Ku Tembak Cintamu 2x

Ku Tembak Cintamu 2x
Bagian Inti


__ADS_3

Sepulang kuliah Dimas sengaja mampir ke restoran milik Indra, om nya. Sudah lumayan lama sejak ia pindah ke apartemen ia belum pernah lagi mengunjungi om nya itu.


Suasana resto Indra yang tidak terlalu besar lumayan ramai hari itu. Sudah hampir 10 tahun Indra membuka usaha makanan khas Indonesia di kota London. Indra pun sudah memiliki 3 cabang restoran di kota ini. Restoran dengan menu makanan Indonesia ternyata banyak diminati disini. Terutama menu rendangnya.


"Dimas... " sapa Indra sambil merangkul keponakannya itu.


"Hai Om... Apa kabar? Sehat kan?" tanya Dimas berbasa basi sambil menyalami tangan Om nya.


"Sehat doong... Ayo duduk, kamu mau makan apa? Biar Om siapin ya.. "


"Enggak Om terima kasih. Aku sudah makan tadi di kampus. Aku sengaja kesini buat belajar bisnis sama Om"


"Hahahaha... Kamu pasti sedang mengejek Om Ya?"


"Aku serius Om. Bolehkan?" ucapnya penuh harap.


(Indra tertawa kecil mendengar ucapan Dimas)


"Orang yang seharusnya kamu jadikan guru dalam berbisnis itu ya papa kamu sendiri." ucap Indra sambil menepuk pundak Dimas.


"Papa? Why? Justru Papa sengaja kirim aku kuliah ke sini sekaligus buat belajar bisnis sama Om"


"No, you wrong. Papa kamu sengaja kirim kamu kesini supaya kamu bisa lebih fokus dan mandiri. Karna kamu adalah anak satu satunya yang kakakku miliki, ia ingin menjadikan kamu sebagai laki-laki yang kuat, tangguh dan bisa berdiri di atas kaki sendiri. Papa kamu ingin kamu bisa belajar untuk menjaga diri kamu. Walaupun sebenarnya di dalam hatinya, Om yakin papa mu itu pasti menangis bombay karna harus berpisah jauh dalam waktu yang lama dengan kamu. Om juga berani bertaruh, nanti di acara wisuda kamu pasti papamu lah yang akan menangis lebih keras ketimbang mama mu. Hahahaha.."


Dimas ikut tertawa mendengar perkataan dari om nya tentang karakter asli dari papanya.


"Om tau bagaimana aslinya papa kamu. Kak Nugra itu laki-laki keras kepala dan pekerja keras, ulet serta gigih. Tidak pernah ada kata menyerah di dalam kamusnya. Makanya kamu lihat sendiri bukan? Bagaimana suksesnya papa kamu sekarang? Tapi, dibalik keras kepalanya itu, dia adalah orang yang paling sensitif. Tapi bukan kak Nugra kalau ga pintar menyembunyikan kesedihannya." sambungnya lagi dengan sangat yakin.


Dimas mengangguk-angguk mendengarkan dengan seksama penjelasan dari om nya itu. Senyuman tipis tersungging di bibirnya. Ada rasa bangga yang tercipta terhadap diri papanya.


"Ngomong-ngomong pelayan di restoran ini ada berapa om?" tanya Dimas mengalihkan pembicaraan.


"Ada 6"


"Banyak juga ya. Dan semua pelayan orang bule semua. Itu sebuah prestasi loh Om" ucap Dimas memuji sekaligus mengagumi kesuksesan Indra.


Indra tertawa geli mendengar gaya bicara Dimas yang terheran heran.

__ADS_1


"Oia om, kalau Clara apakah sering datang kesini?"


"Tidak. Dan Om tidak pernah memaksa Clara untuk datang kesini. Tapi terkadang dia kesini kalau sedang lapar. Hahahaha... " Dimas ikut tertawa mendengar perkataan Indra yang sedang mengejek anaknya sendiri.


Seorang anak perempuan berjalan dengan santai memasuki pintu restoran. Langkahnya yang ringan langsung menuju ke area kasir yang biasa di duduki oleh Daddy nya. Dahinya berkerut saat ia tak melihat sang Daddy berada di kursinya. Matanya tiba-tiba melihat dua sosok laki-laki favorite nya terlihat sedang tertawa senang. Clara pun langsung menuju ke meja dimana dua sosok laki-laki itu berada.


"Seru banget ngobrolnya??" ucap Clara menyapa sambil mencium pipi Daddy nya.


"Hai Baby... "


Clara langsung mendudukkan dirinya bergabung dengan keseruan Dimas dan Indra. Dimas tersenyum manis ke arah Clara.


"What are you talking about? Are you guys talking about Me?" ucap Clara dengan sangat percaya diri.


"Yes Baby, sure" jawab Indra yakin.


"Really?" wajah Clara memerah malu namun senang.


"Oia, Kak Dimas tumben mampir ke Resto Daddy?" sambungnya lagi bertanya.


"Jangan percaya Daddy. Kak Dimas pasti bohong. Mana mungkin dia rindu kepadamu, sedangkan dia saja sudah punya kekasih disini"


"Oiaa? Serius Dim, kamu sudah punya pacar orang sini?" Indra terheran dengan penjelasan dari anaknya.


"Bukan Daddy, wanita itu orang Indonesia. Tapi sayangnya pacar Kak Dimas jelek" ucap Clara sambil terkikik. Dimas masih terdiam membiarkan Clara menjelaskan opininya yang terkesan mengejek dirinya.


"Clara, don't tease your brother" ucap Indra merasa tidak enak kepada Dimas yang menjadi kikuk.


Dimas hanya tersenyum datar mendengarkan celotehan Clara yang panjang lebar yang penuh dengan kekesalan dan ketidak sukaan kepada wanita yang ia maksud. Siapa lagi kalau bukan Wulan.


"She's not my girlfriend, Clara..." jawab Dimas santai.


Clara saling bertatapan dengan Daddy nya. Seolah olah tidak percaya dengan apa yang barusan diucapkan oleh Dimas.


"Aku memang sudah punya kekasih. Tapi wanita itu bukan Wulan. Kamu mau lihat foto nya?" ucap Dimas sambil menyodorkan ponselnya kepada Clara.


__ADS_1


Clara terlihat takjub saat matanya melihat seorang wanita cantik dengan paras ayu dan lembut sedang tersenyum manis menghadap ke depan seperti mengajak orang lain yang melihat fotonya ikut tersenyum kepadanya.


"Daddy, look.. " ucap Clara menyodorkan ponsel Dimas yang berisi foto Erina kepada Daddynya. Indra terlihat tersenyum tipis sambil mengangguk-angguk.


"Kalian lanjutkan dulu ngobrolnya, ada customer yang ingin bayar" ucap Indra sambil beranjak bangun dan berjalan cepat menuju meja kasir.


"Cantik banget Kak... Siapa namanya?"


"Erina" jawab Dimas cepat sambil tersenyum.


"Dia pasti beruntung sekali bisa dapetin cinta dari kamu" ucap Clara yang masih memandangi foto Erina dengan cermat.


"Justru aku yang beruntung"


Clara mengernyitkan dahinya mencoba mengolah ucapan Dimas. Sebuah kemustahilan yang ada jika seorang laki-laki merasa beruntung mendapatkan cinta dari seorang wanita cantik. Sebaliknya, wanita itulah yang seharusnya beruntung mendapatkan laki-laki nyaris sempurna seperti Dimas.


"Dia wanita yang memiliki kepribadian yang baik dan unik. Dia berbeda dengan wanita lain. Itulah yang membuat aku tergila-gila kepadanya"


Clara terlihat sedih mendengar penjelasan jujur dari Dimas. Raut wajahnya berubah murung. Mulut nya manyun sambil digerak gerakkan. Dimas terkikik melihat kelakuan Clara.


"Hei... Kau sedang apa? Kenapa mukamu berubah menjadi jelek begitu" ucap Dimas masih terkikik.


"Aku iri dengan Erina"


"Iri? Why?"


"Kenapa ya Tuhan menjadikanku sebagai saudara sepupumu. Kenapa bukan aku yang menjadi Erina? Seandainya aku jadi Erina, aku pasti akan sangat bahagia pastinya" ucap Clara dengan wajah cemberutnya.


"Justru kamu harus sangat bersyukur kepada Tuhan karna sudah menjadikanmu sebagai bagian inti dari diriku" jawab Dimas bijak. Wajah tampannya dan senyum manis yang tersungging di bibirnya membuat Clara terdiam terpukau dengan ucapan Dimas yang terdengar sejuk di telinganya.


Clara menatap dalam Dimas, ditelusurinya wajah teduh Dimas. Ia melempar senyum dan mengangguk pasti. Ia membenarkan ucapan Dimas bahwa ia patut bersyukur atas takdirnya yang telah Tuhan berikan untuk menjadi bagian inti dari Dimas. Senyuman indah Clara pun dibalas Dimas dengan senyuman yang sama indahnya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2