
Sudah 1 tahun Erina menjalani hari-harinya sebagai mahasiswi. Fakultas Ekonomi menjadi pilihannya. Erina kurang beruntung untuk bisa melanjutkan kuliahnya di perguruan tinggi negri. Kampus swasta di daerah Jakarta Barat yang cukup terkenal Erina pilih untuk mendapatkan ilmu dan ijazah. Agak mahal pasti. Baginya yang terpenting ia bisa mendapatkan ilmu dan fasilitas yang terbaik dari tempatnya belajar.
Erina sengaja bekerja part time di sebuah cafe kopi Frenchise ST****CKS tidak jauh dari kampusnya. Gaji yang ia terima memang tidak besar, namun cukup untuk membantu sebagai uang tambahan biaya kuliahnya. Erina ga mau terlalu membebani Mamanya dalam membiayai kuliahnya. Selama ini Mamanya sudah terlalu berat menjadi tulang punggung keluarga untuk dirinya. Sudah saatnya ia membantu sedikit beban itu.
Rasa lelah sudah pasti. Hampir setiap hari Erina pulang malam. Ibu Astri berkali kali sudah memarahinya untuk berhenti dari pekerjaannya, namun Erina tetap saja bandel dan kekeh dengan pendiriannya.
Dalam setahun ini Dimas juga mulai jarang mengiriminya pesan email. Email yang Erina kirimkan juga jarang di balas olehnya. Erina ga terlalu mengambil pusing masalah ini. Ia mencoba untuk mengerti mungkin Dimas sangat sibuk dengan segala aktivitas nya disana, sehingga ia ga sempat untuk mengirimkan pesan email untuknya.
# FLASH BACK #
Setahun yang lalu, Kevin duduk termenung lesu di bangku panjang depan ruang kelas yang kosong. Hatinya terasa sakit atas penolakan dari Erina. Sikap Erina yang selalu baik kepadanya ternyata tak bisa ia anggap lebih. Ia masih gagal untuk bisa mendapatkan hati Erina.
Sebuah tangan menepuk bahunya. Kevin menoleh sekilas kepada cowok itu tanpa ekspresi kaget karna sudah menepuknya.
"Sabar ya Bro. Gue turut prihatin. Kalau dia emang jodoh loe, ga akan kemana. Santai aja" ucap Dodi teman sekelas Kevin.
Kevin tak menjawab. Ia masih terdiam sedih dan larut dalam pikirannya.
"Tolong loe kirim foto yang tadi loe ambil ke alamat email yang gue kasih" perintah Kevin.
"Ok, siap. Btw, loe yakin cara Ini bisa bikin Dimas menjauhi Erina?"
"Yah semoga aja matanya bisa sadar dengan apa yang dia lihat nanti" jawab Kevin yakin.
"Ok Bro. Loe bisa andelin gue" ucap Dodi dengan penuh keyakinan.
Foto yang Kevin maksud berhasil terkirim ke alamat email Dimas. Mata Dimas meradang dengan tangan mengepal kesal melihat foto Erina yang terlihat mesra. Emosinya menyebar keseluruh jiwanya.
"Erinaaaa... Jadi seperti ini kamu di sana?" gumam Dimas penuh dengan kesal dan kecewa. Dimas sungguh sangat cemburu melihat gadis pujaannya bermesraan dengan laki-laki lain.
##########
Malam ini Erina pulang dengan wajah lelahnya. Senyumnya mengembang saat ia melihat mamanya sudah menunggu dirinya di dalam pagar rumahnya. Wajah penuh kekhawatiran dan rasa kasihan terpancar pada wajah ayu sang mama yang mulai terlihat banyak kerutan.
"Mama kok di luar? Nanti mama bisa masuk angin" ucap Erina seraya mencium tangan sang mama.
"Mama terlalu cemas Sama kamu sayang. Kamu setiap hari selalu pulang malam seperti ini. Mama takut kamu sakit karna kecapean"
Erina tersenyum sayang sambil memeluk tubuh mamanya dengan erat.
"Ga ada yang perlu di cemaskan Mama. Erina Baik baik aja. Mama percaya ya sama Erina, Erina ga akan bikin mama khawatir. Kita masuk ya" ajak Erina seraya memapah tubuh sang mama sambil memeluk nya.
###########
__ADS_1
Siang waktu London, Dimas sedang sibuk memasak pasta di dapur apartmen nya. Hari ini Dimas libur dan belum ada rencana untuk keluar. Aroma pastanya merebak memenuhi ruangan apartemen nya. Aroma wangi keju mozzarella sungguh membuat lidah tak sabar untuk segera mencicipi makanan itu.
Dimas mengambil piring dan lalu menikmati masakannya yang terasa lumayan lezatos. Hasil nyontek dari You***e tentang segala masakan telah membuat Dimas mahir dalam masak memasak.
Suara Bel apartemen Dimas berbunyi dengan nyaring. Dimas tertegun bingung akan siapakah sosok orang yang tiba-tiba datang mengunjungi nya. Dimas menghentikan kegiatan makannya dan bergegas menuju pintu.
Senyum ceria mengembang di balik pintu. Senyuman manja dari seorang gadis cilik membuat senyuman Dimas jadi ikut mengembang.
"Hai Kak Dimas... " ucap nya manja.
"Clara? Kamu sama siapa?" tanya Dimas sambil melihat ke semua arah.
"I'm alone" jawabnya singkat
"Masuklah. Apakah kamu sudah makan?" tanya Dimas
"Aku baru mau ajak Kak Dimas makan siang bareng"
"Kebetulan aku sudah masak pasta. Duduklah, kamu harus cobain masakanku" ucap Dimas sambil mengambil sepiring pasta untuknya.
Tanpa ragu, Clara langsung memakan pasta Dimas. Wajahnya menunjukkan ekspresi terkejut akan rasa makanan yang ada di dalam mulutnya.
"Hahahha... A chef? No.. No.. No... Aku hanya bisa memasak pasta saja. Aku rasa kamu terlalu berlebihan" jawab Dimas merendah.
"Tapi masakan Kakak memang enak. Aku ga bohong"
"Baiklah, kalau begitu kamu harus habiskan makanan nya" ucap Dimas sambil tersenyum.
Clara membalas senyumannya dan mengangguk pasti lalu melanjutkan makannya.
"Oia kak, bagaimana kuliah kakak? Pasti sangat melelahkan ya?" ucapnya lagi penuh tanya.
"Not bad. Nanti kamu juga akan merasakan saat kamu kuliah nanti"
Saat sedang asik menikmati makanan, tiba-tiba terdengar suara bel berbunyi. Dimas mendongakkan kepalanya ke arah pintu. Ia semakin bingung ada apa dengan hari ini? Kenapa ada banyak orang yang mendatangi apartemennya.
"Siapa ya?" ucap Dimas bertanya
" I don't know" jawab Clara cepat.
Dimas melangkahkan kakinya menuju pintu dan membukanya. Betapa terkejutnya saat ia melihat orang di balik pintu.
__ADS_1
"Kak Dimaaaaassss...... " ucapnya sambil tersenyum lebar dan langsung memeluk tubuh kekar Dimas dengan sangat erat.
"Wulan cukup Wulan. Stop hug me, please" gertak Dimas agak keras.
Wulan melepaskan pelukannya sambil cemberut.
"Kak Dimas kok begitu? Aku kan kangen banget sama Kakak... " ucapnya sambil berusaha memeluk Dimas lagi.
"Loe tau darimana gue tinggal di sini? Trus loe kesini sama siapa?" tanya Dimas sangat ingin tau.
"Aku di kasih alamat kakak dari tante Devita. Dan aku rencananya juga mau ngelanjutin kuliah aku disini. Kak Dimas seneng kan denger nya?" sambung Wulan dengan manja.
Dimas menarik nafas dan membuangnya kasar. Ia kecewa sama Mamanya karna sudah memberikan alamat apartemen nya kepada Wulan. Ia juga merasa sedikit jijik dengan gaya Wulan yang terlalu berlebihan kepadanya.
"Masuklah " ucap Dimas dingin mempersilahkan Wulan masuk ke dalam apartemennya.
"Kak Dimaaaas... Siapa yang datang?" teriak Clara dari meja makan.
Wajah Wulan langsung murka saat terdengar ada suara wanita di dalam apartemen nya.
"Kak Dimas? Kenapa ada suara cewek di sini?" Tanya Wulan murka sambil menatap Dimas dengan serius.
Clara bangkit dari duduknya dan menghampiri Dimas yang masih berdiri dengan seorang perempuan di sampingnya. Clara cukup terkejut dengan perempuan yang saat ini sedang berada di samping Dimas. Seribu pertanyaan pun muncul di kepalanya. Tatapan penuh kebencian tersirat di wajah Wulan. Clara tertegun melihat Wulan yang menatapnya ga suka.
"Kak Dimas, dia siapa? Kenapa anak kecil seperti dia ada di dalam apartemen kamu? Dia bukan pacar kamu kan???" ucap Wulan seraya memandang sinis ke arah Clara.
"Kalau benar aku pacarnya memangnya kenapa? Kau sendiri siapa?" jawab Clara tak kalah ketusnya. Ia ga suka dengan cara Wulan memperlakukannya.
"Hah, oia? Tapi maaf, aku ga akan bisa di bohongi oleh anak kecil sepertimu" ucap Wulan sambil tertawa mengejek yang membuat Clara semakin kesal.
Clara mendekati Dimas lalu melingkarkan tangan mungilnya di lengan.
"Kak Dimas, apa wanita jelek ini pacar kamu?" tanya Clara dengan tatapan sinis ke arah Wulan. Wulan tampak menggertakkan giginya merasa direndahkan oleh seorang anak kecil.
Dimas yang merasa risih dengan perdebatan dua perempuan yang menurutnya aneh dan membisingkan akhirnya memilih untuk menengahi ke duanya dengan mengajaknya makan.
"Sudah cukup. Kalian ini berisik. Aku belum selesai menghabiskan makan siangku. Kalau kalian mau, kalian boleh ikut makan bersamaku" ucap Dimas yang langsung melangkahkan kakinya menuju meja makan. Clara menatap sinis sekilas Wulan lalu berlalu pergi mengikuti Dimas untuk kembali melanjutkan makan siangnya.
Wulan tertegun dengan sikap Dimas yang terkesan datar dan sangat dingin. Bayangan bahagia saat bertemu Dimas dan bisa bermanja manja dengan nya pupus sudah. Ia tak mengira kalau Dimas selalu dikelilingi oleh perempuan. Dengan langkah kesal, Wulan berjalan menuju Dimas dan Clara berada.
.
.
__ADS_1
.