
Drrtt... Drrtttt...
Suara gesekan dari getaran ponsel Erina yang berada di atas nakas terdengar jelas. Erina meraih ponselnya. Sebuah nama terlihat jelas dilayar ponselnya :
Dimas Calling....
Erina menghembuskan nafasnya dengan kasar. Sejujurnya ia senang Dimas menghubunginya. Tapi, ia belum siap untuk berbicara dengannya. Galau... Itu yang Erina rasakan saat ini. Tapi, walau bagaimanapun, Dimas lah yang sudah berjasa menyelamatkan nyawanya. Dengan berat hati, Erina menerima panggilan telpon dari boss nya, Dimas.
"Haloo..." suara Erina masih terdengar lemah di telinga Dimas.
"Hai sayang... Bagaimana kondisi kamu? Sudah enakan?"
"I-iya. Saya sudah membaik"
"Sudah makan?"
"Sudah"
"Heem.. Baguslah. Siang ini aku masih ada meeting, nanti selesai meeting aku akan segera ke rumah sakit buat lihat kondisi kamu" suara Dimas yakin, dan menjanjikan.
"Sa-saya rasa Pak Dimas ga perlu repot repot datang ke sini. Hari ini saya sudah diperbolehkan dokter untuk pulang. Terima kasih". Dimas tertegun dengan ucapan Erina. Sedikit kecewa mendengarnya. Erina seperti masih ingin menjaga jarak denganya. Untuk beberapa detik mereka saling terdiam.
(Dimas berdehem)
"Baiklah kalau memang itu yang mau kamu. Aku senang mendengarnya kamu sudah boleh pulang." Dimas menutup telpon nya. Dihembuskannya nafas dengan kasar.
Erina masih menggenggam ponselnya. Perasaan tak enak hati tersemai lagi dalam hatinya.
"Maafkan aku Dimas..." ucapnya lirih.
#########
Dua hari lamanya Erina di rawat di rumah sakit. Saat ini ia sudah kembali ke rumahnya. Namun, ia masih belum ingin masuk kerja. Erina sengaja memanfaatkan surat dokter yang menyuruhnya untuk beristirahat beberapa hari di rumah. Dimas juga tak nampak datang ke rumahnya untuk sekedar menengoknya. Mungkin keduanya sama sama berpikir untuk saling instropeksi diri.
Pagi ini Erina masuk kerja seperti biasa. Kondisi badannya sudah membaik. Senyumnya mengembang ketika ibu Sandra dan rekan kerjanya menyambut dengan hangat kedatangannya kembali di kantor.
"Syukurlah Erina kamu sudah sehat. Ibu senang bisa lihat kamu kembali bekerja lagi seperti ini" ucap bu Sandra dengan tulus.
"Iya bu Sandra terima kasih. Maaf ya bu, saya sudah ngrepotin ibu dan teman teman di sini"
"Santai aja Rin. Fungsinya teman kan emang harus saling membantu." ucap Frida salah satu rekan kerja Erina. Erina sendiri hanya membalasnya dengan senyuman manis.
"Oia Rin, btw loe punya hubungan khusus ya sama pak Dimas?" celetuk Frida lagi. Wajah Erina memerah menahan malu, bingung harus menjawab apa. Bu Sandra hanya tersenyum tipis mendengarkan percakapan dua anak buahnya.
"Akh... Apaan sih loe Frid. Gue ga ngerti sama pertanyaann loe" Erina mencoba menghindari pertanyaan dari Frida yang mulai ingin mengorek masalah pribadinya.
"Enggak Rin, soalnya kemarin waktu loe pingsan, pak Dimas tuh mukanya panik banget. Selain panik dia juga keliatan cemas banget tauuu... Trus dia juga dengan sigapnya langsung bawa elo ke rumah sakit. Hmm... So sweettt banget sumpah..." ucapnya dengan antusias.
"Gue curiga deh... Kayaknya elo emang ada apa apanya nih sama pak Dimas. Kalau hanya sekedar karyawan biasa, ga mungkin pak Dimas sampai sebegitunya sama elo. Hayoo... Ngaku aja deh loe... Bener kan dugaan gue??" ucap Frida sambil menepuk nepuk pundak Erina.
"Udah ah, kerjaan gue banyak nih. Jangan kepo deh... " Erina mencubit pipi Frida dan melanjutkan pekerjaannya tanpa.menjawab pertanyaan rekan kerjanya itu.
__ADS_1
Frida mendekati Erina dengan rasa penasaran dan masih mencoba untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaannya yang belum di jawab.
"Jawab napa Rin. Jangan bikin gue penasaran." ucapnya sambil memanyunkan bibirnya. Erina hanya tertawa geli dengan sikap temannya itu.
"Gimana kalau loe tanya langsung aja ke pak Dimas?" goda Erina yang berhasil membuat Frida meninggalkan meja kerjanya.
"Huft... Ngeselin" Erina tertawa geli dengan sikap temannya yang satu itu. Meski wajahnya manyun tapi Frida bukan tipe orang yang gampang marah. Bentar lagi dia juga akan baik lagi. Jadi Erina tak begitu mencemaskan sikap Frida kepadanya.
Seharian ini Erina sibuk dengan pekerjaan di ruang kerjanya. Makan siangpun ia hanya titip office girl kantor untuk membelikan untuknya.
########
Di ruang kerja Dimas
Dimas telah mengetahui keberadaan Erina yang saat ini sudah masuk kantor. Berkat alat pelacak canggih dari Charles yang telah ia sisipkan ke dalam handphone nya memudahkan baginya untuk mengetahui keberadaan wanitanya.
Hari mulai sore. Rencananya malam ini Dimas berniat akan ke rumah Erina untuk menemui sekaligus melihat kondisi kesehatan dari kekasihnya itu. Rasa rindunya sudah terasa sampai di ubun ubun.
"Yo, gimana persiapan pernikahan loe?" ucap Dimas di sela sela kesibukan mengoreksi file file yang sudah ada di atas mejanya.
"Alhamdulillah udah 90 persen boss. Minggu depan gue rencananya mau nyebar undangan. Oia, Erina gimana kondisinya? Dia udah keluar dari rumah sakit kan?"
"Udah. Hari ini dia udah masuk kerja seperti biasa. Syukurlah kalau pernikahan loe dah siap 90 persen. Mental loe sendiri gimana? Dah siap? Yakin?" goda Dimas sambil tertawa kecil.
"Kalau soal mental jangan di tanya... Rioo..." ucapnya sombong sambil menepuk dadanya dengan bangga.
"Huuu... Sok gaya loe... Mang loe dah hafal sama lafalannya?"
"Udah dong... Hampir tiap hari gue hafalin tuh lafalan Dim. Biar sekali ucap langsung SAH..." suara tawa lebar keduanya menggema di udara. Dimas menggeleng gelengkan kepala dengan sikap Rio yang sangat percaya diri.
"Hmmm, Gue? Ga salah loe?"
"Kan loe sobat sekaligus boss gue Dim... Mau ya... Pleasee...." wajah Rio sengaja dibuat buat supaya terlihat memelas di depan Dimas.
"Loe berani bayar gue berapa? Secara gue ini kan orang penting, mahaaalll..."
"Jahat loe Dim... Sama temen perhitungan banget ih... Pokoknya nama loe gue masukin ke dalam daftar saksi utama pernikahan gue titik"
"Yaahh.. Baiklah... Berhubung loe dah jadi assistant pribadi gue yang baik, gue kabulkan permohonan loe."
"Serius Dim... Yeeeess!!! Thanks ya mas brooo...." saking senengnya, Rio refleks memeluk gemas Dimas dari belakang. Dimas membelalakkan matanya ke arah Rio yang masih tertawa girang.
"Gue masih normal yaaa... Lepasin, gilaaa !!!"
"Ok...Ok Boss.. Selaaawwww.... Makasih ya Dim..." Rio menepuk pundak Dimas dan kembali ke meja kerjanya. Dimas hanya menatap geram kelakuan temanya yang rada rada oleng.
#########
Waktu sudah menunjukkan hampir jam tujuh malam. Dimas dan Rio sudah bersiap akan pulang. Sebelum pulang, Dimas menyempatkan melihat ponselnya untuk memastikan kembali apakah Erina sudah berada di rumahnya atau belum.
Dimas membulatkan matanya saat ia melihat posisi Erina masih berada di kantor. Perasaan panik dan cemas akan Erina kenapa napa langsung menyeruak ke dalam jiwanya.
__ADS_1
"Yo, Erina masih di ruang kerjanya. Gue ke atas dulu ya. Gue khawatir dia kenapa napa.lagi"
"Gue ikut..." Dimas hanya mengangguk dan langsung bergegas menaiki lift menuju lantai 11.
Pintu lift terbuka. Langkah kaki dua orang laki-laki terdengar sangat tergesa gesa. Ruang lantai 11 sudah sepi. Dimas langsung memasuki ruang kerja Erina. Sesampainya di sana, Dimas melihat sosok Erina sedang sibuk membereskan meja kerjanya. Sepertinya ia sudah bersiap untuk pulang.
Dimas menghembuskan nafas lega saat melihat kondisi Erina baik baik saja. Dimas menyuruh Rio untuk pulang karna tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Rio mematuhi perintah boss nya dan bergegas meninggalkannya.
Ternyata, di ruangan kerja Erina hanya tersisa dia sendiri di sana. Erina memang sengaja untuk pulang terakhir. Ia ingin membereskan semua pekerjaan yang sempat tertunda karna beberapa hari kemarin ia ga masuk. Dan pekerjaannya ga mungkin dilimpahkan semuanya ke rekan kerjanya untuk diselesaikan.
Dimas berjalan pelan mendekati Erina yang tengah bersiap untuk pulang. Erina terkejut luar biasa saat matanya melihat seorang sosok laki laki yang tiba tiba sudah berada di hadapannya.
"Haaahhh...." teriak Erina sambil memegangi dadanya karna terkejut. Erina bernafas lega saat ia ternyata melihat sosok laki-laki familiar yang sangat ia kenal.
"Pak Dimas...." ucapnya lagi dan tetap mematung diposisinya.
"Kamu kenapa masih di sini? Sendirian pula?" Dimas menatap dalam wajah Erina yang terlihat salah tingkah di hadapannya.
"Emm... Sayaa... Saya sedang membereskan semua pekerjaan yang belum sempat saya bereskan kemarin. Tapi ini saya sudah mau pulang kok pak" jawab Erina sambil menundukkan wajahnya. Perlahan Dimas berjalan mendekati Erina yang menunduk mematung diposisinya. Dipandangi dengan lekat wajah wanita yang sangat ia cintai. Wajah manisnya yang kini terlihat sedih karna sikap bodohnya yang sudah membuatnya berubah.
"Aku ga suka kamu bersikap formal seperti ini kepadaku. Haruskah aku memintamu berkali kali untuk hal yang sama?" ucap Dimas geram. Erina hanya terdiam.
Diraihnya tangan wanitanya yang terdiam. Erina menengadahkan wajahnya dan memberanikan matanya untuk menatap wajah Dimas yang sudah lebih dulu menatapnya dengan lekat. Betapa terkejutnya Erina ketika tangan kekar Dimas menarik tubuhnya dan memeluknya dengan erat.
"Maafkan aku Erina... Kembalilah menjadi Erinaku... Jangan siksa aku dengan sikap dingin kamu seperti ini. Aku udah hampir gila dengan sikap kamu yang acuh sama aku. Aku sayang banget sama kamu. Aku mohon Erina, jangan siksa aku dengan rasa tidak pedulimu seperti ini" Dimas menarik dan membawa tubuh Erina ke dalam pelukan hangatnya. Erina hanya terdiam dan pasrah.
Pelukan Dimas sungguh menghanyutkan. Pelukan hangat yang selama ini sangat ia rindukan dan kini telah berhasil membawa jiwanya larut ke dalamnya. Erina tak mampu berucap sepatah kata. Perkataan Dimas berhasil membuat hatinya terharu sekaligus bahagia. Hanya air mata yang mewakili perasaannya saat ini. Tubuh Erina berguncang kecil dalam pelukan Dimas. Isak tangisnya sedikit mengganggu Dimas.
Dimas melepaskan pelukannya. Erina memalingkan wajahnya yang sudah basah oleh airmatanya.
"Hei... Kamu ngapain nangis? Jangan nangis Erina pleaseee.... Aku ga sanggup lihat kamu lemah seperti ini"
Erina menyeka airmatanya dan menarik nafas dalam untuk menenangkan hatinya. Ditatapnya dalam mata Dimas. Bibirnya memberanikan untuk melontarkan pertanyaan yang sudah ada di ujung lidahnya.
"Kamu... A-apakah kamu sudah percaya kalau aku ga pernah menghianati kamu dengan laki-laki lain?" ucapnya dengan hati hati.
"Iya sayang, aku percaya. Sebenarnya soal kamu dengan Kevin, aku sudah tau lebih awal, kalau kamu hanya dijebak sama dia. Maaf kalau aku sempat mencurigai kamu. Aku sungguh menyesal. Aku terlalu cemburu. Aku memang bodoh sudah terbawa emosi dengan berita bohong. Harusnya aku bisa berpikir jernih tentang kamu.." Erina menipiskan bibirnya memaksa bibirnya untuk tersenyum. Hatinya lega karna Dimas sudah mengetahui hal yang sebenarnya.
"Terima kasih. Aku senang kamu akhirnya tau akan hal yang sebenarnya." airmata Erina kembali jatuh dan membasahi ke dua pipinya.
"Erina pleasee... Jangan nangis lagi" Dimas membenamkan wajah Erina ke dalam pelukannya kembali. Memeluknya erat seakan tak ingin ia lepaskan.
"Aku ga pernah sedikitpun punya niatan untuk menghianati kamu Dimas... Bahkan saat kamu jauh dari aku, aku tetap berusaha menjaga hatiku untuk kamu. Hatiku sungguh sakit saat kamu ga mau mendengarkan penjelasan aku dan kamu seakan lebih percaya dengan fitnah yang diberikan untukku. Aku...." Erina tak mampu melanjutkan kalimatnya. Ia terisak dalam pelukan Dimas. Dimas semakin merasa bersalah dengan kebodohan yang telah diperbuatnya.
"Maafin aku Erina. Maafkan atas semua kebodohanku. Mulai sekarang, aku akan percaya denganmu. Bahkan untuk semua perkataanmu, aku akan percaya." Dimas kembali merapatkan pelukannya dan membiarkan Erinanya puas menangis meluapkan emosinya di dalam pelukannya.
.
__ADS_1
.
.