
Kkkkrriiiinnngggg.....
Suara alarm Ponsel Wulan telah berbunyi. Dilihatnya jam masih menunjukkan pukul 4 pagi. Wulan membuka matanya dan bergegas ke toilet untuk segera mandi dan bersiap ke sekolahnya yang baru. Hari ini Wulan sangat bersemangat menjalani kegiatan belajarnya di sekolah yang baru. Sekolah yang sama dengan Dimas. Itu artinya dia bisa berangkat dan pulang selalu bersama dengannya.
Selesai mandi, Wulan merias wajahnya dengan make up tipis yang tidak terlalu mencolok lengkap dengan lipgloss pink favorite nya. Wulan keluar kamar. Dilihatnya kamar Dimas masih sepi.
Oia just info, kamar Dimas juga berada di lantai 2. Lokasinya ga jauh dari kamar Wulan.
Wulan berjalan menuruni anak tangga. Di dapur sudah terlihat bi Atun yang sudah sibuk memasak menyiapkan sarapan.
"Pagi bi Atun" sapa Wulan sambil tersenyum.
"Eh, enon udah bangun"
"Iya bi. Bibi masak apa?"
"Ini bibi lagi masak nasi buat bikin nasi goreng. Bibi juga lagi angetin ayam bacem kesukaan bapak"
"Ooo... okay. Oia Bi, biar aku yang bikin teh ya.. Ngomong ngomong gula dan teh nya ada dimana ya?"
"Ada di lemari tengah non" jawab bi Atun sambil menunjuk tempat yang di maksud.
"Kalau non Wulan mau teh manis, biar bibi aja yang bikinin" ucap bibi merasa ga enak.
"Ga usah bi. Biar aku aja. Gampang kok bikinnya. Bibi lanjutin yang lain aja."
__ADS_1
Bi Atun hanya mengangguk dan membiarkan Wulan membuat teh manis.
Pagi ini Wulan membuatkan teh manis panas untuk semua. Wulan sengaja membuatkan teh manis dengan air panas. Karna masih pagi. Jadi nanti kalau Dimas dan orang tuanya bangun, air tehnya masih terasa hangat.
############
Seperti biasa jam 5.30 Dimas sudah rapih dan siap untuk berangkat. Ia hendak menjemput kekasihnya Erina terlebih dahulu. Dimas cukup terkejut ternyata Wulan sudah lebih dulu bangun dan sudah berada di meja makan. Dimas melihat Wulan sudah rapih dan sedang menikmati secangkir teh dan biskuit.
Mamanya juga sudah berada disana sedang menikmati teh panas.
"Pagi mam" sapa Dimas sambil mencium pipi mamanya.
"Pagi sayang... Sarapan dulu" ucap sang mama.
"Pagi kak Dimas... Ini aku udah bikinin teh manis anget buat kakak" ucap Wulan sambil menyodorkan gelas cangkir nya ke arah Dimas.
"Ma, Dimas berangkat dulu ya" ucap Dimas dengan suara yang terburu-buru.
"Eeeehhh.... Sebentar. Wulan kamu sudah siap kan? Kamu berangkat bareng ya sama Dimas." ucap sang mama yang penuh dengan penekanan perintah kepada Dimas untuk mengajak Wulan berangkat bersama.
"Wulan berangkat di anter pak Tatang aja ya ma. Dimas buru-buru nih" jawab nya nge-les.
"Enggak... enggak.. Pak Tatang mau anter mama ke dokter gigi. Mama mau cek gigi mama"
"Kan mama ke Dokter nya bisa nanti setelah pak Tatang pulang anter Wulan"
__ADS_1
"Sekolah kalian kan sama. Ga ada salahnya juga kan kalau kalian berangkat bareng? Lebih efisien waktu dan biaya. Ayo Wulan kamu siap-siap ya"
Dimas mendengus kesal dengan sikap mamanya paginya. Dimas terpaksa ga bisa menolak permintaan sang mama. Di ambilnya ponsel dari balik sakunya lalu mengirim pesan ke Erina.
Sayang, hari ini aku ga bisa jemput kamu. Kamu berangkat sendiri ke sekolah ga apa-apa kan?
##########
Ttttiing....
Satu pesan masuk di ponsel Erina. Erina yang saat itu sedang sarapan tersenyum saat melihat nama sang pengirim pesan. Dimas.
Erina sedikit terkejut saat membaca pesan Dimas. Tapi Erina ga mau egois. Mungkin saat ini Dimas memang lagi ga bisa menjemputnya.
Iya ga apa-apa. Aku bisa bareng mama. 😊
Dimas tersenyum lega dengan balasan pesan yang dikirimkan Dimas.
Pagi itu akhirnya Dimas dan Wulan berangkat ke sekolah bersama. Dan seperti yang sudah di duga Wulan membonceng dengan merangkulkan tangannya di pinggang Dimas dengan erat yang sesungguhnya membuat Dimas ga nyaman. Khawatir kalau Erina lihat, bisa menimbulkan kesalah pahaman.
Sayangnya kekhawatiran Dimas itu benar adanya. Erina yang baru saja sampai dan turun dari mobil sang mama melihat motor Dimas memasuki gerbang sekolah. Erina melihat Dimas bersama seorang cewek.
.
.
__ADS_1
.