
Mobil Dimas sudah terparkir di depan pagar rumah Erina. Dimas mematikan mesin mobil dan membuka sabuk pengamannya. Dimas tertawa kecil melihat Erina yang sudah tertidur pulas entah sejak kapan. Malam memang sudah hampir larut. Sepertinya Erina lelah dan akhirnya tertidur. Disibaknya rambut Erina yang menutupi sebagian wajah cantik nya. Dimas memandangi wajah wanita nya dengan tatapan sayang dan penuh kelembutan.
Awalnya Dimas ingin mencium lagi bibir Erina seperti beberapa waktu yang lalu. Namun mengingat reaksi Erina yang menjadi marah, Dimas akhirnya mengurungkan niat isengnya itu. Dimas meniup niupkan udara dari mulut nya ke wajah Erina yang menimbulkan rasa geli di wajahnya. Erina pun terbangun karna rasa geli dari tiupan angin mulut Dimas.
Erina mengernyapkan matanya berusaha mengumpulkan seluruh nyawanya untuk menyadarkan dirinya. Suasana sempit dan kurang leluasa dari ruangan kecil yang Erina tempati menyadarkan dirinya bahwa ia masih berada di mobil bukan di ranjangnya. Erina terkesingkap saat wajahnya hampir menabrak wajah Dimas yang saat itu sangat dekat dengan wajahnya.
Dimas tertawa lebar saat Erina terlihat salah tingkah dan merasa dirinya bodoh karna sudah ketiduran di dalam mobilnya.
"Sejak kapan aku tertidur?" tanya Erina mengalihkan rasa malunya.
"Entahlah. Tapi kamu terlihat begitu imut saat tidur" goda Dimas dengan senyumannya yang terlihat sangat puas. Wajah Erina pun memerah menahan malu.
"Terima kasih ya Dim sudah antar aku sampai rumah"
"Kenapa sih kamu selalu ngucapin terima kasih terus?"
"Kamu ini orang yang aneh"
"Aku...? Aneh?" Erina mengangguk-anggukkan kepalanya dan lalu tertawa geli melihat ekspresi Dimas yang ga terima dikatakan aneh.
"Yah mungkin benar aku adalah orang aneh yang sudah berhasil membuat kamu tergila-gila sama aku. Benarkan?" tawa Erina langsung berubah menjadi tatapan malas dan kesal saat Dimas dengan pede nya menggoda dirinya dengan perkataan yang seolah-olah menyudutkan dirinya.
"Diihhh.. GR banget sih kamu" ucap Erina sambil memanyunkan bibirnya membuat Dimas tertawa ngakak olehnya.
Dimas dan Erina keluar dari mobil. Dimas mendekatkan dirinya ke arah Erina. Tangan Dimas menyibakkan kembali rambut Erina ke belakang. Menyentuhnya dengan lembut sambil tersenyum membuat Erina tak berdaya olehnya.
"Kamu istirahat ya. Jangan lupa untuk selalu mimipin aku" Erina tertawa geli dengan perkataan Dimas yang terdengar begitu lebay.
"Kamu hati-hati di jalan ya... Sampai di rumah langsung istirahat" ucap Erina membalikkan ucapan Dimas.
"Setiap malam aku selalu susah untuk tidur" ucapan Dimas membuat Erina terkejut dan bertanya.
"Benarkah? Kenapa? Apa karna kamu terlalu capek kerja seharian? Jadinya kamu susah untuk tidur?" Dimas hanya menggeleng dan menyunggingkan senyum simpulnya.
"Kamu mau tau kenapa?" Tatapan nakal Dimas membuat Erina mengerti kalau ini adalah keisengan yang Dimas ciptakan untuk menggoda dirinya.
"Hhmmm... Aku tau, pasti kamu mau bilang kalau kamu ga bisa tidur karna selalu terbanyang-bayang wajahku? Benarkan??? Dasar cowok gombal"
"Kamu salah..." sanggahnya cepat.
(Erina tertawa kecil tak percaya dengan sanggahan Dimas)
"Lalu apa?" tanya Erina penasaran.
"Alasannya karena...Saat aku ingin tidur, kamu ga ada di samping aku" ucapnya pura-pura sedih.
Erina membulatkan matanya. Seperti sedang berada didalam ayunan, jiwa Erina rasanya seperti sedang diayun dengan ucapan Dimas. Candaannya sungguh membuat dirinya tak tau harus berkata apa lagi. Spechlees, yah seperti itulah. Erina tertawa lebar dan lepas menanggapi ucapan yang baru saja dilontarkan oleh Dimas. Ucapan Dimas yang terdengar lucu dan menggelikan.
"Kenapa kamu tertawa?" Dimas menunjukkan raut wajah tidak sukanya. Namun Erina masih saja tertawa. Kali ini ia tertawa dengan menutup mulutnya menggunakan jari-jarinya supaya Dimas tidak tersinggung.
"Hihihi... Maaf. Soalnya kata-kata kamu terdengar sangat lucu"
__ADS_1
"Aku bukan badut loohh... "
"Iya maaf. Udah ah kamu becanda mulu. Aku masuk ya... Byeee.... " Dimas menganggukkan kepalanya dengan yakin. Erina memasuki pintu pagarnya sambil melambaikan tangan perpisahan ke arah Dimas.
Dimas melajukan mobilnya meninggalkan rumah Erina dan bergegas untuk kembali ke rumahnya.
##########
Semakin hari pekerjaan Erina semakin banyak. Banyak data-data keuangan yang harus ia kerjakan dan harus sesuai dengan deadline yang sudah ditentukan. Tak jarang Erina harus lembur pulang agak malam untuk menyelesaikan pekerjaan nya itu. Terkadang saking sibuknya ia pun harus terlambat makan demi bisa menyelesaikan pekerjaannya itu tepat waktu.
Tttiiingg...
Satu pesan dari Dimas muncul di ponsel Erina. Erina membaca pesan itu disela-sela kesibukannya.
Temui aku di parkiran VIP sekarang...
Erina tertegun dengan isi pesan Dimas. What? Sekarang?
Maaf Dim, kalau sekarang aku ga bisa. Kerjaan aku masih banyak dan belum selesai.
Dimas menggeram kesal dengam penolakan yang dilakukan Erina.
KALAU AKU BILANG SEKARANG YA HARUS SEKARANG!! AKU KASIH KAMU WAKTU 5 MENIT UNTUK SAMPAI DISINI...
Mata Erina terbelalak membaca isi pesan tegas dari Dimas. Erina hanya bisa menarik nafas panjangnya dan berusaha untuk menekan emosinya. Otaknya berpikir keras menemukan sebuah alasan agar ia bisa keluar menemui Dimas. Erina memberanikan diri untuk meminta ijin Mieke, atasannya langsung untuk bisa pergi meninggalkan ruang kerjanya.
Namun sayangnya alasan yang Erina sampaikan tidak diterima oleh Mieke. Atasanya tak semudah itu memberikan ijin kepada Erina untuk bisa meninggalkan ruangan. Apalagi alasan yang Erina sampaikan dianggapnya tidak jelas. Erina pun juga tak bisa memaksakan kehendaknya untuk melanggar larangan dari Mieke.
Satu pesan masuk di ponsel Dimas.
Maaf Dim, aku ga dikasih ijin sama bu Mieke untuk meninggalkan ruangan. Soalnya pekerjaan aku memang masih banyak. Tolong kamu mengerti...
Dimas menggertakan giginya merasa kesal karna sudah dibantah. Dimas akhirnya memutuskan untuk menghubungi langsung telpon ruangan Erina.
"Erina, tolong kamu ke area parkiran VIP sekarang dan kasihkan berkas ini kepada pak Dimas disana" tiba-tiba secara mengejutkan Mieke meminta dirinya untuk pergi ke area parkiran.
Erina tercengang tak percaya dengan apa yang sudah Dimas lakukan.
"Dimas kamu bener-bener nekad ya... " batin Erina.
"Erinaaa.... " suara Mieke membuyarkan lamunan Erina.
"I-iya bu... Baik saya ke sana sekarang"
Erina menerima map yang berisi berkas dan beberapa dokumen dari Mieke dan langsung berjalan keluar menuju area parkiran VIP untuk bertemu Dimas.
#########
Erina sudah sampai di area parkiran VIP. Matanya masih sibuk mencari keberadaan mobil Dimas. Walaupun area parkiran VIP, namun mobil mobil yang terparkir disana lumayan cukup banyak. Ditambah lagi tempatnya yang luas membuat Erina harus berusaha keras untuk mencari posisi mobil Dimas berada.
Dari dalam mobil, Dimas menyunggingkan senyumnya, merasa lucu melihat bidadarinya yang terlihat tolah toleh merasa kebingungan mencari keberadaan mobilnya. Dimas melajukan mobilnya dengan kecepatan cukup kencang dan secara tiba-tiba berhenti di samping Erina. Kelakuannya itu sontak saja membuat jantung Erina seperti dipompa dengan kencang. Erina menyentuh dadanya sebagai ekspresi dari keterkejutan yang amat sangat.
__ADS_1
Dimas sengaja keluar dari mobilnya dan langsung membukakan pintu untuk Erina yang masih berdiri mematung sambil memegangi dadanya.
"Masuklah... " Erina menatap dengan tatapan geram dan kesal. Dimas membalasnya dengan kekehan yang semakin membuat Erina kesal.
"Ini berkas dan dokumen yang kamu minta" Erina menyodorkan map itu ke dada Dimas dengan dorongan agak keras dan bergegas berbalik badan untuk kembali ke ruangannya.
Tangan Dimas dengan cepat menarik tangan Erina yang membuat tubuh Erina harus kembali ke posisi semula.
"Aku ga butuh berkas itu. Aku butuh kamu. Masuk" Dimas mendorong tubuh Erina memasuki mobil sportnya miliknya.
Dimas melajukan mobilnya dengan tenang. Ia tak memperdulikan wajah kesal Erina yang masih ia tampakkan. Selama perjalanan tak ada suara dari keduanya. Dimas fokus dengan kemudinya, sedangkan Erina masih bertahan dengan wajah jeleknya yang dilipat menjadi beberapa sisi mirip seperti amplop kondangan.
##########
Dimas memarkirkan mobilnya di salah satu butik ternama di kota Jakarta. Butik yang sudah menjadi langgangan orangtuanya. Erina sangat terkejut saat ia melihat tulisan indah yang terukir di atas sebuah bangunan besar yang sangat ia kenal. Butik terkenal dari designer ternama yang sudah menghasilkan karya fashion yang indah dan dengan harga yang fantastis tentunya.
"Ayo turun" ucap Dimas dengan santai. Tangannya sudah siap untuk memapah Erina turun dari pintu mobil yang sudah ia buka.
"Kita mau ngapain ke sini?" pertanyaan Erina ga digubris sama sekali oleh Dimas. Dimas langsung menarik tangan Erina dan menggandengnya masuk ke dalam.
Seorang laki-laki paruh baya menyambut Dimas dan Erina dengan sambutan yang hangat.
"Sore ganteeeengg.... Akhirnya jadi juga ya mampir ke butik eike.. " senyuman lebar mengembang di bibir sang designer.
"Maaf sudah menunggu lama" ucap Dimas merasa tak enak.
"It's okay. Mau langsung dicobain sekarang atau mau minum teh dulu mungkin?" ucap designer itu menawarkan.
"Langsung saja" jawab Dimas cepat.
"Baiklah... Silahkan duduk dulu. Aku ambilkan dulu bajunya ya..." Designer itu berjalan menuju lemari besar dan mengambil sebuah baju yang tergantung disana.
"Niiihhh.... Semua sudah ready. Mau dicoba atau mau langsung dibungkus aja?"
"Dicoba dulu aja"
" Siaaaappp... Mari sebelah sini" ucap designer itu kepada Erina. Erina tersentak kaget dan bingung akan sikap designer itu yang mengajak dirinya menuju ke ruang ganti. Erina menatap dalam ke arah Dimas menuntut sebuah penjelasan. Dimas membalas tatapan itu dengan sebuah anggukan yakin.
"Kamu cobain baju ini ya... Mudah mudahan pas dibadan kamu" ucap Dimas dengan santai.
"Sebentar, aku cobain baju ini? Untuk apa?"
"Udah ga usah kebanyakan nanya. Kamu cobain aja dulu"
Designer itu tersenyum dan lalu menarik Erina menuju kamar ganti. Seorang asistant perempuan membantu Erina untuk berganti baju di dalam ruang ganti. Dimas menyenderkan punggungnya di sofa besar dan empuk menanti penampilan Erina mengenakan baju baru yang sudah ia pesan jauh jauh hari.
.
.
.
__ADS_1