Ku Tembak Cintamu 2x

Ku Tembak Cintamu 2x
Kejujuran


__ADS_3

Bel pulang telah berbunyi dengan lantang. Para siswa berhamburan keluar kelas untuk kembali ke rumah masing-masing. Dimas bergegas turun ke lantai dua menuju ke kelas Erina. Ia berencana untuk memperkenalkan dirinya dengan Wulan.


Baru saja Dimas sampai di lantai dua ia sudah berpapasan dengan Wulan. Wajah Wulan mengembangkan senyum merekah senang. Wulan mengira kalau Dimas sengaja menjemput nya di kelas.


"Kak Dimas? Kakak sengaja kesini buat jemput aku ya?" ucap Wulan masih dengan senyum merekahnya.


Dimas tak menjawab. Ia hanya tersenyum manis yang semakin membuat hati Wulan berbunga-bunga.


"Yuk kak, kita pulang" ajak Wulan kemudian.


"Sebentar, aku mau kenalin kamu sama seseorang. Yuk... " jawab Dimas mengajak Wulan ke kelas Erina.


Wulan agak bingung dengan maksud Dimas. Siapakah orang yang akan dikenalkan dengan dirinya.


Dimas dan Wulan sudah sampai di depan kelas Erina. Masih terlihat ada beberapa siswa yang masih ada di dalam kelas. Dimas memilih menunggu diluar kelas menunggu Erina keluar. Tak lama ia menunggu, Erina dan teman-teman nya keluar dari kelas. Erina cukup kaget dengan kehadiran Dimas yang sudah ada di depan kelasnya. Dimas ga sendiri. Ia bersama seorang cewek.


"Eh, ada kak Dimas" ucap Chika.


Dimas mengangguk pelan sambil tersenyum.


Teman-teman Erina saling bertatapan dan sudah paham apa yang harus mereka lakukan.


"Rin, kita duluan ya... " Erina hanya mengangguk pelan dan membiarkan semua teman-temannya meninggalkan dirinya bersama Dimas.


Erina menatap Dimas dengan tatapan dingin. Erina masih malas untuk memberikan senyumannya untuk Dimas. Dimas memberi kode kepada Wulan agar ia mendekatkan dirinya kepada Erina.


"Beib, kenalin ini yang namanya Wulan. Wulan, ini Erina. Pacar aku" suara Dimas terdengar datar memperkenalkan ke dua wanita itu.


Raut wajah Wulan langsung berubah muram. Hatinya terasa teriris-iris saat Dimas dengan terang-terangan memperkenalkan pacarnya kepada dirinya. Namun saat ini ia ga bisa memperlihatkan kesedihannya di depan Dimas. Wulan menarik paksa sudut bibirnya untuk tetap terlihat senyum kepada Erina.


Erina juga kaget saat Dimas langsung memperkenalkan Dirinya kepada Wulan sebagai pacarnya. Dimas tak ada basa-basi atau sengaja menyembunyikan status dirinya yang memang benar sebagai pacar Dimas.


Rasa bahagia menyelimuti seluruh ruang hatinya. Erina sangat senang karna Dimas mengakui dirinya sebagai kekasihnya. Senyuman lebar pun tersungging di bibirnya. Erina segera menyodorkan tangannya ke arah Wulan.


"Oh, Haloo... Aku Erina" sapa Erina memperkenalkan diri kepada Wulan.


Dengan ragu-ragu Wulan menerima sodoran tangan Erina.


"Aku Wulan" jawabnya cepat.


"Wulan masuk di kelas 11C" jelas Dimas kepada Erina.


"Oia? Wah berarti kita seangkatan dong ya. Aku 11A" ucap Erina sambil tersenyum manis ke arah Wulan.


"Bodo amat, mang gue peduli" batin Wulan langsung mengumpat.


"Kak Dimas, kita pulang sekarang ya" ucap Wulan mengalihkan pembicaraan, ingin segera mengakhiri pertemuannya dengan Erina. Ia mulai ga betah berlama-lama dengan cewek yang sudah berhasil membuat hati Dimas luluh.


"Oia Wulan. Kamu pulang sama pak Tatang ya. Tadi aku sudah telpon. Dan pak Tatang kayaknya udah nyampe deh di sekolah"


"Kok aku pulang sama pak Tatang? Kan tadi aku berangkatnya sama kak Dimas" Wulan merengek tak tahu malu. Ia ga peduli Erina akan beranggapan apa tentang dirinya. Yang terpenting untuknya adalah Dimas tetap pulang bersamanya.

__ADS_1


"Aku mau anter pulang Erina. Jadi kamu sama pak Tatang ya, ga apa-apa kan?" tatapan mata Dimas sangat teduh. Seperti tatapan mata seorang kakak kepada adiknya.


Wulan menatap sinis ke arah Erina. Wajahnya terlihat masam. Tak ada senyuman di bibir Wulan. Tatapan tak suka pun di tunjukkannya dengan jelas kepada Erina. Erina bisa memahami dengan jelas arti tatapan Wulan kepadanya. Ada rasa cemburu yang besar di mata Wulan terhadapnya. Suasana pun menjadi kaku seketika.


"Dimas, lebih baik kamu pulang sama Wulan aja. Aku bisa pulang sendiri kok" ucap Erina memecahkan kekakuan.


Dimas menoleh ke arah Erina dan menatapnya dengan tajam. Jantung Erina berdetak ga beraturan. Ia ga paham apa arti dari tatapan Dimas.


Tiba-tiba ponsel Dimas berdering. Telpon dari pak Tatang.


"Iya pak Tatang"


"Saya sudah di depan sekolah ya Den" ucap pak Tatang dengan suara yang sangat sopan.


"Ok pak. Pak Tatang tunggu sebentar ya. Saya ke sana sekarang".


Dimas mematikan ponselnya dan menatap ke arah ke dua perempuan yang ada dihadapan nya.


"Ke bawah yuk. Pak Tatang udah ada di depan" ucap Dimas sambil menyimpan ponselnya di saku celananya.


Dimas meraih tangan Erina dan di genggamnya erat. Erina membulatkan matanya karna merasa malu dan ga enak sama Wulan. Erina mencoba untuk melepaskan genggaman tangan Dimas.


"Dimas, lepasin. Ga enak sama Wulan" bisik Erina di telingan Dimas.


Wulan menatap Erina dengan tatapan malas, sinis dan jijik.


"Dasar cewek acting. Pinter banget berpura-pura cari muka sama Kak Dimas" batin Wulan terus menggerutu. Wulan sangat ga nyaman dengan posisi seperti ini. Jadi orang ke dua yang ga di akui sangatlah memuakkan.


"Pak Tatang, tolong anter Wulan pulang ya" ucap Dimas sambil tersenyum.


"Baik Den" jawabnya sambil membungkukkan badannya ke arah Dimas lalu membukakan pintu belakang untuk Wulan.


Wulan sangat berat melangkahkan kakinya menuju pintu belakang mobil yang sudah terbuka. Di tatapnya lagi wajah Dimas dan berharap Dimas akan berubah pikiran dan akan menyuruh pak Tatang pulang kembali ke rumah bersama mobilnya.


"Wulan kamu masuk ya.." perintah Dimas.


Dengan berat hati Wulan melangkahkan kakinya dan masuk ke dalam mobil tanpa lagi mengucapakan kata perpisahan kepada Dimas atau Erina. Wajahnya terlihat muram dan kesal. Dimas melihat ada perbedaan raut muka Wulan. Sayangnya, Dimas belum menyadari kalau sebenarnya Wulan memiliki hasrat besar untuk bisa memiliki hatinya.


Mobil Wulan sudah melaju cepat meninggalkan sekolah. Di dalam mobil, Wulan mendongakkan kepalanya ke belakang melihat kembali dua sosok manusia yang telah berhasil membuat dirinya pergi sendiri. Wulan mengepalkan tangannya dan menggertakkan giginya saat ia melihat Dimas kembali menggenggam tangan Erina


Ingin sekali ia menangis. Tapi ia tak ingin mempermalukan dirinya di depan pak Tatang atau kepada siapapun yang baru ia kenal.


#############


Dimas meraih tangan Erina dan menggenggamnya kembali. Erina membiarkan tangannya di genggam oleh Dimas. Mereka berjalan ke parkiran motor.


"Dimas.. "


"Hemm" jawab Dimas cepat.


"Aku jadi ga enak deh sama Wulan"

__ADS_1


"Ga enak kenapa?"


"Aku seperti nya ngerasa, kalau Wulan itu ga suka sama aku. Dan aku juga ngerasa kalau dia ada rasa suka deh sama kamu"


Dimas menghentikan langkah nya dan terkekeh mendengar ucapan Erina.


"Suka karna aku ganteng ya?" goda Dimas.


"Dimas aku serius"


"Aku juga serius. Kan aku Emang ganteng. Bener kan? Buktinya kamu aja mau sama aku" ucapnya lagi sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Erina. Erina menatap malas ke arah Dimas dan melanjutkan langkahnya ke parkiran.


Dimas menyerahkan helmnya dan bersiap menggunakan helm full face nya.


"Apa tadi kamu ga merhatiin wajah Wulan yang langsung berubah masam saat kamu bilang kalau aku itu pacar kamu?" ucap Erina lagi mencoba menjelaskan kembali sikap Wulan.


Dimas menarik nafas dan tersenyum lebar.


"Itu artinya kamu punya saingan baru sayang. Dan kamu harus berusaha keras untuk mempertahankan aku supaya ga di ambil sama orang lain" ucap Dimas menggoda Erina lagi.


Perkataan Dimas sungguh membuat Erina mati kutu. Bukan Dimas kalau tidak membuatnya kesal. Dimas selalu bercanda kalau sedang diajak berbicara serius.


Erina hanya terdiam dan menyadari kalau dirinya ternyata memiliki kekasih yang sangat di minati banyak kaum hawa.


"Kok malah diem. Mau pulang ga nih?" ucap Dimas membuyarkan lamunan nya.


Erina mengenakan helm nya dan langsung duduk membonceng di belakang.


"Aku bukan tukang ojek loh ya... " goda Dimas lagi. Wajah Erina berubah memerah menahan malu karna terpaksa harus melingkarkan tangannya di pinggang Dimas.


##############


Kurang lebih 30 menit Motor Dimas sudah sampai di depan gerbang rumah Erina. Erina menyerahkan kembali helm nya kepada Dimas.


"Makasih ya Dim. Kamu mau mampir dulu ga?" Erina menghadiahkan senyuman manis untuk Dimas.


"Lain kali aja ya. Ga apa-apa kan?" Erina menipiskan bibirnya sambil mengangguk.


"Iya, Ga apa-apa. Kamu hati-hati ya di jalan ya. Nawa motornya angan ngebut ngebut."


Dimas menatap Erina tajam sambil tersenyum. Erina jadi kikuk karnanya.


"Erina... Kamu ga usah kuatir soal Wulan. Aku ga ada hubungan apa-apa sama dia. Dan aku juga ga ada rasa apa-apa" jelas Dimas jujur.


"Iya, aku percaya sama kamu" jawab Erina yakin.


Dimas kembali melempar senyum kepadanya dan lalu berpamitan untuk pulang.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2