
Sepanjang perjalanan Erina masih terdiam dan membisu. Dimas sengaja membelokkan stirnya ke sebuah taman di pinggir kota. Suasana taman tidak terlalu ramai. Dimas memarkirkan mobilnya disana. Dimas menatap Erina dalam-dalam. Erina masih membuang pandangannya ke luar dan sesekali menunduk. Kalau boleh jujur, hati Erina saat ini seperti telur yang akan di goreng dadar yang dikocok kocok sampai berbuih. Degup jantungnya tak beraturan. Entah rasa apakah itu. Rasa senang dan bahagia karna bisa bertemu kembali dengan kekasih hati bercampur dengan rasa kesal dan benci karna perlakuan menjijikan dari orang yang dikasihi.
"Erina... Kamu masih ga mau bicara sama aku?" ucap Dimas membuka pembicaraan.
"Aku tau aku salah. Dan aku juga tau kamu saat ini merasa kesal dan muak denganku. Tapi apakah tidak ada sedikit rasa rindu dari kamu untuk aku?" sambung Dimas.
"Erinaaa.... Bicaralah.. Pleasee... Aku ga suka kamu abaikan seperti ini"
Erina menolehkan pandangannya ke arah Dimas. Tatapan mata elang Dimas sungguh menakutkan. Tatapan penuh harapan dan kepastian. Erina tak sanggup berlama-lama menatap mata itu. Ditundukkannya kembali pandangannya.
"Aku ga punya hak untuk rindu sama kamu" jawab Erina. Ucapannya lirih penuh dengan nada kesedihan.
"Why? Apa karna sekarang kamu sudah punya pacar?" goda Dimas.
Erina tersenyum getir mendengar ucapan Dimas. Hatinya terasa sakit dengan kata-katanya. Selama ini ia mati matian menjaga hatinya hanya untuknya, tapi sekarang seolah-olah Dimas sengaja merendahkan usahanya yang selama ini ia pertahankan.
"Aku punya pacar atau tidak, itu bukan urusanmu" jawab Erina ketus.
"Kalau ternyata itu jadi prioritas utamaku bagaimana?" goda Dimas lagi.
"Aku ga peduli" jawab Erina santai.
"Tapi aku peduli"
"Aku turun disini saja. Aku bisa pulang sendiri. Tolong buka kuncinya" gertak Erina.
Dimas tertawa kecil dengan ucapan Erina yang barusan. Dia semakin gemas dengan sikap Erina yang mulai memancing kesabaran nya.
"Kalau aku ga mau bagaimana?" goda Dimas lagi sambil melempar senyum nakalnya.
"Aku akan teriak sekeras mungkin supaya orang-orang datang kesini buat nolongin aku" ucap Erina dengan nada mengancam.
Bukannya takut, Dimas malah tertawa geli yang membuat Erina menjadi semakin kesal kepadanya.
"Dimas aku serius! Tolong buka kuncinya atau aku akan teriak" ancam Erina lagi. Wajah Erina terlihat sangat serius. Namun Dimas tidak memperdulikannya dan masih tertawa lepas.
"Toolllooonngg..... " Erina benar-benar berteriak.
Dimas kaget dengan suara teriakan Erina. Ia menoleh ke arahnya. Seatbelt Erina juga sudah terlepas dari badannya.
__ADS_1
Dimas tidak terlalu khawatir jika orang luar mendengar suara teriakan Erina. Karna dia tau kalau mobilnya memiliki fasilitas kedap suara yang sangat baik. Dimas hanya merasa bising dengan teriakan Erina yang terdengar sangat kencang dari dalam.
Dimas membuka seltbeltnya dan pura-pura terlihat panik. Erina merasa senang dan lebih tenang melihat sikap Dimas yang terlihat panik.
"Syukurin. Emang enak gue teriakin" batin Erina.
Bukannya membukakan kunci pintu mobilnya, Dimas malah mendekatkan wajahnya ke wajah Erina. Erina terkejut dengan sikap Dimas. Tatapan Dimas benar-benar membuat dirinya tak berdaya.
"Tolong buka kuncinya. Kalau kamu masih bersikeras aku akan teriak lagi yang lebih kencang" ucap Erina mengancam lagi.
Ancaman Erina sama sekali tidak membuat Dimas menjadi gentar. Dimas malah semakin mendekatkan dirinya ke arah Erina. Detak jantung Erina terasa berpacu sangat kencang. Degup jantungnya setara dengan detak jantung pelari maraton yang berlari 400meter.
"Teriaklah sebisamu. Tapi aku ga akan pernah melepaskanmu jauh dariku walaupun itu hanya sejengkal" jawab Dimas tak kalah seriusnya.
Erina menelan ludah dan berusaha untuk tenang. Dimas menatap dalam mata Erina dan menarik tangannya secara perlahan. Erina tak kuasa menolak stimulus halus dari Dimas. Wajah Dimas semakin lama semakin dekat dan dekat. Hingga tanpa Erina sadari bibirnya telah menempel dengan bibir Dimas. Dimas mencium bibir Erina dengan lembut.
"Mmmmppphhhh...." suara desahan Erina terdengar lirih.
Erina mencoba untuk mendorong tubuh Dimas menjauh dan melepaskan ciumannya, namun Dimas malah semakin memperdalam ciumannya. Dilumatnya lagi bibir Erina dalam-dalam. Ditumpahkannya rasa rindu yang teramat sangat kepadanya. Erina tak kuasa menolak. Seluruh jiwanya seakan merasa senang dan sangat menikmati sentuhan lembut dari laki-laki yang selama ini ia rindukan kehadirannya.
Ciuman Dimas masih terus berlanjut. Sejenak Dimas melepaskan ciumannya untuk menarik nafas. Namun tak lama berselang, Dimas melabuhkan kembali ciumannya di bibir Erina. Lidah Dimas menari bebas menjelajahi isi mulut Erina. Tubuh Erina terasa lemas tanpa tulang. Degupan jantung nya semakin tak karuan. Detak jantung Dimas juga terdengar sama halnya. Luapan kerinduan dari dua umat manusia yang sedang dilanda asmara berbaur menyatu menjadi satu.
"Maafin aku Erina ... Jangan marah lagi ya... Aku kangen banget sama kamu" ucap Dimas seraya membelai rambut Erina dengan lembut.
Lagi-lagi Erina hanya terdiam. Erina menatap wajah sekilas dan mengangguk. Tidak ada kata-kata yang sanggup ia ucapkan.
Dimas kembali melajukan mobilnya menuju rumah Erina. Suasana hati Erina sedikit lebih cair ketimbang saat pertama tadi. Dimas sesekali menoleh ke arah Erina. Senyuman pun selalu mengembang dibibirnya. Keadaan jalanan malam itu tidak terlalu padat. Mobil Dimas melesat dengan cepat menyusuri jalanan malam yang mulai sepi penghuni.
Dimas memarkirkan mobilnya tepat di depan rumah Erina. Erina turun dari mobil dan berdiri di samping mobil Dimas.
"Terima kasih ya Dim, kamu udah nganterin aku pulang" ucap Erina
Dimas tertawa kecil melihat sikap Erina yang terlihat kikuk.
"Kamu ga perlu berterima kasih. Aku senang melakukannya" jawab Dimas santai dengan gaya satu tangan di dalam saku celananya.
"Eemmm... Dimas... " ucap Erina ragu.
__ADS_1
"Ya"
"Apakah... Apakah... Pipi kamu masih sakit?" tanya Erina dengan hati-hati.
Dimas refleks memegang pipi sebelah kirinya bekas pukulan tinju dari seorang wanita cantik pujaannya. Melihat raut wajah Erina yang terlihat khawatir, muncul niat iseng Dimas untuk menggoda Erina kembali.
"Kalau boleh jujur, ini masih sakit. Kayaknya tulang pipiku sedikit bergeser nih... " ucap Dimas sambil melirik ke arah Erina dan sekuat tenaga menahan tawanya.
Erina terlihat khawatir dan merasa sangat bersalah.
"Maafin aku ya Dim. Aku tadi khilaf. Aku ga sengaja. Aku ga ada maksud sama sekali buat nyakitin kamu..."
"Abisnya kamunya juga sih yang nakal" ucap Erina sambil memanyunkan mulutnya.
Dimas berjalan mendekati Erina yang masih mematung dengan rasa bersalahnya. Dipandanginya wajah sendu sang wanitanya itu. Bukan Erina kalau tak salah tingkah karna tatapan tajam mata Dimas.
Dimas memeluk Erina dengan lembut. Puas sekali rasanya bisa memeluknya. Rasa rindu yang sudah ia tahan selama bertahun tahun sekarang benar-benar terasa lepas dan puas.
"Aku bohong kok sayang, pipiku udah ga sakit kok" ucap Dimas dalam pelukan.
Erina tertegun sesaat dan mencoba untuk melepaskan pelukannya. Ia baru sadar kalau Dimas sedang menggodanya. Dimas tak semudah itu melepaskan pelukannya. Bahkan pelukannya semakin di per erat.
"Kamu ingat, dulu aku pernah bilang sama kamu bahwa suatu hari nanti aku akan meminta kembali hati kamu untuk aku?" bisik Dimas ke telinga Erina.
Dimas melepaskan pelukannya. Tatapan mereka saling beradu. Erina hanya diam sambil memandangi wajah Dimas.
"Aku akan pastikan tidak akan ada laki-laki manapun yang bisa mendapatkan kamu selain aku" ucap Dimas dengan penuh keyakinan.
"Sudah malam Dim, kamu pulanglah. Kamu pasti masih lelah dengan perjalanan panjang kamu kemarin. Aku masuk ya... ". ucap Erina mengalihkan pembicaraan sambil berjalan menuju pintu pagar rumahnya dan berhenti sejenak untuk memastikan Dimas kembali ke mobilnya.
Dimas mengangguk sambil tersenyum manis.
"Kamu masuklah dulu" perintah Dimas.
"Okay" jawab Erina cepat dan langsung memasuki pintu pagar rumahnya. Erina melambaikan tangan tanda perpisahan yang dibalas juga oleh Dimas.
Erina bergegas memasuki pintu rumah nya tanpa menolehkan kembali pandangannya ke arah Dimas. Setelah yakin Erina benar-benar sudah masuk ke dalam rumah, Dimas baru menuju ke mobilnya dan melajukannya kembali ke rumah.
.
__ADS_1
.
.