Ku Tembak Cintamu 2x

Ku Tembak Cintamu 2x
Permainan Rasa


__ADS_3

Kevin adalah teman satu angkatan beda kelas dengan Erina. Kebetulan nama Kevin masuk dalam daftar panitia pertandingan basket yang sudah ditentukan oleh pak Yudha.


Erina bersyukur karna Kevin tiba-tiba melintas di hadapannya tadi. Kalau seandainya Kevin ga dateng, Erina bisa mati kutu di hadapan Dimas.


Ga butuh waktu lama motor Kevin sudah sampai di depan rumah Erina. Hujan juga belum jadi turun. Jika ada pepatah yang bilang 'mendung tak berarti hujan' sepertinya hal ini di aminin oleh Erina. Hihhihi...


"Makasih banyak ya Vin" ucap Erina sambil menyerahkan helm milik Kevin.


"Sama-sama. Udah sana loe masuk." jawab Kevin sambil tersenyum.


"Hahaha... Loe udah kayak almarhum bokap gue deh." ledek Erina sambil tertawa.


"Enak aja gue di samain sama bapak-bapak" ucap Kevin ga terima yang tak lama kemudian ikutan tertawa.


"Ok deh Rin, gue balik dulu ya." ucap Kevin kembali mengenakan helmnya dan melajukan motornya meninggalkan rumah Erina.


###########


Dimas membuang tasnya di atas ranjang besarnya dan langsung membantingkan tubuhnya di sana. Kepalanya terasa agak pusing. Hari ini banyak kejadian tak mengenakan yang menimpa dirinya. Dari insiden gebrak meja oleh Tasya sampai penolakan ikhtikad baik yang ia tawarkan untuk Erina.


Jarinya memijit-mijit pelan pelipis matanya yang terpejam. Bayangan Erina membonceng motor Kevin terlintas lagi di matanya. Pikirannya jauh kemana-mana. Dimas terbakar cemburu. Yang ada dipikiran Dimas saat ini adalah jangan-jangan tadi Erina saat membonceng Kevin sambil memeluk pinggangnya seperti saat ia membonceng dirinya.


"Aaaarrrrggghhh.... Ga.. ga mungkin. Gue tau siapa Erina. Dia ga mungkin seperti itu. Dia bukan cewek gampangan. Oh, my God... Erinaaaa... Kamu udah bikin aku gilaaaa.... " Dimas mengerang geram berbicara sendiri sambil memegangi kepala dengan kedua tangannya.


Dimas menyeret paksa tubuhnya untuk bangun dan pergi ke toilet untuk membersihkan badan dan kepalanya supaya lebih segar dari kepenatannya sekarang.


############


Di rumah Erina


Erina baru selesai mandi. Badannya sudah terasa lebih segar. Erina membuka rambutnya yang terbungkus handuk dan mengeringkannya dengan hairdryer.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari pintu kamarnya. Tak lama dari suara ketukan terdengar suara wanita yang sangat ia kenal. Suara mama.


"Erina... Mama boleh masuk ya.. " ucap mamanya meminta ijin.


"Masuk aja maa... " teriak Erina yang masih sibuk dengan rambutnya.


Ibu Astri memasuki kamar putrinya dengan santai dan duduk di pinggir ranjang.


"Tumben sayang kamu kok pulang sekolahnya sore banget?"


"Tadi ada rapat sebentar soal pertandingan basket minggu depan mam." jawab Erina yang masih sibuk dengan rambutnya lagi.


"Pertandingan bola basket? Kamu ikutan basket?" tanya ibu Astri penuh keheranan. Ia paham betul siapa putrinya itu. Erina sangat malas untuk olahraga. Jadi sebuah keanehan kalau Erina tiba-tiba ikut bermain basket.


"Bukan Erina mama yang tanding basket. Tapi para atlet sekolah Erina yang akan bertanding. Jadi begini.. Minggu depan sekolah Erina jadi tuan rumah untuk pertandingan basket antar sekolah. Dan Erina terpilih untuk jadi panitianya." ucap Erina menjelaskan dan menghentikan kegiatan mengeringkan rambutnya. Mamanya hanya mengangguk-angguk.


"Berarti Dimas ikut main dong ya, Dimas atlet basket sekolah kamu bukan?" tanya mamanya antusias. Raut wajah Erina langsung berubah sendu saat mamanya menyebut nama Dimas. Erina ga menjawab, hanya mengangguk pelan sambil merapihkan kembali alat pengering rambutnya.


"Kamu udah baikan belum sama Dimas?"


Erina ternganga mendengar pertanyaan mamanya.


"Aku sama Dimas udah pu.. " mulut Erina tiba-tiba ga sampai hati mengatakan hal sebenarnya kepada mamanya.


"Sudah pu? Maksud kamu putus?" tanya ibu Astri yang terlihat kecewa.


"Bukan ma, maksud Erina, pu-pulih" jawab Erina bohong.


"Mama ga perlu tau yang sebenarnya. Biarkan ini jadi rahasia aku. Suatu hari nanti mama juga akan tau dengan sendirinya. Tapi ga sekarang ya mam.." ucap Erina dalam hati.

__ADS_1


"Oohh.. Syukurlah kalau hubungan kalian sudah baik. Oia sayang, lusa mama ada tugas dinas ke Surabaya. 5 hari. Maaf ya... Kamu ga apa-apa kan mama tinggal agak lama?" ucap ibu Astri merasa bersalah.


"Mama kenapa harus minta maaf? Erina ngerti kok soal pekerjaan mama. Lagipula, ini semua mama lakukan juga buat masa depan Erina." jawab Erina sambil memeluk mamanya.


Ibu Astri membalas pelukan Erina dan tersenyum haru mendengar jawaban dari putri satu-satunya itu.


##########


Ddrrtt.. Ddrrrtt....


Ponsel Erina bergetar dan bergerak gerak di atas meja belajarnya yang menimbulkan suara getaran akibat gesekan dari ponselnya. Erina mengambil ponsel miliknya, dan terkejut saat dilihatnya nama di layar dari si penelpon.


Dimas calling...


Erina menarik nafas dalam saat kegalauan menyelimuti dirinya. Rasa bimbang antara ingin menerima atau membiarkan saja telpon masuk dari Dimas membuat dirinya menjadi tak berdaya.


Sudah 5 kali Dimas mencoba menghubungi ponsel Erina. Namun Erina tetap memilih untuk mengabaikannya.


Tttiingg...


Satu pesan masuk dari Dimas.


"Erina please, tolong terima telpon aku"


Erina hanya membaca pesan singkat yang Dimas kirim tanpa membalasnya. Selang 30 menit Dimas mencoba menghubungi lagi ponsel Erina. Lagi lagi Erina mengabaikannya. Dimas sepertinya pantang menyerah untuk tetap bisa menghubungi Erina.


Dilihatnya lagi layar ponsel Erina. Disana sudah ada 10 panggilan tak terjawab dari Dimas. Karena tak ingin di ganggu lagi oleh Dimas, akhirnya Erina sengaja mematikan ponselnya dan bergegas untuk tidur.


###########


Di sekolah


Erina menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Erina mencoba untuk menenangkan dirinya.


"Inget Rin, loe tuh dah putus sama Dimas. Loe ga punya hak untuk cemburu" batin Erina berbicara.


Erina Cukup lama berdiri menyaksikan Dimas dan teman temannya bermain. Saat Erina berniat untuk melanjutkan langkahnya ke perpustakaan, matanya beradu pandang dengan mata Dimas. Dimas juga langsung menjadi canggung saat Erina langsung membuang tatapannya dan pergi begitu saja.


"Erinaa... Kok wajahnya kayak kesel gitu ya? Apa karna ada Wulan disini?" batin Dimas bertanya-tanya dan kemudian melanjutkan kembali permainannya.


Bel pulang pun akhirnya berbunyi lantang. Para siswa tanpa dikomando sudah dengan sigap berhamburan keluar kelas. Dengan sembarangan, Dimas memasukkan peralatan sekolahnya ke dalam tas miliknya. Dimas terlihat buru-buru keluar kelasnya.


"Dim, buru-buru amat sih? Mau kemana?" tanya Rio heran.


"Sorry Yo, gue duluan ya. Ada perlu" ucap Dimas langsung berlalu meninggalkan kelas.


Erina and gank berjalan santai sambil bercakap-cakap meninggalkan kelas mereka. Ketika mereka sampai di anak tangga, terlihat sudah ada Dimas yang berdiri di sana. Langkah Erina and gank terhenti beberapa detik. Dimas langsung menghalangi Erina saat ia akan melangkahkan kakinya kembali.


"Erina, aku mau bicara sama kamu" ucap Dimas langsung tanpa basa basi.


"Tentang apa?" tanya Erina memastikan.


"Ikut aku" ucap Dimas sambil menarik tangan Erina tanpa menjawab pertanyaannya.


"Aaaaarrrrgghhh.... " teriak Erina saat tangannya terasa dicengkram dan langsung berjalan cepat mengikuti irama langkah Dimas yang lebih cepat darinya.


Tasya, Adel dan Chika saling bertatapan. Mereka bingung apa yang sebaiknya mereka lakukan. Awalnya Chika ingin mengejar Erina yang di tarik paksa oleh Dimas. Namun Tasya melarangnya.


"Jangan dikejar Chik. Biarin aja. Biarkan mereka menyelesaikan urusan mereka yang belum selesai"


"Tapi Tas, gue khawatir Erina kenapa-napa" jawab Chika cemas.

__ADS_1


"Gue percaya kok, Dimas ga akan nyakitin Erina. Dia sayang banget sama Erina. Kita pulang aja, yuk"


###########


Dimas menarik tangan Erina dengan kuat dan membawanya ke sebuah ruang kosong yang biasa digunakan untuk olahraga indoor.


Erina menepis tangan Dimas yang sedari tadi sudah mencengkramnya erat.


"LEPASIIINN... " ucap Erina marah dengan nafasnya yang tersengal sengal.


Dimas melepaskan cengkraman tangannya.


"Katakan apa mau kamu?" ucap Erina menantang Dimas.


Dimas berjalan mendekati Erina. Dan posisi mereka saat ini sangat dekat.


"Kenapa kamu ga pernah mau terima telpon dari aku? Kenapa juga kamu ga pernah lagi balas pesan singkat yang aku kirim buat kamu? Kenapaaaa??" ucap Dimas sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Erina.


Erina menjauhkan wajahnya dari wajah Dimas.


"Aku punya hak untuk menerima atau menolak telpon masuk dari siapapun. Termasuk dari kamu" jawab Erina dengan nada geram.


Jawaban Erina sungguh menohok jiwa Dimas.


"Kamu boleh menolak telpon masuk dari siapapun, tapi TIDAK UNTUK AKU. Ngerti?"


"Kamu ga punya hak ngatur-ngatur hidup aku?" jawab Erina dengan nada sinis.


Dimas mengernyitkan dahinya mendengar jawaban dari Erina yang menentang. Tatapan tajam mata Dimas Seolah olah ingin merkam lawan di depannya.


"Saat ini, aku memang tidak melanjutkan hubungan ini, tapi bukan berarti aku akan melepaskan kamu begitu saja, Erina..." ucap Dimas serius.


"Terserah apa yang mau kamu lakukan. Tapi bagiku, kamu adalah masa lalu aku yang ingin aku lupakan. Selamanya..." ucap Erina sangat serius.


Setelah mengucapkan kalimat terakhirnya, Erina bergegas membalikkan tubuhnya dan akan pergi meninggalkan Dimas.


Bbrrruukkkkk...


Aaaarrrrggghhh....


Tangan Dimas sangat cekatan menarik kembali tangan Erina yang hendak pergi. Dimas menarik Erina dan di arahkan tepat di dadanya. Dimas memeluk Erina dengan sangat erat. Rasanya Dimas ingin menhentikan waktu agar ia tetap bisa memeluk Erina seperti ini selamanya. Erina memberontak saat ia sadar kalau tubuhnya sudah berada dalam pelukan Dimas. Namun semakin ia memberontak, pelukan Dimas pun juga semakin erat membuat dirinya kesulitan untuk bergerak. Tangan kekar Dimas sangat kuat dan sulit untuk di renggangkan. Erina akhirnya hanya bisa diam dan pasrah di pelukan Dimas.



"Maafin aku Erina. Tolong maafin aku" bisik Dimas di telinganya.


"Please, jangan buat aku seperti ini. Aku hampir gila gara-gara kamu. Tolong jangan abaikan aku. Aku...Aku sayang banget sama kamu" ucap Dimas sambil menenggelamkan wajahnya di antara pundak dan leher Erina.


Erina membulatkan matanya saat ia dengar kalimat terakhir dari Dimas. Apa maksudnya Dimas berkata seperti itu? Sayang? Kalau memang Dimas masih sayang, kenapa ia harus mutusin hubungan? Apa Dimas sengaja ingin mempermainkan perasaan?


"Tolong lepasin aku Dim, aku...aku ga bisa nafas." ucap Erina terbata-bata.


Dimas merenggangkan pelukannya. Dan disaat bersamaan, Erina mendorong tubuh Dimas dan berlari meninggalkan Dimas.


Tubuh Dimas seketika terasa seperti tanpa tulang. Dimas duduk berlutut, meratapi kesedihannya dan merelakan Erina yang berlari pergi meninggalkan dirinya sendiri.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2