Ku Tembak Cintamu 2x

Ku Tembak Cintamu 2x
Dimas Panik


__ADS_3

Dimas kembali ke ruang kerja nya dengan wajah kusut. Raut wajah dingin Erina masih terlihat jelas di matanya. Dimas memejamkan mata dan menyenderkan punggungnya di kursi besarnya. Otaknya sedang berpikir keras tentang berbagai cara untuk memperbaiki hubungannya kembali dengan Erina yang saat ini kembali merenggang.


"Aduh..."


Dimas terperanjat kaget dan terbangun dari merem merem ayamnya ketika sebuah benda tumpul dan ringan mengenai wajahnya. Dari meja sebelah sudah terlihat Rio yang terkikik menahan tawanya melihat Dimas yang kaget karna lemparan kertas yang sengaja ia remas dan dilempar ke muka boss nya itu.


"Setan... Mau gue pecat loe..." suara kikikan Rio masih terdengar renyah di sana.


"Sorry Boss... Jangan marah. Selaaaawww... Lagian tumben banget sih Dim pagi pagi loe molor lagi? Semalam ga tidur loe?"


"Sotoy Loe...." Dimas melempar balik kertas remasan ke arah Rio dan dengan tangkasnya langsung di tangkap olehnya.


"Gue pusing Yo" ucap Dimas sambil memejamkan matanya kembali.


"Gue anter ke dokter? Yuk.."


"Gue ga sakit, kampret... Gue pusing sama hubungan gue... Erina Yoo..."


"Kenapa lagi sih boss.. ?? Kalau saran gue, udah deh mending loe segera nikahin aja deh tuh Erina. Biar loe lebih tenang dan bisa setiap saat berbagi kebahagiaan. Masa loe mau kalah sama gue? Gue aja bentar lagi mau nikah..."


"Sialan loe..."


"Tapi saran loe bener juga ya Yo. Sebenarnya udah lama Gue pengen segera melamar Erina buat jadi istri gue. Tapi sekarang yang jadi permasalahannya, Erina lagi marah Yo sama gue.. Dan dia sengaja ngindarin gue... Oh My God... Gue bisa gila kalau begini terus..." Dimas meremas rambut di kepalanya dan mengusap wajahnya dengan kasar.


"Ya udah, kalau gitu loe ajak Erina bicara berdua. Sekalian Loe minta maaf. Kasih dia bunga, coklat, gelang, cincin, kalung, tas, sepatu, alat make up, baju, sendal...." ucap Rio santai dengan jarinya menghitung barang barang yang ia sebutkan tadi.


"Uang, deposito, mobil, rumah yeee..." sambung Dimas geram.


"Hahahahahaaa.... Betul banget tuh... Gue jamin Erina bakal luluh tuh hatinya"


"Loe pikir gue mau seserahan? Ide loe payah. Lagipula, Erina itu bukan cewek matre. Dia belum tentu mau dengan mudahnya menerima barang barang seperti itu"


"Hhhmmm.... Perasaan percintaan loe dari dulu rumit banget ya boss quu..."


"Yah begitulah..." ucapnya pasrah sambil merebahkan kembali punggungnya ke kursi kerjanya.


########


Seharian ini entah kenapa Dimas tak bisa fokus dalam bekerja. Dibenaknya hanya ada Erina dan Erina. Saat meeting dengan client, Dimas juga lebih sering diam termenung memikirkan Erina bukan diam karna mendengarkan. Client Dimas jadi sedikit kecewa dengan sikap Dimas yang terkesan kurang menghargai partner kerja yang sedang mempresentasikan programnya.


Dimas sungguh sangat mengkhawatirkan kondisi Erina yang terlihat kurang sehat dari beberapa hari kemarin. Sedikit lebay memang. Tapi perasaan aneh ini sungguh sulit dijelaskan dan sedikit mengusik pikirannya.


Dimas tak mampu lagi menahan rasa rindu dan rasa keingintahuannya akan kondisi Erina hari itu. Sepulangnya dari meeting dengan cliet, Dimas langsung menuju ke lantai 11 untuk melihat Erina, kekaksihnya. Ibu Sandra cukup terkejut dengan kehadiran Dimas secara tiba-tiba. Pasalnya, Dimas tidak pernah sekalipun menampakkan batang hidungnya di depan ibu Sandra. Dan kehadiran Dimas benar benar membuatnya kelimpungan tak karuan takut ada kesalahan yang sudah ia atau anak buahnya perbuat.


"Pak Dimas?? Se-selamat siang Pak." ucap ibu Sandra sedikit panik. Dimas hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum manis.


Semua karyawan ikut berdiri menyambut kedatangan Boss besar nomor dua di perusahaan itu. Hanya Erina yang masih terlihat duduk. Ia sengaja tetap duduk meski telinganya mendengar nama Dimas disebutkan. Erina berpura-pura tetap sibuk dengan pekerjaannya, mengacuhkan kehadiran Dimas tanpa menolehkan pandangan kepadanya.


"Maaf Pak Dimas, ada yang bisa saya bantu? Tumben sekali bapak datang ke sini? Apakah ada sesuatu yang perlu kami perbaiki?" serentetan pertanyaan dilontarkan oleh ibu Sandra. Bahasa tubuhnya tampak sangat panik dan grogi.


"Tidak ada apa-apa Bu Sandra. Saya hanya ingin melihat kondisi ruangan di sini saja. Apakah ada yang perlu diperbaiki? Atau ada yang perlu diganti?" ucap Dimas santai menutupi kebohongannya. Karna niat awal dirinya ke ruangan itu adalah untuk melihat wanitanya.


Mata Dimas melirik ke arah Erina yang terdiam, menunduk dan menyibukkan dirinya dengan pekerjaannya.


__ADS_1


"Oh, saya rasa saat ini belum ada yang harus di ganti atau diperbaiki Pak Dimas" ucap Bu Sandra dengan santun. Dimas hanya menganggukkan kepalanya dengan santai sambil melihat kondisi sekeliling ruangan.


"Silahkan duduk Pak Dimas... Bapak mau minum apa? Teh? Kopi?"


"Tidak usah Bu Sandra. Saya tidak lama. Silahkan ibu lanjutkan pekerjaan ibu. Saya permisi..." ucap Dimas sambil menganggukan kepalanya. Sebelum ia pergi meninggalkan ruangan, Dimas menyempatkan untuk menolehkan lagi pandangannya ke arah meja Erina. Dan lagi lagi Erina masih terdiam dan masih enggan untuk menolehkan sedikitpun pandangannya kepadanya.


Dimas sedikit kecewa dengan sikap Erina yang sengaja mengabaikannya. Jangankan untuk menyapa, menolehkan wajahnya pun enggan ia lakukan. Dimas pun akhirnya memutuskan untuk pergi meninggalkan ruang kerja Erina yang sebelumnya telah berpamitan dengan Ibu Sandra.


########


Erina menarik nafas lega saat Dimas sudah benar benar pergi dari ruang kerjanya. Nafasnya terasa sesak saat Dimas tiba-tiba datang. Sekuat tenaga ia menahan untuk bisa tenang meski degub jantungnya telah berpacu sangat cepat. Entah rasa apa itu, sangat sulit untuk dijelaskan. Rasa kesal saat Dimas berada dekat dengannya, namun rasa rindu yang teramat sangat kalau Dimas tak peduli dengannya.


Tubuh Erina terasa begitu ngilu dan rentek. Rasa pusing kepalanya masih terasa Sampai kini. Lidahnya mulai terasa pahit menerima makanan atau minuman. Sepertinya Erina besok harus ijin kepada Bu Sandra lagi untuk beristirahat di rumah.


Waktu sudah menunjukkan jam empat sore. Sebentar lagi jam pulang kantor. Ibu Sandra terlihat buru buru membereskan meja kerja dan barang barangnya.


"Erina, maaf Ibu ijin pulang lebih awal ya. Anak ibu sakit. Saya boleh minta tolong?" ucapnya yang langsung diangguki oleh Erina dengan antusias.


"Tolong kamu rapihkan beberapa berkas berkas ini ya. Ga banyak kok. Tinggal 1 map lagi"


"Baik Bu" jawabnya sambil tersenyum tulus.


"Erina, kamu juga sebaiknya cepat pulang ya. Ibu Lihat kamu juga masih kurang sehat?"


"Saya hanya flu biasa bu. Nanti setelah makan dan minum obat saya akan lebih baik lagi"


"Ya sudah, Ibu pulang ya..."


"Iya, hati-hati bu Sandra, Semoga anak ibu cepat sembuh..."


Ibu Sandra dengan langkah terburu buru segera menuruni lift dan keluar kantor menuju rumah.


Erina segera membereskan apa yang sudah dipesan oleh atasannya. Berkas berkas yang tertinggal ternyata juga tidaklah banyak. Jadi Erina dengan sangat mudah menyelesaikannya.


Erina kembali di meja kerjanya. Dipijit pijitnya pelan kedua pelipis kepalanya untuk meringankan rasa pusing yang mulai terasa mengganggu. Satu persatu rekan kerjanya sudah berpamitan pulang. Erina beranjak dari kursi menuju pantry untuk membuat segelas teh manis panas untuk menghangatkan tubuhnya. Dulu saat kecil kalau dirinya sakit, mamanya sering membuatkan air teh manis panas atau jahe panas untuknya. Siapa tau dengan ia meneguk teh manis panas, tubuhnya bisa mengeluarkan keringat yang bisa mengembalikan tenaganya kembali.


Erina menyesapi sedikit demi sedikit air teh panas menggunakan sendok. Hawa panas dari air panas berhasil memacu keringat yang mulai keluar dan membasahi tubuhnya. Tubuhnya lumayan enakan.


"Rin, loe ga balik? Udah mau malam." ucap Vera salah satu rekan kerjanya.


"Iya sebentar lagi"


"Gue duluan ga apa apa ya"


"Iya ga apa apa. Hati-hati ya..." Erina memberikan senyuman manis kepada teman satu ruangannya dan kembali melanjutkan untuk meminum air teh nya yang masih banyak.


Erina menyangga kepalanya dengan sebelah tangannya. Rasa pusingnya yang sempat reda, kini terasa lagi.


*Di sisi lain, di ruang kerja Dimas*


Perasaan Dimas entah kenapa sedari pagi terasa aneh. Ia merasakan sesuatu yang sulit untuk dijelaskan. Rasa malas, pegal, bingung, galau bercampur menjadi satu. Rasa makanan pun tak senikmat biasanya. Padahal Dimas tak merasakan sakit di tubuhnya. Pikiran pun juga ga bisa fokus.


Dilihatnya jam tangan miliknya yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Dimas melihat ke ponsel untuk melihat posisi Erina saat ini. Ia cukup terkejut ternyata Erina masih berada di kantor.


"Yo, gue ke atas dulu ya.."

__ADS_1


"Okay" jawabnya cepat tanpa memusingkan tujuan dari boss nya itu.


Perasaan Dimas semakin tak karuan. Ia segera menaiki lift menuju ke lantai 11 untuk menemui Erina. Langkah kaki Dimas dengan cepat sudah berada di depan pintu ruang kerja Erina.


Betapa terkejutnya Dimas saat matanya melihat Erina sudah terbaring pingsan di atas sofa panjang yang berada di sudut ruangan. Ada dua orang wanita rekan kerja Erina yang menungguinya dengan raut wajah yang sama paniknya.


"Erinaaaa...." Dimas setengah berlari menghampiri tubuh Erina di sofa.


Kedua rekan kerjanya saling berpandangan bingung dan sungkan. Dimas langsung menekan nomor Rio dari ponselnya.


"Yess Boss" ucap Rio santai menjawab panggilan dari Dimas.


"Siapkan mobil, SEKARANG !!!" perintah Dimas penuh tekanan. Suara Dimas terdengar sangat panik dan cemas.


"O..Okay..." sejenak Rio syok dengan perintah Dimas yang terdengar sangat serius. Tanpa pikir panjang, Rio langsung menyambar kunci mobil yang berada di atas meja kerjanya dan berlari menuju parkiran mobil.


Dimas membopong tubuh lemah Erina yang masih tak sadarkan diri dan bergegas memasuki lift.


"Erinaaaa... Bertahanlah... Aku akan segera membawamu ke rumah sakit" ucap Dimas sambil berjalan membopong tubuh Erina.


Pintu lift terbuka. Dimas berjalan cepat menuju mobilnya. Rio keluar dari mobil dan membukakan pintu belakang untuk boss nya dan membantu memasukkan tubuh Erina le dalam mobil.


"Dimas, Erina kenapa?" tanya Rio sambil melajukan mobilnya


"Dia pingsan"


"Trus kita mau kemana?"


"Ke rumah sakit, set** !!" umpat Dimas kepada Rio, kesal akan pertanyaan bodohnya.


"Ok.. Ok..." jawabnya cepat.


"Gue mau dalam waktu 20 menit loe harus bisa nyampe di rumah sakit. Gue ga mau Erina gue sampai kenapa napa" ucap Dimas penuh ancaman.


"Sabar boss. Ini gue juga dah ngebut. Tapi ya ga 20 menit juga keles. Jarak kantor-rumah sakit lumayan jauh. Yang ada gue ikutan masuk rumah sakit..."


"CEPET RIOOO...." gertak Dimas dengan nada suara mengancam. Rio memberanikan diri untuk menginjak pedal gas mobil lebih dalam lagi untuk memacu kecepatan mobil yang sedang ia kendarai.


Rio semakin panik mengemudikan mobil. Berulang kali di tariknya nafas panjangnya untuk membuatnya tetap tenang dan fokus.


"Oh my Gooooddd...." teriak Rio panik dalam hati.


Saat ini Dimas mirip seperti seorang ibu yang memangku anaknya yang sedang sakit. Dimas memangku tubuh lemah Erina sambil memeluknya erat, menciumi pipi dan bibirnya yang saat ini terasa panas karna suhu tubuh Erina yang sedang tinggi.


Di genggamnya tangan Erina dengan erat dan menempelkannya di bibirnya.


"Erinaaaa... Please, Bertahanlah..." ucapnya lagi berharap Erina baik baik saja.


Dimas benar benar sangat cemas dan panik melihat kondisi Erina yang seperti ini. Wajah sayu dan pucat wanitanya sungguh mengiris iris hatinya. Perasaan tak enak yang ia rasakan seharian ini terjawablah sudah.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2