
Deg...
Jantung Erina sesaat serasa berhenti berdetak. Matanya tak yakin dengan apa yang ia lihat. Dan hatinya juga mencoba untuk menyangkalnya. Namun fakta adalah fakta. Erina dengan jelas melihat Dimas memasuki gerbang sekolah bersama seorang cewek. Hatinya terasa nyeri saat melihat pemandangan menyakitkan dimana cewek itu memeluk pinggang Dimas dengan erat.
Erina menarik nafasnya dalam-dalam mencoba tegar dan melangkahkan kaki nya menuju ke kelasnya. Pemandangan menyakitkan itu selalu saja terbayang di matanya. Bayangan pelukan erat perempuan itu selalu menggangu pikirannya. Hari ini Erina bener-bener ga konsen dengan pelajarannya. Rasa kesal, marah dan penasaran memenuhi hati dan jiwanya. Erina ga sabar ingin segera ketemu dengan Dimas untuk segera mendapatkan kejelasan tentang semua ini.
##########
Wulan masuk di kelas berbeda dengan Erina. Sorakan ricuh terdengar di kelas Wulan. Guru kelas memperkenalkan Wulan sebagai murid baru di sambut dengan cletukan-cletukan nakal dari para siswa cowok. Hal itu memang sudah biasa terjadi. Terlebih wajah Wulan yang cukup cantik, sudah dijamin membuat mata cowok-cowok di kelasnya sangat ingin untuk menggodanya.
"Nah, anak-anak. Kalian kan sudah kenal ya sama Wulan. Nanti kalian bisa berkenalan lebih lanjut saat istirahat ya."
"Wulan, kamu bisa duduk di sebelah sana" ucap ibu Mila guru kelas Wulan sambil mengarahkan ke kursi kosong. Wulan mengangguk sambil tersenyum dan langsung menuju ke kursinya.
Tttttttteeeeeeettttt.....
Bel istirahat berbunyi nyaring. Seperti biasa para siswa berhamburan keluar kelas. Wajah Erina terlihat murung dan ga bersemangat. Ia sangat ingin bertemu dengan Dimas untuk mendapatkan kepastian. Di ambilnya ponselnya dan Erina segera mengetik sebuah pesan untuk nya. Belum selesai pesan terketik, dering ponsel Erina berbunyi. Panjang umur, nama Dimas terpampang jelas di ponselnya. Sejenak Erina menghela nafas untuk menjaga emosi dalam hatinya supaya tetap tenang.
"Haloo.. "
"Halo Sayang... " Hati Erina terasa perih saat Dimas memanggilnya sayang. Bayangan pelukan tadi pagi terlintas jelas lagi di pelupuk matanya.
"Ada apa Dim?" suara datar Erina yang ga bersemangat dan ini terdengar jelas di telinga Dimas.
"Sayang kamu kenapa? Ga enak badan?" tanya Dimas polos.
"Kita ketemu di kantin ya. Ada yang mau aku omongin sama kamu" ucap Erina tanpa basa basi.
"Aku baru mau ajak kamu makan bareng di kantin. Wah, kita benar-benar sehati ya?" ucap Dimas sambil tertawa.
Erina langsung mematikan telpon Dimas tanpa berpamitan seperti biasanya. Dimas sedikit kaget dengan sikap Erina yang tiba-tiba terasa aneh.
"Guys... kantin yuk" ajak Erina.
"Yuk" jawab Adel cepat.
"Kalian duluan ya... Gw mau ke toilet dulu" ucap Tasya sambil nyengir
" Okay. Jangan lama-lama! " ucap Chika lantang.
Sesampainya di kantin, mereka langsung memesan makanan. Erina hanya memesan jus mangga aja kesukaannya. Nafsu makannya sedang menghilang. Erina dan gank sudah duduk di meja kosong. Mata Erina mencari-cari keberadaan Dimas. Erina menghubungi ponsel Dimas.
__ADS_1
"Kamu dimana?" tanya Erina
"Ini aku baru nyampe kantin" mata Dimas langsung dengan cepat melihat keberadaan Erina. Tangan nya langsung melambai ke arah Erina. Erina membalasnya dengan senyuman simpul di bibinya. Dimas dan Rio berjalan menuju meja Erina.
"Hai beib... "sapa Dimas sambil tersenyum.
"Selalu deeehhhh.... Erina doang yang di sapa" ucap Adel ga terima.
"Oia... Maaf. Hai semua... " ucap Dimas sambil tertawa kecil.
Rio dan Dimas ikut bergabung duduk di meja Erina.
"Dimas, aku mau bicara sama kamu. Kita pindah ke meja itu ya" ucap Erina tanpa basa basi.
Teman-teman nya saling bertatapan. Raut wajah mereka di penuhi dengan pertanyaan. Ada apakah dengan Dimas dan Erina? Ada masalah kah? Kok tumben banget Erina ngajakin pindah meja?
Erina beranjak dari kursinya dan berjalan menuju kursi kosong yang ga jauh dari meja teman-teman nya duduk. Dimas mengikutinya dari belakang lalu duduk di hadapan Erina.
"Ada apa sih Beib? Kamu kayaknya serius banget?" tanya Dimas penasaran.
Erina ga langsung menjawab pertanyaan Dimas. Ia menarik nafas dan menjaga emosi yang masih bergejolak hatinya.
"Tadi pagi aku liat kamu"
"Cewek itu siapa? Mesra banget boncengannya?" ucapan Erina mengambarkan jelas rasa cemburu nya.
Dimas menarik nafas lagi dan berusaha tenang menjelaskan.
"Erina,,, cewek itu bernama Wulan. Dia anak dari partner kerja papaku. Dia sengaja pindah sekolah dari Malang ke Jakarta agar dia bisa beradaptasi dengan lingkungan Jakarta. Wulan ingin kuliah disini. Makanya dia mutusin buat pindah sekolah dulu di Jakarta." jelas Dimas jujur.
"Tapi, kenapa dia bisa bareng ke sekolah sama kamu? Trus bonceng kamu seperti itu?"
"Wulan tinggal di rumahku" jawab Dimas santai
"Apaaa? Wu-wulan tinggal di rumah kamu?" Erina membulatkan matanya. Ia ga percaya dengan apa yang barusan keluar dari mulut Dimas.
Dimas hanya mengangguk lemah.
"Orangtua ku yang mengijinkan Wulan untuk tinggal bersama. Dan karna kebetulan Wulan satu sekolah dengan aku, mama nyuruh aku buat ajak Wulan berangkat bareng."
Erina bisa menerima penjelasan dari Dimas. Semua yang di Ucapkannya masuk akal. Tapi yang ga bisa di terima adalah cara Wulan yang berboncengan dengannya.
__ADS_1
"Trus kalau tinggal satu rumah boncengannya harus pelukan begitu ya?" ucap Erina sinis.
Dimas tertawa kecil mendengar ucapan Erina.
"Kamu cemburu ya???" ucap Dimas sambil melempar senyum nakalnya. Erina menatap Dimas malas. Sikap Dimas membuat emosinya terpancing.
"Sorryy nih ganggu... Ini jus loe sayang kalau ga diminum." tiba-tiba Rio datang ke meja Dimas dan meletakkan jus mangga milik Erina.
"Makasih ya Kak Rio" ucap Erina sambil tersenyum.
"Yaelaaahh... Tua amat gue di panggil Kak. Rio aja sih"
"Ok deh. Makasih Rio" ucap Erina dengan gaya nyengirnya.
Rio ga mau jadi obat nyamuk. Ia langsung meninggalkan dua sejoli yang sedang bersitegang dan kembali ke mejanya sendiri.
Erina kembali menatap Dimas dengan tajam. Namun tatapan Dimas tak kalah tajam pula.
"Jawab dulu pertanyaan aku"
"Pertanyaan yang mana?" ucap Dimas pura-pura.
Erina kembali menarik nafas dan menghembuskannya kasar. Dimas terkekeh melihat kekasihnya seperti itu. Sikap Dimas semakin membuat dirinya jengkel.
"Kalau kamu ga mau jawab ya sudah ga apa-apa"
Dimas semakin terkekeh melihat wajah Erina yang cemberut dengan bibir manyun dan rona merah menahan rasa cemburu.
"Sayaaang, maaf kalau tadi pagi kamu ndapetin pemandangan yang kurang enak. Aku dah peringatin ke Wulan untuk jangan meluk aku saat bonceng. Tapi dia bilang, dia takut jatoh. Wulan kayaknya ga pernah naik motor. Jadi reaksinya seperti itu"
"Kamu suka?"
"Suka-suka aja sih " jawab Dimas sambil tertawa kecil. Dimas sengaja menjawab seperti itu untuk menggoda Erina. Berhasil. Wajah Erina semakin merah menahan rasa cemburu. Erina membuang pandangannya ke arah lain. Dimas tertawa lepas melihat sikap Erina yang sedang kesal. Erina positif cemburu. Wajah kesalnya ga bisa dibohongi.
"Erinaa... Maaf, aku barusan ga serius dengan kata kataku. Aku becanda sayang.... Suer deh. Jangan marah ya... Senyum dong... "
Erina masih terdiam dan malas untuk menatap dirinya. Erina memilih meraih gelas jus mangga nya dan meminumnya. Tangan Erina sibuk memainkan sedotan jus nya. Matanya menunduk. Hatinya masih dipenuhi rasa kesal. Di tambah lagi dengan jawaban Dimas yang semakin membuat dirinya kesal.
Bel masuk pelajaran berbunyi. Erina langsung beranjak dari tempat duduknya dan pergi berlalu begitu saja meninggalkan Dimas tanpa ucapan permisi. Dimas hanya terdiam termangu melihat kepergian Erina yang sedang emosi.
Teman-teman nya juga dibuat bingung dengan sikap Erina yang ga seperti biasanya. Tapi mereka seperti nya paham kalau sedang ada sesuatu yang terjadi dengan Temanny itu..
__ADS_1
.
.