Ku Tembak Cintamu 2x

Ku Tembak Cintamu 2x
Keputusan Papa


__ADS_3

*Rumah Dimas*


Sore menjelang malam seperti biasa di rumah Dimas para asisten rumah tangga tampak tengah sibuk menyiapkan makan malam. Dimas sendiri masih asik di dalam kamarnya. Ibu Devita, mama Dimas terlihat juga ikut sibuk menyiapkan makanan kesukaan sang suami.


"Bi, sayurnya sudah di panaskan semua kan ya?" tanya mama Dimas.


"Sudah Bu. Ayam kecap pedas kesukaan den Dimas juga sudah saya panaskan"


"Ya sudah. Makasih ya Bi. Bibi dan yang lain semua makan ya.. Jangan sampai terlambat makannya. Saya ga mau kalian sampai sakit" perintah sang majikan kepada para asisten nya.


"Baik Bu. Terima kasih" jawab Bi Atun.


(Tuk... Tuk... Tuk...)


Ibu Devita mengetuk pintu kamar Dimas.


"Diiimm... " terdengar suara mamanya memanggil namanya.


"Masuk maaa" jawab Dimas cepat.


"Kamu lagi ngapain Dim?" tanya sang mama sambil memperhatikan kegiatan yang sedang di lakukan Dimas.


"Biasa ma..." Ibu Devita menarik nafas panjang gemas.


"Kamu ini setiiiaapp hari ga pernah absen dari main game. Emangnya kamu ga ada tugas dari sekolah?"


"Ada kok ma. Tapi kan udah Dimas kerjain" jawab Dimas santai. Tangannya masih asik berkutat dengan mouse laptop.


"Beneeeerr??? " tanya sang mama curiga.


"Kalau mama ga percaya cek aja tas Dimas"


"Hhhmmm... Ya sudah, mama percaya kok.


Makan dulu yuk. Mumpung makanannya masih panas"


"Oke mam" Dimas menurut perintah sang mama dan langsung mematikan laptopnya.


Dimas keluar kamar dan langsung menuju ke meja makan. Sedangkan sang mama kembali ke kamarnya untuk memanggil sang suami yang ga jauh berbeda dengan anaknya yang tampak tengah asik dengan laptop nya juga.


"Pa, ayo makan dulu mumpung masih panas"


"Iya ma, sebentar lagi.. Tanggung " bantah pak Nugra karna ingin menyelesaikan dulu kerjaan kantornya.


"Nanti lagi kan bisa Paa? Ntar kalau makanannya dingin jangan salahkan mama ya..."

__ADS_1


"Iya.. iya...Oke" jawab papa Dimas sambil mematikan laptopnya yang tidak lupa untuk menyimpan data yang sudah ia revisi barusan.


Di meja sudah tersaji ayam kecap pedas makanan favorite Dimas. Dengan semangat nya Dimas langsung mengambil makanannya dan langsung melahapnya tanpa menunggu kehadiran mama papanya.


"Dimaaaasss... Kok kamu langsung makan aja sih ga nungguin mama sama papa?" ucap sang mama sedikit kesal.


"Laper Maa... Lagian Mama sama Papa lama banget. Pacaran mulu sih" jawab Dimas dengan mulut yang sudah penuh dengan nasi.


"Ya sudah ga pa pa. Udah lanjutin makannya" ucap sang papa


Ibu Devita hanya bisa menarik nafasnya melihat tingkah anak semata wayangnya itu.


"Dimas, nanti setelah makan, papa mau bicara sama kamu ya" ucap pak Nugra di tengah-tengah makan.


Sejenak Dimas menghentikan makannya.


"Papa mau ngebicarain soal apa?" tanya Dimas penasaran.


"Nanti saja setelah makan. Selesaikan dulu makanmu. Makan yang banyak biar cepat gede" ledek sang papa


"Apa badan Dimas masih kurang gede Pap?" ledek balik Dimas sambil melempar senyum nyengir ke papanya.


"Hahahaha.... Anak Papa pinter ngelawak ya"


"Justru Papa yang lagi ngelawak. Dimas kan udah SMA, masih aja diperlakukan kayak anak TK" Pak Nugra dan Bu Devita saling berpandangan dan tertawa.


Setelah selesai makan malam, Pak Nugra mengajak Dimas ke ruang tengah untuk mengobrol santai dengan nya.


"Sini Boy... Duduk sini. Papa mau bicara."


"Dimas jadi penasaran. Kayaknya serius bener nih... "


"Dimas, Papa sama mama kamu sudah sepakat buat kirim kamu kuliah ke London"


"Appaaaa?" Dimas tersentak kaget mendengar keputusan mendadak dari papa nya.


"Ngapain sih Pa mesti jauh-jauh kuliah ke London segala. Dimas mau kuliah di Jakarta aja. Kampus Jakarta juga sama bagusnya sama kampus luar negri. Lebih murah pula" bantah Dimas meyakinkan Papanya.


"Dimas, kamu ini anak laki-laki satu-satunya punya Papa. Papa ingin kamu bisa melanjutkan bisnis Papa. Nantinya kalau Papa sudah pensiun, kamulah yang harus memimpin perusahaan Papa. Dari itu, Papa sudah menyiapkan bekal ilmu buat kamu. Dan Universitas yang cocok dan bagus menurut Papa ya di London itu. Lagipula disana kamu ga sendiri, ada om Indra disana" ucap Papa dengan sangat yakin.


"Om Indra kan juga punya keluarga sendiri Pa, Dimas ga enak kalau harus numpang di rumahnya" jawab Dimas masih berusaha untuk mengelak.


"Papa kan ga bilang kamu untuk tinggal di rumah Om Indra. Kamu nanti bisa tinggal di apartemen. Biar kamu lebih mandiri mengatur diri kamu. Kalau kamu ada sesuatu masalah disana, disana ada sodara papa yang bisa kamu mintai bantuan"


Dimas menyenderkan malas kepalanya di sofa. Dia menarik nafas panjang dan menghembuskannya kasar. Dirinya sedikit Syok ternyata selama ini Papanya sudah menyiapkan dengan matang soal kuliahnya nanti.

__ADS_1


"Dimas pikir-pikir dulu ya Pa"


"No Excuse Boy. Untuk hal lain kamu boleh pilih. Tapi untuk soal kuliah, kamu tetep harus berangkat ke London. Papa sudah atur semuanya. Papa juga sudah bilang ke Om Indra kalau tahun depan kamu akan kuliah di sana"


Kali ini Pak Nugra terlihat sangat serius. Dimas memilih untuk diam dan tidak membantah lagi.


Dimas menarik nafas panjang dan beranjak pergi ke kamarnya.


Ibu Devita memberikan secangkir air jahe kepada suaminya, dan pak Nugra langsung meminumnya.


"Papa yakin sama keputusan Papa buat Ngirim Dimas ke London?" tanya sang mama yang terlihat belum rela jika mesti berjauhan dengan anak kesayangan nya.


"Harus yakin Ma"


"Tapi Pa, kalau nanti mama kangen gimana?" ucap Ibu Devita memelas


"Kamu kan bisa telpon Ma. Atau sesekali kita bisa ke London juga buat nengokin anak kita, sekalian honeymoon lagi" goda pak Nugra.


"Ih apaan sih Papa ini"


"Loooo... Ga apa-apa juga kan kita honeymoon lagi. Siapa tau pulang honeymoon kita dapet Dedek nya Dimas"


ucap Pak Nugra sambil tertawa lebar.


Candaan Papa Dimas dibalas dengan pukulan kecil dari sang istri yang mendarat di pundaknya.


"Jangan ngasal deh. Mama kan udah tua. Memangnya Papa ga malu apa, Udah tua masih gendong bayi?"


"Enggak tuh. Malah Papa senang kalau mama bisa hamil lagi dan kita punya anak lagi. Pasti seru tuh" Lagi-lagi pak Nugra tertawa lebar bahkan sampai terbahak-bahak.


"Yakin masih mau punya anak lagi??? Kalau Papa di suruh pilih, mau punya anak lagi atau punya cucu, papa pilih yang mana?" goda sang mama. Pak Nugra cukup kaget dengan kata-kata cucu yang diucapkan istrinya itu.


"Ya pasti pilih cucu dong... " jawab nya santai.


"Ya sudah kalau begitu kita suruh aja Dimas buat cepet-cepet cari istri supaya bisa kasih papa cucu"


"Mama ini gimana sih, Dimas itu harus kuliah dulu. Bukan menikah"


"Kan tadi papa yang bilang mau minta cucu"


Pak Nugra menggelengkan kepalanya sambil ketawa menganggapi sikap istrinya itu.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2