
Rio cukup terkejut dengan langkah Erina yang terlihat cepat dan terburu-buru meninggalkan ruang kerja Dimas. Raut wajahnya juga nampak suram. Sepertinya sudah terjadi pertikaian sengit dengan boss nya. Sikap kesal yang ditunjukkan Erina membuat ia tak melihat dirinya yang duduk di sofa di depan tak jauh dari ruangannya.
Rio memasuki ruangan dan menatap sekilas wajah boss nya yang terlihat kusut dan tertunduk lesu.
"Dimas, are you okay?" ucap Rio khawatir.
Dimas tak menjawab. Hanya anggukan lemah sebagai jawaban atas pertanyaannya. Rio kembali melanjutkan pekerjaannya tanpa ingin mengusik urusan percintaan boss nya itu.
##########
Erina tak kembali ke ruang kerjanya. Ia menaiki lift menuju ke lantai 11 gedung itu. Di lantai 11 ada balkon tak terlalu besar yang letaknya menyudut membelakangi arah utama gedung. Disana di sediakan kursi panjang yang bisa digunakan oleh siapa saja untuk menikmati pemandangan pusat kota dari ketinggian sebuah gedung. Balkon itu memang sepertinya jarang di singgahi oleh para karyawan. Selain tempatnya kecil, property yang disediakan juga hanya kursi panjang saja.
Erina sendiri ga sengaja menemukan tempat itu saat ia di ajak ke lantai 11 untuk mengantarkan beberapa arsip yang akan disimpan disini. Lantai 11 memang lantai khusus pengarsipan semua dokumen dan arsip arsip milik perusahaan. Namun, meski lantai ini khusus sebagai ruang pengarsipan, bukan berarti lantai ini menjadi sepi dan seram. Lantai ini di design menarik dimana ada mini bar yang disediakan untuk para karyawan. Pantrynya pun cukup luas. Lengkap dengan makanan instan dan cemilan yang disediakan juga oleh perusahaan. Hanya balkonnya saja yang tak tersentuh lebih.
Erina berjalan perlahan dan duduk di kursi panjang. Balkon itu sepi. Hanya suara hembusan angin yang menderu menemani suasana sedih hatinya. Dipejamkannya matanya untuk merilekskan jiwanya.
Angin yang berhembus bebas langsung menyesapi seluruh tubuhnya. Dibiarkannya angin mengibas-ibaskan rambut ikalnya. Erina duduk termenung menatap ke depan, pandangan yang tak jelas arah. Hatinya sedang tak baik. Ia mencoba untuk memenangkan diri dengan menyendiri disana. Kedua tangannya menyangga dagunya sambil sesekali menarik nafas panjang.
Hatinya ingin sekali melampiaskan kemarahanya dan ingin memaki. Tapi ia tak punya daya. Dimas seolah sengaja sudah mengikatnya ke dalam sekatan tebal yang sulit ia tembus dan tak bisa ia hindari.
Ditariknya kembali nafasnya yang mulai terasa berat. Jari jemarinya saling meremas. Sekuat hati diredam nya rasa emosi dan dikuburnya dalam-dalam. Aliran hangat mengalir dengan lancar dari pusat penampungannya. Dibiarkannya aliran hangat itu membasahi kedua permukaan kulit pipi indahnya. Mungkin dengan cara seperti ini emosinya sedikit berkurang.
Tttiinnnggg....
Suara pesan masuk dari Dimas membuyarkan kesedihan Erina. Dilihatnya pesan itu.
Erina, kamu dimana?
__ADS_1
Erina mengabaikan pesan itu. Dimasukkannya kembali ponselnya ke dalam saku blezer nya. Tak lama waktu berselang, sebuah getaran terasa dari dalam saku blezer nya.
Dimas Calling.....
Erina menarik nafas dalam dan mengabaikannya kembali telpon panggilan dari Dimas. Matanya yang sembab dan suara yang mulai serak karna rongga hidung yang mulai dipenuhi cairan bening membuat dirinya tak mampu untuk menerima panggilan masuk dari Dimas. Dimas pasti akan curiga jika ia mendengar suaranya yang basah. Dan Dimas pasti akan bisa menebak kalau dirinya saat ini sedang menangis.
Sayangnya sikap acuh akan panggilan Dimas malah membuat Dimas semakin over posesif. Dimas sudah berkali kali melakukan panggilan ke nomor ponselnya. Bukan Dimas kalau tak melakukan panggilan sampai berhasil diterima meskipun jumlahnya harus sampai puluham kali.
Disekanya airmatanya dan cairan bening yang memenuhi hidung telah dibersihkan. Erina mulai risih dengan panggilan telpon bertubi tubi dari Dimas. Setelah menarik nafas, Erina mencoba dengan tenang menerima panggilan telpon dari lelaki specialnya itu.
"Haloo..." ucap Erina lemah tapi masih terdengar jelas.
"Kamu dimana?" nada suara Dimas sangat jelas menyiratkan nada kecemasan dan tuntutan jawaban jujur dari dirinya.
"Aku... Aku ada di ruang kerjaku" jawaban Erina meyakinkan Dimas akan kebohongan nya. Karna tanpa ia ketahui, saat ini Dimas sedang melihat dari layar laptopnya ruangan Erina yang kosong tanpa dirinya disana.
"A-apa... Aku baik baik aja kok Dim. Aku sedang sibuk dengan pekerjaanku"
Dimas tersenyum pahit mendengar kebohongan yang baru saja diucapkan wanitanya. Erina mungkin memang tak mengetahui masalah cctv yang ada di ruang kerjanya. Makanya dengan santainya ia melontarkan kata kata bohong yang justru membuat Dimas semakin posesif kepadanya.
"Kamu jangan kemana mana. Stay there. Aku kesana" Erina semakin bingung dengan perkataan Dimas. Apa maksudnya dengan titahnya untuk tetap ditempat. Sedangkan ia sendiri belum memberi tahu akan posisi dirinya saat ini.
Dimas membuka JPS yang ia pasang diam diam di ponsel Erina. Dengan langkah tergesa gesa, Dimas setengah berlari menuju ke lokasi Erina berada. JPS yang Dimas pasang adalah JPS canggih keluaran baru yang sangat memudahkan dirinya untuk mengetahui keberadaan orang yang akan ia cari.
Dimas mengatur nafasnya yang sedikit terengah. Dimas menipiskan bibirnya saat ia melihat sosok wanita sedang terduduk termenung seorang diri di atas balkon yang cukup tinggi. Pikiran negatif sempat terlintas dibenaknya. Takut seadainya Erina nekad melompat ke bawah untuk mengakhiri hidupnya. Namun pikiran itu segera dihilangkannya. Hatinya sangat lega melihat kondisi Erina yang baik baik saja.
Erina syok terkejut saat dengan tiba-tiba Dimas sudah berdiri di sampingnya yang masih duduk terdiam. Ia tak habis pikir dari mana Dimas mengetahui keberadaannya. Erina mendongakkan wajahnya perlahan menatap wajah Dimas yang sudah menatapnya dengan tatapan lekat dan lalu beranjak dari duduknya.
__ADS_1
Tanpa basa basi Dimas menarik tubuh Erina dan menenggelamkannya ke dalam pelukannya. Spechleesss..
Hanya diam dan pasrah yang bisa Erina lakukan. Pelukkan Dimas terasa hangat dan menenangkan. Airmata Erina yang semula sudah kering kini kembali basah membasahi jas Dimas.
"Maafin aku. Aku terlalu egois. Aku sudah membuat kamu tertekan"
"Aku akan memecat semua orang yang sudah merendahkan kamu atau membuat kamu tertekan. Aku ga rela kamu diperlakukan seperti itu"
"Dimas please... Jangan!! Jangan memutus rejeki orang. Mereka ga bersalah. Aku yang terlalu sensitif"
"Kamu terlalu baik jadi orang. Kenapa kamu bisa memaafkan dengan mudah orang orang yang sudah dengan terang terangan merendahkan kamu?"
"Aku hanya ingin kamu mengabulkan permohonanku saja. Itu sudah cukup untukku"
"Kalau itu yang kamu inginkan, aku sangat sulit untuk mengabulkannya. Tolong kamu mengertilah".
Erina hanya bisa mendengus pelan. Semua memang terasa percuma. Dimas ga akan pernah mengabulkan permohonannya.
"Percayalah, ini semua aku lakukan untuk kebaikanmu. Bukan semata-mata karna keinginanku semata. Aku akan pastikan mulai besok semua akan berubah menjadi lebih baik. Kamu ga perlu merasa sungkan lagi. Bekerjalah sesuai dengan alurmu"
Ucapan Dimas terdengar datar tanpa emosi. Namun didalamnya terbersit sebuah penekanan dan kepastian. Sekuat apapun Erina mencoba untuk mengelak, Dimas adalah atasannya yang memiliki wewenang yang lebih tinggi daripadanya.
.
.
__ADS_1
.