
Dimas memijit-mijit kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit. Ucapan papanya sungguh membuatnya tak berdaya saat ini. ibarat simalakama ia harus memilih salah satu. Pilihan yang sangat sulit. Memang benar untuk mencapai sesuatu harus ada yang dikorbankan. Tapi Dimas tak menyangka jika saat ini ia harus mengorbankan perasaannya. Terbayang jelas di matanya bagaimana reaksi Erina nanti. Pasti dia akan sangat terpukul dan bahkan Erina bisa membenci dirinya.
Dimas membantingkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Pikiran nya kalut. Dimas belum siap rasanya kalau saat ini ia harus memutuskan hubungannya dengan Erina. Tapi semua akan lebih parah jika papanya sendiri yang memutuskan hubungan mereka. Hati Erina pasti akan lebih hancur lagi. Kepala Dimas berpikir keras memikirkan cara terbaik untuk bisa memutuskan kekasihnya tanpa harus membuat hatinya terpukul. Dan lagi-lagi usahanya tak berhasil. Tidakk ada cara yang baik dan tepat untuk memutuskan sebuah hubungan. Salah satu pihak pasti akan dirugikan. Erina pasti akan terpukul, terluka dan itu sudah pasti.
Dimas memejamkan matanya mencoba untuk tidur. Sayangnya kali ini Dimas kalah, matanya ternyata tidak mendukung dirinya untuk bisa terlelap melupakan semua masalahnya.
Dilihatnya jam di dinding kamarnya sudah menunjukkan pukul 23.35 WIB. Di ambilnya ponselnya yang tergeletak di atas meja belajarnya. Entah kenapa matanya saat ini sangat ingin memandang foto Erina. Tadinya Dimas berniat untuk menghubungi Erina. Namun karna malam yang sudah larut, Dimas takut mengganggu waktu tidurnya. Dimas akhirnya hanya bisa memandangi wajah manis Erina yang sedang tersenyum dari balik layar ponselnya. Foto Erina seolah-olah sedang menatapi dirinya sambil tersenyum manis.
"Maafin aku Erina" ucap Dimas sambil mengusap fotonya dari layar ponsel.
############
Jam di rumah Dimas sudah menunjukkan pukul 6.30wib. Belum ada tanda-tanda kehidupan dari kamar Dimas. Orangtuanya dan Wulan sudah berada di meja makan untuk sarapan. Ibu Devita merasa aneh karna tumben banget jam segini Dimas belum bangun. Biasanya jam 6 pagi dia sudah rapih dan siap untuk berangkat sekolah.
"Kok tumben ya Dimas belum keliatan, apa iya Dimas belum bangun?" ucap mamanya.
"Coba kamu tengok ke kamarnya ma" ucap pak Nugra meminta istrinya untuk melihat keadaan anaknya.
"Tante biar Wulan aja yang nge cek ke kamar kak Dimas" ucapnya menawarkan diri.
"Jangan-jangan, biar tante aja ya" jawab mama Dimas karna merasa penasaran dengan kondisi anaknya.
Ibu Devita berjalan menaiki anak tangga rumahnya menuju ke kamar Dimas. Kamar Dimas terasa sepi dan hening. Ibu Devita mencoba mengetuk pintu kamar Dimas. Tidak ada jawaban dari dalam kamar Dimas. Di ketuknya lagi pintu kamarnya. Dan lagi-lagi tak ada jawaban. Perlahan, Ibu Devita membuka pintu kamar Dimas dan terlihat di sana pemandangan indah dimana ada seorang bayi besar yang masih terlelap dengan mimpi indahnya. Mama Dimas mendekati ranjang Dimas sambil tersenyum melihat cara tidur anak semata wayangnya itu. Ia jadi teringat kembali saat Dimas kecil yang tertidur pulas. Wajah lucu, polos dan teduh sangat menenangkan mata yang memandangnya.
Sentuhan tangan di pipinya membuat Dimas terkaget dan mencoba membuka matanya yang masih terasa berat.
"Mama?" suara berat Dimas mencoba meyakinkan dirinya tentang seseorang yang sudah berada di sampingnya.
Ibu Devita tersenyum melihat gaya anaknya yang baru tersadar dari mimpinya.
"Kayaknya kamu ngantuk banget ya..." ucapnya lagi sambil tersenyum.
"Jam berapa ini ma? Dimas semalam ga bisa tidur"
"Hampir jam 7" jawab mamanya santai.
"Apaaaa?? Dimas kesiangan dong" mata Dimas langsung terbelalak dan menarik paksa tubuhnya untuk bangun segera dari tempat tidur nyamannya.
__ADS_1
Mamanya hanya menipiskan bibirnya dan mengangguk dengan kepastian. Dimas langsung berlari ke toilet untuk segera membersihkan dirinya dan bersiap untuk pergi ke sekolah. Dan hari ini sudah pasti dia akan datang sangat terlambat ke sekolah.
Setengah berlari Dimas menuruni anak tangga dan langsung mencium pipi mama dan mencium tangan papanya. Mata Dimas terperanjat saat ia melihat Wulan yang masih ada di meja makan.
"Loh, kok loe masih di rumah? Kenapa belum berangkat?" tanya Dimas dengan nafas terengah-engah.
"Aku nungguin kak Dimas" jawab Wulan santai.
"Kenapa ga minta di anterin sama pak Tatang? Kalau bareng gue, loe udah pasti terlambat nyampe sekolah"
"Ga apa-apa kak" ucapnya lagi sambil tersenyum tipis.
"Sarapan dulu Dim" ucap sang papa.
"Nanti aja di sekolah pap. Dimas udah telat banget ini. Dimas berangkat ya... "
Papa mamanya menggelengkan kepala melihat kelakuan putranya.
Dimas langsung bergegas ke garasi mobilnya. Wulan mengikutinya dari belakang sambil setengah berlari ga bisa mengimbangi langkah Dimas yang cepat. Mobilnya sudah dipanasi oleh pak Tatang, jadi Dimas tidak perlu membuang waktunya hanya untuk memanaskan mobilnya. Dimas melajukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup kencang membuat Wulan sedikit ketakutan.
"Ok..Ok. Sorry"
Jalanan pagi itu lumayan padat. Kalau berangkat agak siang sedikit, jalanan pasti akan lebih padat ketimbang saat pagi hari.
Mobil Dimas sudah terparkir di sekolah. Jam di tangannya menunjukkan pukul 8.30wib. Dimas belum pernah terlambat sampai separah ini.
"Huft, Gara-gara papa nih. Jadi telat deh gue" gerutu Dimas saat memarkirkan mobilnya. Suara Dimas memang ga keras tapi cukup jelas terdengar di telinga Wulan.
"Ada apa kak? Kenapa dengan om Nugra?" tanya Wulan membuat Dimas sedikit kaget ternyata Wulan mendengar gerutunya.
" Ah, ga ada apa-apa kok. Turun yuk. Kita lapor dulu ke ruang BK. Kalau ga lapor, nanti kita bisa dapet surat SP dari sekolah" ucap Dimas menjelaskan peraturan sekolahnya. Wulan hanya mengangguk mengikuti Dimas berjalan menuju ke ruang BK.
#############
Dimas memasuki kelasnya di sambut dengan sorakan dari teman-temannya. Dimas hanya melempar Senyuman nyengir kudanya sebagai senjata ampuhnya menerima sambutan dari para teman-temannya.
Rio menepuk pundak Dimas. Ia terheran-heran dengan kondisi sobatnya itu.
__ADS_1
"Begadang loe bro? Tumben banget loe telat separah ini?"
"Iya. Ga tau nih. Tumben banget semalem gue ga bisa tidur" jawab Dimas sambil mengacak-acak rambutnya yang tadi pagi belum sempat ia sisir.
"Makanya jangan pacaran mulu.. "
Dimas ga menjawab ucapan Rio. Dimas mengacak-acak rambut Rio sebagai jawaban sekaligus pelampiasan kekesalannya.
Di tengah-tengah pelajaran Dimas mencuri kesempatan untuk bisa mengirimkan pesan singkat untuk Erina.
Beib, maaf ya tadi pagi aku ga jemput kamu. Aku kesiangan. 😁
Ga butuh waktu lama, Erina langsung membalas pesannya.
Iya ga apa-apa. Kamu kenapa bisa kesiangan? Tumben? 😬
Dimas tersenyum membaca pesan Erina. Hatinya senang karna Erina cepat membalas pesannya. Biasanya lama.
Aku mikirin kamu terus. Makanya aku jadi kesiangan 😘
Uuuhh... Gombal. Boong banget. Pasti kamu keasikan main game. Ngaku deh!!
Dimas tertawa ngakak. Dia ga sadar kalau suara tawanya cukup keras dan membuat seisi kelasnya mengalihkan pandangan ke arah nya. Dimas kikuk melihat guru dan teman-temannya menatap nya dengan tatapan aneh.
"Kamu ya Dimas, udah datang terlambat, bikin kegaduhan pula di kelas. Kamu mau bapak hukum?" suara Pak Husein yang menggelegar langsung membuat bulu kuduk Dimas bergidik.
"E-enggak pak. Saya mohon maaf" ucap Dimas sambil menundukkan kepalanya.
"Sekali lagi kamu bikin gaduh, kamu terima akibat nya. Ok, kita lanjutkan pelajaran. Buka halaman 56, kerjakan soal I dan II. SEKARANG!! " sambung pak Husein lagi.
Dimas menarik nafas leganya karna terbebas dari hukuman. Dimas menoleh ke arah Rio. Sedari tadi Rio sudah terkikik melihat dirinya yang sepertinya hari ini kurang beruntung.
.
.
.
__ADS_1