Ku Tembak Cintamu 2x

Ku Tembak Cintamu 2x
Pernyataan Dimas


__ADS_3

Malam ini adalah malam sabtu. Malam yang sangat disenangi Erina. Karna besok adalah hari sabtu dimana sekolah libur. Jadi malam ini Erina bisa nonton darkor favorite nya sepuasnya. Dan besok bisa bangun siangan deh... Seperti itulah Kebiasan yang sering dilakukannya.


Mamanya sudah sangat memahami Kebiasaan putrinya itu. Dan sang mama ga pernah mengganggu atas kesenangan tersebut. Baginya, yang penting Erina bisa membagi waktu dengan baik antara kewajiban sekolah dan kesenangannya.


Tuk... Tuk...


Terdengar suara ketukan pintu.


"Masuk maaa" teriak Erina tanpa melepaskan pandangannya ke layar televisi yang ada di dinding kamarnya.


Pintu langsung terbuka. Disana nampak senyuman tersungging di bibir ibu Astri. Mama Erina menatap putrinya sambil senyum-senyum. Ibu Astri duduk di pinggir ranjang Erina sambil sekilas menatap layar televisi yang isinya sudah pasti acara Drakor favorite nya Erina.


"Serius banget sih nontonnya... Seru ya ceritanya? "Tanya Ibu Astri penasaran.


"Seru banget mah" sekilas menatap sang mama kemudian langsung kembali menatap Televisi.


"Kamu kok suka banget sinetron Korea sih sayang? Mang bagusnya dimana nya?" telisik sang mama


"Ih mama ga gaul nih... Bukan sinetron mama... Tapi drama korea alias drakor. Tuh liat deh para pemainnya ma. Ganteng-ganteng bangeeeeettt.... Cewek nya juga cantiiiikkk" sambil merapatkan kedua telapak tangannya di kedua pipinya.


"Trus ya ma... Alur ceritanya juga bagus, romantis pula. Bikin bapeeeerrrr.... " Tambah Erina dengan semangat.


Mamanya mendorong kepala Erina dengan gemes.


"Ooo.... Jadi gara-gara Drakor kamu udah berani punya pacar ya?" ledek sang mama.


"Mama apaaan siiihh... Siapa juga yang punya pacar?" jawab Erina ga terima, sambil memonyongkan mulutnya.


"Yakiiiinnn??? Trus, Dimas apa kabar? Masih temen biasa? Ciuuuss?" Ledek mama lagi sambil ketawa ketiwi.


"Mama apaaan siiihh... Aku sama Dimas ga pacaran ma. Emang faktanya begitu... " Erina mulai sedikit kesel sama ledekan mamanya.


"Kan kemarin Dimas sendiri yang ngaku ke mama kalau dia itu pacar kamu? Udah ngaku ajaaaa... " selidik ibu Astri.


Erina memandang mamanya dengan malas.


"Kalau kamu emang udah punya pacar, mama ga keberatan kok. Apalagi kalau pacar kamu itu Dimas. Mama lihat anaknya sopan, baik, ganteng pula.. " ucap mama sambil menyenggol lengan Erina yang sedang asik nonton.


"Iiiihhh mama apaaan siiihh... Udah deeeehhh... Jangan ngeledekin Erina teruuuusss... Erina lagi fokus nonton nih" jawab Erina berusaha menghentikan pembahasan tentang Dimas.


"Ternyata anak mama sekarang sudah besar ya... Sudah berubah menjadi putri cantik yang mulai diincar laki-laki. " lanjut sang mama sambil membelai lembut rambut Erina.


"Maammaaa.... Erina tuh belum siap buat punya pacar. Lagipula kan Erina masih kelas 11, Erina masih jadi anak balita mama yang imut dan centil. Hihihi... " jawab Erina sambil terkikik.


"Bisaaaa aja si centil yang satu ini" ucap Ibu Astri sambil mencubit pipi Erina dengan gemas.


Ttiiingg....


Tiba-tiba terdengar suara pesan masuk dari ponsel Erina. Langsung di raihnya itu ponsel yang kebetulan posisinya tidak jauh dari duduk Erina.


"Dimas... " ucapnya lirih. Tapi sang mama ternyata mendengar suara lirihnya Erina.


"Hhhmmmm... Panjang umur. Baru di omongin, eh langsung nongol..." ucap ibu Astri dengan nada setengah ngeledek.


"Malam Erinaa... Sabtu malam besok kamu ada acara ga? Kalau ga ada, aku boleh minta bantuan kamu? "


Erina membaca pesan singkat dari Dimas dengan seksama dan nampak serius. Ibu Astri jadi ikut penasaran sama isi pesan yang dikirimkan oleh Dimas.


"Mama boleh tau ga apa isi pesan nya Dimas?" tanya mama sambil mendongakkan kepalanya ke arah ponsel Erina.


Dengan cepat Erina langsung menutupi ponselnya dan segera mematikan layar ponselnya.


"Iiihhh... Mama apaan sih. Kayak ga pernah muda aja deh.. Mama nih dari tadi isengin aku terus siiiihhh... Erina kelitikin niiiihhh... " jawab Erina sambil berusaha ngelitikin mamanya.


Mamanya yg merasa kegelian langsung menyerah dan memilih untuk pergi ke kamarnya kembali.


"Erina geli iiihhh... Udah.. Udah.. Oke.. oke.. Mama nyerah... " ucap Mamanya pasrah.


"Lagian mama sih usil. Rasaiiiinnn... Mang enaaaakkk? Hahahaha.... " jawab Erina sambil tertawa lepas.


"Udah ah mama capek. Mama tidur dulu ya... Kamu jangan malam-malam tidurnya. Ga kebiasaan bangun siang ya.. Anak perawan itu Pamali bangun siang-siang. " ucap sang mama beserta nasehat panjangnya.


"Iya Nyaaaakkkk.... " ledek Erina sambil tertawa ngakak.


"Huft... Dasar centiil... " ucap Mama sambil meningggalkan kamar Erina.


Sementara di kamar Dimas, Dimas sedang menunggu balasan jawaban atas pesannya yang sudah ia kirimkan. Cukup lama Erina ga membalas pesannya. Dimas mulai frustasi menunggu balasan pesan.


"Ddduuuhhhh... Balas dong Erinaaaa.... " ucapnya sambil menggerutu.


Dan ternyata, setelah sang mama pergi meninggalkan kamarnya, Erina langsung melanjutkan kegiatan menonton nya dan lupa untuk membalas pesan Dimas.


Tttiinnggg....


Terdengar lagi nada pesan masuk.


Tolong balas pesanku, pleaseee....


Erina langsung membulatkan matanya dan menepuk jidatnya.

__ADS_1


"Aduuuhhh... Gue lupa ga balas pesan Dimas. Gara-gara mama niiihh.. Huufftt... " gerutunya sedikit kesal.


Tanpa pikir panjang Erina langsung membalas.


"Sabtu malam besok kebetulan aku ga ada acara. Apa yang bisa aku bantu Dim? "


Dimas langsung sumringah saat melihat pesan masuk dari Erina. Bibirnya langsung tersenyum senang saat membaca balasan pesan Erina yang sesuai dengan harapan nya.


"*A**ku* mau minta tolong kamu buat milihin kado buat acara Anniversary orang tuaku. Kamu mau kan?"


"Aku ga ngerti kado apa yang cocok untuk kado Anniversary, Dim. Maaf. 🙏"


"Besok kita cari bareng-bareng aja. Besok aku jemput jam 7 malam ya.... "


"Tapi Dim... Aku beneran ga paham soal begitu"


"Pleeeasssee.... Besok aku jemput ya. See you... 😘"


"Iihh... Dimas apaan sih. Pake emoji cium segala. " ucap Erina sambil langsung tersenyum. Ada rasa bahagia tersirat disana.


#######


Tepat jam 7 malam, Dimas sudah sampai di depan rumah Erina. Dimas mengetuk pintu rumah Erina dan terlihat di sana yang membukakan pintu adalah ibu Astri, mama Erina.


"Malam tanteee... "sapa Dimas sambil cengar-cengir.


"Eh nak Dimas... Tumben malam-malam kesini? "tanya ibu Astri yang masih belum tau kalau Dimas akan mengajak putrinya keluar malam ini.


"Emmm iya tante. Maaf, saya mau minta ijin tante buat ajak Erina keluar sebentar. Boleh kan tant?" ucap Dimas sedikit memelas.


"Boleeeehhh... Tapi pulangnya jangan malam-malam ya."


"Baik tante"


"Masuk yuk, tante panggilin Erina ya" Dimas hanya mengangguk malu.


Dimas duduk di salah satu sofa santai yang ada di ruang tamu Erina. Sambil menunggu, dimainkannya ponselnya. Tak butuh waktu lama untuk menunggu, Erina sudah muncul di hadapannya.


Malam itu Erina hanya menggunakan celana panjang jeans, kemeja lengan pendek dengan motif abstrak, dengan make up yg natural. Erina tidak menggunakan lipstik. Dia hanya menggunakan lipgloss warna pink yang terlihat cocok dengan bibirnya. Ditambah aksesoris tas slempang yang ga terlalu besar dengan rambut yang terikat, benar-benar membuat mata Dimas terpana.


Erina terlihat santai tapi masih terlihat elegant. Mungkin karna di dukung oleh body Erina yang bagus dengan postur tubuh yang cukup tinggi membuat apa yang ia kenakan akan terlihat pas dan cocok.


"Berangkat sekarang?" ucap Erina membuyarkan lamunan Dimas.


"Yuk" jawab Dimas singkat sambil tersenyum.


"Aku pamit mama dulu ya"


Setelah mereka berpamitan, Dimas langsung melajukan motornya ke salah satu mall yang ada si Jakarta.


"Kita makan dulu ya Rin" ajak Dimas.


"Gimana kalau kita beli kado dulu. Kalau kita makan dulu, takut kemalaman, tokonya keburu tutup"


"Eeemmm... Iya juga ya"


"Kira-kira kado apa yang cocok ya?" tanya Dimas pura-pura. Padahal dia sudah tau dengan barang yang akan dia beli.


"Gimana kalau beli jam tangan aja, Dim. Jam tangan couple" celetuk Erina tiba-tiba memberi usul.


"Kok Erina tau ya isi kepala gue? pas banget sama apa yang gue pikirin dari kemarin" batin Dimas


"Oke" jawab Dimas cepat.


Dimas mengajak Erina masuk ke salah satu toko jam ternama yang sebelumnya pernah ia singgahi.


Erina sedikit kaget karna Dimas mengajaknya masuk ke toko jam yang harganya sangat mahal. Mata Erina langsung terpukau saat melihat keindahan yang nyaris sempurna dari jam tangan yang berjejer rapi di dalam etalase kaca. Dimas juga mulai sibuk memilih.


"Rin, kalau kamu suka yang mana?" tanya Dimas polos.


"Hah.. Aku?"


"Iyaaaa... Kamu suka yang mana?"


"A-aku ga tau selera orang tua kamu seperti apa. Lebih baik kamu aja yang pilih ya" tolak Erina secara halus. Dimas hanya tersenyum simpul sambil menipiskan bibirnya.


"Mas... coba lihat yang itu! " ucap Dimas ke penjual jam.



"Menurut kamu ini bagus ga Rin?"


"Bagus banget Dim. Simple tapi elegant" jawab Erina dengan penuh keyakinan.


"Ya udah mas, saya ambil yang ini ya... "


"Baik mas segera saya kemas"


Tak lama penjual itu mengambil box jam yang sudah satu paket dengan jam, serta tak lupa menyerahkan sertifikat yang menandakan kalau jam itu adalah asli.

__ADS_1


Erina sangat terkejut dengan harga yang tertera di jam itu. Nominal 2 digit yang mendekati angka 3 digit, sungguh fantastis baginya. Karna seumur-umur Erina belum pernah membeli jam tangan semahal itu. Jam tangan miliknya pun ga nyampe 1juta harganya.


Setelah selesai penjelasan dan pengemasan yang dilakukan si penjual, Dimas langsung membayar belanjaannya.


"Kamu mau makan apa Rin?"


"Apa aja deh"


"Jangan apa aja dong... Itu ga ada yang jual di sini" goda Dimas


"Aku ikut kamu aja. Aku nurut"


Dimas menarik nafas panjang.


"Hmmm... Baiklah.. Kalau begitu kita makan Steak aja ya"


"Haduh berat banget itu kalorinya Dim"


"Tadi katanya nurut aku?"


"Kita makan bakso aja ya yang ga terlalu berat" (ucap Erina sambil cengar-cengir)


"Ya udah ayok"


Dimas dan Erina berjalan santai menuju resto yang menjual bakso. Resto yang mereka kunjungi menjual bakso yang rasanya sangat enak. Resto bakso yang selalu ramai di mall itu.


Mereka hanya memesan dua porsi bakso dan jus mangga serta es jeruk sebagai minumannya.


Jam sudah menunjukkan pukul 20.30 tapi suasana di resto bakso itu masih tampak ramai. Mungkin karna ini juga malam minggu. Jadi mall banyak pengunjungnya.


Dimas dan Erina melahap makanan mereka dengan tenang. Sebenarnya hati Erina ga terlalu tenang. Entah kenapa sedari tadi jantungnya berdebar ga beraturan.


Apalagi saat Dimas menatap matanya tadi saat di toko jam.


Erina mencoba sekuat tenaga untuk mengatur nafas dan perasaan nya. Dia ga mau terlalu ke GE-ER an sama sikap Dimas yang akhir-akhir ini sangat baik dan perhatian kepadanya.


Erina sangat menikmati makanannya, karna dia memang pecinta bakso. Sedangkan Dimas, di kepalanya sedang di penuhi berbagai cara awal bagaimana untuk memulai pembicaraan tentang perasaan nya itu. Dimas galau tingkat dewa. Dia ingin segera mengungkapkan perasaan nya ke Erina, tapi dia takut kalau Erina menolaknya dan malah menjauhinya.


Namun rasa ingin memiliki Erina seutuhnya, yang mendorong dirinya mempunyai keberanian untuk memulai pembicaraan.


"Rin.... " terdengar agak kikuk.


"Ya" jawab Erina cepat


"Soal omongan ku waktu itu... "


"Omongan kamu yang mana?" jawab Erina santai sambil melanjutkan makannya.


"Yang aku bilang ke mama kamu, kalau aku ini pacar kamu.... " Dimas ga langsung melanjutkan perkataannya.


"Ooo... yang itu. Lupain aja"


"Kenapa harus di lupain?"


(Sambil tertawa kecil) " Ya karna Aku tau, saat itu kamu cuma lagi bercanda, buat godain mamaku kan?" jawab Erina santai dan sambil meminum jus mangganya.


"Aku serius Rin!!! "


Tiba-tiba Erina tersedak yang membuat dirinya menjadi batuk. Erina segera mengambil nafas dan Dimas langsung memberikan air mineral yang baru saja dia ambil di depan kasir.


"Minum dulu... "


"Gimana? Udah Enakan sekarang? " tanya Dimas cemas. Erina tak menjawab. dia hanya menangguk pelan.


"Maaf ya Rin, kalau mungkin ini membuat kamu kaget. Tapi, perkataan ku yang kemarin itu serius" Erina menatap Dimas sekilas lalu membuang pandangan nya ke arah lain.


"Tatapan mata Dimas tajam banget" batin nya


"Aku suka sama kamu Erina... Sejak pertama kita bertemu, aku sudah suka sama kamu"


Erina hanya terdiam membisu. Bibirnya terasa terkunci. Ia ga tau mau berkata apa. Jantungnya berdetak ga beraturan. Yang bisa dilakukan hanya diam seperti patung.


"Aku ga minta kamu menjawabnya sekarang. Aku kasih kamu waktu satu hari untuk berpikir"


"Apaaaa? Satu hari?" Erina membulatkan matanya ga percaya dengan kata-kata Dimas barusan.


"Iya, satu hari. Besok senin aku akan tagih jawaban kamu. Aku ga akan maksain perasaan kamu kepadaku. Kalau memang jawaban kamu tidak, ya aku akan tetap berusaha supaya kamu bilang iya" dengan santainya Dimas tersenyum manis sambil memamerkan sederet gigi putihnya yang rapih yang berhasil membuat hati Erina tak karuan dibuatnya.


Erina menatap Dimas malas dan di balas senyuman nakal dari Dimas yang membuat dirinya segera memalingkan wajahnya kembali.


"Ingaaattt... Besok senin ya. Di sekolah" Dimas mengulangi perkataan nya kembali.


Lagi-lagi Erina hanya terdiam.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2