Ku Tembak Cintamu 2x

Ku Tembak Cintamu 2x
Peringatan Keras


__ADS_3

Dua hari ini sikap Erina masih dingin. Sikap menghindari dirinya masih terasa kental dan menyebalkan bagi Dimas. Mungkin ini adalah moment yang baik bagi keduanya untuk saling berinstropeksi diri dan menenangkan hati dan pikiran masing-masing. Walaupun Dimas sudah merasa gerah akan sikap dingin dan cuek yang diperlihatkan oleh wanitanya itu.


Malam ini Dimas sengaja datang lagi ke rumah Erina. Ia sudah memarkirkan mobilnya di depan pagar rumah Erina. Lampu kamar Erina masih terlihat menyala. Sepertinya Erina belum pergi tidur. Dimas duduk di kursi panjang yang biasa dia duduki. Dipandanginya jendela kamar Erina yang berada di lantai dua. Jendela kamar dari wanita yang sangat ia cintai. Tatapan kerinduan dan pemyesalan tampak jelas di wajahnya. Dimas senyum senyum sendiri saat melihat bayangan diri Erina yang nampak dari balik tirai tipis jendela. Tak lama waktu berselang, lampu kamar Erina padam dan gelap. Erina sepertinya tidur lebih awal malam ini.


"Good night, Baby... Nice dream" ucap Dimas lirih sambil tersenyum tipis.


Ddrrttt... Ddrrrtttt...


Ponsel Dimas berbunyi. Sebuah panggilan dari anak buahnya yang lain yang sedang ia tugaskan untuk mengintai Kevin.


"Ya.." ucap Dimas tegas.


"Boss, saat ini Kevin sedang berada di sebuah club malam. Saya melihat ia sedang berpesta dengan beberapa perempuan"


"Kirim segera alamatnya. Saya ke sana sekarang."


"Baik boss"


Dimas segera melajukan mobilnya ke alamat club malam yang sudah dikirimkan oleh anak buahnya. Rasa geram dan hasrat untuk menghabisi Kevin seakan sudah tak bisa ditahan lagi.


Tak butuh waktu lama untuk menuju ke tempat club malam yang dimaksud. Dimas memasuki club malam itu dengan tenang di sambut beberapa bodyguard yang sudah stand by di sana. Wajahnya yang dingin dan tampan sangat menggoda beberapa wanita yang berada di sana untuk mendekati dirinya. Suara dentuman musik yang sangat keras lumayan memekakkan telinga.


Dimas berjalan perlahan memperhatikan Kevin yang sedang tertawa senang dengan beberapa teman wanitanya. Di mejanya juga sudah dipenuhi botol botol minuman lengkap dengan rokok dan cemilan. Dimas tak ingin berlama lama disana. Udara pengap dan bau sangat tidak nyaman di hidungnya.


Dimas berdiri geram sambil mengepalkan tangan. Seorang perempuan bertubuh aduhai dengan pakaian terbuka denga rok yang panjangnya hanya satu jengkal dari pinggang dengan sangat beraninya menghampiri Dimas yang terlihat sedang mengintai seseorang. Dimas sendiri sempat terkejut dengan kehadiran perempuan tak dikenalnya itu.


"Hai ganteng... Mau minum?" ucap perempuan itu sambil menyodorkan sebuah gelas berisi minuman keras mahal.


"No, thanks" jawab Dimas cepat. Matanya masih tertuju pada meja Kevin. Perempuan sexy itu mulai berani menyentuhkan jemarinya menyusuri jas dan dasi Dimas.


Awalnya Dimas membiarkan wanita itu menyentuh permukaan pakaiannya. Lama kelamaan perempuan sexy itu mulai berani mendekatkan tubuhnya dan merapatkannya ke tubuh Dimas dengan tujuan menggodanya.


"Aku bisa menemani kamu malam ini. Waktuku cukup fleksible..." Dimas mulai geram dan mulai kehilangan kesabaran.

__ADS_1


"Menyingkir dariku...." gertak Dimas.


"Sayang... Jangan marah dong..." ucapnya manja masih sambil menyentuhkan jemarinya di pakaian Dimas.


"Nona... Tolong menyingkirlah..." ucap salah satu bodyguard Dimas dan berusaha menjauhkan boss nya dari godaan wanita penggoda.


Dimas sudah tak bisa menahan dirinya lagi. Ia yakin bahwa laki-laki yang sedang berpesta malam ini adalah benar Kevin orangnya. Dengan langkah geram Dimas berjalan menghampiri Kevin yang sudah setengah mabuk.


Tanpa basa basi, Dimas menarik tubuh Kevin dari kursi sofa dan mencengkram kasar kemejanya dengan tatapan mematikan.



Mata Dimas menatap Kevin dengan tatapan geram penuh emosi. Kevin benar benar tidak ada persiapan apapun dalam menyambut kedatangan Dimas yang secara tiba-tiba. Pesta perayaan dirinya malam ini seakan harus ternoda dengan kehadiran tamu tak diundang yang membuat dirinya harus berurusan dengan musuh utamanya.


"Gue peringatin sama loe !! Jangan pernah berani deketin calon istri gue. Ngerti..!!!" ucapan Dimas penuh tekanan dan mengancam.


Kevin hanya tertawa menyikapi sikap Dimas yang garang.


"Santai Brooo... Loe ga perlu tegang kayak gini..." ucap Kevin santai sambil menepis tangan Dimas dari kerah bajunya.


"Bro... Bagaimana kalau kita nikmatin malam ini bersama. Loe ga perlu terlalu kaku mempertahankan seorang perempuan. Lihaattt... Di sini perempuan banyak. Loe bisa pilih yang sesuai sama selera loe... Gratis..."


"Ba****an !!!"


Bbooouuugghhhh....


Sebuah pukulan keras mendarat di perut Kevin yang membuat Kevin terjatuh ke belakang.


"Sini... Bangun loe !!!" ucap Dimas menantang. Emosinya sudah berada di level atas. Ia sangat ingin melampiaskan rasa kesalnya kepada orang tepat.


Wajah Kevin berubah garang. Hasrat ingin membalaspun juga tak terbendung lagi. Perkelahian pun terjadi antara Dimas dan Kevin. Suara teriakan dari beberapa perempuan terdengar melengking dan bising.


Meski Dimas terlihat hangat dan santai, tapi dalam hal ilmu bela diri Dimas tak kalah. Dengan sangat mudahnya Dimas menaklukkan Kevin hanya dalam beberapa pukulan. Bodyguard Dimas sengaja Dimas suruh diam. Ia ingin dengan tangannya menghajar laki-laki yang sudah dengan lancangnya menyentuh tangan wanitanya.

__ADS_1


"Urus dia" ucap Dimas kepada bodyguard nya.


"Baik Boss" Dimas bergegas meninggalkan club malam dan bergegas melajukan mobilnya. Hatinya lumayan puas sudah berhasil menghajar seseorang yang mengganjal hatinya selama ini.


########


Mobil Dimas memasuki pintu pagar rumahnya yang sangat besar dan memarkirkan mobilnya di tempat biasa. Dengan langkah santai, Dimas memasuki rumah.


Hari sudah sangat larut. Namun sang mama ternyata belum tertidur. Ia sepertinya sengaja menunggu dirinya yang tak biasanya pulang selarut ini.


"Loh, mama kok tumben belum tidur?" ucap Dimas terkejut yang melihat mamanya duduk di sofa tamu.


"Kamu dari mana? Kenapa baru pulang?" ucap sang mama menelisik.


"Dimas tadi ada urusan sebentar Ma. Maaf, Dimas lupa ga kasih kabar ke Mama"


"Dimas, Jawab yang jujur. Kamu dari mana? Kenapa baju kamu bau banget seperti ini? Kamu clubbing? Iya??"


Dimas menarik nafas panjang mencoba menenangkan diri. Di pandanginya wajah sang mama yang syarat akan raut cemas dan khawatir. Di sematkannya sebuah senyuman manis untuknya.


"Mama ga perlu terlalu khawatir. Dimas ini sudah besar. Ga ada yang perlu mama khawatirkan. Tebakan mama benar. Dimas tadi mampir ke sebuah club malam. Tapi bukan untuk Clubbing. Dimas sedang menyelesaikan sebuah masalah yang harus diselesaikan."


"Apa kamu berkelahi?"


"Enggak Ma... Lihat, Dimas baik baik aja kan?" Dimas sengaja berbohong untuk tak membuat mamanya terlalu khawatir.


"Sudah sangat malam. Mama sebaiknya tidur. Kasian papa ditinggal sendiri di kamar"


"Ya sudah mama tidur ya.. Kamu bersih bersih badan, dan langsung tidur ya... Jangan lanjut begadang" titahnya setengah memaksa. Dimas langsung mengangguk yakin dan tersenyum sayang kepada wanita pujaan hatinya yang sangat ia sayangi.


Ibu Devita kembali ke kamar dan Dimas menaiki anak tangganya menuju ke kamarnya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2