
Dua minggu sejak perayaan ulang tahun perusahaan telah berlalu. Erina menjalani hari-hari kerjanya seperti biasa. Ucapan sindirian terkait soal dirinya dengan Dimas sudah mulai jarang terdengar. Mungkin mereka sudah mulai bosan atau sudah bisa mengikhlaskan kenyataan. Entahlah...
Setidaknya hidup Erina sedikit lebih tenang.
Siang hari menjelang sore, seorang laki-laki separuh baya memasuki ruang kerja Erina membawa surat. Laki-laki itu terlihat berbincang-bincang sebentar dengan salah satu karyawan yang mengarahkan dirinya ke sebuah ruangan lagi. Laki-laki sipembawa surat itu berdiri di depan ruang Mieke. Setelah mengetuk dan dipersilahkan masuk, laki-laki itu langsung masuk dan menyerahkan surat yang ia bawa.
"Selamat siang, dengan ibu Mieke..."
"Siang, iya saya. Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya membawa surat dari direksi untuk ibu Mieke" wajah Mieke seketika membeku. Ada apa dengan dirinya? Kenapa tiba-tiba direksi mengiriminya surat? Apa dia bersalah? Atau dia akan dipindah tugaskan ke divisi lain? Berpuluh-puluh pertanyaan dengan gesitnya muncul di benaknya.
"Surat? Surat apa ya pak"
"Maaf ibu saya juga kurang tahu. Mohon diterima" ucapnya sambil menyerahkan surat itu kepada Mieke. Laki-laki itu langsung berpamitan dari ruang kerja Mieke.
Sekeluarnya dari ruangan Mieke ternyata laki-laki itu tidak langsung pergi keluar dari ruang kerja Erina. Namun, laki-laki itu menghampiri mejanya untuk memberikan surat kepadanya jugaa. Sama halnya seperti Mieke, Erina juga sangat terkejut menerima surat dari direksi.
"Maaf pak, ini surat apa ya?" tanya Erina dengan raut wajah penuh kebingungan.
"Maaf ibu, saya juga kurang tau. Mungkin ibu bisa membacanya sendiri, jadi ibu akan tau apa isi dari surat tersebut" hanya anggukan kecil dan ucapan terima kasih yang bisa Erina lakukan. Laki-laki sipembawa surat berpamitan keluar dari ruang kerja nya untuk kembali ke tempatnya.
Dipandanginya surat itu. Dibolak balik. Ada rasa ragu dan khawatir di diri Erina. Namun rasa penasarannya lebih kuat menguasai dirinya ketimbang rasa ragunya. Disobeknya pinggiran surat yang tertutup rapat dengan lem dengan hati-hati supaya tidak mengenai lembar suratnya. Diambilnya isi surat itu dan langsung dibacanya.
Mulut Erina ternganga disertai mata yang secara otomatis terbelalak sangat lebar, tak percaya dengan isi dari selembar kertas yang ada di tangannya. Dalam surat itu tertulis bahwa dirinya dinaikkan jabatan sebagai Assistant Manager menggantikan Mieke. Erina menggeleng-gelengkan kepala. Ia tak percaya dengan semua ini. Ini pasti ada campur tangan Dimas lagi. Pasti. Nggak mungkin enggak.
Di ruang yang lain, nampak Mieke dengan senyuman yang lebar. Senyumnya terlihat sangat puas. Pasalnya Mieke menerima surat yang berisi tentang pemberitahuan kenaikan jabatan akan dirinya menjadi Manager Keuangan. Kesombongannya pun mulai keluar.
"Aku memang pantas untuk dijadikan Manager Keuangan menggeser pak Robby si tua bangka yang menyebalkan. Dengan aku menjadi Manager Keuangan di perusahaan ini, aku jadi lebih sering ikut meeting dengan direksi. Itu artinya, aku bisa lebih sering berinteraksi dengan Dimas" batinnya seraya menyunggingkan senyumannya sambil membayangkan wajah Dimas yang rupawan.
Mieke memang wanita cerdas dengan body yang tak kalah sexy nya dengan Erina maupun Dini. Cuma sayang dari segi usianya ia sudah tak tergolong muda lagi. Usianya sudah mencapai 27 tahun. Hanya selisih 2 tahun dengan Dimas. Namun sampai kini ia belum menambatkan hatinya kepada seorang laki-laki. Mungkin karna saking tingginya kriteria sosok laki-laki yang ia inginkan, jadi hal itu yang menyulitkan baginya untuk mendapatkan laki-laki yang sesuai dengan dirinya. Namun sejak kehadiran Dimas, kriteria itu langsung ia sematkan kepadanya. Mieke bersikukuh untuk bisa mendapatkannya. Hanya Dimas yang sesuai dengan kriterianya. Apapun caranya ia harus bisa mendapatkan Dimas. Meskipun ia harus melewati berbagai rintangan. Ia rela melakukannya.
###########
**Ddrrrttt... Ddrrrttt....
My Baby Calling**....
Dimas mengangkat telpon Erina sambil tetap mengerjakan pekerjaannya.
"Yes Baby...."
"Dimas, boleh aku ke ruang kerja kamu? Aku butuh bicara sama kamu" suara Erina terdengar sangat serius.
__ADS_1
"Oh, O-okay... Boleh. Perlu aku jemput" goda Dimas yang terdengar garing di telinga Erina.
"Ga perlu. Aku kesana sekarang" Dimas menatap ponselnya yang telah terputus. Dikernyitkannya dahinya lalu diletakkan kembali ponselnya di samping Laptopnya. Dimas tak ambil pusing dengan apa yang ingin dibicarakan oleh Erina. Sikapnya juga santai tanpa beban.
Erina bergegas menaiki lift menuju lantai 7. Keluar dari lift Erina langsung menghampiri meja Dini. Erina menyapa Dini dengan ramah dan senyum manisnya.
"Selamat siang ibu..." ucapnya dengan senyum. Erina menatap wajah Dini dengan ramah.
Dini mendongakkan kepala ke arah suara. Wajah senyumnya langsung berubah masam saat matanya melihat sosok Erina yang datang. Wanita yang sudah menghancurkan hatinya. Wanita yang sudah berani mengambil lelaki idamannya.
"Ada apa ya?" suara Dini terdengar ketus. Erina cukup terkejut dengan sambutan Dini yang terkesan tidak ramah. Sebagai petugas depan yang bertugas menyambut tamu seharusnya Dini bersikap ramah dan lenbut kepada siapapun yang datang ke kantor ini.
"Hhmmm... Apakah semua karyawan di kantor ini semuanya berwatak judes?" batin Erina bertanya dalam hatinya.
"Emm.. Maaf, saya mau ke ruangannya pak Dimas. Kalau boleh tau ruangannya di sebelah mana ya Bu?"
"Ibu ada perlu apa dengan pak Dimas?" tanya nya lagi masih dengan suara sinisnya.
"Eemm... Saya..."
"Erina....?" sapa Rio. Kepala Erina menoleh senang ke arah suara itu. Senyumnya langsung mengembang saat matanya bertemu dengan sosok yang ia kenal.
"Kak Rio..." Erina dengan cepat mendekati Rio dan meninggalkan Dini yang semakin geram dibuatnya.
Rio mengangguk dan mengajak Erina menuju ke ruang kerja dirinya dan Dimas. Sesampainya di depan pintu ruangan Dimas, Rio mengetuk pintu dan hanya menongolkan kepalanya ke dalam.
"Dim.... Ada Erina nih"
"Okay. Biarkan dia masuk" Rio mengangguk pelan.
Erina melangkahkan kakinya memasuki ruang kerja Dimas. Ada sedikit rasa canggung di dirinya. Rio sengaja membiarkan Erina memasuki ruangan tanpa ditemani dirinya. Boss nya pasti lebih senang jika tak ada pengganggu dari luar saat dirinya sedang bersama wanitanya.
Dimas menghentikan sejenak pekerjaannya saat matanya melihat kekasihnya sudah memasuki ruangannya. Senyumnya mengembang menyambut kehadirannya. Erina masih berdiri canggung di depan pintu.
"Hai sayang... Duduklah..." Mata Dimas mengisyaratkan tatapannya ke arah kursi depannya. Erina mematuhi titah dari kekasihnya itu dan duduk di kursi berhadapan dengan kursi Dimas yang lebih besar.
"Dimas, tolong jelaskan maksud dari surat ini" Erina menyodorkan surat mengenai pengangkatan dirinya sebagai Assistant Manager Keuangan. Dimas membacanya sekilas dan melemparkan senyum manisnya kepadanya.
"Kamu harus traktir aku makan siang nih. Selamat ya..." ucap Dimas menggoda Erina yang menampilkan wajah serius yang penuh emosi.
"Dimas please, jangan bercanda. Aku yakin ini hasil perbuatan kamu. Benar kan?"
Dimas mengerutkan dahinya sambi menarik nafas panjang. Disandarkannya punggung tubuhnya di kursi kerjanya yang besar dan nyaman. Matanya sedang beradu pandang dengan mata Erina yang tajam menatapnya. Tatapan haus akan penjelasan dan ingin segera mendapatkan jawaban.
__ADS_1
"Kenapa kamu selalu berfikir bahwa setiap sesuatu yang menimpa kamu selalu aku yang jadi pelakunya?"
"Memang kamu kan yang sudah mengatur semua ini? Tolong jujur Dim..."
"Terlepas pelakunya aku atau bukan, bukankah ini adalah kabar yang baik? Jenjang karir kamu jadi meningkat"
"Tolong kembalikan aku ke posisiku semula" ucap Erina penuh penekanan.
"Aku ga tau menahu soal surat ini sayang..."
"Dimas please... Tolong mengertilah. Masa kerjaku belum genap dua tahun. Aku juga belum memiliki sebuah prestasi apapun. Lalu dengan tiba-tiba aku dapet surat kenaikan jabatan? Ini sangat ga masuk akal. Apa kata karyawan lain yang posisinya lebih senior dari aku Dimas..."
"Kalau begitu abaikan saja ucapan mereka. Bukankah rejeki itu tidak mengenal usia atau lamanya masa bekerja?" jawaban Dimas semakin menyulut emosi Erina.
Erina merapatkan giginya menahan geram karna emosinya yang mulai terpancing oleh Dimas.
"Tidak bisakah kamu berempati sedikit akan hal ini? Tidakkah kamu berpikir konsekuensi apa yang nantinya akan aku terima dari orang-orang disekitarku yang tidak menyetujui akan keputusan dari surat ini, Dimas???"
"Erina... Kamu ini wanita special aku. Wanita yang paling dekat denganku. Kalau perusahaan memberikan posisi yang lebih baik, mungkin itu memang sudah menjadi salah satu dalam peraturan" jawabnya santai.
"Aku ga percaya ada peraturan seperti itu. Pokoknya aku mau kamu batalkan keputusan ini. Aku menolak."
Dimas menghela nafas panjang dan lalu berdiri dari duduknya mendekati kursi Erina.
Dimas setengah membungkukkan tubuhnya mendekatkan wajahnya ke wajah Erina yang membuat Erina sedikit menjauhkan wajahnya.
Dimas tersenyum dengan sikap Erina. Sikap marahnya semakin membuat dirinya gemas.
"Kamu kalau lagi marah makin terlihat cantik dan menggemaskan" godanya lagi.
"Terserah apa kata kamu. Yang jelas kalau kamu masih kekeh dengan keputusan kamu ini, aku ga mau ketemu sama kamu lagi. Permisi..." ancaman Erina membuat Dimas sedikit bergidik. Erina bangkit dari duduknya dan hendak meninggalkan ruangan Dimas. Tangan Dimas dengan cepat menarik tangan Erina dan membuat Erina berhenti di tempat semula. Saat ini keduanya sedang beradu pandang dengan tatapan yang berbeda. Yang satu menampilkan wajah datar dan penuh ketenangan, dan yang satu wajah geram yang diliputi amarah yang hampir memuncak.
"Haruskah kamu marah seperti ini?"
"Kamu yang bikin aku seperti ini"
Erina menatap dalam mata Dimas dengan tatapan geram dan kesal. Tatapan kesal karna sepertinya Dimas tak akan pernah mengabulkan permintaannya. Erina menepiskan pegangan tangan Dimas yang sedari tadi sudah menggenggam pergelangan tangannya dan bergegas meninggalkan ruangan kerja Dimas. Erina tak sanggup jika harus berlama lama menatap mata Dimas. Air matanya bisa mengalir deras jika ia tetap bersikeras menatap mata Dimas.
Dimas hanya pasrah menatap kepergian Erina yang tanpa menoleh kembali kepadanya.
.
.
__ADS_1
.