
Acara resepsi sudah selesai. Dimas dan Erina sudah berada di dalam kamar president suite yang sudah khusus dipesan oleh sang papa sebagai kado pernikahannya. Rasa bahagia masih tergambar jelas di wajah keduanya. Terutama Erina. Hadiah istimewa akan kehadiran artis idolanya di tengah tengah acara pernikahannya sungguh sebuah moment yang tak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya.
Dimas di buat terkejut ketika dengan tiba tiba Erina dengan beraninya memeluk tubuhnya dengan erat dan memandang wajahnya dengan tatapan manja. Dimas membalas tatapan manja istrinya dengan senyuman menggoda. Sepertinya istrinya itu sudah tak sabar ingin disentuh olehnya.
"Sepertinya istriku yang cantik ini sudah ga sabar untuk segera disentuh" goda Dimas dengan senyumnya yang penuh hasrat. Erina menggeleng sambil tersenyum manja.
"Sayang, aku sangat berterima kasih sekali sama kamu. Karna kamu sudah memberikan aku kado luar biasa yang tidak akan aku lupakan seumur hidup aku. Aku benar benar sangat bahagia sekali malam ini. Betapa beruntungnya aku memiliki suami seperti kamu" Dimas menatap wajah sang istri dengan tatapan penuh sayang.
"Aku akan selalu berusaha membuat istriku selalu bahagia hidup bersamaku. Akulah yang beruntung bisa memiliki bidadari cantik dan setia seperi kamu. Jangan pernah berpaling sedikitpun dariku" jemari Dimas menyentuh lembut menyusuri rambut Erina yang masih tertata rapi dengan sanggulnya. Perkataan Dimas membuat Erina tertegun dan menatapnya penuh haru. Karna seharusnya dirinya lah yang harus mengatakan hal tersebut, bukan Dimas.
"Aku ga akan pernah sedikitpun memberikan hati dan hidupku untuk laki-laki lain. Aku berjanji" ucap Erina penuh penekanan.
"Good. Kalau gitu ayo sekarang kita mandi" Erina terperangah kaget dengan ucapan ajakan Dimas.
"Mandi? Kita?" ucapnya mengulangi.
"He-em. Ayo kita mandi bersama" Erina melepaskan pelukannya dan menjauhi Dimas. Ia memilih untuk duduk di kursi dekat ranjang dan mulai melepaskan satu persatu aksesoris yang menempel di rambutnya.
"Lebih baik kamu dulu saja yang mandi. Aku mau beresin aksesoris yang menempel di rambutku." Dimas tersenyum dan melangkahkan kakinya mendekati Erina dan membantu melepaskan satu persatu pernak pernik yang menempel di kepala istrinya itu.
Lega rasanya rambut Erina kini telah tergerai dan terbebas dari jepitan yang menyiksanya. Rambut panjang yang tergerai dengan gaun pengantin yang masih menempel ditubuh membuat mata Dimas tergoda untuk segera menyentuh istrinya. Digendongnya tubuh sang istri dan direbahkannya di atas ranjang pengantin yang besar. Dimas menindih tubuh Erina dan memandanginya dengan tatapan penuh goda. Diciuminya seluruh wajah Erina, dari dahi, mata, pipi, telinga, bibir dan leher penuh hasrat. Erina cukup menikmati permainan Dimas. Namun, karna keringat yang menggangu mengharuskan mereka untuk membersihkan badan terlebih dahulu sebelum melanjutkan malam indahnya berdua.
"Sayang, aku mau mandi dulu ya. Bandanku lengket. Bau juga" ucap Erina mengalihkan perhatian Dimas. Degub jantungnya berdebar tak karuan. Dimas mengangguk dan sedikit menggeser tubuhnya ke samping. Mandi memang kegiatan penting yang mereka butuhkan saat ini. Jadi Dimas memilih bersabar sesaat untuk menunda hasratnya.
"Jangan lama lama. Atau aku akan menyusul kamu masuk ke dalam untuk mandi bersama" Erina memicingkan mata mengancam yang membuat Dimas semakin gemas akan sikapnya.
Erina berlari menuju ke kamar mandi. Gaun pengantinnya ia buka sendiri di sana. Meski agak susah dan mesti bersusah payah namun itu lebih baik ketimbang meminta tolong kepada suaminya yang pasti akan menggodanya melakukan hal lebih yang ia sendiri belum siap untuk melakukannya.
Kurang lebih 40 menit lamanya, akhirnya Erina telah selesai menyelesaikan aktivitas mandinya. Dengan menggunakan handuk kimono yang disediakan pihak hotel, Erina keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju ranjangnya kembali. Sepertinya dirinya mandi cukup lama, sehingga membuat suaminya tertidur karna menungguinya.
Senyuman tipis tersungging di bibir Erina ketika melihat Dimas tertidur pulas masih dengan jas pengantinnya. Hatinya terasa galau antara ingin membangunkannya atau membiarkannya saja ia tertidur seperti itu.
Dipandanginya wajah Dimas yang terlihat polos saat tidur. Wajahnya masih terlihat sangat tampan meski sedang tidur. Karna rasa tak tega akhirnya Erina memilih untuk tidak membangunkan suaminya dan memilih untuk ikut tidur di sampingnya. Dan malam ini Erina bisa berlega hati karna ia tak harus menyerahkan dirinya kepada suaminya yang kata orang orang saat melakukan hubungan malam pertama akan terasa sangat sakit yang luar biasa. Chika pun juga membenarkan rumor tersebut. Sebagai teman dekat yang menikah lebih dulu, Erina mendapatkan informasi valid yang membuat dirinya mengerti dan sedikit ngeri untuk menghadapinya nanti.
Dengan langkah pelan dan hati hati, Erina mengambil piyama tidurnya, memakainya dan lalu berbaring perlahan di sebelah Dimas. Matanya masih enggan untuk berpaling dari memandangi ketampanan wajah Dimas yang kini telah sah menjadi suaminya. Rasa syukur yang amat sangat ia ucapkan kepada Tuhan yang sudah memberinya laki laki baik dan tampan sebagai suaminya. Tak terasa mata Erina pun akhirnya lelah dan ikut tertidur di samping Dimas.
###########
Dimas terperanjat kaget ketika matanya terbuka dan menyadarkan akan dirinya yang masih mengenakan pakaian pengantin lengkap.
"Ya Tuhan, aku tiduran" ucapnya lirih.
Dilihatnya ke sebelah. Nampak Erina yang sudah mengenakan piyama celana panjang telah tertidur pulas di sampingnya. Jam dinding telah menunjukkan pukul tiga dini hari. Dimas bangun dari ranjang secara perlahan dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dengan air hangat.
Tak butuh waktu lama untuk dirinya menyelesaikan aktivitas mandinya. Senyumnya mengembang ketika melihat Erina yang masih pulas dengan mimpinya. Malam ini ia membiarkan pengantinnya beristirahat karna rasa lelah seharian menyambut para tamu. Tapi malam berikutnya, jangan harap kamu bisa terbebas dari sentuhanku, Erina. Batin Dimas mengancam.
###########
Tubuh Erina menggeliat ketika cahaya lampu kamar menyilaukan kedua matanya. Matanya mengerjap dan telinganya melebar ketika mendengar kata sapaan.
"Pagi sayang..." sapaan Dimas mengagetkan dirinya yang baru terbangun karna wajah Dimas sangat dekat sekali dengan wajahnya.
"Dimas kamu udah bangun..." ucap Erina dengan suara paraunya.
"Semalam kamu nakal ya..." Erina terdiam, syok mencoba untuk mencerna kata kata yang diucapkan Dimas.
"Hhmm, nakal? Aku? Maksudnya?" Dimas mengangguk yakin dengan serentetan pertanyaan Erina.
"Iya kamu nakal ! Kenapa kamu ga bangunin aku dan malah ngebiarin aku tidur masih lengkap dengan pakaian pengantinku, hhmm...? Kamu sengaja menghindari malam pertama kita ya?"
"Ah... E-enggak kok. Si-siapa juga yang menghindar. Aku cuma ga tega aja buat bangunin kamu"
"Bener ga menghindar? Kalau begitu bagaimana kalau kita melakukannya sekarang?" Erina mendorong tubuh Dimas yang mulai mendekat dan menelusuri dengan nakal.
__ADS_1
"Sebentar sebentar... Sayang, aku kan baru bangun tidur. Aku juga lapar. Semalam kan kita belum makan. Kasihanilah istrimu ini Pleaseee..." Erina merengek manja. Hatinya memang belum siap jika harus menerima serangan fajar dari suaminya.
Erina benar, dari semalam mereka memang belum makan. Dimas menghela nafas panjang dengan masih menatap wajah Erina yang mulai salah tingkah.
"Baiklah. Aku akan memesan makanan untuk kita. Tunggu sebentar ya" tangan Dimas yang akan meraih gagang telpon terhenti ketika Erina melontarkan pertanyaan yang berhasil mengurungkan niatnya.
"Sayang, kita mau makan di kamar?"
"Iya"
"Apa ga sebaiknya kita makan di restoran hotel ini saja? Lagipula kan kita juga dapet fasilitas breakfast dari hotel ini. Gratis" senyum nyengir Erina sontak membuat Dimas tertawa lebar. Perkataan Erina terdengar sangat lucu ditelinganya.
"Baiklah... Ayo ganti bajumu, kita makan"
###########
Dimas menggandeng kembali tangan Erina untuk kembali ke kamarnya. Menu sarapan restoran hotel ini sepertinya cocok dengan lidah istrinya. Terbukti semua makanan di makan olehnya sampai tandas. Atau mungkin efek lapar karna semalam mereka tidak makan. Hihihi... Entahlah..
"Sayang, cepat bereskan semua barang barang kamu. Kita pulang" Erina sedikit bingung dengan kata kata pulang. Mereka akan pulang kemana?
"Dimas, eh sayang... Kita mau pulang kemana? Ke rumahku ?" ucap Erina dengan nada canggung. Dimas menatap Erina sambil tersenyum dan menggeleng tipis.
"Kamu kan sudah jadi istriku. Jadi kamu harus pulang ke rumahku. Ok" Erina menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
Setelah mengembalikan kunci kamar, Dimas memasuki mobil miliknya yang sudah siap di antar di depan lobby hotel oleh petugas hotel. Sebagai tamu VVIP hotel bintang lima tersebut, Dimas dan Erina sudah pasti diberikan fasilitas dan pelayanan di atas rata rata.
Dimas melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumahnya. Jalanan pagi itu lumayan sepi tak seramai biasanya. Dimas dan Erina menikmati perjalanan pagi itu dengan santai diiringi musik romantis. Kebahagiaan dua insan manusia ini seakan mengalahkan kebahagian orang sekitarnya.
Mobil Dimas sudah terparkir di halaman rumahnya. Dengan mesra, Dimas menggandeng kembali istrinya memasuki rumahnya. Mereka berdua dikejutkan dengan penampilan orang tuanya yang sudah terlihat rapi yang sepertinya sudah siap akan pergi ke suatu tempat.
"Loh, Papa sama mama mau kemana?" sapa Dimas dengan wajah heran. Dan ternyata kedua orang tuanya tak kalah herannya ketika melihat kedua anaknya telah kembali ke rumah.
"Sayang, kalian kenapa pulang? Bukannya kalian ini seharusnya masih honeymoon di hotel?" ucap sang mama sambil manatap satu persatu ke arah Dimas dan Erina.
Pak Nugra tertawa kecil melihat kecanggungan menantunya itu.
"Papa ada janji meeting dengan client baru perusahaan kita. Client ini cukup penting, jadi papa dan mama harus pergi menemuinya. Kalian ga apa apa kan kami tinggal sebentar?"
"Iya Pak Nugra tidak apa apa" Pak nugra tertegun dengan perkataan menantunya yang masih belum sadar akan statusnya yang sekarang.
"Papa... Bukan Pak Nugra" Erina semakin salah tingkah dengan perkataan tegas dari ayah mertuanya.
"I-iya maaf. Maksud saya, Papa..." Dimas tertawa kecil melihat tawa nyengir Erina di depan oran tuanya.
"Ya sudah kalian istirahat saja dulu. Kami berangkat dulu. Ayo Ma..." Pak Nugra dan istri bergegas meninggalkan Dimas dan Erina yang masih mematung memandangi kepergiannya.
##########
Di dalam Mobil
"Pa..."
"Hhhmm..."
"Kamu tadi merhatiin jalannya Erina ga?"
"Memangnya ada apa dengan jalannya Erina?"
"Mama heran, kenapa Erina jalannya biasa biasa saja ya? Apa semalam dia ga merasa kesakitan?"
"Mama ini ngapain sih selalu ingin tau urusan anak? Kayak Mama ga pernah ngerasain malam pertama aja"
"Justru itu pap yang mama heran. Dulu saat kamu menyentuhku untuk pertama kali, aku ga bisa jalan selama dua hari. Tapi kenapa Erina bisa langsung berjalan lincah seperti itu? Apa jangan jangan Erina sudah ga perawan?"
__ADS_1
"Jangan su'uzon gitu Ma. Siapa tau semalam mereka memang belum melakukan malam pertama mereka. Sudahlah, biarkan saja"
##########
Dimas menggandeng tangan Erina berjalan menuju ke lantai dua menuju kamarnya. Erina mengikuti langkah sang suami yang menggandengnya ke lantai atas. Dimas membuka kamarnya yang luas dan besar. Tak lupa ia mengunci kembali pintu kamarnya. Senyumnya mengembang melihat kamarnya yang sudah tertata dengan rapih. Sprei kamarnya juga sudah diganti dengan yang baru. Sepertinya mamanya sangat memahami dirinya.
"Welcome to our room, Baby..." Erina berdecak kagum melihat kamar Dimas yang sangat luas dan besar. Kamar Dimas besarnya 3x luas kamarnya. Benar benar mewah. Ranjang Dimas juga sangat besar. Cukup untuk ditempati empat orang. Lemari pakaian Dimas juga besar besar.
"Dimas ini kamar kamu?" mulut Erina masih ternganga melihat keindahan dan kemewahan kamar suaminya. Matanya dengan teliti mengamati semua sisi yang ada di kamar itu.
"Hmm... Dan mulai sekarang, sudah resmi menjadi kamar kamu juga"
"Aaaaarrgghhhh...." Erina berteriak kecil, terkejut ketika tangan kekar Dimas sudah menggendong tubuhnya dan merebahkannya di atas ranjang besar miliknya.
"Bagaimana rasanya tidur di atas ranjangku? Cukup nyaman kan?" Erina mengangguk sambil tersenyum. Mata Dimas yang tajam seakan membuat dirinya terhipnotis dan pasrah.
"I love you istriku..."
"I love you too suamiku..."
Bibir mereka sudah saling bertemu. ******* demi ******* sudah mulai tercipta. Erina mulai larut dalam suasana yang Dimas ciptakan. Desahan kecil Erina terdengar jelas ditelinga Dimas ketika dirinya berhasil membuat kissmark di leher mulus Erina sebagai tanda kepemilikannya.
Dengan sabar dan lembut, Dimas memperlakukan istrinya. Membelainya, mengecupnya, merabanya, dan membuka semua pakaian yang membungkus keduanya. Dimas sangat pintar membuat suasana hati menjadi cair dan lumer. Sentuhan demi sentuhan lembut Dimas berikan untuk istrinya. Sehingga membuat istrinya terlarut dalam permainannya yang menyenangkan.
Berkali kali Erina menggeliat, mendesah dan menggelinjang. Menarik nafas panjangnya berkali kali. Rasa aneh yang baru pertama kali ia rasakan sungguh membuat dirinya bingung dengan rasa yang ia rasakan. Rasa geli, hangat dan nikmat bagaikan candu yang membuat dirinya senang dengan perlakuan Dimas kepadanya. Dimas menyentuh setiap inci dari tubuhnya dengan lembut dan sabar. Kadang permaianan gemas Dimas membuat dirinya harus mendesah lebih keras dan makin gemas meremas rambut Dimas.
Ternyata surga dunianya pernikahan itu nyata. Rasanya nikmat dan menyenangkan. Padahal ini baru rangsangan awal. Otak Erina seolah menyangkal akan sakitnya sentuhan malam pertama. Ditambah lagi, Dimas sangat senang dan betah berlama-lama bermain dengan bagian tubuh kembarnya yang semakin membuatnya melayang tak karuan dalam kenikmatan tiada duanya.
"Sayang, aku akan memberikan kamu kenikmatan yang lebih dari ini. Tapi mungkin ini rasanya akan sedikit sakit. Kamu siap?" Erina tak mampu menjawab. Hanya anggukan kecil yang mampu ia lakukan. Dengan lembut dan pelan, Dimas mengarahkan miliknya memasuki area kenikmatan.
Baru setengah perjalanan, Erina sudah berteriak kesakitan.
"Aaaaa..... Dimas sakiiiiitttt....Aku... aku ga sanggup..." pekik Erina yang tanpa sadar telah mencengkram erat tangan Dimas. Kini ia mengiyakan akan rasa sakitnya pengalaman pertamanya.
"Tahan sayang.... " Dimas sedikit keras memaksakan miliknya dan memasukkannya ke area milik Erina. Airmata Erina pun mengalir begitu saja.
"Maafin aku sayang... Setelah ini ga akan sakit lagi kok" tubuh Erina mulai lemas dan sulit merasakan rasa nikmat yang tadi ia rasakan. Yang terasa hanya rasa sakit dan nyeri.
Dimas membantu istrinya untuk rileks sambil menciumi kembali bibirnya yang manis. Penyatuan tubuh kembali mereka tautkan. Gerakan intonasi senada dengan hentakan searah, perlahan namun kuat membuai keduanya mencapai ke puncak kenikmatan. Cukup lama Dimas berada di atas tubuh Erina menaunginya dengan limpahan kasih sayang. Sampai akhirnya semburan benih hangat milik Dimas tertanam baik di rahim sang istri.
Dimas menggeserkan badannya ke samping dan menjadikan lengannya yang kekar sebagai bantal istrinya.
"Terima kasih sayang kamu sudah menjaga kesucianmu untukku. Aku sungguh bahagia" ucapnya sambil menciumi pipi Erina. Erina hanya mengangguk sambil tersenyum menahan rasa nyeri dan panas dari daerah intimnya. Dimas tersenyum puas dan senang saat matanya melihat banyak bercak darah yang menempel di kepemilikannya dan di atas sprei ranjangnya.
"Masih sakit ya..." Dimas meraih selimut dan menutupkannya ke tubuh Erina.
"Kalau boleh jujur, ini sakit dah perih sekali. Tapi aku bahagia aku sudah menyerahkannya kepada laki laki yang aku cintai. Kamu..." ucapnya sambil menempelkan jari telunjuknya ke hidung sang suami. Dimas tersenyum bangga dan meraih jari istrinya dan mengecupnya lembut.
"Sayang, sprei kamu jadi kotor. Aku sepertinya belum bisa bangun untuk membersihkannya"
"Biarkan saja. Kamu lebih baik istirahat. Aku mau bersih bersih dulu ya. Tenang, nanti aku bantu kamu membersihkan badan. Okay sayang." dan lagi lagi Erina hanya mengangguk pelan.
Cup... (satu kecupan sayang Dimas berikan sebelum ia beranjak dari ranjang).
Hanya sepuluh menit Dimas mandi membersihkan tubuhnya. Senyumnya mengembang ketika dilihatnya istrinya telah terlelap di ranjang. Sepertinya Erina kelelahan melayaninya. Mungkin dengan tidur, rasa sakit dan nyerinya akan sedikit hilang nanti.
.
.
.
Gimana readers? Baper ga kalian?
__ADS_1
Happy reading ya.... ❤