
Ttttiiiinngg....
Satu pesan Dimas masuk di ponsel Erina.
Aku sudah di parkiran kantor kamu ya...
Erina hanya membaca pesan itu dan memasukkan kembali ponselnya ke saku blezzer nya.
Setelah merapihkan mejanya, Erina berpamitan dengan teman-teman satu ruangan dengannya dan lalu bergegas keluar menuju parkiran menemui Dimas.
"Hai Dim, maaf ya agak lama" sapa Erina sambil melempar senyuman manisnya.
"It's, Okay"
Dimas melajukan mobilnya meninggalkan kantor dengan kecepatan sedang. Dimas melirik sekilas wajah Erina yang terlihat ssdikit murung.
"Gimana dengan pekerjaan kamu hari ini? Capek ya?" ucap Dimas di tengah perjalanan.
"Ga terlalu capek sih. Cuma agak bad mood aja hari ini" jawabnya sambil cemberut. Dimas tertawa kecil melihat wajah Erina yang dilipat mirip amplop kondangan.
"Masa dikirimin bunga dari ayang bebeb malah bad mood?" Erina memandang malas wajah Dimas yang sedari tadi sudah menyengirkan giginya.
"Ya sudah, biar kamu ga bad mood lagi, besok kamu aku kirimin coklat ya 1 dus" Erina membulatkan matanya mendengar godaan dari Dimas. Coklat 1 kardus? Itu sudah pasti kardus besar, ga mungkin kardus kecil. Dan bisa jadi, coklat itu cukup jika dibagikan ke semua karyawan di kantornya.
"Dimas please... Jangan kirimi aku sesuatu lagi. Aku bukan nolak pemberian kamu. Aku cuma merasa ga enak aja sama karyawan yang lain." Dan lagi lagi Dimas tertawa kecil sambil menggelengkan kepala menanggapi perkataannya.
"Oia Dim, kantor kamu dimana sih? Kok jam segini kamu udah bisa jemput aku?" ucap Erina mengalihkan pembicaraan.
Dimas sedikit kebingungan menjawab pertanyaan Erina.
"Kantor aku?" Mata Erina menatap dalam wajah Dimas yang sedang mengemudi dan terlihat kikuk. Sikap Dimas membuatnya sangat penasaran.
"Emm... Kalau seandainya ternyata kita satu kantor, kamu senang ga?" Bukannya menjawab pertanyaan, Dimas malah melempar pertanyaan balik untuk Erina.
"Kamu satu kantor sama aku? Really? Aku senang dong Dim pastinya... Tapi ini serius? Kamu beneran satu kantor sama aku?" Dimas hanya mengangguk pelan tanpa menoleh ke Erina dan tetap fokus dengan setirnya.
Senyum Erina mengembang saat ia melihat anggukan dari kepala Dimas yang membenarkan ucapannya.
__ADS_1
"Trus, kamu di bagian apa? Lantai berapa? Aku di lantai 5 Dim. Bagian keuangan" ucapnya dengan penuh keyakinan. Sebenarnya tanpa harus ia jelaskan, Dimas pun sudah tau lebih dulu. Dimas hanya tersenyum lebar mendengar perkataan Erina yang terdengar antusias dengan pertanyaannya.
"Nanti kamu juga tau" jawab Dimas santai.
"Ih, kamu ga asik banget. Pake acara rahasia segala. Kasih tau dong Dim, kamu di bagian apa?" Dan lagi-lagi Dimas hanya melempar senyuman tanpa menjawab pertanyaan. Erina mendengus kesal karnanya.
###########
Siang ini cuaca cukup terik, Dimas baru saja kembali ke kantor setelah meeting di luar dengan client penting di salah satu restorant ternama. Dimas dan Rio berjalan santai di aula lobby kantor menuju ruangan. Selain Rio, Dimas juga di dampingi oleh seorang assistant laki-laki yang kebetulan ikut menangani project yang sedang ia jalani.
Erina yang saat itu sedang berada di coffeeshop lobby terperanjat melihat sosok Dimas yang berjalan di depannya. Tanpa pikir panjang Erina langsung berlari ke arah Dimas yang berjalan cukup cepat dan mengejarnya. Ia ga mungkin salah orang. Laki-laki yang dilihatnya adalah benar, Dimas.
"Dimaaaasss.... " Teriaknya.
Erina langsung menarik tangan Dimas yang membuat Dimas hampir jatuh tersungkur ke depan.
Sebuah tangan kekar langsung menepiskan tangan Erina dengan keras dan kasar yang berhasil membuat Erina terkejut luar biasa.
"MAAF NONA, MOHON JANGAN KURANG AJAR DENGAN ATASAN SAYA!!"
"Atasan?" ucap Erina yang masih berdiri penuh tanya.
Dimas mengarahkan tangannya ke arah assistant nya sebagai arti untuk menyudahi gertakannya. Dimas mendekati Erina yang masih tertegun dan memapahnya ke samping lobby.
"Erina, kamu sedang apa disini?" ucap Dimas lembut dan santai.
Erina terpaku menatap penampilan Dimas yang terlihat sangat formal. Stelan jas mewah 3 lapis lengkap dengan dasi, membuat Dimas terlihat sangat elegant dan berwibawa. Sangat berbeda dengan kemarin saat Dimas menjemputnya pulang. Dimas hanya mengenakan stelan kemeja kerja pria biasa.
"Apa maksudnya dengan atasan Dim?"
Dimas memberi aba-aba kepada Rio untuk meninggalkan dirinya. Rio pun mengerti dengan maksud dari boss nya itu. Setelah memberi hormat, Rio bergegas meninggalkan Dimas menuju ke ruang kerjanya.
"Kamu sudah makan?" tanya Dimas mengalihkan pembicaraan.
"Tolong jelaskan semua ini Dim. Sebenarnya kedudukan kamu di kantor ini sebagai apa? Kenapa laki-laki tadi bilang kamu atasan?"
Dimas menghela nafas pendek dan tersenyum simpul tanpa menjawab pertanyaan Erina.
__ADS_1
"Kebetulan aku lapar, temani aku makan ya" Dimas merangkul bahu Erina mengajak pergi namun dengan cepat Erina menepis tangannya dari bahunya. Ditatapnya dalam dalam mata Dimas. Tatapan penuh harap sebuah kejelasan.
"Jadi kamu tetep ga mau kasih tau ke aku tentang status kamu?"
"Bukan begitu Rin. Jabatan itu kan ga penting. Memangnya sebegitu penting kah jabatan aku dimata kamu?"
"Ya sudah kalau kamu kekeh ga mau kasih tau, ga apa apa. Aku permisi... " Erina pergi dengan perasaan kesal meninggalkan Dimas begitu saja tanpa memberikan kesempatan Dimas berbicara. Dimas hanya menghela nafas memandangi punggung Erina yang pergi berlalu meninggalkan dirinya.
#######
Sudah empat hari sejak kejadian siang itu di lobby kantor, Dimas dan Erina tak bertemu. Kesibukan masing masing membuat mereka sulit untuk bertemu. Meski mereka berada dalam satu kantor, namun kesibukan meeting Dimas yang begitu padat membuat keduanya tak bisa bertemu. Hanya komunikasi melalui ponsel saja yang mereka lakukan. Itupun juga ga lama. Erina nampaknya masih kesal dengan sikap Dimas yang ga mau terbuka kepadanya.
"Erina, kamu ikut meeting sama saya sekarang" suara tegas dari Mieke membuat Erina yang sedang sibuk dengan komputer nya jadi harus mendongakkan kepalanya ke arah sumber suara itu.
"Maaf bu, kita meeting dimana?" tanyanya ingin tahu. Erina agak panik karna ajakan meeting yang tiba-tiba. Tidak ada persiapan apapun yang ia siapkan untuk menghadiri meeting itu. Kepala Erina mencoba untuk berpikir sedikit keras tentang berkas berkas apa yang harus ia bawa dan kira kira hal apa yang akan di bahas dalam meeting itu.
"Lantai 7" jawabnya singkat.
"Apakah ada berkas atau dokumen yang harus saya siapkan?"
"Eemm....Iya. Tolong kamu bawakan laporan keuangan sementara project baru kita"
"Baik bu"
Erina dan Mieke bergegas menuju lift yang akan membawanya ke lantai 7. Pintu lift terbuka, Erina berjalan disamping Mieke dengan langkah tenang. Dimas membatalkan langkahnya untuk keluar dari ruang kerjanya ketika dua bola matanya menangkap sosok wanita yang sangat ia kenal berjalan menuju ke ruang meeting direksi. Detak jantung Dimas tiba-tiba berdetak tak beraturan. Seperti nya kali ini ia harus jujur dengan Erina dan mengatakan hal yang sebenarnya.
"Dim, kenapa brenti?" Dimas ga menjawab pertanyaan Rio. Sejenak Rio menatap wajah Dimas yang berdiam kaku memandang ke arah depan. Rio mengikuti arah mata Dimas dan ia menemukan jawaban kenapa boss nya itu tiba-tiba terdiam dalam langkahnya.
Dimas membiarkan Erina memasuki ruangan meeting. Ditariknya nafas dalam untuk menenangkan dirinya sebelum ia memasuki ruangan meeting. Erina mengikuti Mieke yang memilih duduk di kursi bagian sudut meja meeting yang besar. Dimas sudah memasuki ruang meeting dan duduk di kursi bagian depan. Erina sendiri ga ngeh akan kehadiran Dimas disana. Ruangan pun mulai dipenuhi oleh peserta meeting yang sebagian besar adalah direksi dan pejabat tinggi.
Meeting pun di mulai. Suasana ruangan mulai tenang dan semua peserta fokus mendengarkan materi yang disuguhkan dalam meeting itu. Meja meeting yang cukup besar dan panjang membuat Erina tidak bisa melihat kehadiran Dimas di sana. Posisi duduk yang sejajar semakin membuat mata Erina terhalang untuk bisa mengetahui keberadaannya Dimas.
.
.
.
__ADS_1