
Dimas tampak terlihat sangat serius membaca dengan teliti deretan angka-angka laporan keuangan proyek. Secara kasat mata semua nampak wajar dan sesuai dengan keluar masuknya uang. Jika ada case kebocoran dana dalam jumlah besar, sudah bisa dipastikan kalau ini dilakukan oleh orang yang berpengalaman atau memiliki keahlian khusus.
Kalau menengok dalam kasus ini yang dijadikan kambing hitam adalah Erina, memang kurang bisa masuk dalam logika. Mengingat Erina tidak memiliki keahlian khusus dalam segi IT atau ilmu keuangan yang bisa dengan sempurna menyembunyikan data keuangan perusahaan apalagi dalam jumlah yang sangat besar.
"Yo, loe dah selidiki Mieke? Dia Manager Keuangan nya bukan? Menurut gue, kalau hanya Erina saja yang dijadikan tersangka utama dari kasus ini, rasanya ga adil. Karna yang seharusnya bertanggung jawab dengan kasus ini Mieke sebagai Manager Keuangannya, bukan Erina yang hanya sebagai assistant nya" ucap Dimas dengan penuh keyakinan.
"Gue udah selidiki Mieke kemarin. Gue juga sudah menyidak langsung komputernya. Tapi data yang gue cek ga ada yang mencurigakan dari komputer Mieke" Dimas hanya mengangguk angguk.
"Tapi tetep saja, Mieke harus ikut bertanggung jawab atas kasus ini"
"Ok Boss."
"Oia Dim, ini laporan terkini dari hasil pelacakan yang sudah dilakukan Charles. Dari data Charles, gue lihat ada sebuah kejanggalan yang Charles temukan" Rio menyodorkan beberapa lembar kertas berisi tulisan berisi angka kepada Dimas.
Dimas dengan sangat antusias membaca hasil laporan Charles. Dengan teliti ia baca laporan Charles. Mata Dimas terbelalak tak percaya dengan apa yang ia baca. Dana sejumlah dua milyar masuk ke rekening pribadi Erina dan pada hari yang sama langsung di transfer ke rekening bank lain atas nama yang berbeda.
"Kevin Alvarro?? Erina...??" Dimas menggertakan giginya, geram dengan hasil yang ia baca.
Tiba-tiba Dimas merasa panas dan sesak nafas. Dibukanya jas nya dan dilemparkannya ke sembarang arah. Dilonggarkannya sedikit dasinya untuk memudahkan ia bernafas.
"Rio, tolong selidiki siapa Kevin Alvarro. Gue butuh data sedetail detailnya tentang dia. Sekarang!!! " ucapan Dimas terdengar garang dan menakutkan. Dimas benar benar marah.
"Siap Boss" Rio dengan cepat mengerjakan apa yang diperintahkan boss nya.
Kepala Dimas terasa berat dan pusing. Ia tak percaya dengan apa yang terjadi. Ia juga ga percaya kalau seandainya sampai benar Erina berani menghianati kepercayaannya.
Dengan sangat frustasi Dimas meremas kasar kertas hasil laporan Charles dan melemparnya ke sembarang arah berkas berkas yang ada di atas mejanya. Hatinya sangat kacau dan berantakan.
Dengan tanpa mengetuk pintu, sosok papanya beserta Andra assistantnya telah muncul di hadapannya. Dimas cukup terkejut dengan kehadiran papanya itu. Pak Nugra sendiri juga tak kalah terkejutnya dengan apa yang dilihatnya. Dimas terlihat kacau dengan ruang kerja yang berantakan. Kertas berserakan dimana mana dan wajah Dimas terlihat kusut seperti tak ada gairah hidup.
__ADS_1
"Dim... What's wrong boy?" ucapnya terheran heran. Namun Dimas tak menjawab, hanya menggeleng pelan.
"Papa dengar, proyek kita sedang dalam masalah. Apa benar?"
"Iya Pap. Bukan masalah besar. Dimas masih bisa mengatasinya sendiri" Dimas berusaha tenang menyikapi pertanyaan dari sang papa.
Pak Nugra menganggukkan kepala, mencoba percaya dengan apa yang dikatakan putranya.
"So... Ada apa dengan ruang kerja kamu? Kenapa sampai berantakan begini?"
"Nanti Dimas bereskan"
"Papa harap kamu bisa menyikapi masalah ini secara objektif bukan subjektif. Walaupun ini berkaitan dengam urusan pribadi kamu, tapi satu hal yang harus kamu ingat. Bisnis is bisnis... Kamu harus bisa mengesampingkan urusan pribadi jika itu memang salah adanya." Dimas hanya terdiam. Ia sudah tau maksud dari ucapan papanya. Sepertinya papanya juga sudah tau secara detail masalah yang sedang terjadi saat ini.
"Papa percaya kamu bisa bereskan masalah ini dengan kepala dingin" sambungnya lagi sambil menepuk pundak anak semata wayangnya itu dan lalu bergegas keluar dari ruang kerja Dimas.
Seperginya sang papa dan assiatant nya, Rio memasuki ruang kerjanya sambil membawa sebuah amplop berwarna coklat tak begitu besar di tangannya. Wajah Rio nampak pucat dan lesu. Rio sendiri sudah membuka isi dari amplop itu. Isi amplop itu sungguh membuatnya galau tingkat dewa. Pasalnya isi amplop itu sudah bisa di pastikan akan membuat jiwa boss nya akan lebih terguncang jika melihatnya.
Awalnya Rio berniat untuk menyembunyikan amplop itu dari Dimas. Bahkan jika perlu ia ingin membakarnya saja. Tapi setelah dipikir lagi, Dimas berhak tau akan isi amplop yang saat ini ia pegang. Meskipun pahit rasanya. Akhirnya dengan berat hati, Rio memilih untuk menyerahkan amplop coklat itu kepada Dimas.
"Apa ini Yo?" Rio hanya diam dan memilih kembali ke maja kerjanya.
Dimas segera membuka amplop coklat itu. Amplop dengan ukuran sedang yang tidak terlalu besar. Ternyata isi dari amplop itu adalah foto. Darah Dimas seakan mendidih saat ia melihat beberapa lembar foto foto Erina bersama seorang laki-laki di sebuah cafe.
Dalam foto itu terlihat Erina sedang duduk berdua menikmati kopi. Laki-laki itu menggenggam tangan Erina. Mereka terlihat intens dalam foto itu. Dan satu foto yang membuat darah Dimas semakin memanas saat ia melihat foto dimana Erina sedang berpelukan dengan laki-laki itu.
Tanpa sadar, tangan Dimas yang sudah mengepal ia hantamkan ke atas meja kerjanya yang menimbulkan suara benturan yang keras. Rio menolehkan tatapan kaget yang sangat kepada Dimas. Rio tak pernah melihat Dimas semarah ini. Mata Dimas mulai memerah menahan amarah, tubuhnya menegang, dan wajahnya sungguh menyeramkan seperti singa yang siap untuk mencabik cabik mangsanya.
"Dim, loe harus tenang. Nih, loe minum dulu" Rio memberikan segelas air putih untuk diteguk boss nya. Sayangnya Dimas menolak untuk meminumnya. Hatinya sudah terlalu panas.
"Riooo... Ini asli atau editan?" tanya Dimas memastikan.
__ADS_1
"Gue udah cek keaslian foto ini, Dim. Dan foto ini.... Asli" Dimas tertunduk lesu dengan perkataan Rio. Diacak acaknya rambutnya dengan frustasi. Mulutnya menggeram dengan posisi tangan masih mengepal.
Dimas benar benar merasa sangat terpukul.Dunianya seakan runtuh. Ia tak percaya bahwa wanita yang selama ini ia sayang dan ia cintai sepenuh hatinya bisa dengan teganya menusuk dirinya dari belakang. Menghianatinya dengan cara yang licik seperti ini.
##########
Di ruang kerja Erina
Hari ini Erina memutuskan untuk lembur. Ia ingin meneliti ulang laporan keuangan yang telah ia bikin. Ia juga akan mencari bukti bukti atas ketidak salahan dirinya akan kasus ini. Erina ingin membuktikan kepada semua terutama kepada Dimas kalau dirinya memang tidak bersalah.
Hari semakin malam. Jam dinding sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Diraihnya ponsel nya. Erina agak heran tumben banget seharian ini Dimas tak menghubunginya sama sekali. Bahkan hanya sekedar mengiriminya pesan singkat pun tidak.
Erina menghela nafas panjang. Menenangkan dirinya akan kesibukan yang Dimas miliki.
Pasti seharian ini Dimas sedang sibuk. Makanya ia tak sempat menghubunginya. ucapnya dalam hati.
Namun hati Erina merasa tak tenang akan hal ini. Dan Erina memilih mengalah untuk menghubungi Dimas duluan.
Sudah tiga kali Erina menghubungi nomor ponsel Dimas. Nomornya tersambungkan tapi Dimas ga angkat telponnya.
"Tumben banget Dimas ga angkat telpon. Ada apa ya? Apa dia lagi di meeting? Atau lagi nyetir?" batin Erina bertanya-tanya. Namun Erina masih berbaik sangka dan memilih untuk melanjutkan memeriksa kembali pekerjaannya.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Namun Erina belum menemukan kejanggalan dari hasil laporannya. Erina terlihat frustasi dan letih. Wajahnya teramat lelah. Terutama hati dan pikirannya. Suara telpon berkali kali dari sang mama membuat Erina memilih untuk menyudahi lemburnya dan bergegas untuk pulang.
Kantor sudah sepi. Hanya security kantor saja yang masih berjaga. Setelah berpamitan dengan security kantor, Erina bergegas pulang dengan menyetop sebuah taksi.
Malam yang semakin larut diiringi hujan yang turun melengkapi kepenatan yang saat ini sedang di rasakan olehnya.
.
__ADS_1
.
.