleh Papa kamu."


"Okay Om."


"Yuk Om antar kamu ke atas. Om sudah siapkan kamar buat kamu. Semoga kamu betah ya tinggal disini"


Dimas mengikuti Om nya menaiki tangga lantai dua menuju kamarnya.


"Om, Makasih banyak ya sudah mau direpotkan seperti ini."


Indra menepuk pundak Dimas sambil melempar senyum kepadanya.


"Kamu ini kan keponakan Om, sudah seperti anak Om sendiri. Jadi bagaimana Om merasa direpotkan? Sudah, jangan sungkan. Anggap rumahmu sendiri. Okay"


"Istirahatlah... Kamu pasti lelah."


Om Indra melangkahkan kakinya meninggalkan kamar Dimas dan membiarkannya untuk segera beristirahat. Dimas tersenyum dan memanggil


"Om"


Indra menoleh ke panggilan Dimas.


"Terima kasih" ucap Dimas sambil tersenyum.


Indra hanya mengangguk sambil tersenyum pasti dan berlalu meninggalkan Dimas.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2