
Jumat malam seperti biasa Erina menghabiskan waktunya di dalam kamar dengan menonton drama seri Korea favorite nya yang sudah di tontonnya dari kemarin.
Ting...
1 pesan masuk ke ponsel Erina. Pesan dari Dimas.
Beib, schedule pertandingan aku besok jam 10 pagi. Besok aku jemput jam 8 pagi ya...
Ok. (jawab Erina singkat)
#######
Dimas sedang asik memainkan ponselnya di ruang santai keluarga. Dia menarik nafas panjang saat membaca pesan balasan dari Erina.
"Huufttt.... Selalu hanya OK atau ya aja balasannya. Susah banget sih nih cewek buat d taklukin hatinya" gerutu Dimas sambil memayunkan bibirnya.
Sedari tadi ibu Devita memperhatikan tingkah anaknya yang terlihat sedikit kesal.
"Sedari tadi mama perhatiin kok kamu manyun terus gitu sih Dim? Ada apa?" tanya Sang Mama
"Ga ada apa-apa kok ma" jawab Dimas masih pada di posisi duduk nyendernya.
"Beneeerr? Kalau ga ada apa-apa kenapa manyun begitu?"
"Lagi mikir soal pertandingan basket besok" jawab Dimas bohong.
"Kamu kan sudah kelas 12, sebentar lagi ujian akhir sekolah. Kok masih ikut pertandingan gitu sih?"
"Ya masihlah ma... Kan Dimas atlet sekolah. Jadi kalau ada pertandingan, Dimas masih tetep ikut"
"Oia Dim, mama boleh nanya sesuatu ga?"
"Mama mau nanya apa?"
"Kamu ini sebenarnya udah punya pacar apa belum sih sayang?"
"Kok mama tiba-tiba nanya begitu?"
"Boleh dong mama nanya... Kan anak mama sekarang udah gede. Ganteng pula" ledek ibu Devita
Dimas beranjak dari kursinya dan mendekati sang mama lalu
Cup...
Dimas mencium pipi sang mama
"Rahasiiiiaaa...." ucap Dimas sambil berlalu pergi ke kamarnya.
Ibu Devita menggelengkan kepalanya melihat sikap Dimas yang barusan.
#######
Pagi ini jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Erina sudah berpamitan dengan mamanya. Biasanya Dimas selalu on time kalau jemput. Pagi ini tumben dia terlambat.
__ADS_1
Erina sudah berada di depan pintu pagar rumahnya. Belum ada tanda-tanda kehadiran Dimas. Erina mengambil ponsel di dalam tas nya dan langsung memencet tombol nomor Dimas. Saat dia akan menempelkan ponselnya di telinga, Dimas sudah muncul dihadapannya sambil tersenyum.
"Kangen ya...?" goda Dimas.
Erina menatap malas.
"Tumben kamu terlambat?" tanya Erina polos.
"Iya maaf. Semalam aku ga bisa tidur. Jadi kesiangan tadi bangunnya" jawab Dimas sambil nyengir.
"Ga bisa tidur? Kenapa?"
"Kangen sama kamu..." ucap Dimas sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Hhhmmm.... Boong banget sih. Kan kita tiap hari ketemu. Mana mungkin kamu kangen sama aku"
"Loh jangan salah, aku tiap menit aja selalu kangen sama kamu"
"Hhhmmm... Gombal" sambil memanyunkan bibirnyanya.
Dimas tertawa terkekeh mendengar jawaban Erina.
Dimas menyerahkan helm ke Erina. Dan Erina langsung naik membonceng di belakang seperti biasa. Namun Dimas tak langsung melajukan motornya.
"Ada apa Dim? Kok kamu malah diam?" tanya Erina polos.
"Aku kok merasa kayak lagi jadi tukang ojek kamu ya"
Dimas langsung meraih tangan Erina dan menangkupkan nya di perutnya yang datar sehingga posisi Erina sekarang memeluk pinggang Dimas. Erina yang merasa sedikit risih mencoba untuk menarik tangannya tapi langsung ditarik kembali oleh Dimas.
"Kalau sama pacar itu boncengnya harus seperti ini" Erina hanya terdiam canggung.
"Mulai sekarang kalau bonceng harus kayak gini ya sayangku"
"Ganjen ih.. " ucap Erina yang rada kikuk.
"Ganjen sama pacar sendiri itu harus" jawab Dimas sambil tertawa.
Dimas melajukan motornya ke Stadion GBK yang ada di daerah Jakarta Selatan. Di sepanjang perjalanan, Dimas ga pernah mengijinkan tangan Erina berubah posisi dari posisi semula. Tiap kali Erina menarik tangannya untuk merubah pegangan nya pasti langsung di komplain sama Dimas. Dan dengan rasa canggung, Erina kembali berpegangan dengan cara memeluk pinggang Dimas.
Setelah memarkirkan motornya di parkiran, Dimas langsung menuntun Erina untuk masuk ke dalam stadoin lapangan basket.
Erina sedikit kaget saat Dimas langsung menggenggam tangannya. Seolah-olah Dimas ga mau terpisahkan dengan Erina.
Di sana sudah terlihat ramai para pendukung dari sekolah lawan yang akan memberikan dukungannya untuk team sekolahnya.
Para pendukung dari sekolah Dimas juga ga kalah banyak. Erina mencoba untuk melepaskan tangannya dari genggaman tangan Dimas yang sedari tadi masih di genggamnya.
"Ga enak dilihat sama yang lain Dim" ucap Erina sambil melepaskan genggamannya.
"Cepat atau lambat mereka akan tau tentang kita, santai aja" ucap Dimas sambil tersenyum.
"Sayang, nanti kamu duduk di sana ya... Aku udah siapin tempat khusus buat kamu. Itu kursi yang aku minta buat kamu" ucap Dimas sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah kursi penonton yang dimaksud.
__ADS_1
"Okay" jawab Erina cepat sambil melempar senyum.
Dimas sengaja menyiapkan tempat duduk khusus untuk Erina supaya Dimas lebih mudah untuk melihat Erina, begitupun sebaliknya supaya Erina lebih jelas melihat permainan Dimas.
Dimas sudah berganti baju khusus untuk bertanding. Saat ini Dimas tengah berkumpul dengan team dan melakukan briefing sebelum bertanding. Terlihat disana Coach sedang memberikan instruksi dan penjelasan kembali tentang strategi nanti di lapangan.
Team lawan juga terlihat sibuk dengan persiapan-persiapan sebelum bertanding.
Peluit wasit berbunyi tanda panggilan kepada para pemain agar memasuki lapangan. Kapten team maju ke depan untuk menentukan permainan. Daaaannn.... Pertandinganpun di mulai. Para atlet saling berebut bola. Oper sana oper sini, drible kanan, drible kiri, lemparan dan tangkap bola menjadi pemandangan menarik pagi itu.
Bbrrruukkkkk....
Bola pertama masuk dari Dimas yang menghasilkan 2 point membuat isi lapangan menjadi bergemuruh dengan sorakan-sorakan. Erina sangat kagum dengan cara bermain Dimas yang gesit dan benar-benar terlatih. Tak lama kemudian team lawan berhasil memasukkan bola ke ring Dimas.
Pertandingan terus berlangsung dan kedudukan sekarang di angka 17:20
Beda tipis. Dimas unggul di babak pertama.
Saat ini semua team sedang istirahat. Dimas meminum air mineral botol yang sudah disediakan panitia. Keringat Dimas terlihat jelas membanjiri tubuhnya. Kaos yang ia pakai sudah basah kuyup. Tapi, dalam keadaan begitu Dimas sangat terlihat sexy dan gagah. Erina sedari tadi memperhatikan gerak gerik Dimas yang sedang istirahat.
Peluit babak kedua sudah dibunyikan wasit. Para pemain kembali ke lapangan. Pertandingan pun di mulai. Pemandangan saling drible, lembar bola dan menangkap bola terjadi lagi. Suara teriakan dan tepuk tangan juga terdengar di tengah-tengah pertandingan.
Brrrruuuukkkkk......
Dimas berhasil membuat point lagi. Erina bersorak senang melihat Dimas berhasil memasukkan bola ke ring lawan.
"Dimaaaaassss.... " tetiak Erina di tengah keramaian.
Setelah berhasil memasukkan bola ke ring lawan, Dimas berlari ke pinggir lapangan dan melempar kiss bye ke arah Erina.
Erina membulatkan matanya lalu tersenyum malu dan bahagia saat melihat Dimas melempar kiss ke arahnya. Muka Erina mendadak merah dan hatinya berbunga-bunga.
Wasit sudah meniup peluit panjang menandakan waktu permainan selesai. Skor Babak kedua 36:32 kemenangan untuk team Dimas. Beda tipis memang. Lawan sekolah Dimas kali ini lumayan kuat. Suara sorakan dan teriakan terdengar sangat mengelegar memenuhi isi stadion basket.
Erina langsung turun dari tempat duduknya dan langsung menghampiri Dimas yang sedang duduk sambil. minum.
"Selamat ya sayang... Kamu hebat bangeeettt" ucap Erina dengan semangat dan dengan senyuman lebar di wajahnya.
"Makasih sayang... Ini juga berkat doa kamu" sambil tersenyum nakal menggoda Erina.
"Permainan kamu keren Dim. Kapan-kapan ajarin aku main basket ya... " ucap Erina dengan manja.
"Cium dulu, nanti baru aku ajarin" jawab Dimas sambil mengarahkan pipinya ke arah Erina.
"Iihhh... Apaan siihh.."
Dimas Tertawa lepas melihat reaksi Erina yang canggung.
.
.
.
__ADS_1