
"Baik pak terima kasih infonya" wajah Dimas terlihat lemas setelah menutup sambungan telepon ponselnya. Dimas menghela nafas pendek dengan pandangan kosong ke depan.
"Sayang, kamu kenapa? Barusan siapa yang telpon?" raut wajah Dimas yang lesu membuat Erina ikut cemas melihatnya. Pasti orang yang sudah menghubungi Dimas tadi sudah memberikan informasi yang sangat penting yang berhasil membuat Dimas berubah mendadak lesu dan sedikit frustasi.
"Barusan polisi yang telpon. Dia mengabarkan kalau Wulan meninggal saat perjalanan menuju kantor polisi. Dia nekad meminum racun tetes yang ia bawa" Erina membulatkan matanya dengan mulut yang sedikit ternganga. Hari ini benar benar sangat special. Berbagai kejutan demi kejutan berhasil memporak porandakan detak jantungnya.
Meski Dimas merasa kesal dengan kelakuan Wulan kepadanya dan hampir mencelakai bayinya, namun secara manusiawi saat mendengar berita kematiannya yang tragis tetap saja membuatnya merasa kasihan. Walau bagaimanapun Wulan pernah baik kepadanya. Selama ia tinggal bersama di rumahnya dulu, Wulan banyak membantunya membereskan barang barang miliknya yang sering berserakan di mana mana. Dia juga rajin membantu dan menemani mamanya. Jadi mamanya seakan merasa memiliki anak perempuan yang bisa menemani kesehariannya di rumah.
"Aku ga nyangka Wulan akan berbuat senekad itu." Dimas memeluk tubuh Erina dan membelai rambutnya dengan lembut.
"Mungkin ini sudah menjadi jalan hidup yang harus Wulan jalani. Kita doakan saja semoga Tuhan berkenan mengampuni semua dosanya." Erina hanya bisa mengangguk pelan dalam pelukan suaminya.
#########
Pak Santo sangat terpukul melihat mayat anaknya tergeletak kaku di depan matanya. Tangisnya pun pecah sejadinya. Rasa penyesalan yang teramat sangat seakan menghujami seluruh jiwanya. Rasa kehilangan putri satu satunya membuat jiwanya terguncang dan tubuhnya langsung mendadak lemas yang membuat jantungnya pun seakan berhenti berdetak. Pak Santo terkena stroke. Meski kondisinya demikian, hukum tetap berjalan. Pak Santo serta kroni kroninya tetap akan menjalani hukuman kurungan atas perbuatan kriminal yang telah ia lakukan.
Mama Wulan sudah berkali kali meminta maaf kepada pak Nugra dan memohon untuk tidak melanjutkan proses hukum untuk suaminya. Namun semua itu sudah terlambat. Hukum sudah berjalan. Dan Pak Santo memang sudah semestinya mendapatkan ganjaran yang setimpal atas semua perbuatan yang sudah dilakukannya.
#########
Tujuh Bulan Kemudian......
Dimas masih enggan beranjak dari ranjang. Matanya masih ingin berlama lama menatap jagoan kecilnya yang kini telah tumbuh menjadi bayi montok yang menggemaskan. Badannya yang gempal dan pipinya yang cubby serta harum badannya yang khas membuat bayi itu bagaikan magnet yang membuat Dimas seakan selalu ingin bercengkraman selalu dengannya.
Baby Darren termasuk bayi yang sangat kuat untuk menyusu kepada ibunya. Alhasil, Erina juga menjadi lebih banyak lagi dalam mengkonsumsi makanan dan minuman. Berbagai makanan dan minuman pasti tandas olehnya. Meski kini usia Darren sudah menginjak usia tujuh bulan, namun produksi Asi Erina masih cukup banyak dan bahkan bisa dibilang melimpah. Hal inilah yang membuat tubuh baby Darren berubah lebih montok dan menggemaskan. Belum lagi makanan MPASI yang sudah mulai diberikan untuknya, makin menambah bobot tubuhnya semakin berat dan berisi. Selain kuat menyusu, Darren juga termasuk bayi yang doyan makan. Tidak terlalu sulit untuk menyuapi makan untuk bayi yang satu ini.
"Sayang... Jangan usil ah. Nanti Darren bangun..." sifat protektif Erina selalu muncul kalau Dimas selalu mengganggu Darren ketika tidur. Sikap Dimas yang sering usil dengan mencium ciumi pipi baby nya serta mengusel usel membuat baby Darren sering terbangun dan menangis. Hal ini membuat Erina kesal karna dirinya harus mengeluarkan tenaga ekstra lagi untuk menenangkan bayinya dan membuatnya kembali tidur. Sedangkan Dimas sendiri, dia hanya bisa tertawa tanpa merasa berdosa dan tanpa bisa berbuat banyak untuk membantunya. Karna ending nya, yang bisa menenangkan bayinya hanyalah asi dari ibunya.
"Maaf sayangku... Soalnya aku ga tahan untuk ga nyentuh si endut ini. Jagoan gantengku benar benar bikin aku gemeeesss.... Sama seperti mamanya yang selalu gemesin" ucapnya sambil menciumi pipi Erina dan berlanjut ke bagian leher.
"Dimaaaasss... Kamu nakal banget ih" Erina mencoba untuk menepis ciuman Dimas yang mulai menggodanya yang ujung ujungnya pasti kearah percintaan panas yang nantinya akan sulit untuk ia tepiskan.
"Sayang, sepertinya Darren sudah boleh nih buat dikasih adik" Erina refleks memelototkan matanya sebagai reaksi penolakan tegasnya.
"TIDAK !! Darren masih terlalu kecil untuk diberikan adik. Lagipula luka operasiku juga belum kering sayang...." Erina sengaja meninggalkan sebuah cubitan gemas dipipi Dimas yang ternyata cubitan itu langsung dibalas Dimas dengan dekapan yang memerangkap tubuhnya dalam pelukan suami nakalnya.
"Tapi kalau proses bikin adik buat Darren, boleh dong...."
"Bukankah kita setiap hari sudah...." wajah Erina memerah. Dirinya masih malu untuk mengungkapkan secara blak blakan tentang kegiatan percintaannya dengan suaminya.
"Tapi hari ini aku belum dapet. Aku mau itu sekarang sayang, pleaseee...." perkataan Dimas sungguh tidak tau malu. Rengekan manja yang sengaja dibuat-buat, membuat wajah Erina memerah karenanya.
"Dimas, aku ngantuk. Libur sehari ya..." ucap Erina memelas.
"Aku sudah bersabar libur seminggu sampai tamumu pergi. Dan sekarang kamu memintaku untuk libur lagi? Apa kamu mau aku denda buat kasih aku rapelan? Hmm??"
"Kamu dari dulu emang nyebelin ya.. Sukanya maksa, dasar mesum. huft..."
"Soalnya kamu kalau ga dipaksa ga punya inisiatif, lebih cenderungnya pasif. Jadi jangan salahkan aku kalau aku harus memaksamu. Tapi kamu sebenarnya suka kan aku paksa paksa? Apalagi dipaksa untuk enak?" Dimas menggerak gerakkan alisnya sengaja mengejek sekaligus menggoda istrinya. Erina sendiri hanya membalasnya dengan tatapan malas sedikit kesal.
Erina memindahkan baby Darren ke ranjang box nya. Tubuh montoknya sudah tak bergerak ketika tangan mamanya dengan hati hati mengangkat dan memindahkannya ke ranjangnya sendiri yang tidak jauh dari ranjang orangtuanya. Perut nya yang sudah terisi penuh oleh ASI, membuat tidurnya terlihat lelap dan sangat pulas.
__ADS_1
Dimas menyunggingkan senyuman manisnya ketika istrinya telah membalikkan tubuhnya menuju ke ranjang mereka. Erina sendiri sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi. Yah, mau bagaimana lagi? Toh ia juga tak bisa kabur bersembunyi sesaat dari manusia tampan dihadapannya ini.
Dimas merentangkan tangannya, menyambut istrinya untuk segera membalas pelukannya dan merebahkan diri di atas tubuhnya. Erina menghela nafas dan tersenyum simpul melihat kelakuan mesum suaminya yang pada akhirnya ia pun memilih untuk menyerahkan dirinya masuk ke dalam pelukan suaminya. Melingkarkan tangan diatas perut rata suaminya dan menyusup ke dalam pelukan hangat yang menyenangkan.
Dan sama seperti malam malam sebelumnya, kegiatan percintaan mereka pun akhirnya terjadi lagi dan berlangsung dalam durasi lama yang membuat keduanya kehabisan tenaga setelahnya. Dari kebiasaan itu, membuat Dimas menjadi manja dan selalu tidak bisa tidur dengan nyenyak jika hasratnya belum tersalurkan. Dirinya selalu rindu dan rindu dengan sentuhan dan belaian memabukkan dari istrinya yang selalu membuatnya ketagihan dan semakin tergila gila akan kelegitan miliknya yang selalu menggoda untuk dimiliki.
#########
Darren adalah cucu pertama baik dari keluarga Erina maupun Dimas. Jadi sangat tidak heran kalau saat ini para oma dan opanya saling berebut untuk bisa selalu bercengkraman dengan cucu kesayangannya itu. Dan supaya adil, setiap dua minggu sekali, Erina dan Dimas selalu mengajak baby Darren untuk menginap di rumah Oma Astri selama dua hari. Jadi Oma Astri tidak merasa kesepian karna baby Darren selalu rutin mengunjunginya.
Hampir setiap minggu orangtua Dimas selalu berbelanja berdua di mall. Mereka selalu sibuk berburu barang barang keperluan baby Darren. Mulai dari baju baju, jaket, makanan sampai mainan. Rumah mereka mulai penuh akan mainan bayi. Berbagai permainan anak anak sudah mereka beli. Rumah pak Nugra saat ini sudah mirip seperti arena permainan anak-anak. Pak Nugra juga lebih sering pulang cepat hanya untuk bisa bermain dengan cucu kesayangannya.
Darren yang mulai suka melonjak lonjak, terlihat kegirangan di pangkuan Oma Devita yang sedang memapahnya di atas pangkuan. Tawa renyah khas bayi yang kesenangan membuat siapa saja yang melihatnya ikut merasa gemas dan ingin mencubit atau mencium pipi cubby yang kenyal menggemaskan.
Dengan tangan yang mengepal dan sesekali dimasukkan ke dalam mulut sambil berteriak senang, lonjakan lonjakan kaki Darren masih terus di gerakkkan oleh kaki si bayi montok. Bayi ini seakan tidak merasakan lelah.
Pak Nugra meletakkan tas kerjanya begitu saja di atas sofa dan langsung membaurkan dirinya bersama istri dan cucu kesayangannya yang sedang tertawa riang bermain bersama oma tersayangnya.
"Mana ini cucu Opa yang paling ganteng? Asik bener mainnya" Darren yang sudah mengenali wajah opa nya berteriak senang dan makin meninggikan lonjakannya.
"Ayo sini ikut Opa..." pak Nugra sudah mengulurkan tangannya ke arah si bayi montok ini dan bersiap untuk menggendongnya. Namun dengan cepat, istrinya menepis tangan suaminya dan memintanya untuk mencuci tangannya terlebih dahulu.
"Eeehh... Opaaaa.... Cuci tangan dulu dong... Kan Opa baru pulang dari kantor... Dellen udah belsih, udah wangi. Ya kan cayangnya Oma..." ucap mama Devita sambil menciumi Darren. Pak Nugra hanya menghela nafas kecewa dan bersabar, lalu masuk menuju kamar untuk segera membersihkan diri. Dari kejauhan, Erina hanya tersenyum geli melihat tingkah laku kedua mertuanya yang terlihat lucu saat saling berebut untuk bermain dengan cucu kesayangannya.
#########
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan bulan berganti tahun. Erina sangat menikmati perannya sebagai seorang ibu dan tidak melewatkan masa emas anaknya dengan merawat sendiri anaknya tanpa bantuan jasa baby sister. Erina ingin dengan dirinya mengurus sendiri bayinya, ikatan batin antara anak dan ibu akan lebih kuat dan lebih terasa.
Baby Darren tumbuh dengan sangat baik bersama keluarga dan orang orang yang sangat menyayanginya. Hingga tanpa terasa usianya kini sudah mencapai dua tahun. Usia lucu dan makin menggemaskan karna sudah bisa diajak berinteraksi. Kebawelan Darren yang suka bertanya dan bercerita, membuat semua orang di rumah itu semakin gemas dan sayang kepadanya.
"Opa ayuuukkk... Main ladi... Dellen elum tapek..." suara mungil Darren masih terdengar semangat dan energik. Sangat berbeda dengan Opa nya yang sudah ngos ngosan meladeni keinginan cucunya yang belum mau berhenti bermain bola sepak di halaman samping.
"Sayang, opa capek. Opa istirahat dulu ya..." Pak Nugra masih mencoba mengatur nafasnya untuk tenang dan teratur.
"Ayok main sama papa. Opa biar istirahat dulu ya... Opa nya capek" Dimas tiba-tiba muncul dan langsung berbaur dengan Darren dan bermain bola menggantikan posisi papanya yang sudah kepayahan.
Setelah puas bermain bola, Dimas menggendong Darren membawanya masuk untuk mandi. Keringat yang mengucur dari kegiatan bermain bola sudah membuat kaos si bocah basah kuyup. Darren tertawa kegelian ketika Dimas menggodanya dengan ciuman demi ciuman gemas yang membuat tubuh Darren merasa geli dan membuat bocah lucu ini tertawa lepas.
#######
Seperti biasa ketika makan malam, semua anggota keluarga duduk bersama di ruang makan untuk menikmati makan malam bersama. Darren juga ikut duduk di kursi khusus baby menikmati makan malamnya. Sepiring nasi lembek lengkap dengan sayur dan lauk sudah tandas olehnya. Semua tersenyum puas melihat cara makan si bocah imut ini. Setelah menghabiskan sepiring kecil nasi, mulut Darren masih sibuk dengan cemilan cemilan yang sudah memenuhi mulutnya. Seakan akan mulutnya belum terpuaskan dengan makanan yang tersaji.
"Darren sayang..., makannya sudah ya nak... Nanti kamu kekenyangan. Kalau terlalu kenyang, perut kamu bisa sakit" ucap Erina sambil menjauhkan beberapa snack dari jangkauan Darren. Merasa masih ingin makan, Darren merengek manja sambil memelaskan wajahnya.
"Mamaaaa... Dellen asih au...." ucapnya sambil merengek memelas.
"Sudah, enough. Ayo mama bantu cuci tangan" Darren menggeleng gelengkan kepalanya. Tangan mungilnya yang masih memegang beberapa keping kue langsung memasukkkannya ke dalam mulutnya.
"Oma... Oma... Dellen asih au akan ueh...Api ndak oleh cama mama..." Darren sengaja mengadu kepada Omanya agar ia mendapat pembelaan dari oma tersayangnya dan tetap memperbolehkannya untuk makan.
"Sayangnya Oma... Apa yang Mama Darren bilang itu benar. Kalau Darren kekenyangan, nanti perut Darren bisa sakit trus Darren ga bisa bobok. Sekarang lebih baik Darren cuci tangan trus persiapan bobok, okay?" Darren mengangguk yakin, mengerti.
"Api... Dellen aunya cama Oma. Dellen juga au bobok cama oma cama opa. Olehkan Oma?" bibir kecil Darren dengan suara yang agak cadel secara lancar mengucapkan kata kata yang spontan membuat oma dan opa nya terperangah.
__ADS_1
Oma dan Opa Darren mengembangkan senyum bahagia karna secara tiba tiba cucu kesayangannya meminta untuk tidur bersama. Namun sebagai orangtua yang baik, mereka mengajarkan kepada cucunya untuk tetap meminta ijin kepada mama dan papa nya.
"Tentu boleh dong sayang... Tapi Darren harus ijin dulu sama mama dan papa. Kalau diijinkan, malam ini Darren boleh tidur sama oma dan opa. Okay?" Darren mengerjapkan mata. Mata indah dan jernihnya menatap wajah sang oma dan kemudian beralih ke arah mama papanya berada. Tatapan polosnya yang dalam membuat wajah bocah ini terlihat manis dan tampan.
"Mama... Dellen oleh kan bobok cama oma cama opa? Pliiiss...." Erina dan Dimas saling bertukar pandang dan kemudian keduanya secara bersamaan tertawa geli mendengar perkataan serta gaya memohon yang sok dewasa dengan mengernyitkan wajah dan matanya dengan menangkupkan kedua telapak tangannya di depan wajahnya.
"Iya boleh...." jawab Erina masih dengan tawanya. Dimas masih terkekeh tak mampu menahan tawanya karna kelakuan anaknya yang diluar dugaan ternyata bisa melucu untuk mengajukan permohonan.
"Ya udah ayok oma kita ke kamal..." Darren segera turun dari kursinya dan menarik tangan oma nya, mengajaknya pergi ke kamar untuk tidur.
"Ayok...." ucap sang oma cepat. Pak Nugra masih mematung dengan senyum di bibirnya.
"Opa ayoookkk...." Pak Nugra tersentak kaget ketika ternyata cucunya juga meminta dirinya untuk ikut bersamanya.
"Siap komandan !!" Pak Nugra dengan cepat beranjak dari kursi dan menyusul Darren sambil mendorong pundaknya menggiringnya ke kamar membentuk rangkaian kereta api.
Erina hanya menggelengkan kepala melihat tingkah laku anaknya yang semakin hari semakin aktif, banyak akal dan banyak kemauannya.
"Sayang...." Erina yang sedang melamun tersentak karna tepukan kecil tangan Dimas di bahunya dan memaksanya untuk mengalihkan tatapannya ke wajah suaminya.
"Ya..."
"Malam ini Darren kan bobok sama oma dan opa nya. Jadi...." Erina mengeryitkan ekor matanya mencium tanda tanda kemesuman dari suaminya. Dimas sendiri sengaja menghentikan perkataannya untuk menggoda istrinya agar menjadi penasaran.
"Apaaa? Pasti kamu mau bilang, kita akan bikin adik buat Darren. Iya kan? Dasar mesum, huft..." Erina memanyunkan bibirnya dan masa bodoh dengan apa yang dipikirkan suaminya tentang sikapnya.
"Iiihh... Mama Darren pinter deehh... Ayok sayang, jangan lama lama disini nya. Senjataku udah siap tempur nih"
"Mau tempur sama siapa sayang...? Tamuku malam ini sudah datang. Harap bersabaaarrr.... Ini ujian." ucapnya sambil terkikik.
Cup....
Satu ciuman hangat Erina hadiahkan di pipi Dimas dan beranjak dari duduk meninggalkan Dimas yang masih tertegun dengan perkataannya. Erina dengan santai berlalu berjalan menaiki anak tangga untuk menuju ke kamar.
"Tamunya sudah datang?" ucap Dimas lirih sambil menepuk jidatnya dan mengusap wajahnya dengan kasar.
"Puasa lagi dong gue...." Dengan langkah berat, Dimas menyusul Erina memasuki kamar dan langsung membantingkan tubuhnya begitu saja di atas ranjang. Erina hanya terkekeh dengan sikap suaminya yang benar benar sudah menjadi laki-laki mesum.
THE END
***Dear All My Readers...
Terima kasih ya untuk kesetiaan kalian sudah mengikuti perjalanan cintanya ERINA-DIMAS.
Mohon maaf kalau ada tulisan typo yang mengganggu readers saat membaca. Karna kesempurnaan hanya milik Tuhan.
Jangan lupa untuk baca karya Author nya yang lain ya.
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
Best Regards,
__ADS_1
Wendy Puspita***