
Tidak terasa sudah delapan hari Dimas dan Erina berada di kota London. Dan hari ini mereka akan berkunjung ke rumah Om Indra. Indra sendiri sudah kembali ke London sejak satu hari yang lalu. Indra dan keluarga sangat menikmati liburan singkat mereka selama di Indonesia. Sayang mereka tak bisa berlama lama di negara kakak nya tinggal. Karna Clara masih kuliah dan belum libur semester.
Kedatangan Dimas dan Erina disambut hangat oleh Indra dan keluarga. Meski Clara harus sedikit menyimpan rasa cemburunya kepada Erina, tapi sebagai saudara yang baik ia tetap harus menampilkan wajah ramahnya kepada tamu jauhnya tersebut.
"Kak Dimaaaass... Aku senang sekali kau menyempatkan waktumu untuk berkunjung ke sini. Aku dengar dari uncle Nugra kalau kalian sedang honey moon di London. Makanya aku meminta daddy untuk mempersingkat waktu liburan kita di Bali dan segera pulang." Clara merangkul lengan Dimas menyambut kedatangannya dengan sikap penuh manja. Clara sedikit melupakan kehadiran Erina yang sudah berada di sebelah Dimas.
Erina tak mempermasalahkan sikap manja Clara yang terlihat sedikit berlebihan kepada suaminya. Baginya, sikap manja Clara lebih terlihat sebagai ungkapan luapan kerinduan seorang adik kepada kakaknya yang sudah lama tak bersua.
Dimas menarik jemari Erina yang sedari tadi masih berada dalam genggamannya untuk melangkah satu langkah ke depan, sedikit maju untuk menyapa saudara sepupunya. Dimas melingkarkan tangannya di pinggang Erina untuk mempertegas akan keberadaan istrinya di depan Clara.
"Clara, kamu juga harus menyapa istriku.." ucap Dimas sambil menyunggingkan senyumnya. Clara terlihat canggung dan langsung tersenyum simpul sambil memiringkan kepalanya ke arah Erina.
"Sure..." ucapnya cepat.
"Hai Erina... Kita bertemu lagi. Aku ucapkan selamat sekali lagi atas pernikahanmu dengan kakakku yang sangat tampan ini. Semoga kau dan Dimas selalu bahagia." Erina tersenyum tulus dengan ucapan sapaan Clara yang kini juga sudah sah menjadi saudara sepupunya.
"Hai Clara... Senang bisa bertemu denganmu lagi. Kamu tetap terlihat cantik meski tanpa menggunakan make up." puji Erina yang langsung membuat membuat Clara percaya diri.
"Terima kasih. Aku memang selalu cantik. Tapi sayang, disini ga ada laki laki tampan seperti Kak Dimas" tanpa sadar, Clara memayunkan bibirnya yang membuat Erina dan Dimas saling bertukar pandang. Tiba tiba Dimas tertawa lebar merasa geli dengan ucapan Clara yang barusan. Clara seketika menolehkan pandangan herannya ke arah Dimas. Cara ketawa Dimas yang terkesan mengejek membuat Clara malu dan canggung.
"Eeehhh Clara.... Sudah enough ngobrolnya. Kamu jangan godain kakakmu terus. Ayo ajak kakakmu makan. Dimas, Erina, kalian harus mencicipi masakan tantemu. Tantemu seharian ini sudah sangat sibuk menyiapkan menu khusus untuk menyambut kedatangan kalian." ucap Indra sambil menggiring pasangan pengantin baru ini ke ruang makan.
Dimas dan Erina menikmati hidangan lezat yang disuguhkan keluarga Indra. Siang itu mereka menikmati makan siang di sana. Berkali kali Clara mencuri curi pandang ke arah Dimas. Wajahnya terlihat murung dan kurang bersemangat. Clara mempercepat makannya dan berpamitan meninggalkan meja makan untuk kembali ke kamarnya.
"Semuanya, aku ijin duluan ya. Ponselku ketinggalan di kamar. Hari ini ada pesan penting dari kampus yang harus segera aku baca" Clara mencari alasan tepat yang bisa diterima keluarganya untuk segera bisa kembali ke kamar. Matanya sudah terasa panas. Indra hanya mengangguk dan Clara segera beranjak dari duduk dan setengah berlari menuju kamar.
Clara menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang dan membiarkan airmatanya mengalir. Hatinya sungguh terasa sakit melihat kebahagiaan yang dialami Erina. Erina sangat beruntung bisa mendapatkan Dimas seutuhnya. Clara membalikkan tubuhnya dan meraih bingkai foto yang berada di atas nakas samping ranjangnya. Foto yang berisi gambar Dimas dengan dirinya yang sedang tertawa lebar penuh kebahagiaan. Foto yang sangat disukainya. Foto itu diambilnya saat dimana Dimas masih berkuliah di London dan mereka sering menghabiskan waktu bersama.
"Kak Dimas... Aku tau kita adalah saudara yang tak mungkin bisa menikah. Tapi hatiku sakiiiitttt.... Aku cemburu... Apa aku salah kalau aku jatuh cinta denganmu?" airmata Clara masih saja mengalir. Sulit rasanya untuk membendung emosinya. Meski bibirnya mampu tersenyum, namun hatinya tetap sulit untuk diajak tersenyum.
Selesai santap siang, Dimas dan Erina diajak ke ruang keluarga untuk bersantai sambil berbincang bincang. Indra memberikan sekotak coklat premium khas kota London sebagai buah tangan darinya.
"Cobalah coklat ini. Rasanya bisa membuatmu menjadi lebih rileks."
"Waaahhh... Terima kasih... Coklat ini cantik sekali..." Erina menerima kotak coklat yang disodorkan ke arahnya dengan wajah yang sumringah. Kotak coklat yang cukup mewah yang dikemas apik dan sangat menarik.
Cukup lama mereka saling berbincang bincang sampai tak kerasa waktu sudah hampir sore. Dimas dan Erina berniat untuk berpamitan dan segera kembali ke hotel.
"Menginaplah semalam di sini. Kalian kan belum tentu setahun sekali bisa datang kemari?" pinta Indra yang terdengar sebagai permohonan khusus kepada keponakannya.
"Besok kami sudah harus kembali ke Indonesia. Dan pesawat kami jam sembilan pagi. Jadi, dengan berat hati sepertinya kami belum bisa mengabulkan permintaanmu. Maaf ya Om. Jika ada kesempatan di lain waktu, kami pasti akan dengan senang hati bersedia menginap di sini" Indra mengangguk mengerti. Dimas pasti harus membereskan semua barang barangnya sebelum mereka check in di bandara. Dan tentunya Mereka juga tidak boleh terlambat sampai bandara. Sayangnya rumah Indra cukup jauh dari bandara. Dan hotel yang di tempati Dimas saat ini jaraknya cukup dekat dengan bandara.
Indra meminta istrinya untuk memanggil Clara agar ia bisa mengucapkan salam perpisahannya dengan kakak sepupunya ini.
#########
Suara ketukan pintu kamar membuat Clara terkejut dan segera menyeka airmatanya dan lalu bersikap normal seperti semula. Bingkai foto yang sedari tadi dipegangnya, dengan cepat di telungkupkan dan disembunyikan dari pandangan sang mommy.
__ADS_1
"Clara... What are you doing Baby...?? Kenapa kamu mengurung diri di kamar? Dimas dan Erina mau berpamitan pulang" suara mommy nya membuat dirinya salah tingkah. Meski airmatanya sudah ia hapus dari wajah manisnya, namun mata indahnya tak bisa membohongi mata mommy nya untuk tak curiga kepadanya.
"Sayang, kamu nangis? Kenapa? Kamu ada masalah?" Clara segera menepis tangan mommy nya yang membelai lembut wajahnya. Clara menggeleng lemah.
"Bukan masalah besar. Aku hanya kecewa dengan dosenku. Berani sekali dia memberiku nilai C. Aku kesal. Aku akan membuat perhitungan dengannya besok." senyuman geli seketika tersungging di bibir sang Mommy. Dan dengan lembut membelai rambut putri semata wayangnya itu dengan penuh kasih sayang.
"Sayaaaangg... Jangan sedih. Kamu masih bisa mencobanya lagi. Mommy yakin kalau kamu lebih keras berusaha, kamu pasti akan mendapatkan nilai yang lebih bagus dari ini" Clara mengangguk pelan. Acting bohongnya berhasil. Ga mungkin jika ia harus berkata jujur akan perasaannya kepada Dimas meski dengan Mommy nya sendiri.
##########
Clara menuruni anak tangga bersama sang mommy. Indra menatap sedikit heran melihat keanehan yang terjadi di mata anaknya.
"What's wrong with your eyes darling?" Clara hanya terdiam enggan untuk menjawab.
"Clara sedang kesal karna dosennya memberinya nilai C" ucap sang mommy yang langsung membuat suaminya tertawa lebar karna melihat wajah Clara dengan bibir manyunnya. Dimas dan Erina juga tak luput ikutan tertawa kecil melihat sikap Clara yang masih terlihat kesal.
"Oh My God... Clara pleasee.... Masa hanya gara gara nilai saja bisa meruntuhkan semangatmu. Lihatlah betapa berantakannya dirimu..."
"Daddy stopped" gertak Clara yang malah semakin membuat Indra terbahak bahak.
"Baby, Dimas dan Erina akan kembali ke hotel. Dan mereka akan kembali ke Indonesia besok." Clara membulatkan matanya tak percaya.
"Are you serious? Kenapa cepat sekali? Aku pikir kita masih bisa pergi jalan jalan bersama ke toko souvenir?"
"Kita sudah membeli beberapa souvenir untuk oleh oleh. Aku dan Erina sudah cukup lama berada di London. Kami harus kembali. Kalau aku terlambat pulang, aku bisa dipecat oleh perusahaan." ucap Dimas menggoda Clara lengkap dengan senyum manisnya.
"Jika ada kesempatan lagi, kami pasti akan berkunjung kesini dan aku akan menginap di rumahmu. Benarkan sayang..." Lagi lagi Dimas melingkarkan tangannya di pinggang Erina dan sedikit dieratkan, yang berhasil membuat hati Clara terasa di remas keras. Erina mendukung ucapan suaminya dengan mengangguk sambil tersenyum. Clara pun hanya bisa mengangguk pelan dengan tatapan sedih penuh penyesalan.
##########
Dimas dan Erina sudah berada di dalam kamar hotel. Dimas merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Tubuhnya cukup lelah karna seharian ia menyetir berkeliling kota London dan mampir ke rumah Om nya yang jaraknya cukup jauh dari lokasi hotel.
"Sayang, aku mandi duluan ya. Kamu istirahat saja dulu" ucap Erina sambil melenggang ke kamar mandi. Bukan Dimas namanya kalau ga usil.
"Aku ikut..." Dimas memaksa tubuhnya untuk bangun dan mengekori Erina memasuki kamar mandi.
"Kita hanya mandi. Ga lebih." ucap Erina tegas memperingatkan suaminya. Dimas mengernyitkan dahinya merasa tak terima diintimidasi istrinya.
"Kenapa? Bukankan kegiatan disela sela mandi sangatlah menyenangkan?" godanya sambil mengecup cepat bibir Erina.
"Sayang pleaseee... Tolonglah ngertiin dikit. Kita sudah lelah seharian bepergian. Apalagi besok kita harus bangun pagi bukan? Kita harus tidur cepat malam ini." Dimas menghela nafas pura pura kecewa dan langsung mengiyakan permintaan Erina dan mereka hanya mandi biasa.
Selesai mandi, keduanya sama sama mengenakan handuk kimono untuk membalut tubuh mereka. Dengan handuk yang dililitkan dikepala membalut rambutnya yang basah, Erina berjalan biasa tanpa curiga sedikitpun kepada Dimas. Dan tiba tiba dari arah belakang Dimas langsung membopong tubuhnya dan langsung merebahkannya di atas ranjang.
"Tidak boleh menolak suami. Dosa" ucapan Dimas benar benar membuat Erina tak berkutik.
"Sayaaangg...." Erina merengek seakan memohon agar Dimas tak jadi melanjutkan niat untuk menyentuhnya.
__ADS_1
"Kamu pikir aku ga bisa bermain cepat? Dan aku jamin kita ga akan kesiangan besok." mulut Erina sedikit terbuka untuk mengatakan penolakannya namun bibir Dimas sudah lebih cepat menutupnya dengan bibirnya. Dimas ******* rakus bibir Erina dan membawanya ke dalam suasana panas yang membuat Erina tak berdaya. Sentuhan lembut Dimas membuat Erina tak kuasa untuk menolak. Dimas juga sangat pintar membuat istrinya pasrah dan berubah menjadi menuntut lebih dari permainan yang dilakukannya. Malam terakhir di London tak mereka lewatkan begitu saja dan mengisinya dengan percintaan panas nan menggoda yang tak akan terlupakan.
#########
Berkali kali Erina menguap menahan kantuknya. Matanya terasa sangat berat. Percintaan semalam sangat menyita tenaganya. Permainan cepat yang dijanjikan Dimas hanyalah basa basi semata. Tetap saja Dimas membawanya ke dalam pergulatan percintaan panas yang sangat lama. Sampai sampai membuatnya kepayahan dan kelelahan. Alhasil pagi ini matanya sangat berat untuk di buka. Erina seperti orang mabuk yang setengah sadar. Kepalanya terasa pusing karna kurang tidur.
Keduanya kini telah berada di dalam pesawat. Erina menyenderkan tubuhnya di kursi pesawat bisniss yang sudah dipanjangkan sambil memejamkan mata. Tubuhnya benar benar terasa lelah.
"Sayang, kamu harus sarapan. Makanlah dulu." Erina menggeleng pelan. Yang ia butuhkan saat ini adalah tidur untuk menghilangkan rasa pusing di kepalanya.
"Aku ngantuk banget..." ucapnya lirih. Erina ga bernafsu sama sekali dengan makanan lezat yang ada di depannya.
"Iya aku tau. Tapi perut kamu juga ga boleh kosong. Buka mulut kamu, sini aku suapin" Dimas mengambil alih piring sarapan milik Erina. Walaupun disuapin, bukan berarti Erina menjadi semangat untuk membuka mulutnya. Dengan sabar Dimas menyuapi sedikit demi sedikit makanan ke mulut istrinya. Erina sendiri mengunyah makanannya masih dengan mata terpejam.
"Dimas aku pusing. Biarkan aku tidur sebentar ya..." Dimas ga tega juga melihat kondisi Erina yang sepertinya memang dalam keadaan ngantuk berat. Dan akhirnya ia hanya bisa mengangguk membiarkan istrinya pergi tidur untuk memulihkan tenaganya.
"Tidurlah..." Erina langsung merebahkan tubuhnya dan matanya langsung terlelap di atas awan.
#########
Erina mengerjapkan mata. Tubuhnya sedang berusaha mengumpulkan kesadarannya sambil melihat sekeliling. Sepertinya ia cukup lama juga tertidur. Diliriknya ke kursi sebelah nampak Dimas yang juga tertidur dalam duduknya. Perutnya kini terasa keroncongan. Rasa lapar mulai terasa. Karna tadi pagi ia hanya memakan sarapannya sedikit sekali. Rasa kantuk yang teramat sangat benar benar membuat matanya terasa berat untuk terjaga.
Ternyata makanannya tadi pagi masih ada di meja kecil yang berada di samping kursinya. Erina meraih piring yang berisi pasta dengan topping daging cincang dan keju yang masih terlihat menggiurkan. Meski sudah dingin, tapi rasanya tetap enak. Mungkin rasa enaknya juga karna dipicu rasa lapar yang sedang menderanya. Dengan hati hati dan tanpa suara, Erina menikmati makanannya. Ia tak ingin membuat Dimas terbangun karna suara berisik dari alat makannya. Diteguknya jus jeruk murni yang masih tersaji untuknya. Makanan dan minuman yang disajikan maskapai ini benar benar lezat dan memanjakan lidahnya.
Erina terkaget ketika matanya bersirobok dengan wajah Dimas yang sudah tersenyum menatapnya. Entah sejak kapan Dimas sudah memandanginya. Wajah Erina memerah menahan malu karna sudah memakan makan paginya yang sudah dingin.
"Memangnya makanannya masih enak?"
"Masih. Cuma udah dingin aja. Tapi masih enak kok" Dimas tertawa kecil merasa geli dengan sikap istrinya.
"Kenapa ga bangunin aku? Aku kan bisa pesenin kamu makanan yang baru."
"Ga apa apa. Makanannya masih enak. Lagipula sangat disayangkan kalau makanan seenak ini harus dibuang. Mubadzir tau... Kalau kata mama, pamali buang buang makanan". lagi lagi Dimas tertawa kecil dengan sikap Erina yang polos.
"Maaf tadi aku juga ikut tidur. Makanya piring makanan kamu masih aku taroh di mejamu. Apa kamu masih lapar? Mau makan lagi? Mau coba steak tenderloin favorite dari maskapai ini?" tawaran Dimas terdengar sangat menggiurkan. Meski sudah menghabiskan sepiring penuh pasta, perut Erina seperti masih kosong dan masih mampu untuk menampung makanan tambahan. Dengan penuh semangat, Erina menganggukkan kepalanya. Tanpa menunggu waktu lama, Dimas segera memesan dua porsi menu yang sudah ia tawarkan tadi.
Setelah menunggu beberapa menit, pesanan mereka pun tiba. Aroma wangi dari butter yang bercampur daging dan bumbu pilihan membuat indra penciuman dan pengecapanan saling bercengkraman. Seperti orang yang kelaparan, Erina segera melahap habis makanannya. Dimas sendiri masih terlihat santai menikmati makanannya. Ia agak terkejut ketika melihat piring istrinya sudah kosong dengan cepat.
"Waw.. Sepertinya istriku benar benar lapar ya..." Erina hanya mengangguk sambil mengelap bibirnya dari sisa makanan yang masih menempel.
"Terima kasih ya sayang. Makanan pilihanmu sungguh lezat." ucapnya sambil tersenyum. Erina tercengang kaget dan terpaksa membuka mulutnya kembali ketika Dimas menyodorkan suapan besar dengan paksa ke arah mulutnya.
"Makanlah yang banyak. Supaya kamu fit dan sakit kepalamu hilang" Erina agak kewalahan mengunyah potongan daging yang cukup besar di mulutnya. Anehnya meski potongan daging yang di suapkan ke mulutnya cukup besar, tidak membuat daging itu sulit untuk di kunyah dan ditelan. Tekstur daging dengan serat yang lembut dan tingkat kematangan yang pas, serta bumbu rahasia yang sangat lezat benar benar memanjakan indra pengecapan selalu ingin dan mampu menikmatinya selalu.
.
.
__ADS_1
.