
(Edisi Khusus. Panjaaaanggg.....)
Selamat membaca ya readersku...
Semoga rasa lelah menunggunya terobati ya.. 😘****
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 7.15 WIB. Erina tengah bersiap siap berangkat ke kantor. Seperti biasa setiap pagi saat akan berangkat ke kantor, aplikasi ojol setia menemani Erina dan membantu mengantar dirinya sampai ke kantor. Satu nama driver sudah nyangkut di aplikasinya.
Sepotong roti dan segelas teh manis hangat telah mengisi perutnya. Erina mengintip dari balik tirai jendela, melihat dari dalam apakah driver ojolnya sudah sampai atau belum. Senyumnya tersungging tipis ketika matanya melihat jaket khusus berwarna hijau yang sudah siap dengan motornya terparkir di depan pagar rumahnya. Dengan segera, Erina mengambil tas dan keluar dari rumah.
Dengan langkah sedikit terburu buru, Erina langsung menyapa san driver yang sudah lengkap menutupi wajahnya dengan masker berwarna hitam dan langsung menerima helm darinya.
"Dengan Pak Herman kan ya..." sapa Erina memastikan
"Iya, ini dengan mba Erina ya..." driver dengan suara medhok sedikit aneh yang terdengar besar dan berat turut memastikan calon penumpangnya itu.
"Iya pak. Kita ke PT xxxxx ya..." driver ojol hanya mengangguk dan menyalakan mesin motornya. Erina duduk di kursi penumpang tanpa berpegangan dengan si driver.
Sepanjang perjalanan, tak ada percakapan yang terjadi diantara keduanya. Namun Erina sedikit merasa aneh dengan aroma parfum si abang driver ojol ini. Aroma parfum yang sangat familiar dengan hidungnya. Aroma parfum yang tak semua orang memakainya. Mungkin walaupun ada orang lain yang menggunakan parfum dengan merk yang sama, pasti tetap akan tercium berbeda jika sudah bercampur dengan kulit dan keringat si pemakai. Tapi aroma ini...
"Nih driver parfumnya kok mirip kayak parfumnya Dimas ya..." batin Erina bertanya tanya.
###FLASHBACK###
Bodyguard Dimas sudah menyiapkan sebuah motor matic lengkap dengan dua buah helm dan jaket khas ojol. Dimas sendiri sudah berada dalam perjalanan menuju rumah Erina. tepat pukul tujuh pagi, mobil Dimas sudah terparkir di dekat rumah Erina. Ketika sebuah motor ojol mendekati rumah Erina, dengan sigapnya para bodyguard Dimas memainkan perannya.
Dengan senang hati si driver ojol itu meninggalkan rumah Erina setelah ia mendapatkan sejumlah uang dalam nominal yang sangat besar untuk harga sebuah perjalanan. Driver ojol tetap mengaktifkan pesanan aplikasinya menuju kantor Erina. Dan Dimaslah yang sekarang menggantikan posisi si driver ojol itu.
Dengan tenang Dimas menunggu belahan jiwanya keluar untuk menemui dirinya. Dan mobil Dimas segera di amankan oleh sang bodyguard meninggalkan rumah Erina. Kini tinggal Dimas yang akan menjalankan misi utama selanjutnya.
##########
Di tengah perjalanan, Dimas berusaha sekuat tenaga menahan tawanya karna merasa geli dengan sikapnya yang telah dengan sengaja menjahili wanitanya.
Motor Dimas melaju tenang menyusuri jalanan yang mulai dipadati kendaraan. Awalnya Erina terdiam menikmati perjalanan. Lama lama Erina mulai ngeh akan perbedaan rute yang mereka tempuh.
"Pak..Pak... Maaf. Sepertinya bapak salah jalur deh. Ini bukan arah jalan menuju kantor saya." Erina mulai panik dengan driver ojolnya.
"Saya ambil jalur cepat mba... Biar ga kena macet"
"Iya tapi tetep aja, Bapak salah jalur." Erina mulai panik dengan kejanggalan yang terjadi dengan dirinya.
"Tenang mba, nanti pasti nyampe kok" Dimas bisa banget mengubah logat suaranya menjadi logat suara orang jawa ngapak yang berhasil tak dikenali oleh Erina.
Dimas menambah kecepatan laju motornya. Erina sudah mulai curiga akan dirinya. Ia takut Erina akan berbuat nekad yang bisa membuat semua rencananya gagal berantakan.
Dddrrttt... Ddrrrttt...
Dimas merasakan adanya getaran dari dalam saku bajunya. Suara panggilan telpon. Dimas tersenyum kecil, merasa yakin kalau panggilan itu pasti berasal dari ponsel Erina yang sepertinya menghubunginya untuk dimintai perrtolongan. Seketika wajah Dimas sumringah dan penuh semangat karna wanitanya selalu teringat akan dirinya.
"Pak... Pak... Tolong berhenti sebentar" suara Erina tiba-tiba mengejutkan konsentrasi Dimas yang sedang fokus.
"Ada apa mba?" ucapnya tanpa menghentikan laju motornya.
"Saya turun di sini aja Pak. Tolong berhenti di sini" teriak Erina.
"Maaf mba, ndak boleh berhenti disini" Dimas menambahkan kembali laju motornya membuat Erina refleks memegang pinggangnya. Erina mulai terlihat panik dan takut. Motor Dimas melaju cukup kencang dan kini telah memasuki komplek rumahnya. Erina menggigit bibir bawahnya kuat kuat. Bayangan akan perbuatan penculikan terlintas kuat di benaknya. Dalam hati ia terus berdoa kepada Tuhan agar ada seseorang yang akan membantu menyelamatkan dirinya. Berkali kali Erina mencoba menghubungi ponsel Dimas tapi tak pernah ada jawaban.
"Dimas pleaseee.... Angkat telponnyaaa.... Aku takuuuttt" batinnya berteriak.
Dimas membunyikan klakson motor tanpa menghentikan laju motornya. Pintu gerbang besar pun terbuka segera. Semua sudah tersetting sempurna. Dimas memasukkan motor dan memarkirkannya di halaman samping rumahnya.
Erina bergegas turun dari motor dan mencoba untuk berlari. Tangan Dimas dengan cepat langsung menarik tangan Erina dan menahannya agar tak bersikap anarkis. Raut wajah Erina terlihat sangat ketakutan. Hampir saja Dimas melepaskan tawanya karna ga tega melihat wanitanya ketakutan seperti itu.
"Siapa kamu!!!" Erina mencoba memberanikan diri untuk menggertak meski wajah takutnya tak bisa ia tutupi.
Bukannya membuka helm dan masker, Dimas malah sengaja membuat Erina semakin ketakutan.
"Aku akan teriak sekencang kencangnya kalau kamu macem macem sama aku!!!" Dimas tersenyum dibalik maskernya. Dan perlahan membuka helm dan maskernya. Mata Erina terbelalak tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Seorang laki laki tinggi tegap berjaketkan jaket ojol tersenyum manis kepadanya.
"Di-Dimaaasss???" jemari Erina menutupi mulutnya yang sudah ternganga. Ada sebuah kelegaan karna orang yang membuatnya takut bukan orang yang berbahaya untuknya.
Dimas membuka jaket ojolnya dan di letakkan begitu saja di atas motor. Senyuman manisnya tersungging di bibirnya. Erina masih terpaku dalam posisinya.
"Dimas, kamu jahaaatt... Kalau jantung aku copot bagaimana?" Dimas terkakak dengan gertakan Erina yang sedang marah.
"Maaf ya sayangku... Janji ga ulangi lagi" tangan Dimas menunjukkan huruf V sebagai tanda perdamaian dan simbol sebuah janji.
Dengan percaya diri Dimas langsung menggandeng tangan Erina untuk di ajak ke dalam. Genggaman tangan Dimas tertahan oleh Erina yang menuntut adanya penjelasan darinya.
"Dimas, ini rumah siapa? Kenapa kamu bawa aku ke sini?" ucapnya sambil memperhatikan bangunan megah dan besar. Dimas tersenyum mendengar pertanyaan Erina yang polos.
"Nanti kamu akan tau sendiri" Erina tetap menolak untuk mengikuti langkah Dimas yang menariknya ke dalam. Pikirannya langsung tersadar akan kemungkinan rumah yang akan di masukinya adalah rumah Dimas.
"Dimas, ini rumah kamu??" mata Erina menatap tajam wajah Dimas yang masih hanya tersenyum nakal kepadanya.
"Dimas, jawab dulu" bukan Dimas kalau ga bikin Erina jengkel. Kedipan nakal dan gerakan menggenggam tangan Erina, menggandengnya paksa masuk ke dalam.
Rumah Dimas sangat besar dan terbilang mewah. Hati Erina seketika menciut. Tiba-tiba rasa minder menyeruak ke seluruh tubuhnya. Selama ini entah kenapa ia tak bisa membayangkan fakta tentang Dimas. Dirinya hanya sibuk dengan rasa cintanya kepada Dimas, tanpa sadar akan kenyataan latar belakang Dimas yang sesungguhnya.
Sebenarnya Erina tau kalau keluarga Dimas adalah keluarga kaya dan berada. Namun selama ini yang tak ada di benaknya adalah Pikiran akan fakta yang sesungguhnya Dimas dan keluarganya. Ia tak pernah membayangkan kalau ternyata rumahnya Dimas sebesar ini. Jika dibandingkan dengan dirinya maka tak ada seper sekiannya dari apa yang dimiliki oleh Dimas.
Erina jadi teringat kata kata yang pernah terucap oleh Wulan dahulu tentang siapa Dimas dan siapa dirinya. Kenyataan di depan matanya kini sungguh membuatnya terbangun dari lamunan yang selama ini telah asik membuainya.
Genggaman erat tangan Dimas memaksanya harus mengikuti langkah kakinya memasuki pintu rumah Dimas. Rasa minder yang tinggi terasa menyesakkan dada. Luas dan besarnya rumah Dimas 8x luas rumah Erina yang hanya berukuran 120 Meter.
Dimas langsung mengajak Erina ke meja makan. Dan kebetulan orangtuanya masih menikmati sarapan paginya berdua. Dengan wajah yang sumringah Dimas menyapa orangtuanya masih sambil menggandeng erat tangan Erina.
"Morning Pa, Ma..." senyuman lebar mengembang di bibir Dimas yang bertolak belakang dengan Erina yang mematung tanpa senyuman.
Kedua orangtua Dimas saling berpandangan sedikit terkejut dengan kelakuan nakal anaknya yang sudah menculik calon anak menantunya pagi-pagi.
__ADS_1
"Erina?" sapa mama Dimas dengan senyumnya.
"Ayo duduk, ikut kita sarapan" Dimas menarik Erina untuk duduk dan menikmati sarapan pagi bersama.
"Kamu harus cobain nasi gorengnya Mamaku yang paling cantik sedunia. Ennnnaaaakk bangeeettt..." pujinya sambil melirik ke arah mamanya sambil tersenyum nakal. Mamanya hanya memandang malas ke arah Dimas sambil mendengus kecil.
"Ayo Erina, jangan malu malu ya..." ucap Ibu Devita dengan senyumnya.
"I-iya tante..." sikap dan senyum kikuk Erina tergambar jelas di wajahnya.
Pagi itu Erina ikut menikmati sarapan pagi yang kedua di rumah Dimas. Degub jantungnya berdetak tak karuan. Nafasnya pun terasa sesak menahan ketegangannya.
"Bagaimana kerjaan kamu, Erina? Betah kerja bareng Dimas?" ucap pak Nugra tiba-tiba di tengah makan.
"I-iya saya betah om, em pak Nugra" Pak Nugra hanya tersenyum melihat sikap canggungnya Erina.
"Apa Dimas membuat kamu tertekan dalam bekerja?" Erina menolehkan pandangan ke arah Dimas dan tertawa kecil karenanya. Pertanyaan papanya membuat Dimas menghentikan kegiatan makannya dan langsung memberikan jawaban sanggahan untuknya.
"Tidak. Dimas selalu mendukung saya"
"Jangan sirik gitu deh Pap"
"Ya papa kan tau betul karakter usil nya kamu. Makanya papa nanya. Betul kan Erina?" senyum Erina mengembang di wajahnya ketika melihat dua laki laki dewasa saling bercanda bersilat lidah.
Suasana makan pagi pun berjalan mulus. Mereka menyelesaikan santap pagi dengan hangat diselingi percakapan dan candaan. Papa Dimas beranjak dari duduk dan menuju kamar untuk bersiap ke kantor. Ibu Devita langsung melarang Erina yang berniat membantu membereskan piring kotor bekas sarapan mereka.
"Biar bibi sama si embak saja nanti yang bereskan. Kamu ikut tante saja yuk" Erina mengangguk pelan mengikuti calon mertuanya menuju ke ruang keluarga.
Tak lama berselang pak Nugra keluar dalam keadaan rapi dan berpamitan untuk berangkat ke kantor. Erina jadi teringat akan tujuan utama dirinya hari ini adalah untuk berangkat ke kantor.
"Dim, aku juga harus ke kantor. Ini sudah siang. Aku pasti udah terlambat."
"Hari ini kamu aku liburkan"
"Apa?"
"Yups, tugas kamu hari ini adalah menemani calon ibu mertua kamu seharian. Paham!" Erina membulatkan matanya kurang paham akan arti sesungguhnya ucapan Dimas. Satu jam saja bersama orangtuanya Dimas sudah berhasil membuatnya sesak nafas apalagi mesti seharian?
"Waaaahhh... Boleh tuh idenya Dimas. Kebetulan banget mama hari ini pengen ke butik sama belanja bulanan. Erina ikut ya..." Ibu Devita langsung menyambar ketika kembali dari mengantarkan sang suami. Mati kutu ia dengan permintaan si calon ibu mertua. Hanya senyuman kikuk dan anggukan kecil yang akhirnya bisa Erina lakukan.
"Okay baby, kamu baik baik di rumah ya... Tolong jadilah bodyguard yang baik untuk ibu mertua kamu. Suamimu ini mau berangkat kerja dulu.. Doakan aku dapet rejeki yang banyak hari ini ya..." Erina memandang malas ke arah Dimas yang sudah cengar cengir dan ditambah sang mama yang juga tertawa kecil dengan sikapnya.
Tanpa rasa malu, Dimas mengecup kening Erina dan pergi berlalu menuju kantor. Perlakuannya itu sudah seperti suami yang sedang berpamitan dengan istri yang akan berangkat kerja. Wajah Erina memerah karna malu dilihat oleh calon ibu mertuanya. Namun, mama Dimas hanya tersenyum bahagia melihatnya.
Sepergian Dimas Erina masih terdiam dalam duduknya. Masih canggung dan kikuk. Ibu Devita mengerti perasaan calon menantunya itu. Karna dulu dirinya pun juga merasakan hal yang sama. Canggung, panik, kikuk dan gugup saat berhadapan dengan mertuanya.
"Erina, kamu ga perlu canggung dan kikuk seperti ini. Santai saja. Anggap ini rumah kamu. Kan sebentar lagi rumah ini juga akan jadi rumah kamu" ucapnya penuh senyum.Erina menelan ludah mendengar perkataan dari ibu mertuanya. Rasanya bahagia banget dirinya diterima baik di tengah tengah keluarga Dimas. Dan lagi lagi hanya anggukan dan senyuman kecil saja yang bisa Erina lakukan.
"Karna masih pagi, gimana kalau kita ke samping rumah. Tante punya beberapa koleksi tanaman yang sedang berbunga. Mau?"
"Mau tante." Erina sangat antusias dan langsung mengiyakan ajakan menarik dari sang calon mertuanya itu. Ibu Devita mengangguk dan mereka berdua beranjak dari duduknya menuju ke samping halaman rumahnya.
#######
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Erina berniat pamit untuk pulang. Namun niatnya itu di cegah oleh Ibu Devita.
"Sudah sore tante, saya permisi pulang dulu ya... Terima kasih untuk hari ini. Saya senang sekali bisa menghabiskan waktu seharian dengan tante" ucapnya sambil mengambil tas nya bersiap untuk pulang.
"Kamu mau pulang? Sendiri? Enggak... Enggak... Nanti tunggu Dimas pulang dulu ya. Biar Dimas yang antar kamu pulang"
"Ga apa-apa tante. Saya bisa pulang sendiri kok. Lagipula Dimas juga pasti capek. Saya ga mau ngrepotin Dimas."
"Pokoknya kamu ga boleh pulang. Nanti kalau tante biarin kamu pulang sendiri, Dimas pasti marah sama tante. Sambil nunggu Dimas pulang, kamu cobain marmer cake buatan tante ya.." Ibu Devita memanggil bi Atun untuk mengambilkan marmer cake miliknya di dalam kulkas. Tak lama berselang, bi Atun datang dengan sebuah nampan berisikan piring kecil dan marmer cake yang tampilannya sangat menggoda indra pengecapan.
Ibu Devita memberikan satu slice cake untuk Erina. Lidah Erina terasa bagai dimanjakan dengan rasa manis, lembut dan nikmat dari setiap potongannya.
"Hhhhmmmm... Tante ini enak banget..." Ibu Devita tersenyum puas dengan pujian calon menantunya itu. Ekspresi nikmat dari wajah Erina benar benar tulus. Satu slice cake yang diberikannya pun langsung tandas dalam sekejap.
Ting tong....
Bel rumah Dimas berdenting sangat nyaring. Bi Atun bergegas membuka pintu. Seorang wanita muda yang cukup familiar tersenyum ramah kepadanya.
"Nyonya, ada neng Wulan di depan" Ibu Devita cukup terkejut dengan ucapan Bi Atun yang menyebutkan sebuah nama yang sangat familiar di telinganya.
"Wulan?" ucapnya lagi memastikan.
"Iya, neng Wulan yang pernah tinggal di sini" Ibu Devita memandang Erina yang terlihat murung dengan adanya kehadiran seorang wanita di rumahnya.
"Ok. Makasih ya Bi" baru saja ibu Devita akan beranjak dari duduknya dan akan menuju ke ruang tamu menyambut kehadiran Wulan, dirinya sudah dikejutkan dengan sosok wanita cantik yang telah berubah menjadi wanita dewasa yang kini telah berdiri di depannya sambil tersenyum sambil merentangkan tangan memberi kejutan.
"Tanteeee...." senyum lebar Wulan tersungging di bibirnya.
"Wulan?" setengah berlari Wulan menghampirinya dan langsung memeluk tubuh wanita separuh baya itu dengan erat. Pelukan hangat antara anak dan ibunya.
"Wulan kangen banget sama tante..."
"Kamu apa kabar? Kok ga pernah kasih kabar?" Wulan terperangah ketika matanya melihat seorang wanita yang sepertinya ia kenal.
"Eloo... Erina kan?" tatapan wajah tak suka Wulan tergambar jelas disana. Seribu pertanyaan langsung menyeruak di kepalanya.
"Wulan, kamu kenal juga sama Erina?" Wulan hanya terdiam dengan pertanyaan mama Dimas. Mulutnya terlalu malas untuk mengakui kenyatan yang membuatnya harus mengingat kejadian tak mengenakan masa sekolah dulu.
"Kami teman satu angkatan saat SMU dulu tante." jawab Erina dengan senyumnya. Ibu Devita tertawa merasa geli karna ia lupa kalau Wulan dan Erina bersekolah yang sama dengan anaknya.
"Oia ya tante lupa. Kalian kan satu sekolah sama Dimas ya... Ayo sayang kamu duduk dulu. Kamu ke sini sama siapa?" Ibu Devita menuntun Wulan untuk duduk bersamanya.
"Sendiri tante...Ngomong-ngomong Erina kok ada disini? Ada perlu apa?" ucapnya sambil melirik sinis ke arah Erina.
"Oo... Tadi Dimas yang bawa Erina datang kesini buat nemenin tante jalan jalan. Oia Wulan, Erina ini calon istrinya Dimas loh... Kamu sendiri bagaimana? Kamu udah nikah?" pertanyaan dan perkataan Ibu Devita terdengar sangat menyakitkan di telinga Wulan. Kalau ia bukan orangtua Dimas, ingin sekali rasanya untuk memakinya atas kelancangannya yang sudah dengan beraninya menyebut nama Erina sebagai calon istrinya Dimas.
Wulan masih terpaku, tertegun dan syok dengan fakta yang ada. Mulutnya tak mampu untuk berucap. Sejenak Wulan larut dalam lamunannya. Pikirannya terlalu sibuk menyadarkannya untuk bisa menerima kenyataan. Ditariknya bibirnya dengan paksa agar memunculkan sebuah senyuman meski terlihat tidak tulus. Baru saja mulutnya akan berucap, Dimas sosok utama yang dinanti muncul dari belakang mereka.
__ADS_1
"Waaaaahhh... Rame sekali di sini ya..." ucapnya sambil mendekati Erina yang tersenyum menyambut kehadirannya.
"Hai sayang, gimana tadi jalan jalannya? Seru?" anggukan kecil dan senyuman sumringah sebagai jawaban atas pertanyaannya.
"Jadi udah ada Erina, mamanya dilupain nih?" Dimas menolehkan pandangan ke arah mamanya yang pura-pura cemberut dan membuat Dimas tertawa geli olehnya. Menatap wajah sang mama membuatnya terperangah dengan kehadiran seorang wanita disebelahnya yang sangat familiar dengannya.
"Wulan?" tanpa rasa malu sama sekali, Wulan berlari memeluk Dimas tanpa memperdulikan perasaan orang orang yang melihat dirinya.
"Kak Dimaaasss... Aku kangeeennn bangeeett sama kakak" Wulan memeluk Dimas dengan erat dan sengaja bermanja manja meluapkan rasa rindunya selama ini.
Erina menunduk dan memalingkan wajahnya tak ingin berlama lama melihat pemandangan menyakitkan yang tersaji di hadapannya.
"Wulan... Wulan... Tolong jangan seperti ini" Dimas mencoba untuk melepaskan pelukannya yang sudah pasti membuat Erina tak nyaman dengannya.
"Sebentar aja... Aku masih kangen banget sama kakak... Kamu jahat kak, kamu ga pernah telpon aku." rengekan Wulan terdengar sangat manja, seperti seorang adik yang meminta permen kepada kakaknya.
"Maaf aku sibuk"
"Kak, kata tante Devita Erina itu calon istri kamu? Itu ga bener kan?" tatapan mata Wulan mengisyaratkan harapan akan jawaban iya dari Dimas yang membenarkan ucapannya.
"Iya itu benar, Erina calon istri aku. Sebentar lagi kita akan menikah" Wulan melepaskan pelukannya. Tubuhnya terasa lemas dan gontai. Darahnya seakan mendidih saat Dimas dengan lancangnya mengatakan kalau dia akan menikah dengan Erina. Wulan menatap Dimas dengan tatapan penuh amarah dan kebencian. Bertahun tahun ia berusaha untuk dekat dan lebih dekat namun semua harus berakhir pahit seperti ini.
"Kamu jahat Dimas... Kamu jahat !!!" gertak Wulan sambil berteriak dan lalu berlari keluar meninggalkan rumah Dimas dengan perasaan kecewa dan hancur. Ibu Devita yang tak mengerti dengan apa yang terjadi mencoba untuk mengejar Wulan.
"Wulan... Wulan..." Ibu Devita menatap Dimas sekilas dan lalu setengah berlari mengejar Wulan yang sudah lebih cepat berlari meninggalkan ruang tengah keluarga. Dimas hanya terdiam dalam posisinya tanpa suara. Erina juga memilih untuk tetap diam memberi kesempatan Dimas untuk menenangkan dirinya.
Dimas melangkah mendekat dan mendudukkan dirinya disebelah Erina. Disandarkannya kepalanya ke belakang sofa. Dihelanya nafas panjang sambil meraih tangan Erina dan digenggamnya.
"Maaf" Dimas memejamkan matanya sejenak. Dipijit pijitnya pelan pangkal hidungnya dengan sebelah tangannya merasa lelah dengan kejadian sama yang harus terulang seperti beberapa tahun yang lalu.
"Dimas, apa kamu baik-baik aja?" ucap Erina dengan hati-hati. Dibukanya matanya dan ditatapnya dalam dalam mata Erina yang sudah menatapnya.
"Justru harusnya aku yang bertanya. Kamu ga apa-apa kan dengan sikap Wulan. Dia memang selalu begitu. Maaf ya..." Erina menggeleng sambil tersenyum. Tak ada yang harus dikhawatirkan lagi tentang Wulan. Dirinya sudah sangat yakin dengan cinta Dimas yang sangat besar kepadanya. Saat ini, Dimaslah yang butuh dukungan darinya. Dukungan tentang sebuah arti kebesaran hati.
Ibu Devita terlihat panik saat kembali. Pasalnya ia tak berhasil mengejar Wulan untuk kembali bersamanya.
"Dimas... Wulan pergi. Bagaimana ini? Mama kuatir dia kenapa napa" ibu Devita meremas kedua jari jarinya sambil berjalan mondar mandir merasa panik.
"Mama tenang aja. Ga akan terjadi apa apa sama Wulan. Lagipula dia juga sudah dewasa. Dia mampu membawa dirinya kemanapun dia suka"
"Tapi Dim, mama tetep khawatir. Walau bagaimanapun, dia kan anak perempuan. Kalau di jalan dia... Ah tidak..tidak... Aduh kepala mama tiba tiba jadi pusing"
"Tuh kaaann.... Makanya udah deh Ma, mama jangan khawatir seperti itu. Toh, Wulan itu juga bukan anak mama kan yang perlu di khawatirkan?" Dimas memapah sang mama duduk kembali ke sofa dan memberinya minum agar lebih tenang.
"Apa perlu kita cari Dim?" ucap Erina mencoba berempati.
"Ga perlu. Aku yakin, dia baik baik aja. Aku tau siapa Wulan. Kamu ga usah khawatir" Erina hanya mengangguk kecil.
"Mama ke kamar aja ya, istirahat. Dimas mau antar Erina pulang dulu"
"Ya udah mama ke kamar ya. Kamu hati hati di jalan ya sayang"
"Saya pamit pulang dulu tante..."
"Iya. Terima kasih ya buat waktunya sudah nemenin tante seharian"
"Sama sama tante, saya senang melakukannya" Mama Dimas beranjak dari kursi dan berjalan perlahan menuju kamarnya.
#############
Erina menatap wajah sendu Dimas yang masih fokus melajukan mobilnya. Entah apa yang sedang ia pikirkan saat ini. Dihelanya kembali nafasnya dan membiarkan Dimas larut dalam pikirannya.
Jalanan sore menjelang malam itu lumayan padat. Mungkin karna termasuk jam pulang kerja jadi banyak kendaraan yang memadati jalanan.
Tak butuh waktu lama mobil Dimas sudah terparkir di depan pagar rumah Erina. Sejenak mereka saling terdiam. Dimas terlihat kesal. Wajahnya yang diam seakan sedang menahan emosi yang sedang bergejolak dalam dirinya.
"Makasih ya Dim" Dimas menolehkan pandangannya dan mengangguk pelan.
"Ya udah aku masuk ya..."
"Erina..."
"Ya"
"Aku berharap kehadiran Wulan tak lantas membuat kamu berpikiran yang aneh aneh sama aku. Aku ga tau kenapa dia tiba-tiba datang kembali di saat kita akan melangkah ke jenjang utama kita." Dimas meremas erat gagang stir mobil dengan kepala menunduk.
Perkataan Dimas sungguh membuat Erina tersentuh. Senyum kecil tersungging di bibirnya. Ternyata hal itu yang sedari tadi dipikirkan oleh Dimas.
"Aku ga apa-apa kok Dim. Aku percaya sama kamu" Erina menghela nafas kembali menata hati dan ucapannya yang akan ia lontarkan.
"Justru sebenarnya akulah yang merasa malu" ucapan Erina berhasil membuat Dimas harus menatap dalam dirinya dan memaksanya memberikan penjelasan dari ucapannya.
"Malu? Maksud kamu?"
"Selama ini ternyata aku hanya fokus sama besarnya cinta yang aku miliki sampai sampai aku lupa akan siapa sebenarnya aku dan siapa sebenarnya kamu."
"Aku ga ngerti sama ucapan kamu?"
"Dimas, apa kamu sudah yakin sepenuhnya dengan keputusan kamu untuk menikah denganku? Apakah kamu sudah memikirkan baik buruknya menikahi aku?"
"Baru saja kamu bilang kalau kamu percaya sama aku. Tapi kenapa tiba tiba kamu melontarkan pertanyaan yang seakan kamu masih meragukan keseriusanku?"
"Aku ga pernah meragukan keseriusan kamu sedikitpun Dimas. Justru akulah yang merasa kurang pantas untuk kamu. Aku berasal dari keluarga yang sangat jauh di bawah kamu. Keluargaku ga bisa disejajarkan dengan keluarga kamu. Sedangkan kamu, bisa di bilang kalau kamu..." Erina belum sempat melanjutkan ucapannya, Dimas langsung menyela "Kalau aku anak dari orang kaya yang bergelimang harta. Begitu maksud kamu?" ucapan tegas Dimas membuat Erina terdiam.
"Aku ga pernah melihat seseorang dari segi ekonominya. Yang aku lihat adalah bagaimana karakter asli si orang tersebut. Aku ga butuh harta kamu Erina. Karna aku sudah memilikinya. Aku ga perduli bagaimana kondisi keluarga kamu. Yang aku butuh cuma kamu. Kesetiaan dan cinta yang besar kamu untuk aku. Itu sudah cukup untukku. Dan orangtuaku juga tidak mempermasalahkan masalah latar belakang ekonomi keluarga kamu. Apakah ini masih terus kamu jadikan alasan untuk kamu selalu merasa minder atau rendah diri di depanku?" Erina menelan ludahnya dan menipiskan bibirnya. Sementara jarinya sudah saling terpaut menenangkan hatinya.
"Kalau aku hanya memprioritaskan uang di atas segalanya, aku ga mungkin mempertahankan hubungan ini sampai sejauh ini. Kamu mengerti?" ucap Dimas yakin dan penuh penekanan.
"Maafkan aku..." perkataan Dimas membuat Erina merasa tak enak hati. Apa yang dikatakan Dimas memang benar. Namun perbedaan yang sangat mencolok juga sangat manusiawi untuk di keluhkan bukan. Meskipun itu bukan sebagai tolok ukur utama dari sebuah hubungan, tapi tetap saja rasa minder dan malu pasti akan menjadi bagian utama yang dirasakan dari yang berbeda.
.
__ADS_1
.
.