Ku Tembak Cintamu 2x

Ku Tembak Cintamu 2x
Butik Tasya


__ADS_3

Matahari sudah menampakkan wajahnya. Sinarnya sudah menyusup ke celah celah jendela kamar Erina. Di ranjang yang tak terlalu besar masih terdampar anak gadis yang masih terlelap dalam mimpinya. Suara ketukan pintu berkali kali dari sang mama tak lantas membuat Erina terbangun sama sekali. Kebiasaan sedari kecilnya masih saja terbawa sampai sekarang. Ibu Astri menggeleng gelengkan kepalanya melihat kelakuan putri semata wayangnya yang selalu susah untuk bangun pagi di waktu weekend.


Ibu Astri sengaja membuka tirai jendela kamar supaya putrinya merasa silau dan bangun dari mimpi indahnya. Benar saja, Erina mengerjapkan matanya saat sinar matahari mengenai matanya yang terasa silau. Matanya masih enggan untuk terbuka dan mulutnya mengerang sebagai bentuk penolakan.


"Mamaaaa... tolong tutup lagi dong tirainya. Silau niiihh...." ucapnya sambil merengek.


Ibu Astri duduk di pinggir ranjang Erina dan mengusap lembut kepala putrinya sambil tersenyum sayang.


"Sayaaaaanggg.... Kamu ini sudah bukan ABG atau remaja lagi. Kamu itu sudah dewasa looohh... Masa anak perawan bangunnya selalu siang sih? Bagaimana kalau nanti kamu sudah menikah? Punya suami? Malu dong kalau ternyata tidurmu kebluk kayak gini. Ayo banguuunn....." ibu Astri meninggikan intonasi suaranya sambil menepuk nepuk kaki Erina.


"Ini kan hari libur Maaa.... Waktunya Erina untuk tidur... Mata Erina juga masih ngantuk banget mamaku sayaaaannnggg...." rengeknya lagi masih dengan mata yang terpejam.


"Ini udah jam 8 sayang... Dan tau ga, di ruang tamu sudah ada Dimas loh nungguin kamu" ibu Astri sengaja berbohong supaya anaknya mau bangun dari tidurnya. Dan rupanya bohongnya berhasil.


"Apaaaa....?? Dimas datang?? Ya Tuhaaann....." Mata Erina langsung terbuka lebar saat telinganya mendengar nama Dimas disebut. Apalagi katanya sudah ada di ruang tamu.


Erina terpaksa langsung membangkitkan tubuhnya dari tidurnya dan melompat syok untuk segera membersihkan dirinya.


"Erina mandi dulu ya ma..." Erina langsung berlari ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap untuk menemui Dimas.


Sementara itu, ibu Astri terkikik geli melihat Erina yang terbirit birit kebingungan saat dibilang ada Dimas. Ibu Astri keluar dari kamar Erina masih dengan tawanya. Perutnya sampai sengkil menahan tawa geli dari tingkah laku putrinya.


Hanya butuh waktu 15 menit untuk Erina membersihkan diri dan merapihkan dirinya. Setelah memoleskan lipbalm ke bibirnya dan menyemprotkan parfum ke tubuhnya, Erina bergegas pergi ke ruang tamu untuk menemui Dimas. Namun alangkah terkejutnya saat sesampainya ia di ruang tamu ternyata ga ada siapa siapa disana. Erina langsung mencari sang mama yang ternyata sedang asik menonton televisi bersama bi Minah.


"Mah, katanya di ruang tamu ada Dimas? Mana? Kok ga ada?" tanya Erina, bingung.


Ibu Astri terkikik mendengar pertanyaan Erina. Disusul dengan bi Minah yang ikutan terkikik menahan tawa. Erina mulai ngeh kalau dirinya sedang dikerjain sama mamanya. Erina yang ga terima dikerjain sama mamanya membalas mamanya dengan cara mengelitiki perut sang mamanya.


"Erina... Udah..udah... Ampun...ampun. Geli tauu..." rengek sang mama meminta untuk menyudahi kelitikannya.


"Ini hukumannya buat mama yang udah bohongin aku. Huffftttt...."


"Iya iya mama minta maaf. Abisnya kamu sih susah banget buat dibanguninnya. Giliran disebut nama Dimas aja, cepeeeettt... Hmmm..."


Erina membantingkan dirinya di sofa dan menyandarkan punggungnya disana sambil memanyunkan bibirnya. Ibu Astri memencet hidung Erina dengan gemas.


"Ayo sayang kita sarapan dulu" dengan malas Erina beranjak dari duduknya menuju meja makan untuk sarapan bersama mama dan bi Minah.


##########


Ddrrrrttt... Dddrrtttt....


Erina terkejut senang saat melihat nama sipenelpon yang muncul di layar ponselnya.


"Hai Tasyaaaa.... Gue seneng banget loe telpon gue" sapa Erina penuh semangat.


"Hai Rin, gue ganggu ga?"


"Enggak dong.. Justru gue seneng banget loe telpon gue. Ada apa nih? Ada yang penting kah?"


"Bangeettt...."


"Oiaa??? Apa tuh?" Erina semakin semangat dan penasaran tentang perihal yang ingin Tasya sampaikan.


"Rin, loe bisa ga hari ini dateng ke butik gue?"


"Ke butik loe? Sekarang?"


"He-em. Ada yang mau gue tunjukin ke loe?"


Erina sangat penasaran dengan perkataan Tasya. Tanpa pikir panjang, Erina langsung menyetujui permintaan Tasya. Setelah berpamitan dengan sang mama, Erina bergegas pergi ke butik Tasya yang alamatnya sudah dikirimkan melalui pesan singkat. Erina pergi menggunakan taksi biar cepat.


Kurang lebih 40 menit perjalanan, Erina akhirnya sampai ke butik milik Tasya. Butik Tasya tidak terlalu besar. Namun di dalamnya sudah tersedia berbagai model desaign baju yang keren-keren. Tasya memang berbakat dalam design baju. Karyanya tidak bisa dipandang sebelah mata. Model dan perpaduan warna kain yang di gunakan sangat apik dan pas.


"Hai Tasya..."


"Hai Riiinn..." mereka saling bercipika cipiki sebagai salam tanda kedekatan dari kedua nya.

__ADS_1


"Mau minum apa nih?"


"Apa aja deh"


"Okay beb" Tasya meminta asistant nya untuk membuatkan minuman hangat untuk sahabatnya itu.


"Jadi, hal penting apa yang mau loe tunjukin ke gue?"


Tasya menatap Erina dalam dan lalu tersenyum senang. Senyuman Tasya membuat Erina semakin penasaran dan ga sabar untuk segera mengetahuinya.


Tasya mengajak Erina ke meja kerjanya dan memamerkan gambar design gaun besar dan indah.


"Waaaaawww.... Tasyaaa... Ini bagus banget... Eh, Sebentar!! Jadi loe nyuruh gue kesini, cuma buat lihat design gaun loe yang ini Tas?" ucap Erina sedikit kesal.


"Menurut loe, ini gue lagi gambar gaun apa Rin?"


"Gaun pesta bukan? Eh, wait... Tapi kok kayak gaun pengantin ya? Hhhhaaaahh.... Tasyaaaaa... Loe mau married???" teriak Erina kegirangan.


Tasya memukul pelan kepala Erina. Ekspresinya sedikit kesal dengan ke sok tahuan Erina.


"Bukan gue yang mau married. Gue jamin loe pasti bakalan syok kalau loe tau ini gaun punya siapa"


"Trus punya siapa??"


Tasya menatap Erina dengan tatapan menggoda sengaja memperlambat infonya untuk membuat Erina kesal karna penasaran.


"Tasya... Jawab ini punya siapa? Loe ga asik banget ih.. Tunggu... tunggu... Biar gue tebak. Adel?" Tasya menggelengkan kepalanya.


"Chika?" kali ini Tasya mengangguk sambil tersenyum.


Erina membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang ia lihat.


"Tasya loe serius?"


"Yups, serius. Chika meminta gue buat men design baju pengantinnya"


"Itu dia Rin, gue juga belum dikasih tau kapan tanggal pastinya. Chika cuma minta gue buat siapin gaunnya aja. Yang penting sudah siap. Katanya sih begitu"


"Oo... Begitu... Ga nyangka ya Tas, ternyata kita sudah mulai tua. Temen kita sudah mau nikah. Gue bingung harus senang atau sedih" raut wajah Erina berubah sendu.


"Iya Rin Loe bener. Ga kerasa ya waktu berlalu begitu cepat. Padahal kayaknya baru kemaren deh kita lulus dari SMU. Sekarang udah ada yang mau married aja. Loe masih mending udah punya Dimas. Lah gue?" Ucapan Tasya terdengar sedih dan putus asa.


"Ga boleh begitu Tasya... Jodoh itu sudah di atur sama Tuhan. Gue yakin dan percaya suatu hari nanti loe pasti akan dipertemukan oleh Tuhan dengan laki-laki baik yang menyayangi loe lahir batin"


"Amiiinnn... Makasih ya beib..." Erina memeluk Tasya membantu menenangkan hatinya. Dan merekapun berpelukan.


Ditengah keasikan mereka berbincang-bincang, seorang laki-laki memasuki butik Tasya hendak mengambil pesanan gaun entah milik siapa.


"Selamat sore Kak... Ada yang bisa saya bantu?" sapa assistant Tasya dengan ramah.


"Emm... Iya. Saya mau ambil gaun pesanan saya" ucapnya sambil menyodorkan kertas putih bukti pembelian.


"Oh baik. Silahkan duduk dulu kak. Saya ambilkan barangnya." assistant Tasya bergegas mencari barang gaun yang dimaksud.


Kevin, laki-laki yang saat ini sedang berada di butik Tasya memilih tetap berdiri dan melihat lihat contoh contoh baju dan gaun yang digantung rapih. Beberapa manekin yang dilengkapin gaun juga tak luput dari pandangannya.


Mata Kevin tiba-tiba berhenti pada wajah Erina yang masih asik bersenda gurau dengan Tasya. Erina sendiri tak begitu memperdulikan kehadiran Kevin sebagai customernya Tasya yang baru saja datang.


Kevin masih sangat mengenali wajah Erina meski sudah hampir 7 tahun lamanya mereka ga pernah ketemu. Kevin sengaja mendekati sofa tempat dimana Erina duduk dan menyapanya.


"Erina?" dengan terkejutnya, Erina menolehkan pandangannya ke arah suara. Tasya juga ikut memalingkan pandangannya ke arah yang sama.


Kevin melempar senyum manisnya sedangkan Erina masih memaksa otaknya berpikir keras untuk mengingat satu nama dari laki-laki yang kini berada di hadapannya.


"Siapa ya?" gumam Erina lirih.


"Lupa ya sama gue?" ucap Kevin menggodanya. Otak Erina mulai familiar dengan wajah Kevin. Lambat laun Erina mulai teringat dengannya.

__ADS_1


"Elooo... Keviinn???" ucap Erina yang langsung direspon dengan sebuah anggukan kecil.


Selain karna faktor lamanya waktu tak berjumpa, Kevin juga sudah berubah menjadi sosok laki-laki dewasa dengan postur tubuh yang tinggi dan atletis. Wajahnya juga terlihat lebih terawat tanpa adanya jerawat. Bisa dibilang, Kevin yang sekarang terlihat lebih tampan.


"Kebetulan banget ya kita bisa ketemu lagi"


Erina hanya melempar senyum nyengir tanpa mampu membalas kata.


"Siapa Rin?" ucap Tasya sambil berbisik.


"Kevin, yang dulu pernah nembak gue" jawab Erina lirih dan berbisik dengan gerakan mulut yang dirapatkan. Tasya mengangguk paham.


"Loe kesini ngapain?" tanya Erina mengalihkan pembicaraan.


"Oh, gue lagi mau ambil pesanan gaun temen gue. Udah dari tadi sih. Tapi ga tau nih belum di anterin" Kevin sedikit berbohong supaya tak mati gaya. Padahal ia juga belum begitu lama berada di butik Tasya.


"O begitu..." jawabnya sambil menganggukkan kepala.


"Tas, gue balik ya... Udah hampir malam. Next kita meettime lagi ya..."


"Ok Rin. Loe hati-hati ya... Jangan lupa kalau loe besok married harus gue yang mendesign gaun loe, okay?"


"Iya sayangkuuu..." setelah bercipika cipiki Erina beranjak dari duduknya untuk pulang.


"Vin, gue duluan ya"


"Loe mau balik?"


"He-em"


"Gue anter ya"


"Ga usah, rumah loe kan ga searah sama gue. Lagipula loe juga pasti sibuk" Erina memang sengaja menolak Kevin secara halus karna tak ingin Kevin menjadi salah paham nantinya.


Erina berlalu meninggalkan Kevin keluar dari butik Tasya. Kevin mulai gelisah menunggu pesanannya datang. Dan tak butuh waktu lama assistant Tasya datang dan memberikan paperbag besar berisi pesanan gaun milik Kevin. Kevin menerimanya dengan buru buru dan langsung menyusul Erina yang sudah keluar dari butik.


"Erinaaaa...." panggilnya setengah berlari.


"Kita kan baru saja bertemu. Gue bolehkan ngobrol sedikit sama loe. Di dalam mobil aja ga papa. Sekalian gue anter loe pulang."


Cuaca sore itu memang gelap karna mendung. Dan rintikan hujan mulai turun. Turunnya hujan dari langit seakan berpihak kepada Kevin untuk meluluhkan Erina menerima tawaran memberinya tumpangan pulang.


"Sudah mulai hujan Rin. Yuuukk..." Erina menghela nafas panjang dan dengan terpaksa menerima tawaran Kevin untuk mengantarnya pulang.


#########


Kevin tersenyum senang akhirnya ia berhasil meruntuhkan keras kepalanya Erina dan membuatnya satu mobil dengannya. Sepanjang perjalanan, Kevin tak berhenti mengajak Erina mengobrol. Kadang juga memberikan lelucon yang membuat Erina tertawa lepas.


Tak terasa mobil Kevin sudah sampai di depan rumah Erina. Hujanpun sudah reda.Erina dan Kevin keluar dari mobil. Erina mengucapkan terima kasih sambil melempar senyuman ke arah Kevin.


"Makasih ya Vin udah nganterin gue nyampe rumah"


"Sama-sama. Gue seneng bisa ngobrol bareng sama loe lagi, seperti ini"


Erina tersenyum sambil mengangguk-angguk.


"Ya udah, gue balik ya"


"Ok. Hati-hati ya..."


Kevin melajukan kembali mobilnya meninggalkan Erina. Erina membalikkan tubuhnya berjalan ringan menuju pagar rumahnya. Betapa syoknya dia saat matanya melihat seseorang dengan wajah suram keluar dari mobil menatapnya dengan tatapan serius mematikan.


"Dimas?" ucap Erina lirih


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2