Ku Tembak Cintamu 2x

Ku Tembak Cintamu 2x
Jawaban Erina


__ADS_3

Hari minggu ini seharian Erina ga kemana-mana. Dia masih memikirkan keputusan apa yang akan ia berikan untuk jawaban atas pernyataan cinta dari Dimas.


Nafsu makannya juga menurun. Pikirannya kacau. Deg.. deg an besok senin harus ketemu Dimas.


Seharian ini Dimas juga tak menghubungi atau sekedar mengirim pesan singkat untuk nya. Sepertinya Dimas sengaja memberi waktu untuk Erina mempertimbangkan perasaannya.


Seperti malam minggu kemarin. Malam ini Erina juga ga bisa langsung cepat tidur. Matanya masih saja ga bisa di ajak bersahabat.


"Dddduuuhhh.... Gue kenapa sih ini??? Kenapa yang di kepala gue saat ini cm ada nama Dimas... Dimas.. dan Dimas. Ya Tuhaaaann.... Ada apa denganku? Apa iya gue beneran jatuh cinta sama Dimas?" Erina bicara sendiri di dalam kamar. Saat ini Erina lebih memilih untuk curhat dengan Tuhan ketimbang sama sang mama. Karna Erina belum ingin mamanya tau soal penembakan rasa Dimas kepada nya.


"Dimas emang baik si orang nya, royal, ganteng pula. Kayaknya dia anak orang tajir. Belanjanya aja bikin gue ngeri. Tapiiii... Ya Tuhan, ini bukan mimpi kan ya? Apa iya aku beneran pantes jadi pacarnya Dimas? Dia anak orang kaya. Sedangkan aku?? Ya Tuhaaannn... Please... Aku galau banget sekarang. Mana besok Dimas pasti akan nagih jawaban aku. Aku bingung ya Tuhan.


Aku pengen jawab iya, pengeeennn banget. Tapi lagi-lagi aku ragu ya Tuhan. Apakah aku beneran pantes buat Dimas. Secara aku ga cantik-cantik banget, aku ini juga ga termasuk cewek gaul yang paham tentang fashion,makanan, make up atau trend terbaru tentang sesuatu"


"Aaaaaarrrrrgggghhh.... Ga tau akh"


Erina merebahkan tubuhnya di tempat tidur nya dengan posisi bantal menutupi wajahnya.


Setelah lelah curhat sama Tuhan, ga terasa Erina akhirnya terlelap.


###########


Kkkkkkrrrrriiiinnnngggg......


Alarm jam Erina berbunyi dengan lantang sampai memekakan telinga. Dilihat nya jam itu. Matanya terasa masih sangat berat untuk dibuka. Samar-samar dilihatnya jam sudah menunjukkan pukul 5.15 menit.


Erina memaksa tubuhnya untuk bangun dan dengan langkah lemah ia menyeret kakinya menuju kamar mandi. Ternyata sang mama dan Bi Minah sudah bangun dan terlihat sedang menyiapkan sarapan pagi.


"Pagi sayang... "sapa ibu Astri.


"Pagi ma... Erina mandi dulu ya" jawab Erina sambil langsung melangkahkan kakinya ke kamar mandi.


hampir 30 menit Erina menghabiskan waktunya di kamar mandi. Erina keluar sudah mengenakan seragam sekolahnya dan langsung menuju meja makan untuk sarapan.


"Mama udah mandi?" tanya Erina polos.


"Udah dong... Ayo buruan sarapannya. Dah mulai siang nih. Senin biasanya lebih macet. Kalau kamu makannya lelet, nanti kamu bisa telat. Kalau kamu telat, mama juga pasti telat nyampe kantornya"


"Iyaaa... " jawab Erina singkat sambil bergegas menghabiskan nasi gorengnya.


Erina kembali ke kamar untuk mengoles sedikit bedak ke wajahnya dan lipgloss tipis ke bibirnya. Setelah semua beres, Erina dan mamanya langsung keluar rumah untuk segera berangkat.


Saat keluar pintu, mata Erina melihat sosok laki-laki yang sangat ia kenal. Siapa lagi laki-laki ganteng yang setiap pagi selalu standby di depan pager rumah Erina. Yups betul, Dimas!


Ibu Astri juga melihat kehadiran Dimas.


Dimas membuka helm full face nya dan langsung menyapanya dengan tersenyum lebar.


"Pagi tanteeee... "


"Pagii Dimas" jawab Ibu Astri tersenyum. Ia lalu menoleh menatap putrinya seolah-olah menyuruh Erina untuk pergi bareng bersama Dimas.


Erina merasa sedikit risih dengan senyuman sang mama yang seakan-akan sedang menggoda nya.


"Ciiieee... Tuan putri Erina sudah di jemput nih ceritanya " ledek ibu Astri sambil melempar senyuman ke arah Erina.


Wajah Erina mendadak menjadi merah karna menahan malu.


"Apaan sih mama"


"Ya udah, kalau gitu mama berangkat dulu ya. Kalian hati-hati di jalan. Dimas, tante titip Erina ya..."


"I-iya tante.. "


Tak lama sang mama sudah meluncur pergi bersama mobilnya. Erina melangkahkan kakinya mendekati Dimas yang masih duduk di atas motornya. Ada senyuman lebar tersungging di bibir Dimas.


"Pagi sayang... "sapa Dimas sambil melempar tatapan nakalnya.


"Apaan sih Dim..." jawab Erina menahan malu.


"Jadi kamu sekarang punya job sampingan jadi sopir ojek aku ya?" ucap Erina ngeledek Dimas.


"Iya dong, sopir pribadi untuk cewek yang special" Ucapnya sambil menyerahkan helm untuk Erina.


"Jangan lupa, nanti pulang sekolah aku minta jawaban dari kamu. Atau mau sekarang aja?"


ucap Dimas menggoda Erina dan membuat wajah Erina memerah karena malu.


"Udah siang Diiiimmm... Kamu mau dikunciin sama pak Jono?" Erina sengaja mengalihkan pembicaraan.


"Baik nyonya, meluncur sekarang!!!"


Kurang dari 30 menit mereka sudah sampai di sekolah. Setelah memarkirkan motornya, Erina berpamitan untuk langsung menuju kelasnya. Dan Dimas hanya mengangguk sambil tersenyum.


Dimas berjalan santai menuju kelas dan tiba-tiba dari belakang ia di kagetkan dengan seseorang yang merangkulnya dengan keras.


"Pagi maymaeeeennn... " sapa Rio dengan semangatnya.


"Setan, kaget gue... Apaan sih loe main nemplok-nemplok aja"


"Ciiieeeee.... Yang punya gebetan baru. Sombong amat yaaaa... " ledek Rio sambil cengar-cengir ke arah Dimas.


Dimas tak menjawab. Dia hanya membalas nyengir kuda aja.


"Udah sejak kapan loe deket sama itu cewek bro?" tanya nya penuh dengan rasa penasaran.

__ADS_1


"Mau tau aja loe"


"Bro serius gw.... Udah loe tembak belum tuh cewek?"


"Mang harus?"


"Jaman sekarang itu siapa cepat dia yang dapat mas Brooo... Dah buruan loe tembak. Daripada keduluan orang lain, nyesel loe... "


"Burung kaliiii di tembak"


"Tapi btw, itu cewek cakep juga bro. Kayaknya gue kenal tuh cewek. Dimana yaaa... " ucap Rio sambil mengingat-ingat waktu ketemu dengan Erina.


"Itu cewek yang pernah kena lemparan bola basket gue bro..."


"Ooh iyaaaa.... Gue inget sekarang!!! Ga nyangka ya... Ternyata bola basket loe punya jasa juga buat sejarah percintaan loe. Hahahaha... "


Dimas ikutan tertawa kecil dan masuk ke kelas.


#########


Bel panjang pertama berbunyi menandakan pelajaran akan di mulai. Suasana sekolah mulai terasa lengang. Para siswa mulai focus dengan kegiatannya masing-masing.


Teeeeeetttttttt......


Bel panjang berbunyi tanda istirahat. Anak-anak mulai rame dan berhamburan keluar kelas.


Seperti biasa Erina and gank langsung meluncur ke kantin. Kali ini Erina yang kebagian jatah buat cari meja kosong. Mata Erina mulai mencari-cari meja mana yang masih kosong. Saat matanya mulai mencari-cari, tanpa sengaja matanya beradu pandang dengan mata Dimas yang ternyata sedari tadi sudah menyadari kehadiran Erina di kantin.


Erina membulatkan matanya saat ia menatap mata Dimas yang sudah langsung melempar senyum nakal kepadanya. Tatapan Dimas membuat Erina salah tingkah. Beberapa detik dia sempat mematung sampai dia dikagetkan dengan pundaknya yang di tepuk oleh Adel.


"Kita jadinya duduk dimana Rin?"


"Akh?" Erina kaget dan rada gelagepan untuk menjawab pertanyaan Adel.


"Eeeemmm... Disana aja ya" jawab Erina singkat sambil asal tunjuk arah.


"Yang mana??" tanya Adel.


"Eemmm... Yang mana ya... " ekspresi Erina terlihat bingung.


"Guys... kok kalian masih berdiri aja disini? Duduk dimana nih kita???" Celetuk Chika.


Akhirnya mata Erina melihat ada 1 meja kosong disebelah pojokan.


"Itu tuh kosong. Kita duduk disana aja ya... "


10 menit kemudian pesanan makanan pun datang. mereka menikmati makanan sambil bercanda dan tertawa. Dimas sengaja ga mengganggu Erina yang tengah asik makan bersama teman-teman nya. Sesekali dia mencuri-curi pandang ke arah Erina yang sedang asik dengan temannya. Dia benar-benar ga memperdulikan dirinya yang sering mencuri pandang ke arah nya. Dimas menghela nafas panjang dan memilih untuk kembali ke kelasnya.


#######


Erina sudah selesai merapihkan barang-barang nya. Tapi dia memilih untuk memainkan ponselnya sambil melihat pesan-pesan masuk. Matanya tertuju pada nomor Dimas yang ternyata pas pelajaran terakhir tadi sudah mengiriminya pesan.


Nanti aku ke kelas kamu ya. Jangan pulang dulu.


Erina terdiam membaca pesan tersebut. Sambil menunggu Dimas dateng, Erina mengambil headphone dan memasangkan nya di telinga. Di putarnya lagu slowrock favorite nya yang bisa membuat jiwanya lebih Rileks.


"Rin, loe ga balik?" tanya Chika.


Tidak ada tanggapan dari Erina. Chika ga ngeh kalau ternyata telingan Erina sedang di sumpel pake headphone.


"Erinaaaa... " ucap Chika setengah teriak.


Lagi-lagi Erina ga menjawab dan asik bernyanyi sambil memejamkan matanya menikmati alunan lagu yang sedang di dengarnya.


"Hhhmmm.... Dasar bolot. Pantesan aja gw panggil-panggil ga denger. Ternyata kupingnya lagi di sumpel" ucap Chiks sambil menggerutu.


Chika langsung menarik headphone dari kuping Erina yang membuat Erina kaget.


"Ada apa Chik? " tanya Erina polos.


"Pantesan aja dari tadi gue teriakin loe ga denger. Bilang dong kalau loe pake ini"


"Hehehehe.... Iya sayaang... Sorry yaa... Ada apa?" tanya Erina lagi.


Chika menarik nafas panjang dan menghembuskannya kasar.


"Loe ga balik?"


"Bentar lagi. Masih panas banget. Ngadem bentar." ucap Erina bohong.


"Tumben banget? Biasanya loe langsung kabur kalau dah bel pulang?" telisik Chika curiga. Erina tak menjawab. Hanya sebuah senyuman nyengir saja sebagai jawaban.


Sekolah sudah mulai sepi. Hanya masih ada beberapa siswa saja yang belum pulang. Dimas berjalan santai menuju ke kelas Erina.


Sampai di depan pintu, Dimas melihat masih ada Erina dan Chika yang masih duduk di kursinya.


Dimas mengetuk pintu kelas Erina sambil melempar tersenyum manisnya. Erina agak kikuk dengan situasi ini. Chika menoleh ke arah Dimas lalu menoleh ke arah Erina yang mulai memerah mukanya. Chika mulai menyadari hal apa yang membuat temen satunya ini tidak langsung pulang.


Karna sadar akan menjadi obat nyamuk nantinya, Chika memilih untuk meninggalkan mereka berdua di dalam kelas.


"Hhhmmmm.... Pantesan aja nyonya besar yang satu ini ga langsung kabur pulang, ternyata ada kumbang yang mau dateng. Baiklah kalau begitu. Gue duluan ya Rin" ucap Chika pamit.


Erina mengangguk "Hati-hati ya Chik. Bye... "


Chika melempar senyum ke arah Dimas dan berlalu pergi meninggalkan mereka berdua di kelas. Dimas langsung menghampiri Erina yang masih duduk dan tanpa ijin langsung duduk di sebelahnya.

__ADS_1


"Hai... " sapa Dimas sambil tersenyum manis.


"Hai... " jawab Erina cepat dan kikuk.


Sambil tersenyum khasnya, Dimas memandangi pemandangan indah yang ada di depan matanya. Erina memandang wajah Dimas yang mulai nakal. Lalu membuang pandangannya ke arah lain.


"Kamu ngapain sih ngeliatin aku kayak begitu?" ucap Erina agak risih.


"Kamu cantik" Erina menghela nafas dan memandang malas ke arah Dimas.


"Kan aku cewek. Kalau aku cowok, pasti ganteng."


"Kayak aku ya... "jawab Dimas sambil mengedipkan sebelah matanya.


Erina menarik nafas panjangnya. Sekuat tenaga ia mengatur dirinya agar tetap tenang walaupun saat ini detak jantung nya terpacu cepat ga beraturan.


"Jadddiiii????" tanya Dimas menagih.


"Jadi apa?" jawab Erina yang masih ga ngerti dengan maksud pertanyaan Dimas.


Dimas menarik nafas panjang dan menghembuskan nya perlahan.


"Jawaban kamu apa sayang?"


Erina terdiam lagi.


Sejenak tidak ada suara dari keduanya. Dimas mulai cemas dengan situasi seperti itu.


"Dimas... " ucap Erina memecah keheningan.


"Ya.. " Dimas mulai ga sabar dengan jawaban yang akan di ucapkan Erina.


"Maaf, akuuu..."


Dimas menaikkan alisnya dan mulai sedikit lemas mendengar kata-kata Erina yang belum selesai itu. Namun ia masih bersabar untuk mendengarkan semua kata-kata yang akan di ucapkan Erina.


"Aakkuuu... Ga bisa... "


Dimas langsung lunglai mendengar pernyataan penolakan dari Erina. Hatinya terasa remuk seketika. Tidak ada senyuman lagi di bibirnya. Wajah Dimas nampak murung. Dimas tertunduk lesu dengan tangan di mengepal di atas meja.


Beberapa detik kemudian terdengar suara Erina melanjutkan ucapan nya yang belum selesai.


"Aku ga bisa buat nolak kamu"


Dimas seperti nendapatkan kekuatan baru yang sangat besar saat mendengar perkataan Erina barusan. Dimas yang tadi tertunduk langsung mendongakkan kepalanya dan langsung menoleh ke arah Erina. Disana sudah nampak Erina yang tersenyum lebar sambil menatapnya.


Rona wajah Dimas langsung berubah ceria. Senyumannya melebar.


"Jadi jawaban kamu? Yes?" tanya Dimas memastikan.


Erina mengangguk sambil mengatakan


"Yes"


Dimas tersenyum lebar, dan mengepalkan tangan kanannya sambil berkata yes.


Seperti anak kecil yang dapet permen atau es cream, Dimas benar-benar sedikit norak saat itu.


"Jadi, hari ini kita resmi jadian ya?"


Erina hanya tersenyum sambil mengangguk pelan, tapi yakin.


Tiba-tiba Dimas merengkuh tangan kanan Erina dan menggenggamnya erat.


"Makasih ya Erina. Aku seneng banget kamu membalas perasaan aku" Lagi-lagi Erina hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Aku boleh kan peluk kamu???"


Pertanyaan Dimas sungguh membuat Erina kaget setengah mati. Karna selama ini ia belum pernah di peluk oleh laki-laki selain papanya sendiri.


"A-apaa...?"


"Aaakkhhh... "


Terlambat. Dimas sudah langsung menarik tubuh Erina ke dalam pelukan nya.


Nafas Erina sejenak terasa berhenti. detak jantungnya semakin ga karuan. Ini kali pertamanya ada laki-laki yang berani untuk memeluknya.


Beberapa detik, Erina terlarut dalam pelukan Dimas sampai akhirnya nafas Erina terasa sesak. Erina mencoba untuk melepaskan pelukannya dari Dimas.


"Dimas, aku ga bisa nafas"


Dimas melepaskan pelukannya.


"Maaf Erina, aku ga sengaja. Aku karna terlalu senang. Jadinya aku refleks buat peluk kamu"


Erina hanya mengangguk pelan.


" Kita pulang ya.. " ajak Erina


"Okay. Aku anter ya" Erina mengangguk pasti.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2