Ku Tembak Cintamu 2x

Ku Tembak Cintamu 2x
Pengakuan Status


__ADS_3

Tak terasa tiga jam sudah berlalu. Suasana tegang dalam ruangan meeting makin terasa. Project besar yang sedang dijalani perusahaan sangat menyita perhatian semua pejabat dan direksi perusahaan. Karna ini melibatkan dana dan laba milyaran yang akan diperoleh perusahaan. Jika salah dalam perhitungan maka laba perusahaan bisa lenyap dan berubah menjadi kerugian yang sangat besar.


Presentasi demi presentasi telah disampaikan oleh masing masing divisi. Sebelum sesi meeting berakhir, moderator meeting mempersilahkan general manager untuk memberikan pengarahan dan masukan terkait project besar yang sedang di jalankan.


"Baik, bapak ibu yang terhormat, untuk sesi terakhir meeting hari ini, saya akan mempersilahkan bapak GM untuk memberikan pengarahannya. Kepada bapak Dimas Nugra Ardhana waktu dan tempat saya persilahkan" suara moderator yang menyebutkan nama Dimas memang tidak terlalu keras. Tapi cukup terdengar ditelinga.


Erina sontak menolehkan kepalanya ke arah depan layar yang besar mencari sosok laki-laki yang namanya barusan disebutkan. Nama yang terdengar tak asing ditelinganya. Mata Erina terbelalak tak percaya saat matanya melihat sosok Dimas yang berdiri di depan meja meeting mengisi pengarahan hari itu. Ternyata GM yang dimaksud adalah Dimas, laki-laki yang selama ini selalu ada di hatinya.




Dimas dengan wajah tenangnya memberikan pengarahan sesuai instruksi dari moderator yang memimpin jalannya meeting hari itu. Mata Dimas sekilas bertemu dengan mata Erina yang sudah menatapnya tajam. Tatapan emosi yang siap memuntahkan segala amarah yang terpendam.


Melihat Dimas berbicara di depan, hati Erina terasa terkoyak. Rasa syok dengan kenyataan bahwa Dimas ternyata adalah boss besar di perusahaan tempatnya bekerja. Pantas saja selama ini Dimas enggan mengakui status sebenarnya akan dirinya.


Erina menyenderkan punggungnya di punggung kursi. Telapak tangannya mulai mengeluarkan keringat. Erina menggenggam kuat pulpen yang sedari tadi ia pegang. Ia lebih memilih berdiam diri dan menundukkan pandangannya dengan melihat ke sederet angka angka yang tentunya mulai membuat matanya menjadi pusing. Erina memijit ujung tulang hidungnya mencoba untuk rileks dan tenang.


Meeting hari itu akhirnya selesai. Erina menarik nafas lega. Setidaknya ia bisa segera meninggalkan tempat itu dan segera kembali ke ruang kerjanya sendiri. Semua peserta meeting keluar dengan tertib meninggalkan ruang meeting. Dimas masih duduk dikursinya. Nampaknya ia sengaja menunggu Erina yang akan keluar dari ruangan meeting. Karna posisi kursi Erina paling sudut, maka ia adalah orang terakhir sebelum Mieke yang keluar dari ruangan meeting.


Erina berjalan dibelakang Mieke. Erina sengaja menundukkan wajahnya supaya ia tak terlihat oleh Dimas. Namun apa yang dipikirkannya ga sama dengan apa yang di inginkan Dimas. Saat Erina sudah hampir mendekati kursi Dimas, Rio sengaja bangkit dari kursinya dan berdiri di belakang Dimas yang masih dalam duduknya.


Mieke memberi hormat kepada Dimas dan berpamitan untuk keluar ruangan. Dimas beranjak dari duduknya dan membalas sikap hormat yang diberikan Mieke.


"Kami permisi dulu pak Dimas. Terima kasih untuk pertemuannya hari ini" ucap Mieke dengan sopan.


"Sama-sama Ibu Mieke. Terima kasih sudah datang di meeting hari ini. Oia, boleh saya pinjam staf ibu sebentar? Ada yang ingin saya tanyakan kepada beliau" Erina terkejut dengan ucapan Dimas. Ia menolehkan pandangannya ke arah Dimas. Mata Erina tak bisa untuk tidak menatap tajam ke arah Dimas. Namun tatapan itu hanya sebentar. Erina malas dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tanpa disadari, matanya melihat sosok laki-laki di belakang Dimas. Sepertinya ia kenal namun ia agak lupa karna perubahan penampilannya. Kepalanya masih berpikir keras mencari satu nama yang bisa ia lekatkan untuk laki-laki itu.


"Maaf pak Dimas, kalau saya boleh tau soal apa ya pak?" Mieke masih penasaran dengan alasan Dimas.


"Soal project" jawaban singkat yang bohong.


"Apakah ada kesalahan yang sudah dilakukan oleh staf saya?"


"Tidak ada. Saya hanya ingin memastikan laporan yang dibuat oleh staf ibu itu benar" Mieke terlihat sedikit bingung dengan alasan yang diutarakan oleh Dimas. Kenapa harus Erina yang ia mintai kepastian tentang laporan keuangan project. Sedangkan yang bertanggung jawab tentang laporan keuangan adalah dirinya. Jadi sudah seharusnya yang wajib dimintai kepastian mengenai laporan keuangan adalah dirinya bukan Erina yang hanya staf biasa.


Erina menghela nafas dalam-dalam. Ia sudah paham bahwa alasan yang diucapkan Dimas adalah alasan yang ia buat sekedar ngasal supaya ia bisa berbicara empat mata dengannya.


"Ibu Mieke silahkan kembali ke ruangan Ibu. Pak GM ingin berbicara dengan staf ibu. Mari silahkan... " ucap Rio sopan mengarahkan Mieke supaya pergi meninggalkan ruangan meeting.

__ADS_1


"Baik kalau begitu saya permisi pak Dimas."


"Erina tolong kamu berikan penjelasan yang detail kepada pak Dimas ya... Jangan bikin malu saya" titah Mieke kepadanya.


"Baik bu" ucap Erina dengan suara lirihnya.


Rio menutup pintu ruang meeting. Dan memilih berjaga di depan pintu. Ia sudah paham akan apa yang diinginkan boss nya itu. Erina sendiri masih berdiri mematung diposisinya. Dimas menatap wajah Erina yang terlihat menundukkan wajahnya dan enggan untuk menatap dirinya.


Dimas berjalan mendekati Erina dan berdiri tepat di depan wajahnya.


"Duduklah. Aku mau jelaskan semuanya sama kamu" ucapnya sambil memapah Erina menuju kursi. Erina mengikuti titah Dimas tanpa perlawanan ataupun bantahan.


"Kamu sekarang sudah tau status aku di perusahaan ini. Apakah kamu masih kesal sama aku?" ucap Dimas santai tanpa ada rasa bersalah sama sekali.


Erina mencoba menahan emosinya, menguburnya dalam dalam di ruang hatinya yang paling dalam. Percuma ia menunjukkan sikap kesalnya. Toh ini kantor dan orang yang saat ini ada di hadapannya adalah penguasa kantor ini.


Erina masih memilih untuk berdiam dan tak menjawab pertanyaan Dimas. Saat ini hanya rasa galau yang menyelimuti hatinya. Galau tentang sebuah rasa. Rasa marah atau kesal yang harus ia rasakan saat ini. Entahlah...


"Mungkin kamu kesal karna aku ga terbuka tentang statusku. Aku menyesal, aku minta maaf. Aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk bisa menjelaskan semua ini. Namun berhubung kamu sudah tau, aku ga akan menutupinya lagi"


Dimas meraih tangan Erina dan menggenggamnya. Erina lagi lagi masih asik dengan diamnya. Dimas menatap wajah sendu Erina yang menunduk dan enggan menatap wajahnya.


"Apa kamu marah sama aku?"


(Erina menggeleng pelan)


Dimas menghela nafas panjang. Ia jadi bingung dengan sikap Erina.


"Apa aku sudah boleh keluar?" ucap Erina. Dimas sedikit terkejut dengan ucapan yang ambigu.


"Apa kamu ingin sekali keluar?"


"Iya"


"Apakah karna kamu sudah tau status aku, kamu jadi berubah dingin seperti ini? Menjadi Erina yang ga aku kenal? Erina yang dingin dan acuh kepadaku?"


"Dimas aku... Emm... Maaf. Maksud saya pak Dimas, maaf saya harus kembali ke rua... " Erina tersentak kaget saat Dimas tiba-tiba membungkukkan badannya di atas tubuh Erina dengan menahan gagang kursi yang Erina duduki. Mata Dimas terlihat sangat mengancam. Dan Dimas mirip seperti seekor macan lapar yang siap menerkam mangsa di depannya.


"Haruskah kamu bersikap seperti itu kepadaku?" ucapnya geram.

__ADS_1


"Maaf pak, sudah menjadi keharusan saya untuk bersikap sopan kepada atasan"


"ERINAAA.... " erina terperanjat saat suara Dimas meninggi dan terkesan membentak nya. Baru kali ini ia mendapatkan gertakan keras dari Dimas. Sikap keras Dimas sontak membuatnya menjadi takut.


"Maaf" Dimas melihat wajah ketakutan Erina akan sikapnya yang keras. Dimas mengendurkan sikapnya dan melembutkan kembali ucapannya.


"Bersikaplah seperti biasa. Aku ga ingin ada perubahan dari diri kamu terhadapku." ucap Dimas penuh penekanan.


Erina menggigit bibir bawahnya kuat kuat. Ia menahan sekuat tenaga airmatanya yang sudah terasa hampir penuh di kelopak matanya. Dimas menarik kursi dan duduk berhadapan di depan Erina.


"Aku harus bagaimana supaya kamu bisa bersikap seperti biasa lagi kepadaku? Aku akan berusaha mengikuti saranmu" lagi lagi Erina hanya terdiam.


"Erina, bicaralah... Jangan diamkan aku seperti ini..." Dimas menatap lekat wajah Erina yang masih menunduk.


"Apa..Apakah kamu yang dengan sengaja menerima aku bekerja di perusahaan ini?"


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"


"Tolong jawab pertanyaanku..." Dimas menghela nafas panjang dan lalu mengiyakan pertanyaan Erina.


"Iya, itu benar. Aku ingin kamu bekerja satu kantor denganku. Karna aku ingin selalu bisa bersama denganmu setiap waktu"


"Jadi aku diterima disini bukan karna kemampuanku sendiri. Tapi karna..."


"Bukan Erina... Bukan seperti itu. Aku memang menginginkan kamu untuk selalu dekat denganku. Tapi, untuk masalah kemampuan, kamu memenuhi persyaratan untuk bisa bekerja disini. Nilai kamu juga bagus. Kamu ga perlu mengkhawatirkan masalah itu"


"Aku ga percaya. Kamu pasti bohong. Aku tau, aku bukanlah orang yang memiliki kemampuan lebih untuk bisa bekerja di perusahaan besar seperti ini. Ini pasti karna tujuan pribadi kamu yang sudah membuat aku dengan mudah bisa masuk dan bekerja disini, bukan?"


"Erina.. Lihat aku dengan mata hati kamu. Apakah aku terlihat seperti seorang pembohong?" Erina tak mampu berucap. Lidahnya tiba-tiba terasa kaku.


Erina hanya menggelengkan pelan kepalanya. Dua buliran bening lolos begitu saja. Erina menyegerakan jarinya untuk menyeka ke dua pipinya. Dimas terkejut melihat Erina menitikkan airmatanya. Diraihnya segera tubuh wanita nya itu dan di benamkannya di dalam pelukannya.


"Jangan nangis Erina. Pleasee... Aku ga bisa lihat kamu seperti ini"


Entah kenapa tangis Erina malah pecah dalam pelukan Dimas. Dimas membiarkan Erina meluapkan emosi dengan tangisnya di dalam pelukannya. Mungkin dengan menangis, Erina bisa lebih tenang.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2