Ku Tembak Cintamu 2x

Ku Tembak Cintamu 2x
Kecewa


__ADS_3

Dimas beranjak dari kursinya dan berlalu begitu saja. Wulan memperhatikan langkah Dimas yang tak memperdulikan kehadirannya. Papa dan mama Dimas nampaknya juga sudah selesai makan. Wulan berdiri berinisiatif untuk merapihkan peralatan makanan, namun mama Dimas langsung melarangnya.


"Biar nanti bi Atun saja yang beresin semua ini. Kamu istirahat lagi saja ya" ucap mama Dimas sambil tersenyum.


Wulan menjawabnya dengan mengangguk dan tersenyum. Wulan berjalan menuju ruang tengah keluarga Dimas yang cukup besar. Di perhatikannya foto-foto yang terpasang di sana. Wulan tersenyum melihat foto Dimas saat masih balita yang terlihat sangat lucu dan menggemaskan. Lalu matanya berlanjut pada foto keluarga dan foto close up Dimas yang terlihat sangat tampan dan sangat fotogenic.


Wulan mendongakkan kepalanya ke arah samping rumah. Di sana ia melihat Dimas sedang duduk di kursi santai dekat kolam renang sambil memainkan ponselnya. Wulan sengaja mendekati Dimas. Ia ingin sekali bisa lebih dekat dengannya.


Dimas ga menyadari kehadiran Wulan. Wulan memperhatikan Dimas yang masih asik dengan ponselnya.


"Kak Dimas... " Ucap Wulan datar. Dimas cukup kaget karna tiba-tiba sudah ada Wulan duduk disebelahnya.


"Wulan? Ada apa?"


"Eeemmm... Kak Dimas beneran ga ingat sama aku?" suara Wulan terdengar sedikit kecewa.


"Jujur iya aku lupa. Maaf ya Wulan. Mungkin karna pertemuan kita yang cuma sekali dan sudah agak lama, jadi faktor itulah yang mungkin bikin aku ga begitu ingat sama kamu" penjelasan Dimas memang jujur dari hatinya. Wulan hanya bisa mengangguk pasrah.


"Kak, aku kan udah disini nih. Kakak mau ga ajak aku jalan keliling Jakarta? Aku pengen tau suasana kota Jakarta kak" pinta Wulan sedikit memaksa.


"Wulan, Jakarta itu isinya cuma M A C E T. Jadi apanya yang mau dilihat? Cuma sederatan mobil sama motor yang berjajar rapi di jalan" jawab Dimas dengan santai.


Wulan menarik nafas pelan. Ia tetap belum putus asa dan masih berusaha meluluhkan hati Dimas agar mau mengabulkan permintaannya.


"Ayo dong kak... Besok kan kakak juga masih libur. Pleaseeee.... "


Dimas menarik nafas dan menghembuskan nya secara kasar.


"Emangnya kamu mau kemana sih"


"Kemana aja boleh kok. Di acara tv aku pernah lihat tempat-tempat hang out di Jakarta itu bagus-bagus. Makanya aku pengen lihat secara langsung. Mau ya kaaakkk...."


"Cuaca Jakarta kalau siang panas banget, Lan. Gue males buat keluar rumah. Kapan-kapan aja ya" ucap Dimas nge-les.


Wulan memanyunkan bibirnya. Kakinya dihentak-hentakkan pelan di lantai. Wulan berusaha sabar menahan penolakan dari Dimas. Kalau di rumahnya sendiri, apapun yang ia minta pasti akan dituruti. Apalagi cuma mengajukan permintaan yang sepele. Orangtuanya pasti ga akan menolaknya.


Wulan masih belum menyerah begitu saja. Masih ada alternatif waktu untuk keluar rumah.


"Ya sudah kalau begitu nanti malam aja kita jalan-jalan nya. Gimana? Ok ya kak, pleaseee...."


Dimas menoleh ke arah Wulan. Wajahnya terlihat kesal dan memelas. Dimas jadi ga tega untuk menolak nya. Secara, Wulan memang belum pernah ke Jakarta. Jadi mungkin ga ada salahnya kalau dia membawanya jalan-jalan keliling Jakarta.


"Hmmm... Baiklah. Nanti malam kamu aku ajak keliling Jakarta. Tapi ga jauh-jauh ya"


Muka Wulan langsung merona. Senyumnya merekah. Usahanya berhasil. Dimas mau ngajak dirinya pergi keluar jalan-jalan.


"Bener ya kak. Yyyeeiii.... Makasih ya kak, aku seneng banget. Kak Dimas emang orang yang baik" puji Wulan yang terdengar Lebay.

__ADS_1


Dimas hanya tersenyum simpul melihat sikap Wulan yang masih kekanak-kanakan banget.


###########


Jam 7 malam Wulan sudah siap untuk pergi. Dimas juga sudah terlihat rapih. Celana levis dark blue, kaos oblong dan jaket kulit sangat serasi di tumbuh tinggi dan kekarnya Dimas. Wulan sangat terpesona melihat penampilan Dimas malam itu.


Setelah berpamitan dengan sang mama, Dimas langsung membawa Wulan keliling Jakarta dengan motor matic kesayangan nya. Dimas sangat kaget dengan cara bonceng Wulan yang terkesan agresif. Wulan dengan berani nya langsung memeluk pinggang Dimas dengan erat seperti sepasang kekasih yang sedang berboncengan. Dimas teringat Erina yang masih malu-malu jika harus memeluknya saat bonceng motor. Dimas jadi agak risih dengan cara Wulan yang memeluknya dengan erat.


"Wulan sorry, boncengannya biasa aja ya" ucap Dimas sambil menepis lembut tangan Wulan yang sudah melingkar di pinggang nya.


"Aku takut jatoh kak" jawabnya manja


"Tenang, aku bawa motornya pelan, ga ngebut kok" ucap Dimas sambil tersenyum.


"Ya udah oke" ucap Wulan pasrah.


Dimas melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Di tengah perjalanan, Wulan sengaja melingkarkan lagi tangannya ke pinggang Dimas. Dimas hanya menggelengkan kepalanya dan terus melajukan motornya.


"Kamu mau makan apa?" Tanya Dimas sambil teriak karna suara motor-motor jalanan yang terdengar bising.


"Terserah kak Dimas. Aku ikut aja"


Dimas memarkirkan motornya di sebuah resto yang memiliki menu cukup lengkap. Disana ada menu nasi, mie, berbagai pilihan sayur dan lauk serta berbagai menu cemilan.


(Dimas sudah memesan makanan dan minuman untuk Dirinya sendiri)


"Kok kamu malah pesen cemilan? Emangnya kamu ga laper?" tanya Dimas cemas.


"Kalau malam aku seringnya jarang makan kak. Sekarang aja karna lagi hangout sama kak Dimas jadinya aku ikutan makan" ucapnya santai sambil melempar senyuman lebar.


Dimas menaikkan alisnya karena merasa aneh sama perilaku perempuan yang sering diet tanpa kuatir akan kesehatannya.


kurang lebih 10 menit menunggu, pesanan pun datang. Dimas dan Wulan menikmati makanannya dengan tenang.


Tttiingg...


1 pesan masuk dari Erina


Hai Beib, kamu lagi ngapain?


Dimas langsung membalas pesan Erina. Bibirnya tersenyum senang karna kekasihnya mengirimi pesan untuknya.


Hai sayang,, 😘


Aku lagi mau makan nih. Kamu sudah makan belum?


Wulan terlihat kesal melihat Dimas yang bahagia sendiri dengan dunianya. Seolah-olah Dimas mengabaikan dirinya dan asik dengan seseorang disana yang sedang mengirimi pesan.

__ADS_1


"Kak Dimas dapet pesen dari siapa sih? Kok kayaknya bahagia banget?" tanya Wulan dengan nada cemburu dan kesal.


"Oh, ini dari pacar aku" jawab Dimas jujur.


Hati Wulan seketika menjadi remuk redam. Nafsu makannya seketika hilang. Ia ga terima dengan kejujuran Dimas yang mengatakan kalau dirinya sudah punya pacar.


"Kak Dimas udah punya pacar?" tanya Wulan sinis


"He-em" jawab Dimas sambil tersenyum simpul di sela-sela makan nya. Dimas masih asik membaca dan membalas pesan-pesan yang dikirim oleh Erina.


Wulan makin Bete dengan situasi seperti ini. Ia sangat penasaran dengan perempuan yang bisa meluluhkan hati Dimas. Rasa cemburu dan kesal bercampur menjadi satu memenuhi ruang hati Wulan. Ia ga terima kalau Dimas sudah punya pacar. Tujuannya ke Jakarta kan untuk mendapatkan hati Dimas. Bukan dapet rasa kecewa seperti ini.


"Wulan... Wulan... Heii... " ucap Dimas membuyarkan lamunannya. Selera makannya sudah hilang sedari tadi. Wulan ga sadar kalau sedari tadi ia hanya membolak balik itu makanan dengan garpunya dan membuat makanannya hancur dengan bentuk yang berantakan.


"Makanan kamu kok ga dimakan? Ntar keburu dingin ga enak loh" ucap Dimas masih sambil mengunyah makanannya.


"Iya, nanti aku makan kok" jawab Wulan dengan malas.


"Kalau tempat rekreasi di Jakarta, kalau menurut aku ya... kurang banyak. Kebanyakan disini itu tempat-tempat hangout dan resto-resto. Atau cafe-cafe yang biasa buat nongkrong anak-anak muda. Soalnya kan Jakarta kota bisnis. Jadi kebanyakan dari orang-orangnya lebih suka hangout ke Mall-mall yang tempat nya bersih dan adem"


Wulan nampaknya ga mendengar penjelasan dari Dimas. Dia masih larut dengan lamunan dan pikirannya. Dimas hanya menghela nafas panjang melihat Wulan yang melamun dengan tangannya yang masih memainkan garpu di atas makanan nya.


"Wulan... " suara Dimas terdengar kencang.


Wulan kaget dan gelagepan menjawab panggilan Dimas.


"Iya kak, kenapa?"


"Dari tadi aku perhatiin kamu kok ngelamun terus sih? Kamu ada masalah?"


"Ah, eng.. enggak kok. Ga ada apa-apa"


jawab Wulan dengan wajah yang sangat sungkan.


"Kamu masih pengen kemana lagi?"


"Kita pulang aja deh kak. Kapan-kapan aja kita jalan-jalan lagi"


Dimas menipiskan bibirnya dan mengangguk senang. Dimas membayar makanannya dan langsung berjalan ke parkiran motor.


Seperjalanan pulang Wulan lebih banyak diam dan tidak melingkarkan lagi tangannya ke pinggang Dimas.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2