
Hari demi hari Dimas lalui dengan perasaan galau yang teramat sangat. Tuntutan dari sang papa yang meminta agar dia segera memutuskan hubungan nya dengan Erina sungguh membuat hatinya tersiksa. Hubungan baik yang tercipta dengan Erina membuat rasa cinta ini terasa amat sulit untuk diakhiri. Erina sangat pengertian dengan keberadaan Wulan. Bahkan Erina bisa mengesampingkan rasa cemburunya terhadap Wulan. Tapi rasa ini harus segera diakhiri sebelum semuanya menjadi semakin sulit.
Sejujurnya ini adalah keputusan terbodoh yang akan Dimas lakukan. Menuruti kehendak orang tua demi sebuah tujuan. Di jaman serba modern seperti ini berbagai pilihan alat komunikasi sudah amat bisa mendukung terjalinnya sebuah komunikasi dalam terjalinnya kelangsungan sebuah hubungan.
Tapi Dimas sangat memahami betul karakter dari papanya. Papanya adalah seorang laki-laki yang berwibawa, santai namun tegas dan sangat serius. Terutama dalam urusan yang penting. Jika mengenai masalah sehari-hari atau yang berkaitan dengan kegemaran anak dan istri, atau mencakup segala hal kebutuhan yang akan di beli atau di gunakan pak Nugra adalah orang yang bisa dikatakan sangat royal dan tak perhitungan. Tapi kalau sudah berkaitan masalah masa depan anak, pak Nugra adalah orang yang tak segan segan untuk bersikap tegas dan bahkan lebih dominan.
Pak Nugra juga termasuk orang yang sangat detail untuk masalah yang sangat penting. Terutama yang berkaitan dengan perusahaan. Tipe pekerja kerasnya sangat kental. Ia mendirikan perusahaan ini dari nol, bukan dari warisan kakek Dimas. Dari alasan itulah Pak Nugra sangat aware dan care dengan perusahaan nya itu. Dia tidak ingin perusahaan yang ia bangun mati-matian dari bawah bisa hancur dalam sekejap jika ia sedikit saja lengah atau lalai.
Dimas, ya Dimas adalah satu-satunya pewaris tahta perusahaan nya yang mempunyai peranan penting sebagai penerus. Dari alasan itulah, Dimas harus menjadi sosok laki-laki cerdas dan hebat yang bisa melanjutkan dan mengembangkan sayap bisnisnya hingga berkembang sesuai harapan.
Mempertahankan perusahaan ini juga bukan semata dengan satu tujuan yakni mengumpul kan harta yang banyak, namun lebih dari itu. Ada ribuan kepala rumah tangga yang menggantungkan hidupnya pada perusahaan ini. Jadi ini bukan semata-mata kepentingan pribadi, tapi kepentingan hajat hidup para karyawan dan keluarganya. Hal itu jugalah yang menjadi konsentrasi serius dari pak Nugra.
#########
Dimas masih berpikir keras tentang bagaimana cara untuk memutuskan Erina tanpa harus membuatnya terluka atau bahkan sampai membenci dirinya. Dimas memandangi dirinya di depan cermin lemari besarnya. Berkali kali Dimas mencoba berbicara sendiri untuk melatih dirinya agar bisa mengutarakan maksud hatinya kepada Erina. Dan usahanya gagal. Dimas tak akan sanggup jika harus melihat airmata Erina yang keluar dari mata indahnya. Hati Erina pasti terluka.
Namun, perasaan Erina adalah yang terpenting. Jangan sampai papanya sendiri yang mendatangi Erina dan memintanya untuk menjauhi anaknya. Hati Erina pasti akan lebih terpukul karna sebagai wanita Erina pasti merasa sudah direndahkan dan terhambat oleh restu orang tua Dimas.
Berhari-hari Dimas memikirkan cara yang tepat untuk memutuskan hubungannya dengan Erina agar jangan sampai Erina menjauh dari dirinya. Walaupun kemungkinan itu kecil adanya.
Dimas mencoba untuk merilekskan pikirannya dengan membaca buku, namun tetap saja hal itu tak berhasil bisa membuatnya rileks. Kepalanya malah tambah semakin sakit. Direbahkannya tubuh lelahnya di atas ranjang sambil ditariknya nafas panjang untuk melegakan nafasnya yang terasa sesak.
"Erina, maafin aku kalau saat ini aku harus melepaskan hubungan kita. Aku ga punya kekuatan untuk mempertahankan hubungan ini. Tapi aku janji, suatu hari dimana aku sudah berhasil menyelesaikan studyku di London, aku akan menjemputmu dan aku akan memeluk hatimu lagi. Aku janji Erina.. Aku janji...!!! Dan di saat itu tiba, aku ga akan pernah melepaskan cintamu lagi.." ucap Dimas berkata sendiri dengan dirinya. Berharap Erina akan mengerti dengan keadaannya.
############
Sabtu malam ini Dimas memberanikan diri untuk datang ke rumah Erina. Hatinya sangat berantakan. Ia mencoba menenangkan dirinya kalau semua akan baik-baik saja. Setelah memberi kabar sebelumnya di sekolah perihal kedatangannya malam ini, Erina terlihat sangat senang dan ceria. Erina sangat senang saat ia tau kalau kekasih hatinya ingin menemuinya. Rasanya rindu sekali ingin bisa lebih dekat, karna sudah dua minggu lamanya Dimas ga datang ke rumahnya. Erina menyambut kehadiran Dimas dengan senyum merona di bibirnya.
Setelah memarkirkan motor matic nya di depan pagar rumah Erina, Dimas langsung memilih duduk di kursi panjang dekat taman kecil yang biasa ia duduki kalau berkunjung ke rumah Erina. Wajahnya malam ini tak bisa berdusta kalau sedang tidak ada apa-apa.
Erina berjalan keluar dari pintu rumahnya lalu membuka pintu pagarnya dan berjalan ke tempat Dimas duduk. Terlihat senyuman manis tersungging di bibirnya dan keceriaan di wajahnya terpampang dengan jelas. Rasa bersalah Dimas makin menggerogoti jiwanya. Rasa ga akan tega dan sampai hati menghancurkan senyuman manis menjadi tangisan semakin membuat Dimas tertunduk lemah dengan nafas yang terasa sesak.
Dimas tetap memaksakan bibirnya untuk tersenyum saat Erina datang dan berada di hadapannya. Senyuman manis Erina yang sangat ia sukai. Di tatapnya wajah ceria gadis pujaannya, yang mungkin senyuman manis itu ga akan ia dapati kembali nanti.
"Hai sayang..." Sapa Erina sambil tersenyum.
"Hai... " jawab Dimas sambil tersenyum.
"Kamu kenapa beib? Kok kamu keliatan kayak kurang sehat gitu. Kamu sakit?" tanya Erina cemas. Wajah Dimas beberapa hari ini memang terlihat lesu dan kurang bersemangat.
Dimas menggelengkan kepalanya sambil tersenyum lemah.
"Erina,,, Aku mau bicara hal serius sama kamu." ucapan Dimas spontan membuat Erina terdiam.
"Bicara serius? Tentang apa?" jawab Erina cemas.
__ADS_1
"Lulus sekolah nanti aku akan melanjutkan study aku ke London."
"Ke London?"
"He-em"
"Berapa lama?"
"4 sampai 5 tahun" ucap Dimas lirih.
Dada Erina terasa sesak mendengar penjelasan Dimas. Terbayang sudah jika Ujian cintanya akan terasa amat berat nanti. Kekasih hatinya harus pergi meninggalkan dirinya dalam waktu yang cukup lama.
"Selama itu kah?"
"Iya. Aku akan langsung ambil S2 aku disana"
Erina menghela nafas beratnya. Lidahnya terasa kaku untuk mengeluarkan kata-kata. Sebenarnya ia mendukung keputusan Dimas untuk melanjutkan study nya ke luar negri. Tapi perasaan ini sangat sulit untuk di bohongi. Berbagai rasa takut tentang kesetiaan, kepercayaan dan penghianatan pun terbayang di pikirannya.
Suasana hening sesaat. Dimas mengatur nafas dan berpikir keras untuk memilih kata-kata yang tepat untuk ia lontarkan nanti. Sedangkan Erina terdiam karna masih syok dengan ucapan Dimas.
"Erina... Mengenai hubungan kita, sebaiknya ga perlu kita lanjutkan." Dimas menunduk lemah ga berani menatap mata Erina.
Erina membulatkan mata tajamnya ke arah Dimas ga percaya dengan apa yang barusan ia dengar.
"A-apa?"
"Ma-maksud kamu kita pu-putus?" ucap Erina sambil terbata-bata.
"Maafin aku Erina" jawab Dimas lirih dan lemah.
Erina menarik nafas dan menatap ke langit mencoba tenang. Matanya mulai terasa ada aliran air yang terasa panas membendung di kelopak matanya.
"Boleh aku bertanya satu hal?" tanya Erina pelan
Dimas ga menjawab. Ia hanya mengangguk lemah.
"Aku salah apa?"
tanya Erina memastikan.
"Kamu ga salah Erina. Aku yang salah"
Erina menggigit bibirnya menahan jangan sampai air matanya mengalir.
"Iya kamu benar. Kamu yang salah. Kamu udah salah memilih aku jadi pacar kamu"
__ADS_1
"Erina, bukan itu maksud aku. Akuuu.... " suara Dimas tertahan. Tatapan sedih mata Erina sungguh membuat hatinya remuk redam.
Dimas ga mungkin jujur tentang alasan sebenarnya kenapa dia memutuskan hubungannya. Karna ini berkaitan dengan privacy orang tuanya.
"Apa ini ada kaitannya dengan Wulan?" tanya Erina lagi. Erina masih penasaran dengan kepastian perasaan dan berita pertunangan antara Wulan dan Dimas.
"Demi Tuhan Erina, aku ga pernah menghianati kamu. Aku ga pernah ada hubungan apapun dengan Wulan. Keputusan aku ini semata karna aku ga ingin membuat kamu semakin terluka nantinya"
"Apa maksud kamu berasumsi seperti itu?"
"Aku ga bisa menjalani hubungan jarak jauh dengan kamu" mulut Erina ternganga syok dengan ucapan Dimas. Dimas terpaksa berbohong dalam hal ini. Matanya memerah menahan perih kenyataan yang mesti ia hadapi.
Erina menarik nafas panjangnya, menatap ke langit yang saat itu terlihat terang karna sinar bulan yang memancar, namun terangnya langit malam itu tak secerah hatinya saat ini. Sekuat tenaga ia menata hatinya agar tetap tenang dan tidak terlihat rapuh di depan Dimas. Jarinya saling menjalin satu sama lain. Berusaha tenang dan ikhlas menerima. Suasana hening seketika.
"Apakah... Kamu sudah yakin dengan keputusanmu?" tanya Erina terbata-bata.
Dimas tak mampu menjawab. Hanya anggukan kecil sebagai jawaban yang semakin membuat hati Erina tersayat, perih dan pilu.
"Ya sudah, kalau memang itu sudah menjadi keputusan kamu. Aku hargai. Aku.. Aku terima keputusan kamu." ucapnya dengan susah payah.
Walau suara Erina yang terbata-bata terdengar lemah dan pelan, namun jelas terdengar di telinga Dimas.
Dua bulir air bening mengalir di pipi mulus Erina. Jarinya dengan sigap langsung menghapusnya sebelum Dimas sempat melihatnya. Ingin rasanya ia berlari masuk ke dalam kamarnya meninggalkan Dimas sendiri. Ia ga sanggup berlama-lama berdekatan dengan Dimas. Hatinya benar-benar terasa sakit. Perih dan hancur. Berkali-kali Erina menarik nafas dan menggigit bibir bawahnya mencoba dengan sekuat tenaga agar terlihat tegar di depan Dimas. Ia ga mau terlihat sebagai cewek cengeng yang ga bisa bersikap dewasa.
Untuk beberapa saat, Dimas dan Erina sama-sama saling diam, larut pada pikirannya masing-masing. Erina melihat ke arah Dimas. Wajah Dimas tertunduk lesu dengan tangan yang mengepal di kedua tangannya. Erina memperhatikan dengan lekat sosok laki-laki yang sangat ia cintai. Laki-laki yang sudah berhasil membuat dirinya terbang ke awan. Dan kini berhasil menghempaskan hatinya ke dasar bumi yang paling dalam.
"Kalau sudah ga ada yang perlu di bicarain lagi, aku masuk ya... " ucap Erina dan lalu beranjak dari tempat duduknya dan berniat langsung meninggalkan Dimas tanpa perlu mendapatkan ijin darinya.
Baru satu langkah Erina melangkahkan kakinya, tangan Dimas langsung meraih tangannya, seolah ga rela Erina pergi meninggalkan nya.
"Erinaaa... " ucap Dimas penuh rasa bersalah.
Erina menatap mata sendu Dimas. Namun tak ada kelanjutan kata-kata yang ingin di sampaikan oleh Dimas. Erina menarik nafas dalam-dalam dan menghadiahkan senyuman indah dari bibirnya untuk Dimas. Erina ingin Dimas tau kalau keputusan nya ga akan membuat hatinya terlalu terluka, walau faktanya tak demikian.
"Dimas, aku ga apa-apa. Aku sangat menghormati keputusan kamu. Sekarang lebih baik kamu pulang, kamu istirahat."
Erina kembali menarik nafasnya dalam-dalam menahan sekuat tenaganya bendungan air matanya yang nampaknya sebentar lagi akan longsor.
"Kamu... Hati-hati di jalan ya... Jangan ngebut-ngebut. " bibir Erina bergetar menatap wajah Dimas yang masih tertunduk sambil menggenggam tangannya.
Perlahan Erina menarik dan melepaskan tangannya dari genggaman tangan Dimas dan bergegas pergi masuk ke rumah dan menuju kamarnya. Erina ga sanggup lagi untuk berlama-lama di sana.
Sepergian Erina, Dimas hanya bisa menatap dari belakang punggung Erina yang berjalan semakin lama semakin jauh dan menghilang ke balik pintu rumahnya. Air mata yang sedari tadi ditahannya akhirnya lolos dengan sendirinya. Dimas membiarkan dua butiran bening mengalir hangat di atas pipinya sebelum jarinya nanti yang akan menyekanya.
.
.
__ADS_1
.