
Foto-foto mesra Erina dan Kevin masih terekam jelas di memory otak Dimas. Emosi Dimas selalu memanas kalau ia teringat akan hal itu. Pelacakan kasus yang menimpa Erina masih berjalan dan belum selesai. Charles masih berusaha keras untuk mencari siapa dalang utama dibalik kasus ini.
Siang itu, Rio memberikan satu map kepada Dimas. Map yang berisi data lengkap seorang Kevin yang Dimas minta. Dimas merasa jijik untuk membaca secara detail tentang jati diri Kevin. Dengan sabar, Rio membacakan secara terperinci data diri lengkap dan sejarah hidup yang pernah dialami oleh Kevin.
"Namanya Kevin Alvarro. Usia 24 tahun. Lulusan terbaik IT dari Universitas ternama di Australia. Kevin ternyata anak tunggal dari Surya Winata pemilik PT XXXXXXXX kompetitor utama dari perusahaan kita, Dim" Dimas menatap dalam Rio, mendengarkan penjabaran nya dengan seksama. Wajahnya sangat serius dan tegang.
"Kevin sendiri adalah teman satu angkatan dengan Erina. Cuma mereka beda kelas. Kevin pernah nembak Erina, tapi cintanya ditolak. Dan sepertinya rasa cintanya Kevin terhadap Erina masih ada sampai saat ini. Mungkin alasan itulah kenapa Kevin memfitnah Erina dengan cara seperti ini. Kalau menurut analisa gue Dim, Kevin sengaja membuat skenario yang seolah olah Erina melakukan kejahatan sehingga perusahaan memecat Erina dan lalu dia akan datang sebagai pahlawan yang menolongnya" Dimas mengerutkan dahinya saat Rio seolah melakukan pembelaan untuk Erina.
"Memangnya sudah terbukti kalau si Kevin ini adalah dalang utama dalam kasus ini?"
"Ya belum sih. Ini hanya sekedar analisa gue aja. Gue akan selidiki lebih lanjut semua hal yang berkaitan tentang kasus ini. Loe yang tenang ya Dim. Jangan emosi. Terutama dengan Erina. Dia sudah cukup terpukul dengan kasusnya. Sebaiknya sebagai orang yang paling dekat dengan Erina, loe bisa kasih support buat dia, Dim"
"Support loe bilang? Loe sadar sama yang loe ucapin barusan?" ucap Dimas gemas. Dimas menyedekapkan kedua tangannya di dada menuntut jawaban pasti dari Rio atas nasehatnya yang terlalu impulsif.
"Iya. Gue salah ngomong ya?" ucapnya sambil cengar cengir dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Dimas menatap Rio dengan tatapan tajam dan geram.
"Kalau seandainya loe berada diposisi gue? Dan loe melihat foto mesra Chika berduaan dengan laki-laki lain, kira-kira apa yang akan loe lakukan, hah? Loe tetep akan support Chika yang udah berani ngehianatin elo? JAWAB!!!" suara gertakan Dimas terasa sulit untuk terbantahkan. Rio pun tak mampu menjawab pertanyaan dari Dimas.
"Sorry Dim. Ini memang sulit. Kalau sudah menyangkut masalah hati gue memang ga bisa bantu banyak. Yah, gue cuma ingin loe bisa bertindak dengan kepala dingin supaya masalah ini cepat selesai tanpa mengganggu hubungan loe dengan Erina."
"Kali ini gue jadi kurang yakin dengan hati gue Yo. Penghianatan Erina sangat sulit buat gue maafkan begitu saja"
"Dim, loe sempet berpikir ga kalau foto ini mungkin aja salah satu bagian dari settingan nya Kevin? Feeling gue berkata begitu". Dimas hanya terdiam. Ia mencoba mencerna ucapan Rio yang masuk logika.
Dimas menghela nafas panjang. Disenderkannya punggungnya di sandaran kursi kerjanya sambil memejamkan mata. Pikirannya kacau dan berserabut. Ia mencoba rileks untuk bisa berfikir lebih jernih.
"Ikutin Kevin terus. Kabari gue segera kalau ada yang hal yang aneh. Bayar bodyguard profesional untuk jagain Erina dari jauh. Gue ga mau terjadi apa-apa sama dia. Ingat!! Jangan sampai Erina tau kalau ada yang ngikutin dia" Rio terkesima dengan ucapan Dimas yang terakhir. Senyum tipisnya tersungging dibibirnya.
"Ok, Dim. Siaapp"
##########
Hari ini Erina menerima surat dari bagian HRD kantor. Perlahan dibacanya surat itu. Dalam surat itu berisi keputusan perusahaan memindahkan Erina ke bagian divisi arsip yang berada di lantai 11. Dihelanya nafasnya dan dihembuskannya perlahan.
__ADS_1
"Mungkin ini yang terbaik" ucapnya lirih sambil tersenyum getir.
Erina membereskan meja kerjanya dan bersiap untuk pindah ke lantai 11. Awalnya ia ingin berpamitan dengan Mieke sebagai atasannya, namun setelah dipikir ulang sepertinya ini akan menjadi hal percuma memberitahu Mieke akan kepindahannya. Bisa jadi ini malah akan menjadi bumerang baginya. Dan akhirnya Erina memilih untuk membiarkan Mieke mengetahuinya sendiri akan hal ini. Setidaknya dirinya tak harus melihat senyum kepuasan darinya.
########
Di lantai 11, Erina segera menemui kepala divisi di sana. Ibu Sandra, sang kepala divisi bagian arsip sudah menerima pemberitahuan terkait kepindahan Erina ke sana.
Ibu Sandra menerima Erina dengan baik untuk menjadi salah satu karyawan di bagiannya. Erina bersyukur karna bisa bertemu dengan orang yang baik dan ramah seperti ibu Sandra.
Ibu Sandra seorang ibu dengan dua orang anak. Usianya sekitar empat puluh lima tahunan. Sosoknya yang keibuan membuat hati Erina lebih nyaman dan tenang dalam bekerja.
"Meja kamu di sini ya nak" ucapnya dengan ramah dan lembut.
"Baik bu, terima kasih." jawab Erina sambil melempar senyum ke arah bu Sandra yang dibalas hal yang sama untuknya.
Hari ini Erina mulai menjalani pekerjaannya di tempat yang baru. Di lantai 11 bagian pengarsipan hanya terdiri dari 15 karyawan. Tidak terlalu banyak, tapi hampir semua karyawan disana ramah dan baik. Mereka saling peduli dengan sesama yang lainnya.
Meski divisi ini membuat status Erina menjadi turun, tapi setidaknya hati dan jiwanya lebih tenang. Ditambah lagi atasannya sekarang seorang ibu yang ramah dan baik. Suaranya yang lembut membuat Erina serasa sedang bekerja bersama sang mamanya di kantor.
#######
Andra membungkukkan setengah badannya sebagai tanda penghormatan kepada Dimas. Pak Nugra sendiri tersenyum melihat kehadiran anaknya yang sudah ia duga sebelumnya akan datang setelah tau berita terkait kepindahan Erina.
"Papa kenapa ambil keputusan sepihak memindahkan Erina tanpa bilang dulu ke Dimas?" perkataan Dimas terdengar sangat serius penuh tekanan.
Pak Nugra menghentikan pekerjaannya, menarik nafas dan berdiri merapihkan jas nya yang kemudian berjalan mendekati putranya yang terlihat tegang dan menahan emosi.
"Papa memang sengaja melakukan ini kepada Erina. Karna menurut papa, ini akan lebih baik untuknya. Meskipun posisi dia saat ini berada di bagian pengarsipan dokumen, tapi grade nya Erina masih sebagai assistant manager keuangan. Dan wanitamu masih akan menerima gaji dan tunjangan yang sama, tidak ada yang papa rubah sedikitpun". ucapnya sambil menepuk pundak anaknya.
"Tapi Pa, kenapa harus di bagian itu? Kenapa tidak di bagian lain yang lebih baik?" Dimas masih tak bisa mengerti dengan jalan pikiran papanya.
"Papa tau kamu sangat mencintai gadis itu. Tapi perlu kamu ketahui Dimas. Ini kantor bukan kampus. Meski kasus ini diredam dari media, tetap saja sebagian besar karyawan di sini pasti mengetahui berita ini. Kalau Erina masih bertengger di jabatannya tanpa mendapatkan punishman, image nya akan semakin direndahakan dan pasti akan di kait kaitkan dengan kamu. Erina pasti akan di pandang sinis oleh para rekan kerjanya dan mungkin bisa ga dianggap sebagai atasan karna ia sudah gagal menjalankan tugasnya. Begitupun kalau Erina dipindahkan ke divisi lain yang sama vitalnya dengan divisinya tidak akan membuatnya lebih dihargai" Dimas hanya terdiam dan tertunduk lesu. Dimas hanya bisa pasrah dengan keputusan yang sudah dibuat oleh papanya dan membiarkan Erina menjalankan punishman nya sebagai staf arsip.
Dimas tak ingin berlama lama di ruang kerja papanya. Ia pun segera pergi meninggalkan ruangan itu dan kembali ke ruang kerjanya.
__ADS_1
Dimas melihat GPS keberadaan Erina. Ternyata Erina sudah berada di lantai 11. Dimas pun berniat ingin pergi ke sana hanya sekedar memastikan kondisi Erina tanpa adanya keinginan untuk membuang waktu bersamanya.
"Yo, kita ke lantai 11" ucap Dimas sambil berjalan. Dimas melangkah dengan langkah cepat dengan sebelah tangan berada di dalam sakunya.
"Ok Boss" Rio mengekori Dimas mengimbangi jalannya yang cukup cepat.
Ttiiiinggg....
Pintu lift terbuka. Dimas segera menuju ke bagian ruang arsipnya. Sesampainya di depan pintu tiba-tiba Dimas berdiri, ia merasa ragu untuk masuk. Ia takut Erina merasa tersinggung akan kehadirannya. Sejenak Dimas mematung yang membuat Rio menjadi bingung.
"Dim..." suara Rio membuyarkan lamunannya.
"Kenapa berhenti? Ga jadi masuk?" sambung Rio bertanya.
Dimas menegakkan punggungnya dan berniat untuk membatalkan niatnya melihat keadaan Erina.
"Balik ke ruangan" ucapnya singkat sambil memutar balikkan tubuhnya. Rio hanya ternganga keheranan dengan sikap boss nya yang tiba-tiba menjadi labil.
Di sisi lain, Erina baru saja keluar dari toilet wanita, matanya melihat dua sosok laki-laki yang ia kenal dan secara refleks memanggilnya dan bergegas menghampiri nya.
"Dimaaassss...." Dimas sejenak menghentikan langkahnya saat ia merasa ada yang memanggil namanya. Suara yang sangat familiar di telinganya.
Dengan setengah berlari Erina menghampiri Dimas dan Rio. Dimas sendiri tak langsung menoleh ke arah suara. Ia hanya memiringkan sedikit kepalanya.
Erina melempar senyum manisnya kepada Dimas. Namun wajah Dimas terlihat kaku tanpa adanya senyuman sedikitpun untuknya. Dimas berubah tak seperti biasanya yang ramah dan hangat.
"Dimas.. Kamu..."
"Maaf aku sedang buru-buru" Erina ternganga tertegun dengan sikap Dimas yang terasa sangat dingin kepadanya. Tapi Erina mencoba untuk menahan kepergian Dimas untuk bisa berbicara sedikit dengannya.
"Dimas, ada apa?" Sayangnya, alih-alih menjawab pertanyaan Erina, Dimas memilih untuk berjalan lebih cepat menuju lift. Rio sendiri memberikan kode isyarat dengan tangannya agar Erina tak perlu mengejar Dimas lagi.
Erina menatap kepergian Dimas dan Rio dengan tatapan pilu. Hatinya terasa sakit dan perih dengan perubahan sikap dingin Dimas yang ia sendiri tak tau apa sebabnya.
.
__ADS_1
.
.