Ku Tembak Cintamu 2x

Ku Tembak Cintamu 2x
Cinta Gila


__ADS_3

Dimas menuju kamarnya untuk berganti kaos. Dimas ga begitu nyaman dengan bau parfum Wulan yang sangat tajam menempel jelas di kaosnya. Setelah berganti baju, Dimas kembali ke meja makan untuk melanjutkan makan siangnya.


"Kak Dimas, aku mau bicara sama kamu. Tapi ga di sini" ucap Wulan serius.


"Bicara di sini saja. Ini hari libur gue, gue lagi males pergi keluar" jawab Dimas sambil menyelesaikan suapan terakhir nya.


"Tapi kak, ini masalah penting. Ga mungkin aku bicara denganmu sedangkan di sini ada orang asing yang ga aku kenal" ucapnya lagi sambil melirik ke arah Clara.


Clara menghentikan makannya lalu menatap dalam ke arah Dimas yang sedang mengelap mulutnya dengan tissue.


"Kak, kayaknya kamu sudah salah pilih pacar deh. Perempuan jelek seperti dia ga pantas menjadi pacarmu" ucapnya sengaja mengejek Wulan. Wajah Wulan nampak murka dan marah.


"Kamu bilang aku jelek? Kamu pikir kamu ini lebih cantik, hah? Kamu masih kecil tapi kelakuanmu seperti anak liar yang ga punya etika sama sekali" jawab Wulan yang mulai terpancing emosi.


Dimas tak memperdulikan ocehan Wulan. Ia sibuk membereskan piring kotornya untuk ia letakkan di wastafel.


"Kau bilang aku ga punya etika? Hei Kakak yang merasa dirinya cantik, lihatlah dirimu... Kau ini sedang bertamu di rumah orang. Dan di rumahnya sedang ada orang lain juga yang belum kau kenal. Tapi dengan sombongnya Kau bersikap seolah olah Kau lah sang pemilik rumah ini dan tak punya sopan santun untuk menyapa dengan baik orang yang sudah ada lebih dulu di rumah itu. Kau memang lebih dewasa dariku. Tapi kelakuanmu lebih parah dari seekor anak ayam" jawab Clara dengan penuh penekanan.


" Kauu... " ucap Wulan geram tanpa mampu melanjutkan ucapannya. Tangannya mengepal kesal dan marah seperti siap meninju habis orang di depannya.


"Cukup Wulan. Kalau loe kesini hanya untuk membuat keributan, sebaiknya loe pulang aja" ucap Dimas yang di dukung anggukan dari Clara.



"Kamu keterlaluan Kak Dimas. Aku jauh jauh dari Jakarta datang ke sini buat kasih kejutan buat kamu. Tapi aku malah diperlakukan seperti ini" ucap Wulan sedih yang langsung meneteskan air mata kesedihannya.


Clara menarik nafas dan mendengus sebal melihat Wulan yang berubah menjadi cengeng. Dimas menyodorkan tissue dan dan segelas air putih kepada Wulan.


"Minumlah. Tenangin dulu diri loe" Dimas berusaha menenangkan Wulan yang masih menangis.


Wulan menyeka air matanya dan meminum air putih yang Dimas berikan. Wulan masih terdiam dalam diamnya. Clara mulai merasa risih berada dalam situasi seperti ini. Siang itu dia memutuskan untuk pulang lebih cepat meninggalkan apartemen Dimas.


"Kak, aku pulang dulu ya. Kamu selesaikan saja dulu masalah kalian."


"Okay. Kamu hati-hati di jalan ya. Salam buat keluarga"


Clara mengangguk dan melambaikan tangannya tanda perpisahan. Dimas menutup kembali pintu apartemennya dan kembali duduk menemani Wulan yang sudah mulai tenang.


"Apa loe sudah tenang sekarang?" tanya Dimas datar. Wulan masih terdiam. Hanya anggukan kecil sebagai jawabannya.


"Mau makan sesuatu?" ucap Dimas menawarkan.


Wulan menggeleng lemah. Nafsu makannya menghilang sejak ada Clara. Dimas pun terdiam dalam duduknya memberikan waktu untuk Wulan memulai pembicaraan nya.

__ADS_1


Dimas sibuk memainkan ponsel miliknya. Dan Wulan masih terdiam belum mau berbicara.


Diliriknya perlahan wajah Dimas yang tertunduk Serius menatap layar ponsel. Wulan menarik nafas dan dihembuskannya perlahan mencoba menenangkan dirinya. Ia tak ingin terlihat kacau di depan Dimas.


"Kak... "


"Hhmm..."


"Anak perempuan yang tadi itu siapa? Dia bukan pacar kamu kan?" ucap Wulan berhati-hati.


"Maksud loe Clara?" jawabnya masih sambil memainkan ponselnya.


"Whatever dengan namanya. Dia siapa?" tanya nya lagi mengulangi.


"Dia saudara sepupu gue. Kebetulan orang tuanya tinggal disini" jawab Dimas sambil meletakkan ponselnya di atas meja makannya.


Wulan mendengus lega karna tau bahwa Clara Bukan pacar Dimas.


"Syukurlah. Aku udah takut aja kalau dia benar pacar kamu"


Dimas memandang Wulan malas. Ucapan Wulan membuat dirinya merasa jenuh karna seolah olah dia adalah pacar nya.


"Tadi loe bilang kalau loe kuliah disini juga? Sejak kapan?"


"Iya Kak. Mulai tahun ini aku pindah kuliah disini. Aku pengen selalu bisa deket sama Kakak. Makanya aku nyusul kamu kesini"


"Kamu benar kak. Aku udah Gila. Dan kamu yang bikin aku gila. Aku udah pernah bilang kan? Aku cinta banget sama kamu Kak. Aku rela bela belain jauh jauh datang kesini dan kuliah disini supaya aku bisa selalu deket sama kamu... " jelas Wulan yang membuat Dimas terperanjat tak percaya.


"Wulan, loe....?" Dimas mengacak rambutnya kasar.


"Kak pleasee.... Kasih aku kesempatan untuk bisa menyayangi kamu. Aku ga bisa jauh dari kamu. Aku rela melakukan apa aja demi bisa bersama terus Sama kamu kak Dimas...." ucap Wulan memelas.


"Wulan, loe kan tau kalau gue udah punya pacar. Dan gue ga bisa mencintai wanita selain Erina. Gue udah terlanjur sayang banget sama dia" Jawab Dimas jujur.


"Kalian kan sudah putus. Kamu jangan bohongin aku Kak. Aku udah tau semuanya. Dan Erina juga sudah mengakui kalau hubungan kalian sudah berakhir. " Wulan setengah teriak. Airmatanya menetes lagi. Hatinya terasa sakit tercabik cabik dengan perkataan Dimas.


"Gue memang pernah mutusin hubungan gue sama Erina. Tapi gue sudah baikan lagi. Dan hubungan kita sudah kembali seperti semula. Saat ini gue dan Erina sedang menjalani LDR. Dan Erina juga sudah setuju" jelas Dimas berbohong.


Wulan tercengang dengan ucapan Dimas yang barusan. Hatinya memberontak tak terima.


"AKU GA PERCAYA!!!! Kamu pasti bohong!!! Katakan kak Dimas kalau kamu bohong... Semua yang barusan kamu katakan itu ga benar. Katakan Kaaaakkk.... " Emosi Wulan mulai tak bisa di kontrol. Ia memukul mukul dada Dimas sambil menangis. Dimas awalnya hanya diam menerima pukulan Wulan yang bertubi tubi. Namun semakin lama tangisan Wulan semakin kencang.


Dimas langsung memeluk tubuh Wulan untuk menenangkannya saat tangan nya tak bisa berhenti memukul ke arah dada nya. Wulan menangis tersedu-sedu di pelukan Dimas. Kaos Dimas pun basah karna airmatanya.

__ADS_1


"Sebaiknya loe pulang. Elo butuh Istirahat yang cukup. Berikan alamat tempat tinggal loe. Gue anter loe pulang sekarang"


Wulan masih terdiam dalam pelukan Dimas. Matanya yang sembab dan hatinya yang masih terluka masih enggan untuk melepaskan dirinya dari pelukan Dimas yang sangat nyaman.


Dimas mendorong tubuh Wulan dan mendudukkannya kembali ke kursi. Wulan mendengus kesal karna Dimas menyudahi pelukannya. Wulan menyeka airmatanya dan meminum kembali air putih yang diberikan Dimas. Untuk beberapa saat, perasaan Wulan sudah cukup membaik.


Dimas mengambil jaket dan mengenakannya.


"Ayok Gue anter loe pulang"


Wulan beranjak dari duduknya dengan terpaksa. Dirinya benar benar merasa terpukul dengan sikap Dimas yang masih saja dingin terhadapnya. Dimas memapah tubuh Wulan yang lunglai.


"Kak Dimas... " ucap Wulan Tiba-tiba


"Ya"


"Aku ga perduli di hatimu saat ini sudah ada siapa. Aku cinta sama kakak. Aku akan tetap berusaha untuk mendapatkan cinta dari kamu. Aku yakin suatu hari nanti, kakak akan bisa mencintai aku seutuhnya."


"Terserah Loe Lan. Loe punya hak untuk mencintai siapa aja, termasuk mencintai gue. Tapi maaf Wulan. Sekali lagi gue bilang, gue ga bisa kasih loe harapan lebih. Loe udah gue anggap sebagai saudara sepupu gue yang ga mungkin gue jadiin sebagai pasangan hidup.


(Dimas menarik nafas)


Udah mulai sore, yuk... " Dimas membuka pintu apartemennya dan berjalan menuju lift.


Di dalam lift, Dimas menekan tombol G yang berarti lantai GROUND. Namun Wulan menekan tombol no 7. Dimas terkejut saat Wulan menekan nomor itu.


"Kenapa loe pencet angka 7?" tanya Dimas bingung.


"Aku tinggal di lantai 7" jawab Wulan dengan santai.


Dimas membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang ia dengar. Wulan ternyata ga main main menaruh rasa suka kepadanya. Ini bisa jadi pengganjal baginya nanti. Namun Dimas mencoba untuk tetap tenang menghadapi sikap Wulan yang ekstrim seperti ini.


Ting....


Pintu lift terbuka. Dimas mengekori Wulan yang berjalan menuju kamar apartemennya.


"Ini kamar aku kak. Kakak mau masuk dulu? Minum teh atau kopi?" ajak Wulan penuh harap.


"No, thanks. Lain kali saja ya" tolak Dimas secara halus.


Wulan mengangguk lalu memasuki kamarnya. Dimas membalikkan tubuhnya dan kembali ke kamarnya yang berada di lantai 9. Dimas mengacak acak rambutnya. Kejadian Ini seperti mimpi. Kemarin dia sudah tenang tanpa adanya Wulan yang mengganggu hidupnya sekarang orang itu muncul lagi dihadapannya dan dekat kembali dengannya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2