Ku Tembak Cintamu 2x

Ku Tembak Cintamu 2x
Semakin Benci


__ADS_3

Wulan turun dari mobil dengan wajah yang sangat muram dan penuh dengan kekesalan. Wulan berjalan memasuki rumah Dimas dan hendak langsung naik ke atas menuju kamar nya sebelum sesaat bertemu dengan mamanya Dimas.


"Loh Wulan, kok kamu pulang sendiri? Dimas mana?" tanya ibu Devita sedikit bingung.


"Dimas lagi sibuk sama pacarnya tante" ucap Wulan cepat dan berlalu meninggalkan mama Dimas untuk masuk ke kamar.


"Dimas udah punya pacar?" ucap bu d


Devita lirih. Tanpa sadar tersungging senyum kecil di bibirnya.


"Anakku sudah besar sekarang. Sudah kenal sama cinta" ucapnya lagi.


Brrruukkk...


Wulan membuang tasnya sembarangan dan langsung melemparkan dirinya di atas ranjang. Hatinya benar-benar kacau. Airmata nya pun mengalir seketika. Dibiarkannya airmatanya mengalir sampai puas. Entah kenapa ia merasa sangat iri dan benci dengan Erina.


"Kenapa harus ada Erina? Kenapa Dimas harus Punya pacar? Kenapaaaa... " Wulan masih mengumpat sendiri. Dibenamkannya wajahnya ke bantal.


Karena lelah, Wulanpun tertidur.


##########


"Dimaaaaassss.... " suara ibu Devita tiba-tiba mengganggu Dimas yang sedang asik menonton film action di ruang keluarga.


"Ada apa sih mama panggil Dimas sambil teriak begitu"


"Sayang, tolong bangunin Wulan ya. Dari pulang sekolah dia belum keluar dari kamar. Kayaknya Wulan juga belum makan siang deh." ucap sang mama khawatir.


"Udah makan di sekolah kali ma, makanya ga makan lagi" jawab Dimas masih asik dengan filmnya.


"Ini dah hampir malam sayang. Udah sana bangunin. Mama takut dia kenapa-napa"


"Mama aja ah, masa harus Dimas sih yang ke kamar Wulan."


"Emangnya kenapa? Ga ada yang salah kan? Udah sana..." suara sang mama penuh dengan perintah.


Dimas menarik nafas malas, dan memaksa dirinya untuk bangun dan berjalan menuju kamar Wulan.


Tok.. Tok..


"Lan.. Wulan.. " panggil Dimas dari luar pintu.


Di ketuknya lagi pintu kamar Wulan.


"Wulan, Loe tidur ya?"


Masih ga ada jawaban dari dalam kamar Wulan. Dimas mencoba mengetuk pintu kamar Wulan dengan agak keras. Wulan terperanjat mendengar suara ketukan pintu yang ada cukup keras.


Wulan bangun dari tempat tidurnya dan merapihkan penampilan nya di depan cermin. Matanya terlihat sembab karna tangisan tadi. Wulan agak malu untuk membuka pintu kamarnya. Dari luar kamar terdengar suara Dimas yang memanggil-manggil namanya.


"Wulaaaannn.... Wuullaaaannn... "

__ADS_1


"Iiiyyyaaaaa.... " jawab Wulan sambil teriak dari dalam kamar.


Wulan membuka pintu kamarnya dan menatap wajah Dimas sekilas lalu menunduk. Ia ga mau Dimas melihat mata sembab nya.


"Loe di cariin nyokap gue tuh. Nyokap kuatir loe kenapa-napa karna ga keluar kamar."


"Maaf Kak, tadi aku ketiduran"


(Dimas mengangguk)


"Ya udah buruan loe mandi trus turun makan ya"


Wulan hanya mengangguk dan lalu menutup kembali pintu kamarnya. Raut kesedihan masih terpampang jelas di wajahnya. Ternyata Dimas ga perhatian dengannya. Dimas ga melihat perubahan pada matanya yang sembab.


############


Pagi ini seperti biasa Dimas sudah bersiap untuk pergi ke sekolah. Wulan juga sudah terlihat siap. Dan masih dengan perintah yang sama dari sang mama, Dimas harus berangkat bareng dengan Wulan. Dimas hanya menarik nafas dan sejenak berpikir.


"Ya udah ayok." ucap Dimas ga mau membantah. Senyum senang pun tersungging di bibir Wulan. Wulan berjalan mengikuti Dimas dari belakang.


Wulan terkejut saat Dimas berjalan ke garasi mobilnya. Dimas memanaskan mobil sedan sport hitam metalik miliknya. Mobil ini adalah hadiah ulang tahun Dimas yang ke 18 yang di berikan papanya. Usia mobilnya juga baru sekitar 6 bulan. Dimas memang jarang menggunakan mobilnya ke sekolah. Tujuannya biar ga membuat kecemburuan ekonomi di antara teman-teman nya. Lagipula Dimas juga belum begitu butuh mobil. Namun untuk sekarang, ia membutuhkan mobil ini. Dimas ga mau Erina cemburu lagi karna melihat tubuhnya di peluk oleh cewek lain.


"Ayo masuk" perintah Dimas.


Wulan langsung memasuki mobil Dimas dan memasang sabuk pengamannya.


"Kita naik mobil kak?"


"Kenapa ga naik motor aja? Kan bisa lebih cepat nyampe sekolah nya?"


"Ga apa-apa. Gue lagi pengen aja naik mobil. Sayang ga pernah di pake nih mobil"


Dimas melajukan mobilnya ke rumah Erina. Jalanan pagi itu ga terlalu padat. Dimas nyampe rumah Erina pas banget. Mobil mama Erina sudah keluar dari pintu pagar rumah. Erina terlihat sedang menutup pintu pagar.


Suara klakson mobil Dimas membuat Erina terkejut. Dimas keluar dari mobil sambil tersenyum.


"Dimas???" ucap Erina lirih.


Dimas melempar senyum manis nya kepada nya.


"Aku belum terlambat kan?"


"Kamu tumben pake mobil?"


"Humh... Yuk"


Erina mengangguk sambil tersenyum. Erina berpamitan dengan mamanya. Ibu Astri tersenyum kepada Dimas dan berlalu melajukan mobilnya meninggalkan Erina dan Dimas.


Erina berjalan menuju mobil Dimas. Erina sangat terkejut ternyata di dalam mobil Dimas sudah ada Wulan.


"Hai Wulan. Kamu bareng lagi sama Dimas?" sapa Erina sambil tersenyum.

__ADS_1


Wulan memandang malas Erina dan ga menjawab pertanyaannya.


"Wulan sorry, loe pindah ke belakang ya.. " ucap Dimas santai.


"Kenapa mesti aku yang harus duduk di belakang? Kan aku duluan yang duduk disini" jawab Wulan dengan ketus.


"Wulan please, gue ga mau berdebat sama loe" meski Dimas sudah agak memaksa, namun Wulan tetap kekeh pada pendiriannya untuk tidak mau berpindah ke kursi belakang.


"Dimas... Biar aku aja yang di belakang" ucap Erina menengahi.


"Tapi beib... "


"Ga apa-apa Dim" ucap Erina sambil tersenyum tulus dan langsung duduk di kursi belakang. Dimas menghela nafas menahan rasa kesalnya kepada Wulan.


Dimas mengarahkan kaca tengah mobilnya agak ke bawah yang membuat dirinya bisa leluasa memandang wajah Erina. Sambil melajukan mobilnya, mata Dimas tak pernah berhenti untuk menatap wajah Erina. Mata Erina sesekali membalas tatapan Dimas. Wajah Erina memerah tersipu malu, saat mata Dimas menatapnya sambil tersenyum manis kepadanya.


Emosi Wulan terasa tersulut kembali. Pemandangan tak mengenakkan pagi ini benar-benar membuat hatinya menjadi panas. Sikap manis Dimas kepada Erina sangat menyakitkan untuknya. Ingin sekali rasanya ia menurunkan Erina di jalan saat itu juga supaya Dimas berhenti bersikap seolah-olah ga ada dirinya di sana.


############


Di tengah-tengah jam pelajaran, tiba-tiba Erina ingin pergi ke toilet. Suasana toilet pada jam pelajaran memang lumayan sepi. Erina membasuh tangannya sambil menyegarkan dirinya sebentar di sana.


Brrraakkkk...


Erina membulatkan matanya ketika ada sepasang tangan yang mendorongnya ke dinding toilet dan menatap nya lekat dengan tatapan penuh kebencian.


"Wulan?" ucap Erina setengah teriak.


"Jangan dekat-dekat sama Kak Dimas. Segera putuskan hubungan loe sama Kak Dimas!! Atau loe akan ngerasain akibatnya" gertak Wulan dengan tatapan kebencian.


"Wulan, loe apa-apaan sih?"


"Ga usah pura-pura bersikap sok baik sama gue, terutama di depan kak Dimas. Gue jijik sama loe"


"Wulan, diantara kita ga pernah ada masalah kan? Kita juga baru kenal. Kenapa tiba-tiba loe sebenci ini sama gue? Gue punya salah apa sama loe?"


"Punya salah apa??" (Tersenyum sinis) "Kesalahan terbesar loe adalah loe udah berani ngambil kak Dimas dari gue!! " Wulan mendekatkan wajah bencinya ke wajah Erina. Suaranya terdengar geram dan mengancam.


"Lepasin... " ucap Erina sambil menghempaskan tangan Wulan yang mencengkram lengannya.


"Loe ga punya hak apa-apa terhadap diri gue ataupun Dimas" gertak balik Erina.


"Jelas gue punya! Karna gue adalah calon tunggal tunangan Dimas. Ngerti loe... Dan gue ga suka loe deket-deket sama calon tunangan gue" kata-kata Wulan terdengar sangat jelas di telingan Erina.


Erina membulatkan matanya ga percaya dengan ucapan Wulan. Tubuhnya mendadak lemas. Dimas ga pernah cerita apapun tentang pertunangan seperti yang di ucapkan Wulan.


Puas menghardik Erina, Wulan meninggalkan Erina yang masih terpaku dengan ucapannya barusan.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2