Ku Tembak Cintamu 2x

Ku Tembak Cintamu 2x
Tetap Milikku


__ADS_3

Sambil memejamkan matanya, Erina menarik nafas dalam menahan emosi nya. Dimas hanya terpaku memandangi nya dengan perasaan bersalah. Sejenak suasana menjadi hening. Meski keduanya terdiam, namun Dimas tidak melepaskan pandangannya ke arah Erina. Matanya dengan tajam meneliti setiap inci wajah Erina yang terlihat sangat kesal kepadanya.


"Tolong jangan perlakukan aku seperti perempuan-perempuan yang pernah kamu kencani di sana" Erina menunduk menahan air matanya. Ucapannya sungguh membuat Dimas tersinggung.


"Apa maksud nya Erina berkata begitu? Perempuan? Kencan?" batin Dimas mengumpat.


"Aku ga pernah menyentuh perempuan manapun. Hanya kamu perempuan yang dengan sadar aku sentuh" Dimas menyenderkan punggungnya di belakang kemudi dan menghadap ke arah depan.


Erina memandang Dimas dengan tatapan tak percaya. Apa yang dikatakannya sangat berbeda dengan foto yang telah ia lihat beberapa waktu yang lalu sebelum kepulangannya kembali ke Jakarta.


"Semoga apa yang kamu ucapkan benar adanya". ucap Erina santai dan membuka seltbeltnya.


"Apakah kamu ga percaya sama aku?" Dimas mengalihkan kembali matanya menatap mata Erina yang terasa dingin menatapnya.


"Entahlah" Erina mengalihkan tatapannya ke arah depan. Ia memperhatikan keadaan sekitar. Ia tersadar kalau ia sangat mengenali tempat yang ia datangi saat ini.


"Ini... Bukannya ini tempat wahana permainan? Jadi maksud kamu, ngajak aku pergi ke suatu tempat itu, ini???"


"He-em. Ayo kita turun" Dimas turun dari mobil diikuti oleh Erina.


"Kamu di sini dulu. Aku akan beli tiket"


"Dimas... " Dimas berbalik saat Erina meneriaki namanya.


"Aku ga mau main di sini. Kamu kan tau aku takut permainan extrim"


"Ga semua permainannya extrim sayang"


"Tiket disini mahal. Lagipula aku juga pasti hanya berani naik beberapa wahana. Itupun wahana anak-anak" wajah Erina memerah menahan malu.


"Kan ada aku" ucap Dimas nakal sambil mengedipkan sebelah matanya dan berlalu menuju ke loket.


Erina menghembuskan nafasnya dengan kasar menahan kesal. Erina duduk di kursi besi panjang yang sudah tersedia di dekat taman kecil menuju pintu masuk.


Tak butuh waktu lama Dimas telah kembali ke hadapan Erina sambil memamerkan 2 tiket dan langsung menarik tangan Erina untuk segera memasuki arena permainan.


Arena permainan yang pertama Dimas singgahi adalah wahana k***k***. Wahana yang bisa membuat semua beban menjadi lepas. Erina berteriak ngeri saat kapal melayang lebih tinggi dan lebih cepat. Tanpa sadar Erina menggenggam erat tangan Dimas dan mencengkramnya. Dimas membiarkan tangannya dicengkram, walau cengkraman tangan Erina sudah menyakitkan tangannya.


Permainan pun selesai. Lutut Erina terasa lemas. Dimas tertawa lepas melihat Erina yang kepayahan. Dimas menarik tangan Erina menuju permainan ringan lempar gelang. Dimas mencoba peruntungan nya dalam meraih sebuah hadiah.


"Kamu mau hadiah yang mana aku akan dapatkan buat kamu?" Dimas membayar sepaket gelang yang akan ia mainkan.


" Eemmm... Aku ga yakin kamu bisa berhasil dapetin itu hadiah." ejek Erina sambil tertawa kecil menggoda Dimas.


Dimas bersemangat melemparkan gelang demi gelang ke dalam botol botol yang sudah dijejer rapi.


Ttinggg... Suara pantulan gelang beradu dengan mulut botol. Dimas gagal memasuk kan gelang itu ke dalam botol. Dimas geram dan gemas karna sudah 5 gelang lepas dan belum berhasil ia masukkan. Erina tertawa gemas juga melihat Dimas yang masih antusias.


"Yeeesss... Masuk!!! " teriak Dimas bangga.


Akhirnya ada 4 gelang yang berhasil Dimas masukkan. Dimas mendapatkan sebuah bandana berbentuk kepala katak. Bandana lucu. Dimas langsung memakaikannya ke kepala Erina. Dan bandana itu terlihat sangat lucu dan cocok di kepala Erina.

__ADS_1



Dimas tersenyum puas karna berhasil mendapatkan sebuah hadiah, walaupun hanya hadiah tak berharga. Erina ikut tersenyum geli dengan bandana yang ia gunakan.


Setelah makan siang selesai, Dimas mengajak Erina bermain di wahana air. Permainan yang lumayan menyenangkan.


"Gimana perasaan kamu hari ini?" tanya Dimas yang berjalan mensejajarkan dirinya dengan Erina.


"Aku senang. Terima kasih ya Dim" senyum Erina tulus ia berikan untuk Dimas.


"Ini sebagai permintaan maaf aku sama kamu. Karna aku sudah bikin kamu kesal kemarin"


Erina tertawa kecil mendengar ucapan Dimas yang terdengar seperti anak ABG sedang memelas meminta maaf.


Erina dan Dimas tidak banyak menjajal wahana permainan. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu hanya dengan berjalan jalan saja sambil bercanda. Wajah Dimas sumringah dan sangat bahagia bisa menghabiskan waktu seharian bersama wanita yang ia cintai. Melepas rindu dan melepas beban terpendam yang ia tahan selama ini.


"Oia Dim, kamu kapan sampai di Jakarta nya? Sudah lama atau baru beberapa hari?" tanya Erina sambil berjalan menyusuri jalanan ramai.


"Aku baru seminggu di Jakarta. Dan kamu tau apa yang aku lakukan setelah aku sampai disini?"


"Pasti kamu langsung nyariin aku. Bener kan?"


"Betul sekali. Ternyata pikiranmu sama dengan pikiranku ya. Itu tandanya kita memang berjodoh" ucap Dimas santai seraya menggoda Erina dengan senyum yang dibuat-buat. Erina sendiri hanya memanyunkan bibirnya sambil memandang malas ke arah Dimas.


"Bagaimana kamu disana? Pastinya kamu sangat bahagia ya? Apalagi di sana kamu juga ga sendiri"


"Hmm... Menjalani hidup mandiri di negara lain memang sangat menyenangkan. Dan lebih enaknya lagi karna di sana ada saudara yang bisa aku mintai bantuan ketika aku ada kesulitan. Jadi aku ga merasa sedih atau kesepian"


"Syukurlah. Aku senang mendengarnya. Dan... Aku juga senang kalau disana sudah ada seseorang yang kamu sayangi" Dimas tertegun dengan ucapan Erina. Dimas tak mengerti dengan maksud ucapan Erina.


"Lupakan saja. Kita ke toko itu yuk. Aku mau beli popcorn" Erina mempercepat langkahnya menuju toko snack yang dimaksud. Dimas yang masih tertegun dengan ucapan Erina hanya bisa terdiam sambil mengekori Erina dari belakang.


############


Hari sudah berganti malam. Mobil Dimas sudah terparkir di depan pagar rumah Erina. Erina dan Dimas keluar dari mobil. Erina berjalan ke arah kursi panjang dekat taman kecil diikuti oleh Dimas di belakangnya. Erina duduk meluruskan kakinya. Kaki dan badanya terasa lumayan pegal seharian berjalan jalan mengelilingi tempat permainan yang luasnya mencapai beberapa hektar.


"Capek ya?" Dimas tersenyum dan ikut duduk di sebelah Erina. Erina hanya mengangguk sambil tersenyum simpul.


Erina merapihkan kembali duduknya. Mencoba tenang karna hatinya saat ini berdebar debar. Tangannya mulai berkeringat. Erina memainkan kedua tangannya. Dimas memperhatikan sikap Erina yang berubah menjadi canggung kepadanya.


"Eemmm... Dim... " Suara Erina terdengar pelan.


"Ya"


Erina menggigit bibir bawahnya.


"Aku... Boleh minta satu hal dari kamu?"


"Pasti. Aku akan mengabulkan apapun permintaan kamu" ucap Dimas yakin.


"Benarkah? Janji?" Senyum Erina mengembang mendengar respon positif dari Dimas.

__ADS_1


"Iya aku janji. Katakan, kamu mau apa dari aku?" Dimas dengan semangat bersiap mendengarkan permintaan yang akan dilontarkannya.


Erina menatap wajah Dimas, tersenyum manis dan lalu menunduk. Erina terdiam. Dimas masih menatap wajah Erina yang menunduk tanpa melepaskan tatapannya sedikitpun. Dimas berpikir keras tentang barang apakah yang akan Erina inginkan. Apakah Kalung, gelang, cincin, tas, baju, jam atau mobil kah?


"Aku ingin... Kamu jangan pernah temui aku lagi" Dimas membulatkan matanya. Ucapan Erina bagaikan tamparan keras untuknya.


"Maksud kamu apa?" Dimas mencoba tetap tenang.


"Sejak kamu mutusin hubungan kita waktu itu, aku sadar bahwa keputusan kamu adalah keputusan yang sangat tepat" Erina menggigit bibir bawahnya menahan airmatanya jangan sampai tumpah.


"Erina kamu salah paham. Saat itu aku terpaksa. Akuu....."


"Apapun alasannya saat itu, Itu satu hal yang benar dan tepat"


"Erina, Aku memang pernah melakukan satu kesalahan besar sama kamu. Dan aku sangat menyesalinya. Karna itulah aku akan menebusnya sekarang. Aku ingin kita bisa seperti dulu. Bersama lagi, seperti saat kita jadian. Kamu milikku dan aku milikmu."


Erina tersenyum getir dan menggeleng.


"Kita berbeda Dim. Dan perbedaan kita sangat besar. Aku ga akan bisa mensejajarkan diriku dengan dirimu"


"Aku ga ngerti maksud kamu"


"Tolong hargai keputusanku Dim. Kamu sudah berjanji bukan akan mengabulkan permintaanku??"


"Permintaan macam apa ini? Aku MENOLAK!!! Tidak ada janji!!" intonasi suara Dimas meninggi penuh tekanan.


Erina berusaha tenang sambil menarik nafas nya lagi. Dimas sangat sulit untuk di buat mengerti.


"Aku sudah punya pacar Dim. Dan aku juga sangat mencintainya" Erina sengaja berbohong agar Dimas mau mengabulkan permintaan nya.


Dimas tertawa mengejek mendengar pengakuan palsu Erina.


"Pacar? Oia? Siapa? Erinaaa... Kamu itu ga pintar berbohong sayang... Aku sudah menyelidiki semua tentang kamu. Kamu selalu menutup hati kamu untuk laki-laki manapun. Dan sekarang dengan pede nya kamu bilang kalau kamu sudah punya pacar?"


"Cukup Dimas. Aku ga meminta kamu untuk ga percaya. Sekarang kamu pulanglah. Terima kasih untuk hari ini. Aku masuk ya... " Erina sedikit membungkuk berpamitan dengan Dimas.


Erina beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya mencoba untuk meninggalkan Dimas. Dimas yang tak terima dengan perlakuan Erina tak semudah itu langsung menerima keputusan Erina. Dimas bangkit dari duduknya, dan dengan cepat menarik lengan Erina dan membawanya ke dalam pelukannya.


"Aaaarrrrggghhh...." Dimas memeluk Erina dengan sangat erat. Erina sangat terkejut dengan sikap posesif Dimas. Dulu ia bisa menerima dengan lapang dada keputusan yang Dimas berikan untuknya. Namun kenapa sekarang Dimas tidak bisa menghargai keputusannya?


"Tolong lepasin aku Dim. Aku ga bisa nafas"


Dimas mengendorkan pelukannya tapi tetap dalam posisi memeluk. Dimas lebih sigap dengan reaksi Erina yang pasti akan memgambil kesempatan melarikan diri dari dirinya saat ia mengendorkan pelukannya. Dan benar saja, Erina mencoba mendorong tubuh Dimas. Namun itu tidak berhasil.


"Aku sudah pernah bilang kan? Aku ga akan pernah melepaskan kamu lagi. Kamu dan aku adalah satu. Kamu milikku. Dari awal, kamu sudah jadi milikku. Sampai kapanpun, kamu akan tetap jadi milikku. Jangan pernah mencoba untuk pergi dariku Erina. Karna aku tidak akan pernah membiarkanmu untuk pergi dariku" Airmata Erina telah membasahi baju Dimas. Ia sudah tak sanggup lagi untuk menahan airmatanya agar tidak mengalir. Dibiarkannya airmata itu mengalir di pelukanya. Erina menangis puas dalam pelukan Dimas. Dari sesegukan sampai kembali tenang.


Dimas melepaskan pelukannya dan menatap lekat wajah Erina yang sembab.


"Erina... Aku sayang banget sama kamu. Aku selalu menantikan saat-saat seperti ini denganmu. Kamu ga keberatan kan kalau kita memulai lagi semuanya dari awal? Aku akan membayar semua kesalahanku dimasa lampau. Aku janji Erina" Erina tak mampu berucap. Hanya anggukan kecil sebagai jawaban darinya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2