Ku Tembak Cintamu 2x

Ku Tembak Cintamu 2x
Resign


__ADS_3

Suara riuh dari tepukan tangan karyawan di ruangan divisi keuangan terdengar sangat ramai memenuhi setiap sudut ruangan. Tepukan apresiasi sebagai wujud rasa senang akan adanya sebuah perubahan. Hari ini Mieke dan Erina resmi di nobatkan sebagai Manager dan Assistant Manager Keuangan. Semua karyawan menyalami dan memberikan ucapan selamat kepada keduanya. Raut wajah Mieke tergambar jelas sebagai wajah kebahagiaan dan kepuasan.


Tapi tidak untuk Erina, ia sangat canggung dengan semua ini. Ia bingung harus senang atau sedih menerima penghargaan ini. Karna wajah-wajah para pemberi ucapan selamat terlihat tidak tulus dan terkesan hanya sekedar basa basi kepadanya.


"Selamat ya Erina... Keren, belum genap dua tahun udah bisa naik jabatan. Strategimu sepertinya patut dicontoh" ucap Silvia salah satu rekan kerjanya. Erina hanya bisa terdiam menerima sindiran menyakitkan dari rekan kerjanya itu.


Mieke dan Erina mulai hari ini juga berpindah ruangan. Satu persatu Erina memindahkan barang-barangnya ke bekas ruang kerja Mieke.


Erina duduk termenung dikursi ruang kerja barunya. Hati dan jiwanya merasakan ketidak nyamanan. Ia bingung harus memulai dari mana. Reaksi negatif dari rekan kerjanya menambah ketidak nyamanan untuknya bekerja di perusahaan itu. Belum lagi rasa kesalnya kepada Dimas masih membelenggu jiwanya. Dimas benar-benar tak memperdulikan perasaannya.


############


Ruang kerja Dimas


Mata Dimas terlihat sangat fokus memperhatikan laptop yang saat ini sudah ada di depan mejanya. Senyum manis nya menghiasi bibirnya. Dilayar laptopnya terlihat dengan jelas wajah Erina yang sedang manyun dan terlihat sangat Bete.


Dimas memang sengaja menyuruh anak buahnya secara diam-diam memasang cctv di ruang kerja Erina yang baru. CCTV itu dipasang di tempat yang tidak pernah diduga oleh siapapun. Kamera yang dipasang adalah kamera mikro canggih yang sangat kecil tapi bisa menghasilkan gambar visualisasi yang jernih dan sangat jelas. CCTV itu hanya khusus tersambung di ponsel dan laptop Dimas. Karna Dimas tak ingin orang lain bisa mengakses dan memandangi wajah wanitanya selain dirinya. Selain gambar, cctv itu juga bisa mengirimkan suara. Jadi Dimas bisa tau apa yang di ucapkan oleh Erina.


"Loe lagi nonton bokep ya Dim..." cletuk Rio yang merasa aneh dengan sikap boss nya yang senyum-senyum sendiri.


"Heem" jawabnya singkat.


"Dasar kunyuk. Nonton bokep ga ngajak-ngajak." Rio langsung beranjak dari kursinya dan mendekati kursi Dimas. Rio membulatkan matanya saat melihat isi layar laptop Dimas yang penuh dengan wajah Erina.


"Loe pasang cctv di ruang kerjanya Erina Dim?" Dimas hanya mengangguk tanpa menolehkan tatapannya ke arah Rio. Matanya masih fokus ke layar laptopnya.


"Mantaaaappp.... Gue kirain loe lagi nonton film bokep. Hufffttttt...."


"Dasar otak mesum. Kerjaaaaa!!!!" satu pukulan ringan mendarat di kepala Rio.


"Aawww.... Jahat banget sih loe Dim. Masa kepala gue di tabok. Makin **** deh gue"


"Loe **** aja jadi asisstant pribadi GM. Gimana kalau loe pinter?"


"Hehehehe... Iya juga ya..." Rio tertawa nyengir menyadari kebodohannya.


#########


Semakin hari Erina merasa semakin kurang nyaman bekerja di perusahaan ini. Pasalnya entah apakah ada yang memprovokasi atau tidak, setiap prestasi yang Erina hasilkan pasti selalu dikait kaitkan dengan Dimas. Seolah olah semua tak lepas dari campur tangan Dimas.


Ini kali keduanya Erina meminta Dimas untuk mengembalikan ke posisi awal atau mungkin dipindahkan ke divisi lain yang siapa tau bisa lebih nyaman dengan orang-orangnya. Namun Dimas tetap kekeh dengan pendiriannya. Baginya, posisi Erina saat ini cukup kondusif baginya untuk bisa selalu dekat dan membuat derajat Erina berada pada posisi yang lebih baik dan lebih dihormati. Sayangnya, fakta yang terjadi adalah sebaliknya. Meski kedudukan Erina memang lebih terhormat bukan berarti ia mendapatkan pengakuan yang layak selayaknya seorang atasan. Walaupun demikian, Erina tak pernah mempermasalahkan semua itu. Semua ini ia anggap ibarat sebuah pil pahit yang harus ia telan sendiri tanpa perlu menjelaskan rasanya kepada Dimas yang sudah menempatkan dirinya pada posisi seperti sekarang.


###########


Dengan langkah penuh keyakinan, Erina melangkahkan kakinya ke lantai 7 menuju ruang kerja Dimas. Ditangannya sudah ada sebuah amplop putih.


Ttuk...tuk...

__ADS_1


Rio menolehkan kepalanya menuju sumber suara. Dengan sigap Rio langsung beranjak dari duduknya dan membukakan pintu. Matanya cukup terkejut dengan kehadiran Erina disana.


"Erina..."


"Maaf, boleh aku ketemu sama Dimas?" ucap Erina yang langsung mendapatkan anggukan dari Rio.


"Dim..." Dimas yang sedang sibuk memeriksa berkas-berkas di mejanya dengan seketika mendongakkan kepalanya ke arah panggilan Rio.


"Ada Erina" sambungnya lagi.


Anggukan kecil Dimas sudah cukup untuk Rio mengerti. Rio mempersilahkan Erina masuk ke dalam ruangan. Dan seperti biasa, Rio memilih untuk keluar dari ruangan dan tidak ikut campur urusan bossnya dengan wanita miliknya.


Erina sudah berdiri di depan meja Dimas. Erina menatap dalam Dimas yang terlihat masih sibuk dengan berkas-berkasnya. Wajah Erina menampilkan raut wajah serius tanpa senyuman sedikitpun di wajahnya. Dimas menoleh sekilas ke arah Erina yang masih berdiri.


"Duduklah" titahnya kepada Erina. Nampaknya Dimas sedang tanggung dengan pekerjaannya, Sehingga membuat Erina sedikit menunggu.


Setelah selesai menanda tangani beberapa berkas penting, Dimas meletakkan pulpennya diatas map yang sudah ia tanda tangani dan mengarahkan pandangannya kepada kekasihnya, Erina. Senyum manisnya pun tersungging di bibirnya.


"Hai sayang... Tumben kamu kesini? Mau ajak aku makan siang ya?" ucapnya mencairkan wajah Erina yang terlihat sangat serius.


"Aku sengaja kesini untuk menyerahkan ini" Erina menyerahkan amplop putih yang sudah sedari tadi ia bawa dan di letakkan di atas meja kerja Dimas.


Dimas mengernyitkan dahinya sedikit terkejut dan penasaran akan isi dari amplop itu.


"Apa ini?" ucapnya sambil mengambil dan membuka amplop itu.


"Itu surat resign aku. Aku pengundurkan diri dari perusahaan ini" suara Erina terdengar lemah dan sedih.


"Kenapa kamu tiba-tiba ingin resign? Apa ini semua karna aku?"


"Aku rasa kamu sudah tau jawabannya" ucapnya dengan nada ketus.


"Erina... Kamu masih marah sama aku?"


"Aku ga marah. Aku hanya sadar akan posisi aku saat ini. Ini keputusan terbaik yang sudah seharusnya aku ambil"


"Keputusan terbaik? Untuk siapa? Untuk kamu? Atau untuk aku?"


"Maafin aku Dimas. Tapi ini sudah menjadi keputusan aku"


Dimas menarik nafas dalam dan tetap tenang di kursinya.


Dimas mengambil ponselnya menghubungi Rio.


"Yo, tolong loe ambilkan surat perjanjian kerja punya Erina. Sekarang. Gue butuh cepat" suara Dimas terdengar garang dan sangat serius.


Tiga menit kemudian Rio sudah muncul di ruangan Dimas dengan membawa sebuah map. Setelah menyerahkan map itu, Rio kembali keluar meninggalkan ruang kerjanya.

__ADS_1


Dimas menyodorkan map itu kepada Erina. Erina sendiri menjadi bingung dengan perlakuan Dimas yang dengan tiba tiba malah berbalik memberikan sebuah map kepadanya.


"Buka dan bacalah"


Erina membuka dengan perlahan isi map itu. Lembar pertama adalah data diri dan surat lamaran kerja miliknya. Lembar selanjutnya adalah surat perjanjian kerja yang sudah ia tanda tangani. Erina sedikit bingung dengan dokumen yang ada didepannya itu. Ia masih kurang mengerti dengan maksud Dimas menyuruhnya membaca lagi isi perjanjian kerja miliknya.


"Apa.kamu sudah mengerti dengan isi dari surat perjanjian kerja kamu?"


"Sudah" jawab Erina singkat.


"Jadi kamu sudah siap dengan konsekuensinya?"


"Konsekuensi? Maksud kamu apa?" Erina semakin bingung dengan ucapan Dimas yang seolah terdengar menggantung. Setau Erina, surat perjanjian kerja yang sudah ia tanda tangani tidak ada sesuatu yang aneh atau terlalu mengikat dirinya sebagai karyawan di perusahaan itu. Dan isi dari perjanjian itu hanya terkait soal peraturan kedisplinan dan tata krama dalam bekerja saja.


Dimas tersenyum kecil. Dengan ekspresi tenang Dimas mengarahkan Erina untuk membuka kembali surat perjanjian kerja miliknya di lembar ke dua paling akhir.


Mata Erina serasa ingin keluar dari kelopaknya saat ia membaca isi dari lembar itu. Di lembar perjanjian itu tertulis bahwa jika dirinya mengajukan diri untuk mundur dari perusahaan, maka si karyawan (Erina) wajib membayar denda pinalty sebesar tiga ratus juta rupiah.


"A-apaaaa !!!! Tiga ratus juta???"


Dimas melempar senyuman mengejeknya. Ia beranjak dari kursinya mendekati kursi Erina dan duduk di ujung sudut meja kerjanya.


"Yakin kamu mau bayar denda pinalty?"


"Ga... Ga mungkin !! Ini pasti salah. Kamu pasti sudah mengganti surat perjanjian kerja aku dengan perjanjian baru yang isinya sengaja kamu buat sendiri. Benar bukan?"


Erina memang cerdas. Apa yang barusan ia katakan adalah benar adanya. Dimas memang sudah dengan sengaja mengganti surat perjanjian miliknya dengan yang baru dan memindahkan tanda tangan Erina dengan sangat rapih. Tujuannya untuk menahan Erina agar tidak bisa dengan mudah untuk mengundurkan diri seperti keinginannya saat ini. Berkat jasa seorang ahli IT, Dimas dengan mudah membuat itu semua. Semua dibuat sempurna oleh tenaga yang sangat profesional sehingga hasil yang didapatkan sangat mirip dengan aslinya.



"Bukankan itu tanda tangan kamu? Benar bukan?"


Erina menarik nafas dan merapatkan gigi-giginya menahan emosinya.


"Seingat aku, perjanjian kerja yang aku tanda tangani tidak ada keterangan pinalty. Kenapa sekarang jadi ada?" Erina masih mencoba untuk menelisik mencari kebenaran. Namun sepertinya percuma. Tidak ada cela sedikitpun yang bisa dijadikan alasan untuk menyanggah dari keaslian surat perjanjian kerja tersebut.


"Setau aku, perjanjian kerja yang dibuat perusahaan ini memang sudah menerapkan adanya denda pinalty. Hal itu bertujuan agar karyawan yang sudah diterima tidak dengan mudah mengundurkan diri, yang dikhawatirkan bisa membocorkan rahasia perusahaan. Karna perusahaan ini merekrut calon karyawan juga dengan seleksi yang sangat ketat" jelas Dimas dengan tenang. Wajahnya menyiratkan senyum kemenangan yang berhasil menaklukkan wanitanya.


Dimas membungkukkan tubuhnya sedikit rendah dan mendekatkan wajahnya ke wajah Erina yang terlihat kesal.


"Jadi, bagaimana nona Erina? Kamu mau bayar denda pinalty atau kembali ke ruang kerja kamu?" Erina membulatkan matanya menatap Dimas dengan tatapan geram yang sangat. Rasa kesal, malu dan marah bercampur jadi satu.


Dimas makin mendekatkan wajahnya ke wajah Erina. Dengan cepat Erina menjauhkan wajahnya, beranjak dari duduknya lalu bergegas pergi meninggalkan ruang kerja Dimas.


Dimas hanya tersenyum pilu menatap punggung Erina yang berlalu begitu saja tanpa ucapan permisi kepadanya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2