Ku Tembak Cintamu 2x

Ku Tembak Cintamu 2x
Gejolak Hati


__ADS_3

"Erina pleaseee.. Jangan cengeng kayak gini.." ucap Erina sambil menyeka airmata nya di toilet cewek. Di basuhnya kembali wajahnya dengan air dingin untuk menghapus airmatanya yang terasa lengket di pipi.


Dari dalam toilet, terdengar suara langkah kaki yang berlari menuju toilet cewek. Suara gemuruh kaki yang terdengar ramai. Chika, Tasya dan Adel berlarian mencari Erina ke toilet. Sebelumnya mereka mencari Erina ke dalam kelas. Ternyata Erina ga ada di sana.


"Huft, syukur deh. Gue kirain loe pergi kemana" ucap Chika yang terlihat lega saat melihat Erina yang sedang berdiri di depan cermin toilet.


Erina menoleh ke arah teman-temannya dengan pandangan heran.


"Kalian kenapa? Kok pada ngos-ngosan begitu?" tanya Erina santai.


"Loe udah tenang kan Rin?" tanya Tasya yang masih khawatir.


Erina menganggukkan kepalanya sambil tersenyum simpul.


"Gue udah ga apa-apa kok. Maaf ya kalau tadi gue terbawa emosi. Maaf juga karna gue dah bikin kalian cemas" ucap Erina penuh rasa bersalah.


Chika menatap Erina dengan tatapan sedih dan prihatin.


"Kita semua sayang sama loe Rin. Gue juga sayang sama kalian semua" ucap Chika sambil memeluk Erina.


"Gue juga sayang sama kalian" ucap Tasya yang ikut memeluk Chika dan Erina.


"Gue jadi pengen nangis deh... Gue juga sayang sama kalian girls" ucap Adel ga mau ketinggalan. Adel langsung membaurkan dirinya ke dalam pelukan teman-teman nya.


##########


Bel pulang sekolah sudah berbunyi dengan lantang. Para siswa berhamburan keluar kelas untuk kembali ke rumahnya masing-masing. Tadi siang sebelum jam istirahat ke dua, pak Yudha guru olahraga kelas 11 telah menempelkan pengumuman di mading sekolah yang berisi tentang informasi daftar panitia pertandingan basket. Calon panitia di ambil dari perwakilan kelas 11 dan kelas 12. Para siswa yang terpilih diminta untuk berkumpul di ruang OSIS siang ini. Erina cukup terkejut karna namanya saja yang masuk dalam daftar nama-nama yang terpajang di mading sekolah. Chika, Adel atau Tasya namanya ga ada dalam daftar.


Erina melihat ada nama Rio dan Dimas masuk dalam daftar nama-nama, namun dalam kolom yang berbeda. Ia ga heran karna Rio dan Dimas memang atlet basket di sekolahnya. Yang ia heran kenapa namanya bisa ada dalam daftar nama-nama tersebut. Karna seingatnya dirinya ga pernah aktif dalam kegiatan apapun di sekolahnya.


Menurut info dari pak Yudha, tujuan dari dikumpulkannya sebagian siswa adalah untuk diperbantukan dalam kegiatan pertandingan basket antar sekolah yang acaranya akan di selenggarakan di sekolah ini. Jadi, sekolah Erina akan menjadi tuan rumah dari pertandingan ini.


"Kita duluan ya Rin." ucap Tasya, Adel dan Chika.


"Okay. Take care ya guys" ucap Erina sambil melambaikan tangannya.


Sepergian teman-temannya, Erina berjalan menuju ke ruang OSIS yang berada di lantai dasar. Saat ia berjalan menuju anak tangga, Erina berpapasan dengan Dimas dan Rio.


Jantung Erina berdegup tak beraturan saat matanya beradu pandang dengan Dimas. Dimas sendiri juga terlihat canggung dari pertemuan tak terduga itu.

__ADS_1


Untuk beberapa detik Erina dan Dimas saling bertukar tatap dalam diamnya. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir Erina maupun Dimas. Dan lagi lagi, Erina memilih untuk mempercepat langkahnya meninggalkan Dimas yang masih terpaku dalam diamnya.


Dimas menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan kemudian melanjutkan langkahnya menuju ke ruang OSIS.


Di ruang OSIS sudah ramai akan para siswa yang nama-namanya masuk dalam daftar. Erina duduk di kursi nomor dua dari depan. Kursi para atlet berada di barisan paling depan dengan posisi menghadap ke audiens. Karna Dimas dan Rio anggota atlet basket, mereka duduk pada kursi yang berada di barisan paling depan.


Dimas cukup senang dengan pengaturan tempat duduk pada ruang OSIS ini. Karna modelnya yang berhadapan, ia bisa dengan leluasa memandangi wajah Erina yang cantik. Wajah perempuan yang sangat ia rindukan.


Pak Yudha sudah memulai pembicaraannya. Beliau juga menjelaskan maksud serta tujuan mengumpulkan para siswa yang terpilih lengkap dengan tugas-tugas yang akan di bagikannya nanti.


Mata Dimas bagaikan mata elang yang melihat mangsa, tak sedikitpun mata Dimas mengalihkan tatapannya ke arah yang lain selain ke diri Erina. Erina menyadari akan tatapan itu. Sesekali Erina memberanikan Matanya untuk menatap ke arah Dimas. Dan tatapan mata Erina langsung beradu dengan mata tajam Dimas yang sudah sedari tadi menatapnya. Dimas tersenyum geli saat Erina terlihat salah tingkah dengan langsung mengalihkan tatapannya ke arah yang lain.



Detak jantung Erina makin tak beraturan. Tatapan tajam mata Dimas sungguh membuat hatinya menjadi lemah. Dimas menipiskan bibirnya sambil tersenyum kecil.Erina sengaja mengabaikan senyuman Dimas dan berpura-pura fokus pada penjelasan dari pak Yudha.


Dimas tak memperdulikan sikap acuh dari Erina terhadapnya. Yang terpenting untuknya saat ini ia bisa melepaskan kerinduan yang amat sangat dengan cukup melihat wajah Erina dengan jelas.


Ttttingg...


1 pesan masuk di ponsel Erina.


Hai 😊


Erina berkali-kali melihat jam di tangannya berharap meeting siang ini segera selesai. Dimas berhasil mencuri foto Erina yang masih cuek kepadanya. Dimas senyum senyum sendiri melihat hasil foto di ponsel nya.


Dimas kembali mengirimkan pesan singkat ke ponsel Erina.


Senyum dong, dikit aja. Jutek amat 😜


Erina menarik nafas panjangnya setelah membaca pesan ke dua yang dikirimkan Dimas untuknya. Dan untuk kedua kalinya ia mengabaikan pesan dari Dimas.


Pertemuan siang ini dengan pak Yudha akhirnya selesai juga. Erina mendapat tugas sebagai panitia registrasi yang akan mendata ulang para peserta pertandingan.


Pertandingan basket akan diselenggarakan minggu depan. Para panitia nanti akan dikumpulkan kembali untuk mendapatkan pengarahan yang lebih detail dan lebih jelas lagi. Setelah pak Yudha selesai memberikan pengarahan dan melakukan pembagian tugas, semua siswa calon panitia sudah diperbolehkan untuk pulang. Pertemuan siang ini berlangsung hampir 2 jam, waktu yang cukup lama untuk Erina. Terlebih sikap Dimas yang berhasil membuat dirinya merasa risih dan kurang nyaman.


Erina keluar dari ruang OSIS dan langsung mempercepat langkahnya keluar gerbang sekolah.


"Tumben banget cuaca sore ini mendung. Padahal tadi siang panas, hmm... " batin Erina sedikit menggerutu.

__ADS_1


Untuk menghindari hujan yang kemungkinan akan turun, Erina memutuskan pulang menggunakan jasa ojek online agar lebih cepat nyampe rumahnya. Di ambilnya ponsel miliknya untuk memulai memasukkan orderan ojolnya. Ponsel Erina sudah memberikan notification bahwa battere nya mulai low di angka 20% dan terus berkurang.


"Yah, ni ponsel pake acara lowbatt pula. Oh come on, pleasee.... Jangan mati dulu yaaa... " Erina berbicara sendiri pada ponselnya.


Belum sempat orderan ojol berhasil, ponsel Erina tiba-tiba off. Erina mendengus kesal saat melihat ponselnya off ga bisa digunakan sama sekali. Tiba-tiba terdengar suara klakson mobil yang mengejutkan Erina.


Erina menoleh ke sumber suara, dan ternyata suara klakson mobil Dimas. Dimas membuka kaca mobil depannya sambil tersenyum.


"Erinaaa... Aku anter ya. Yuk" ucap Dimas setengah teriak dari dalam mobilnya.


Erina tertegun sedih dengan tawaran Dimas. Pasalnya di dalam mobil Dimas sudah ada Wulan yang sudah duduk di depan di sebelahnya. Ternyata sedari tadi Wulan menunggui Dimas mengikuti pertemuan panitia pertandingan basket sampai selasai.


Wulan menatap Erina dengan tatapan sinis. Erina menelan ludahnya dan membuang pandangannya ke arah lain. Ditariknya nafasnya dalam-dalam lalu di buangnya secara perlahan. Hati Erina bergejolak, sedih dan marah. Dimas Tega-teganya mengajak dirinya sementara di dalam sudah ada cewek lain yang datang bersamanya.


"Erinaaa... Ayok.. " ucap Dimas lagi mengulangi tawarannya. Ucapan Dimas membuyarkan lamunan Erina yang sedari tadi diam.


"Em... Ga usah, Makasih. Aku bisa pulang sendiri" jawab Erina terbata-bata dan memberikan senyum terpaksanya.


"Langit mendung, Rin. Kayaknya bentar lagi mau hujan. Aku antar kamu sampai rumah. Ayo masuk" ucap Dimas lagi dengan nada memaksa.


Seperti pangeran berkuda yang datang menolong, motor kevin tiba-tiba melintas di depan Erina yang berdiri di pinggir jalan. Ternyata mata Kevin melihat ke arah Erina. Kevin menghentikan laju motornya dan menawarkan tumpangan untuk Erina.


"Erina... Mau bareng ga?" ucap Kevin menawarkan.


Tanpa pikir panjang, Erina langsung berlari ke motor Kevin.


"Serius gue boleh numpang motor loe?" tanya Erina memastikan.


"He-em" jawab Kevin sambil mengangguk.


"Gue ga ngrepotin kan?"


"Lamaaa.. Cepet naik"


Erina menerima helm dari Kevin lalu membonceng di belakang Kevin. Motor Kevin langsung melaju meninggalkan mobil Dimas yang masih terparkir.


Dimas menggertakkan giginya. Tangannya meremas kuat gagang stir mobil. Tatapan mata geramnya menggambarkan Wajah kesal dan marah melihat Erina lebih memilih pergi dengan laki-laki lain ketimbang dengan dirinya. Hatinya sungguh ga rela. Sangat-sangat ga rela.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2