Ku Tembak Cintamu 2x

Ku Tembak Cintamu 2x
Mawar Pink


__ADS_3

Dimas masih belum mau beranjak dari duduknya. Ia masih menunggu lampu kamar Erina padam. Dari balik tirai terlihat bayangan Erina yang sepertinya sedang duduk di depan meja belajarnya. Mata Dimas memperhatikan dengan seksama bayangan hitam itu. Dimas menipiskan bibirnya dan tersenyum kecil menertawai kebodohan dirinya sendiri. Entah pelet apa yang ada di diri Erina sampai sampai membuat dirinya harus rela seperti orang gila tertawa ga jelas di depan pagar rumah orang.


Dimas kembali ke mobilnya. Diambilnya sebuket bunga mawar pink yang di kemas sangat cantik. Warna pink sengaja ia pilih karna sesuai dengan karakter Erina yang manis dan lembut. Bunga itu ia beli di toko bunga ternama yang khusus menyediakan berbagai pilihan bunga dengan rangkaian yang dibuat cantik dan menarik. Dimas menyisipkan buket bunga mawar di antara sela-sela pagar rumah Erina. Dimas juga meninggalkan pesan singkat untuk Erina yang sudah ia selipkan di antara bunga-bunga cantik itu.


Lampu kamar Erina sudah padam. Sepertinya Erina sudah pergi tidur. Dimas memandang ke arah jendela kamar Erina sambil tersenyum.


"Good Nite Baby... Have nice dream" ucap Dimas lirih.


Dimas melajukan mobilnya meninggalkan rumah Erina. Wajah Erina masih terbayang jelas di matanya. Senyumnya masih mengembang selama ia mengemudi. Malam ini ia cukup puas sudah bisa melihat wanita idamannya.


#############


Matahari belum sepenuhnya menampakkan wajahnya. Tumben banget hari sabtu libur seperti ini Erina sudah terbangun. Semalam tidurnya kurang nyenyak. Entah kenapa rasanya tidurnya semalam kurang berkualitas.


Erina bangun dari ranjangnya dan membuka tirai jendela kamarnya. Udara pagi hari terasa lebih segar dan membuat udara kamar menjadi lebih sejuk. Mata Erina terbelalak tak percaya saat ia melihat ada sebuket bunga mawar yang cukup besar terpajang di pagar rumahnya. Erina bergegas keluar kamar dan membuka pintu rumahnya bergegas untuk menghampiri bunga itu. Erina setengah berlari tak sabar ingin segera mengambil buket bunga itu.


Tangan Erina sedikit ragu untuk mengambil buket bunga itu. Khawatir akan ada sesuatu yang tidak menyenangkan nantinya. Dipandanginya buket bunga itu dekat-dekat. Karna rasa penasaran, dengan hati-hati diambilnya buket itu.



"Ya Tuhan... Cantik banget bunganya... Eh apa ini?" Erina mengambil kertas kecil yang terselip di antara bunga bunga yang cantik. Dibukanya perlahan kertas kecil itu dan dibacanya.


Dear Erina


I Miss You So Much... ❤


Erina membulatkan matanya melihat kembali tulisan itu. Rasanya ia masih tak percaya dengan apa yang ia lihat. Seseorang telah dengan sengaja mengirimkan sebuket bunga mawar ini khusus untuk dirinya..


"Siapa yang kirim ini ya?" ucap Erina berkata sendiri.


Kepala Erina berpikir keras tentang siapakah orang yang sudah dengan sengaja meletakkan buket bunga ini di pagar rumahnya. Buket bunga itu juga sengaja diberikan untuknya. Karna sangat jelas ada namanya di kertas kecil itu. Erina membuka pintu pagar dan keluar sambil melihat lihat apakah ada seseorang yang pantas ia curigai sebagai pengirim buket bunga cantik ini. Namun ia tak bisa menemukan siapa-siapa. Suasana komplek rumahnya masih terlihat sepi. Mungkin karna hari ini hari libur, jadi orang-orang banyak yang masih bermalas malasan dengan bantal, guling dan selimut miliknya. Dengan sedikit rasa ragu, Erina membawa masuk buket bunga itu ke dalam kamarnya. Dipandanginya bunga mawar pink itu. Bunga yang sangat cantik yang penuh misterius.


##########


Siang itu, Dimas tersenyum bahagia membaca hasil laporan dari seorang detektif swasta yang telah ia sewa. Diam-diam Dimas telah menyewa jasa detektif swasta secara online untuk menyelidiki Erina. Dalam laporan yang dikirim melalui emailnya, Dimas mendapatkan laporan yang sangat terperinci dan sangat detail mengenai Erina. Dalam sekejap Dimas sudah tau bagaimana kehidupan yang telah Erina lalui selama ini. Bahkan untuk nomor handphone terbaru milik Erina pun sudah berhasil ia dapatkan.

__ADS_1


Senyum Dimas mengembang lebar saat dia baca di dalam laporan itu kalau ternyata selama ini Erina tidak pernah menjalin kasih dengan pria manapun. Erina juga sering menolak laki-laki yang menyatakan perasaan kepadanya. Rasa bangga dan senang pun terlintas jelas di jiwa Dimas.


Namun dibalik kebahagiaannya, Dimas merasa sedih ternyata Erina selama ini harus bekerja keras demi kelangsungan kuliahnya. Hampir setiap hari Erina harus pulang di atas jam 10 malam. Ia jadi teringat akan wajah lelah Erina yang terlihat tirus kemarin malam. Mungkin faktor penyebab nya adalah karna kelelahan.


"Erinaaa... Kamu harus berhenti bekerja dari tempat itu. Sudah cukup. Kamu harus bekerja di tempat yang layak. Tempat yang mudah aku jangkau tentunya... " ucap Dimas lirih sambil menatap foto Erina dari layar ponselnya.


#############


Malam ini Erina ada jadwal masuk kerja shif 2 di coffee shop tempatnya bekerja. Jam 20.35 WIB Dimas sudah berada di coffee shop tempat Erina bekerja. Dimas memasuki coffee shop itu dan langsung duduk di meja pojok yang agak jauh dari kasir. Lengkap dengan topi dan kacamata hitamnya, Dimas duduk dengan santai.


Seorang karyawan laki-laki coffee shop terlihat sedang membereskan sisa gelas yang masih berceceran yang baru saja ditinggalkan oleh pemiliknya. Dimas memanggil karyawan itu dan karyawan laki-laki itupun langsung dengan sopan menghampiri Dimas yang telah memanggilnya.


"Kalau saya pesan dari sini, bisa?" tanya Dimas santai.


"Bisa pak. Bapak mau pesan apa?" jawab si karyawan itu.


Dimas mengeluarkan 10 lembar uang 100 ribuan dan di berikannya ke karyawan itu.


"Tolong pesankan saya 1 gelas Cappuccino ice. Dan saya mau kasir itu yang mengantarkannya langsung ke meja saya" sambung Dimas lagi sambil menyerahkan uangnya ke karyawan itu.


Sejenak karyawan itu terdiam. Ia sedikit ragu menerima uang Dimas, karna ia ga yakin apakah kasir yang dimaksud bersedia mengantarkan pesanan minuman kepada customer. Dan lagi, uang yang Dimas berikan sangat banyak melebihi dari harga minuman pesanannya.


"Itu buat kamu. Ingat pesanan saya. Okay?" Ucap Dimas sambil tersenyum simpul.


Dengan ragu karyawan laki-laki itu mengangguk dan pergi ke kasir memesankan minuman milik Dimas. Suasana Coffee shop malam itu lumayan ramai. Kebetulan malam itu bertepatan malam minggu jadi banyak anak-anak muda yang singgah di sana.


Kasir yang bertugas saat itu adalah Erina. Wanita yang sedang diincar oleh Dimas. Erina cukup terkejut saat temannya menyampaikan sebuah pesanan untuk laki-laki yang duduk di kursi sebelah pojok. Awalnya Erina menolak untuk mengantarkan minuman ke sana. Karna tugas dia adalah bertanggung jawab masalah keuangan bukan mengantar minuman. Namun karna manager store saat itu ikut menyuruh nya maka Erina akhirnya bersedia untuk mengantarkan pesanan minuman itu kepada customernya yang dimaksud.


Erina mengambil pesanan segelas Cappuccino ice yang telah dibuat oleh rekan kerjanya. Tanpa rasa ragu sedikitpun, Erina berjalan ke arah kursi pojok untuk mengantarkan pesanan minuman customernya itu. Dengan ramah Erina menaruh gelas Cappuccino ice ke meja dan mempersilahkan customernya untuk menikmati nya.


"Selamat malam... Pesanan nya ya bapak. Selamat menikmati" ucap Erina ramah sambil tersenyum.


"Terima kasih ya.... " jawab Dimas santai sambil meremas pantat Erina.


Erina kaget luar biasa diperlakukan seperti itu. Ia merasa harga dirinya sudah dilecehkan oleh laki-laki brengsek. Dengan refleknya ia menghantamkan sebuah pukulan tinju cukup keras ke arah tulang pipi customer itu.

__ADS_1


Booouugghhh.....


"DASAR BAJINGAN... BRENGSEEEKKK!!! BERANI BERANINYA LOE KURANG AJAR SAMA GUE" ucap Erina setengah berteriak.


Suara pukulan dan teriakan Erina membuat semua mata tertarik melihat ke arahnya. Alhasil, semua mata customer tertuju ke arah Erina dan Dimas. Tina si manager Coffee shop juga langsung menoleh ke arahnya. Darah segar mengalir di pinggir bibir Dimas. Dimas kaget luar biasa dan tak percaya kalau dirinya akan mendapatkan sebuah pukulan tinju dari Erina. Pukulan Erina lumayan keras dan berhasil menyobek kulit bibirnya.


"ERINNNAAA....." ucap Tina, Manager Coffee shop.


Tina berlari ke arah Erina. Dimas tertunduk sambil memegangi pipi kirinya yang terluka. Erina masih tak mengenali sosok customer yang baru saja ia tinju, karna wajah Dimas masih tertutup oleh topi.


"Apa-apaan Kamu? Kenapa kamu kurang ajar kepada customer?" ucap Tina setengah membentak.


"Maaf bu, tapi orang ini sudah kurang ajar sama saya. Saya ga terima dilecehkan seperti itu" ucap Erina membela diri.


"Tetap saja kamu tidak boleh berbuat kasar apalagi kepada customer. Mengerti kamu !!! Malam ini kamu saya pecat!!" ucap Tina dengan nada yang sangat serius.


"Tapi bu, saya ga salah" ucap Erina masih membela diri.


"Mohon maaf bapak atas ketidak nyamanan nya. Karyawan saya sudah kurang ajar. Saya akan bertanggung jawab atas kerugian yang sudah bapak alami." ucap Tina kepada Dimas.


Dimas membuka kacamata hitamnya dan menoleh ke arah Tina dan Erina.


"Saya ga apa-apa kok. Saya yang salah." ucap Dimas sambil tersenyum.


Mata Erina terbelalak. Syok dengan apa yang baru saja dia lihat.



"Hhhaaahhh... Dii... Diii.. Diimmaaass???" ucap Erina sambil terbata-bata.


Dimas tersenyum manis ke arah Erina. Air mata Erina tumpah tak tertahankan. Erina sungguh merasa kesal dan kecewa atas perlakuan Dimas kepadanya yang membuat dirinya harus kehilangan pekerjaannya.


Erina berlari ke dalam meninggalkan Dimas. Di ruang karyawan, Erina menangis sejadi-jadinya. Ia tak pernah menyangka kejadian malam ini. Kehadiran Dimas yang sangat ia nantikan harus terjadi dengan cara memalukan seperti ini.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2